Archive for Juli, 2008

Benda Kenangan

Juli 22, 2008

Apa arti sebuah benda kenangan bagi Anda?

Beda orang, pasti akan berbeda pula jawaban yang muncul. Seorang teman pernah kehilangan ponselnya. Bukan soal harga ponsel yang menjadi penyebab dirinya menjadi sedikit bersedih. Menurutnya, ponsel itu memiliki kenangan karena melalui ponsel itu ia merayu seorang perempuan yang akhirnya menjadi pacarnya.

Saya juga pernah tinggal di sebuah rumah kos, di mana pemilik rumah kos itu tampaknya begitu mencintai benda-benda kenangan yang ia miliki. Pasalnya, di banyak sudut rumahnya, banyak berserak benda yang menurut saya tidak penting keberadaannya, seperti sebuah sepeda butut yang nyaris saya tabrak ketika saya lari terbirit-birit akibat guncangan gempa Jogja tahun 2006 lalu.

Benda lain yang disimpan bapak kos saya waktu itu adalah dua buah jip kuno (merk Jeep?). Salah satu jipnya masih bisa jalan dengan baik meski suaranya berisik. Sedangkan satu jip lagi sudah disfungsi. Kabinnya menjadi tempat penjual pecel lele yang mangkal setiap malam untuk menyimpan kursi-kursi tendanya di waktu siang.

Lain lagi dengan seorang rekan yang lain yang merasa sedih ketika ia harus menjual mobilnya. Bukan karena ia bangkrut dan kere, tapi karena ia akan membeli ganti berupa mobil yang lebih baru. Ia murung karena mobil itu dibelinya dengan hasil keringatnya sendiri bekerja bertahun-tahun.

Kadang perilaku-perilaku seperti yang saya sebut di atas sulit untuk dimengerti –termasuk oleh orang seperti saya. Kerap kali saya menggerutu karena sepeda bapak kos saya itu mengurangi lahan parkir buat sepeda motor anak-anak kos. Kadang saya juga kesal karena jip tua di depan kos itu merusak pemandangan.

Tapi nilai setiap benda memang hidup di benak dan hati masing-masing. Barang yang bagi orang lain tampak tak memiliki makna, di mata orang lainnya lagi membangkitkan banyak memori.

Sebatang ponsel mungkin tidak membawa pengaruh apapun terhadap keberhasilan seorang pria mencuri hati perempuan (karena yang dipakai adalah fungsinya untuk berbicara, bukan tampilannya atau harganya yang mahal). Tapi cobalah mengerti ketika pria dan si perempuan itu saling bertukar gombalan cinta atau malah saling memaki karena bertengkar. Melankolis sekali bukan?

Sebuah mobil butut tentu kalah nyaman dinaiki ketimbang mobil yang lebih baru. Namun coba bayangkan ketika rekan saya tadi bekerja keras setiap hari dan menabung setiap sen gajinya demi membeli mobil dengan jerih payahnya sendiri. Bagi si pelaku, rasa kepuasannya barangkali tidak terperi dan terkatakan.

Itulah, setiap kenangan akan terus hidup dalam diri seorang manusia.

Note: Postingan ini untuk mengenang sepeda motor R 4621 DH yang sudah menemani saya selama delapan tahun. Motor ini pernah saya namai Mariana Renata :)) Sebelum berpisah, sebetulnya saya ingin mencuci dia, tapi ternyata tidak sempat. Maaf ya?

Pungkas dan McCandless

Juli 9, 2008

Tidak banyak orang yang mengenal Pungkas Tri Baruno. Itu sebelum hari Selasa, 8 Juli kemarin. Hari itu, Pungkas tewas saat mendaki gunung Gunung McKinley di Alaska, Amerika Serikat.

Usianya masih muda. Ia baru berumur dua dekade saat harus kehilangan nyawanya di punggung gunung bertinggi 6.194 meter di atas permukaan laut itu.

Saat membaca berita kematian Pungkas, ingatan saya melayang kepada Christopher Johnson McCandless yang kisah hidupnya saya saksikan lewat film Into the Wild.

