Membaca kisah seorang Viktor Bout, ingatan saya melayang kepada film ‘Lord of War’ yang pernah saya tonton. Yang terakhir ini adalah sebuah film produksi tahun 2005 yang dibintangi antara lain oleh Nicholas Cage.
Tetapi saya keliru. Bukan Bout yang mengekor ‘Lord of War’, tetapi justru ‘Lord of War’ yang ditulis berdasarkan kisah lelaki Rusia kelahiran 41 tahun silam tersebut.
Tak banyak yang mengetahui sepak terjang Bout sampai ia tertangkap aparat di Bangkok, Maret tahun lalu. Tuduhannya serius: memasok senjata untuk sejumlah kelompok yang terlibat dalam konflik bersenjata di banyak sudut-sudut dunia.
Bout adalah bopeng di wajah dunia yang kian sengkarut. Sebuah dunia yang menua tetapi tidak bertambah dewasa. Konflik bersenjata terjadi di banyak tempat di atas planet ini. Agama A kontra Agama B, Suku X melawan Suku Y, Isme ini versus Isme itu, dan lain sebagainya.
Dari konflik-konflik itulah, muncul Bout (dan banyak orang lainnya yang tidak akan diketahui hingga suatu saat nanti mereka ditangkap). Mereka menemukan ceruk yang menguntungkan mereka.
Selepas kejatuhan komunisme di akhir 1980-an, aset militer di Uni Sovyet (kemudian Rusia) banyak yang terbengkalai. Pesawat-pesawat dibiarkan berdebu di landasan akibat tak ada minyak, jutaan senapan, peluru, granat dan roket dibiarkan teronggok di gudang-gudang yang tak terjaga. Maka mulailah Bout berbisnis.
Bout tak memiliki ideologi. Ia adalah pedagang; Merchant of Death. Tak peduli apakah itu Al Qaeda, sekelompok warlord haus darah di Afrika Barat, atau kelompok yang didukung Amerika.
Ia mengirimkan senjatanya kepada pemerintah Afganistan di tahun 90-an. Namun ia lalu juga menjual senjata kepada Taliban pada saat bersamaan. Saat Taliban berkuasa di sana tahun 1996, Bout juga menjual pesawat-pesawatnya.
“Aku menjual kepada para orang kiri, dan juga orang kanan. Aku menjual kepada para pasifis, tetapi mereka bukan pelanggan rutinku,” ucap Yuri Orlov, tokoh utama dalam ‘Lord of War’ yang menjadi representasi Bout.
Dan seperti jamaknya pedagang, maka keuntungan, hanya keuntungan, adalah apa yang ada di pikiran orang-orang seperti Bout. Ia tak berurusan dengan warna kulit, agama atau aliran politik si klien. Masih kata Yuri Orlov, “Aku menguasai banyak bahasa. Tetapi aku tahu, yang artinya paling jelas adalah dolar, dinar, drachma, rubel, rupee dan pound-fucking-sterling.”
Nurani? Jangan harap Bout bakal tersentuh dengan pemandangan seorang bocah berusia 12 tahun menenteng AK-47 yang baku bunuh dengan anak lain yang berusia sama dari pihak musuh.
Bout boleh saja sudah berada di balik jeruji, tetapi orang-orang seperti dia akan tetap ada dan bahkan mungking bertambah. Selama masih ada orang-orang yang berperang, maka di sanalah Bout dkk akan bermain.
“Katakan apapun yang kau benci dariku. Bahwa aku penjelmaan iblis, bahwa aku bertanggungjawab atas terobeknya masyarakat dan ketenangan dunia. Bahwa aku pelaku genosida. Katakan apa yang ingin kau katakan tentangku sekarang,” demikian Yuri Orlov menceramahi agen Interpol yang menahannya.
Tag: bout, dunia, viktor bout
Januari 2, 2009 pukul 10:25 pm |
topiknya serius ya, Ar. Tapi ini realita. Berarti yg di film2 dan novel2 itu gak boong, bahwa emang ada orang2 spt Bout yg ga memihak apapun kecuali uang dan keuntungan.
Tulisannya bagus…
Januari 2, 2009 pukul 10:39 pm |
Membaca postinganmu, aku juga ingat film India. Judulnya lupa, Sosok Bout di film iIndia itu diperankan oleh Ajay Devgan. Menjual senjata ke milisi Pakistan untuk menyerang Kashmir, India. Hahhahaha. Film yang ditonton mencerminkan kualitas seseorang nggak ya? hahahhaha
Januari 3, 2009 pukul 2:39 am |
kudune kolonel sanders uga di sebut penjahat juga.
wong sing mati sebab obesitas lan kolesterol junkfoof lewih akeh je sekang korban perang (konon kabarnya)
Januari 3, 2009 pukul 3:00 am |
wogh…beneran ada nih orang?? edyan!
Januari 3, 2009 pukul 11:12 am |
dalam setiap peperangan, yang menang tentu saja pemasok senjatanya (yang untung maskudnya)
*pengen nonton Lord of War*
Januari 3, 2009 pukul 12:21 pm |
Jadi inget film itu lagi…
Jadi inget imagine-nya john lenon yg pernah jg dikupas ma pemilik blog…
Jadi inget sekarang palestina masih diserbu oleh israel…
Jadi inget kalau negara israel semakin luas dan negara palestina semakin menyempit…
kalau hamas dianggap teroris (padahal cuma bisa melempar rocket) terus israel yang mencaplok negara dianggap apa?
cuma biasanya filem maen di dua sisi, kalau filem itu dibuat dari sisi sang “penjahat” seolah – olah dialah tokoh baiknya, kaya ocean eleven,jumper, dkk
kalau filem itu dibuat dari sisi yang “polisi” dialah tokoh baiknya seabrek contohnya,
dan Lord of War dibuat dari sisi lain yang berdagang di antara penjahat dan polisi ….
Januari 3, 2009 pukul 4:17 pm |
tak kiro iki page “about me” jeh..
*berlatih kungfu*
Januari 3, 2009 pukul 9:32 pm |
@zam
)
halaman about kuhapus
aku ndak mau mengumbar data pribadi *halah*
Januari 4, 2009 pukul 8:12 pm |
di indonesia banyak orang model Bout, di dunia musik kita juga segrambreng
Januari 5, 2009 pukul 9:11 am |
syeeet… itu orang oportunis amaaat..
Januari 5, 2009 pukul 9:31 pm |
about me dihapus yak..
weh..
jualan senjata aja yuk
cepet kaya lho
*ngacir*
Januari 9, 2009 pukul 7:19 am |
[...] aku ndak mau mengumbar data pribadi *halah*[...]
biar ndak ketahuan kalo kamu belom LULU* ya..???
*baca maning*
Januari 9, 2009 pukul 2:09 pm |
tapi hollywood membuatnya seolah menjadi pahlawan….
Januari 11, 2009 pukul 8:32 am |
orang yang seperti ini yang membahayakan dunia
Januari 11, 2009 pukul 8:09 pm |
Tajir pasti tuh orang, tapi dosanya ga kepalang. Dasar jalang… (si bout maksudnya)