Archive for September, 2007

Perang Telco

September 7, 2007

 

bts.jpg

Selesai KKN yang melelahkan selama dua setengah bulan, akhirnya saya bisa sedikit memanjakan pikiran dan badan. Ngapain? Ngopi, tentu saja.

Maka, saya dan seorang kawan pun melewatkan sore itu ke sebuah kafe di Amplaz. Bukan, bukan Starbucks yang baru buka itu :D. Menunggu matahari tergelincir di peraduannya, ngobrol memang cara yang sangat menyenangkan.

Selesai ngopi, kami melewati selasar Amplaz. Ada keramaian yang mencolok. Ada promosi sebuah operator yang baru masuk ke Jogja dan Jawa Tengah. Ramai sekali.

Rupanya, sang operator baru itu memang benar-benar kencang dalam upaya branding produknya. Promosi besar-besaran. Both above the line and under the line. Di selasar mall yang luas itu, calon pelanggan diberi keleluasaan untuk memilih nomor yang dia inginkan. Tentu saja selama belum dibeli konsumen lain (yang mungkin juga spekulan nomor cantik).

Dalam perspektif lebih luas, rupanya perang antar operator telekomunikasi seluler makin menggila. Berebut menawarkan tarif voice dan SMS yang murah. Berebut memberikan banjir bonus, fitur-fitur ekstra, bahkan undian berhadiah.

Lihat saja, dalam beberapa bulan terakhir, ada sejumlah operator baru (berbasis GSM maupun CDMA) yang meluncurkan produknya. Lihat yang ini, dan yang ini. Pasar yang relatif masih berkembang memang membuat ngiler para pengusaha untuk terjun meraup Rupiah.

Apa untungnya untuk kita para konsumen?

Tentu saja perang telco seperti saya gambarkan di atas akan membawa keuntungan bagi konsumen. Kompetisi super-ketat seperti ini membuat konsumen bisa memilih operator yang paling sesuai dengan kebutuhannya. Sejauh ini memang tidak ada ultimate product yang katakanlah: tarif SMS-nya murah, billing dihitung per detik, internet GPRS murah, 3G murah, jangkauan luas dan sinyal kuat, voucher murah, dan lain-lainnya. Sejauh ini, as far as I know, belum ada produk super seperti itu.

Kompetisi yang ketat juga membuat para pelaku bisnis lama seperti yang ini dan ini berpikir ulang mengenai tarif yang mereka kenakan. Saya sebagai pengguna operator yang ini merasa bahwa struktur tarif yang ada benar-benar memberatkan. Saya bertahan karena nomor saya masih 12 digit (beli starter-packnya pun mahal :p) dan sudah relatif dikenal para relasi.

Sebagai contoh, soal struktur tarif SMS. Menurut supervisor saya, seorang jurnalis teknologi informasi yang sudah cukup senior, production cost dari sebiji SMS adalah sekitar Rp 16. Sementara tarif yang dikenakan kepada saya mencapai Rp 350 per teks terkirim. Bayangkan betapa untungnya operator-operator itu?

Belum lagi bicara soal tarif voice yang berbasis waktu per 30 detik. Melihat operator yang mengenakan tarif voice per detik, bahkan sampai ada yang Rp 1 per detik, maka saya berharap besar, operator sang pemimping pasar yang sombong ini bisa menurunkan tarifnya.

Jadi tentu saja, sebagai konsumen telekomunikasi, saya menyambut baik perang telco kali ini. Semoga saja konsumen menjadi pemenangnya.

Gambar diambil dari sini


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.