McCandless juga seorang lelaki yang masih muda. Bila Pungkas meninggal di usia 20, maka McCandless tutup usia pada bilangan umur 24. Yang sama, keduanya mati di Alaska.

Namun cara, atau lebih mungkin penyebab kematian mereka, jauh-jauh berbeda.

Seperti dituturkan oleh Jon Krakauer dan Sean Penn dalam buku (1996) dan filmnya (1997), McCandless meregang nyawa akibat kenekatan dan kecerobohannya sendiri.

McCandless menjelajahi Alaska tanpa persiapan yang cukup. Ia hanya membekali dirinya dengan sebuah buku tentang tanam-tanaman, sebuah senapan berburu dan peta jalanan butut yang ia temukan di sebuah pompa bensin.

Tanpa peta topografi, kompas, serta peralatan keselamatan yang memadai, McCandless tak kuasa melawan dingin dan kejamnya alam Alaska. Ia meninggal setelah berada di daerah bernama Stampede Trail selama 189 hari.

Lain dengan Pungkas. Ia berangkat bukan tanpa rencana. Ia pendaki yang cukup berpengalaman dan petualangannya kali ini sudah dimulai semenjak awal tahun. Pungkas menapaki setiap inci punggung gunung tertinggi di Amerika Utara itu bersama tim ekspedisi Pramuka Indonesia.

(Bagaimanapun, ada juga yang mengatakan bahwa tim yang berangkat ke McKinley ini masih kurang pengalaman, sementara medan yang harus dihadapi begitu berat).

***

Meski nekat (dan konyol), kisah McCandless secara keseluruhan seperti dituturkan di film sangat menarik. Yang membuat saya terkesan adalah semangat McCandless yang berapi-api serta kerinduannya kepada kebebasan.

(Lulusan Emory University ini menyumbangkan nyaris seluruh uang miliknya dan kemudian menjadi petualang dengan nama Alexander Supertramp. McCandless yang muak dengan kemunafikan sosial masyarakat serta rumah tangga orang tuanya yang penuh dengan cekcok memilih jalan hidupnya sendiri.)

Saya tak tahu seperti apa Pungkas ketika hidup. Namun dari seorang pendaki gunung seperti dirinya, selalu ada semangat kebebasan yang hidup di dasar hatinya dan berpendar keluar. Mungkin juga ada passion yang meruap di sana (ia meninggal setelah menancapkan bendera Merah Putih di pucuk McKinley).

Yang jelas, dari McCandless dan Pungkas, saya belajar sesuatu.

Foto: Gambar Christopher McCandless sebelum meninggal. Gambar ini diambil oleh dirinya sendiri di depan bus tempat ia tinggal di Stampede Trail sebelum akhirnya ia tewas di sana (sumber: Wikipedia)

Jogja: K Bunder, Modernisasi dan Kapitalisme

Juli 4, 2008

Ada yang membetot perhatian saya ketika saya berkunjung ke Jogja pekan ini, yaitu bermunculannya toko-toko berlambang huruf K yang dikelilingi lingkaran di beberapa tempat di kota yang menyenangkan ini. Toko, eh minimarket, ini berjualan non-stop alias buka 24 jam.

Dulu, toko-toko berbasis waralaba seperti ini cuma ada satu atau dua buah saja. Sekarang, contohnya di Jalan Sudirman saja, dalam jarak kurang dari 400 meter saja ada dua toko serupa. Satu terletak di sebelah timur sebuah restoran cepat saji (yang juga buka 24 jam) dan yang satunya hanya beberapa meter di timur Tugu.

Di Jogja, orang yang berjualan selama 24 jam bukanlah hal yang dianggap aneh. Nyaris di semua sudut, terutama di daerah kantong-kantong pondokan mahasiswa, ada yang namanya warung burjo alias bubur kacang ijo.

Kedai yang satu ini tak pernah libur; kecuali kalau penjualnya sakit atau mau mudik ke Kabupaten Kuningan di Jawa Barat sana.

Tapi menjamurnya toko K Bunder –demikian beberapa kali lidah saya yang suka keseleo melafalkan kata dalam bahasa Inggris menyebutnya– tidaklah sama dengan kehadiran kedai-kedai burjo yang dikerubuti mahasiswa kelaparan yang memesan seporsi indomie telur.

(Sebenarnya bukan hanya toko K Bunder yang menjamur, tapi juga minimarket-minimarket lain, yang meski tidak buka 24 jam, bahkan sanggup masuk hingga ke kampung-kampung yang aspalnya saja bolong di sana-sini.)

Seorang teman lama, seorang pemerhati gejala-gejala dan penanda kota amatiran dan sok tahu, angkat bicara ketika kami sedang duduk-duduk di angkringan menyeruput teh jahe hangat. “Itu adalah bagian dari the-so-called kemajuan alias modernisasi, mas.”

“Kemajuan yang berdasar pada kapital. Di mana mereka yang memiliki modal lebih lah yang akan bertahan di dunia konsumerisme seperti ini,”

“Lagipula, wajah pembeli di kota ini pun sudah banyak yang berubah. Mereka ndak lagi mau berpayah-payah memutari pasar yang becek dan pengap. Mereka maunya belanja yang praktis dan di tempat yang berpendingin udara; kalau perlu, belanjanya dilakukan jam dua pagi,” cerorosnya panjang.

Saya manggut-manggut saja. Tinggal hampir enam bulan di Jakarta membuat saya juga mulai memperhatikan fenomena semacam ini.

“Jogja itu lagi ingin memirip-miripkan diri dengan Jakarta, mas,” teman saya ini rupanya punya banyak pendapat untuk dimuntahkan.

“Cara mereka berbelanja cuma salah satunya. Yang lain-lain pun tak beda jauh. Inilah anak kandung dari yang namanya modernitas,” kali ini ada nada mengeluh di nada suaranya.

“Tak cuma toko non-stop, mas. Di sini juga sedang menjamur lapangan-lapangan futsal sintetis buat mereka yang ingin menggerakan raga. Apa ndak mirip Jakarta tuh?”

“Mirip Jakarta bagaimana? Bukannya berolahraga itu sehat” saya sedikit kesulitan mencerna kalimatnya.

“Ini soal ruang publik. Saya kok menilai tempat-tempat futsal itu bakal makin menggerogoti public space di sini. Kota makin sumpek, makin sedikit tempat terbuka yang bisa kita manfaatkan dengan gratis; untuk sekadar main sepakbola atau cuma nongkrong-nongkrong gojek kere guyon goblok,”

“Bermain futsal memang bisa bikin sehat mas. Tapi di sisi lain, jadinya nanti masyarakat bakal menilai kalau sudah ada lapangan futsal, maka lapangan sepakbola tak lagi dibutuhkan. Kalau mau berolahraga ya sana silahkan ke lapangan futsal berbayar, kira-kira begitu,”

“Dan ruang publik itu bukan cuma sekadar tempat berolahraga; apalagi dipandang berdasar gratis atau bayarnya,” ia melanjutkan bicaranya sebelum saya sempat menyela.

“Itu adalah tempat di mana pluralisme dan semangat egaliter dirayakan. Di ruang publik terbuka, ndak ada pembedaan kasta. Semua berkedudukan sama dan berhak menikmati sarana itu tanpa melihat tebal tipisnya dompet atau status sosial dan pendidikan mereka.”

“Sama juga dengan minimarket-minimarket-an itu mas. Saya rindu sama pasar. Sudah lama saya ndak belanja ke sana. Semoga saya salah mas, tapi saya punya ketakutan modernisasi ini bakal menelan Jogja,” katanya sambil menelan ludah.

Saya perlahan-lahan mulai bisa mengerti. Saya menarik nafas panjang sembari menyomot pisang goreng hangat di depan saya. Diam-diam, saya setuju dengan dia.

Catatan: Foto ini bukan toko K Bunder di Jogja, ini saya colong dari blog.roogles.com


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.