Archive for Februari, 2009

GM

Februari 26, 2009

Wajahnya tirus. Rambutnya, juga kumis dan cambangnya, terlihat memutih di beberapa bagian. Saya menebak umurnya sudah di atas 60 tetapi belum lagi tiga perempat abad. Di depannya, tergeletak sebuah BlackBerry dan MacBook berwarna hitam.

Ia berbicara dengan suara yang tidak keras, tetapi intonasinya teratur dan tertata. Beberapa kali ia mendengarkan dua orang di depannya bicara. Sesekali ia tampak antusias.

Dia Goenawan Mohamad. Ketika saya berkenalan, saya bilang bahwa dialah yang membuat saya akrab dengan dunia tulis menulis.

Selama lebih dari 1,5 jam, GM, demikian ia dikenal publik, berbicara dengan dua orang di samping saya di beranda Komunitas Salihara, Pasar Minggu. Yang pertama adalah Zen Si Pejalan Jauh dan yang kedua adalah Paman Tyo yang duitnya konon meteran itu. Saya? Lebih banyak diam dan menyimak.

GM dan dua orang itu memperbicangkan banyak hal. Tetapi yang utama adalah ngobrol soal sejarah dan pelakunya, sastra dan buku serta beberapa hal lain, termasuk perihal pertunjukan.

Ia bertutur tentang Manikebu, tentang Sjahrir, tentang ayahnya yang mati ditembak Belanda, juga beberapa kali menyinggung tulisan-tulisan karyanya.

Orang ini, bagi saya adalah inspirasi. Dari dialah, secara tidak langsung, saya belajar menulis. Tulisan-tulisannya yang secara terjadwal dimuat di majalah Tempo adalah santapan saya. (Meskipun kini sudah jarang lagi. Alasan kesibukan. ahahahah)

Dari GM pula, saya tahu bahwa menulis tidaklah sekadar menyampaikan ide atau pemikiran. Ternyata, ide dan pemikiran itu juga bisa dilontarkan dengan estetika yang mengagumkan dan membuat pembaca mengendapkannya di benak.

GM mempengaruhi saya sebesar Pramoedya. Ketika masih iseng-iseng di Pers Mahasiswa dulu, bahkan saya dan kawan-kawan meniru habis konsep caping di satu halaman buletin yang kami asuh.

Demi bisa membaca tulisan GM, saya memfotokopi buku ‘Kata, Waktu’, buku setebal 1.500-an halaman terbitan Pusdat Tempo yang memuat kumpulan esai GM dari tahun 1960-an sampai 2001.

Niatnya, malam itu saya ingin minta tandatangan GM di buku itu. Tapi gara-gara buku itu bajakan, maka saya batalkan saja niat itu. Hahahaha.

Independensi

Februari 12, 2009

Kawan, masih ingat nggak saat kita berdebat dulu? Ya, ya, berdebat. Kita memang berdebat saat itu bukan? Mengadu argumen di tengah udara pagi yang dingin di sebuah rumah di Bandung.

Ingat kan saat itu kita begitu berapi-api berbicara mengemukakan argumen kita; tak kalah berapi-api juga menguji pendapat lawan bicara di seberang meja, berharap menemukan celah untuk mematahkan pendapat lawan.

Kala itu kita bicara soal ide-ide besar. Aku masih ingat betul, kita berbusa-busa soal independensi. Aku menggugat independensimu, tetapi kamu bersikeras bahwa kamu tetap bebas, tak peduli siapapun majikanmu. Waktu itu, tahu tidak, aku mencatat ucapanmu bagai mencatat janji seorang politisi.

Kemarin, diam-diam aku menagih janji. Ah, aku kecewa, kawan. Ternyata janji (utang?) yang kamu ikrakan ketika itu tidak kau tepati. Aku berupaya berprasangka baik bahwa ini adalah kali pertama janjimu terlanggar, meski aku juga tidak yakin.

Lagi-lagi, aku mencoba berpikir baik karena aku tahu kamu orang yang baik. Mungkin kamu memang tak cukup berdaya untuk mengubah kondisi yang kamu hadapi. Aku lekas-lekas menghapus pikiran bahwa kamu memang sengaja tidak menepati janjimu.

Barangkali, keadaan di mana kamu bisa –meminjam Goenawan Mohammad– menggeladi pemikiran yang terbuka, yang tidak didikte dan diawasi orang adalah sebuah kemewahan. Aku tahu itu, kawan; dan aku bersimpati kepadamu.

Aku sadar bahwa situasi tidak lagi berada di pihakmu. Aku tahu kalau kamu bukan lagi seorang ronin, seorang samurai yang tak bertuan. Ah sudahlah, kawan, aku tak mau lagi mengulang-ulang cerita basi soal ronin yang memang hidup jauh dari masa dan tempat kita.

Sedari dulu, aku selalu benci bila aku terbukti ‘benar’ pada akhirnya. Aku bukan sedang ingin menyakitimu kawan, saat aku dengan penuh kepahitan di lidah cuma bisa berucap, independensi itu tai kucing.

Intelejen

Februari 6, 2009

Kata intelejen sangat lekat dengan sebuah perihal yang serius. Urusan akbar yang dijalankan oleh segilintir kaum terpilih menyangkut keselamatan sebuah kelompok atau negara di tengah lingkungan dunia yang kacau balau ini.

Tetapi toh intelejen bukanlah sebuah perkara yang suci hama. Intelejen bisa salah, bisa konyol, juga bisa bodoh dan kacau. Tim Weiner yang pernah memenangi Hadiah Pulitzer itu menuliskannya dengan memikat dalam lebih dari 800 halaman buku ‘Membongkar Kegagalan CIA: Spionasi Amatiran Sebuah Negara Adidaya’; sebuah buku yang mendapat perhatian lebih di sini oleh musabab cerita tentang Adam Malik-nya.

Intelejen, spionase, telik sandi atau apapun namanya dapat menjadi bahan lelucon satir dan diolok-olok. Itu setidaknya yang dilakukan oleh Joel dan Ethan Coen (Coen Brothers) dalam film besutan mereka ‘Burn After Reading’.

Film ini bertitik pangkal dari Ozzy, seorang pegawai (agen?) CIA yang daripada dipindah ke pos yang tidak ia sukai lantas lebih memilih mengundurkan diri dan kemudian berniat menulis buku.

Ozzy, selain bermasalah dengan kegemarannya minum (sesuatu yang membuatnya nyaris dipindah oleh CIA), juga bermasalah dengan rumah tangganya. Istrinya yang dokter gigi, Katie, berselingkuh dengan seorang lelaki dan belakangan berniat mengajukan perceraian dan menyewa jasa pengacara untuk menyelidiki Ozzy dan catatan keuangan dan pribadinya.

Persoalan menjadi rumit tatkala CD milik Ozzy dicuri oleh pengacara yang disewa Katie namun kemudian tertinggal di sebuah pusat kebugaran. CD itu ditemukan oleh dua pegawai rendahan pusat kebugaran yang berpikir bahwa mereka bisa memperoleh duit hasil dari memeras Ozzy. Salah satu dari mereka, Linda, bermimpi untuk memakai uang itu kelak untuk melakukan operasi plastik.

Dari hal yang remeh temeh seperti ini, persoalan membesar hingga melibatkan petinggi-petinggi CIA dan bahkan Kedutaan Besar Rusia. Coen bersaudara dengan sukses mengubah perkara intelejen yang rumit dan mengawang-awang itu menjadi ajang menertawakan biro telik sandi yang panik dan bingung.

Coen bersaudara dengan cerdas mengejek kegagapan intelejen Amerika menghadapi persoalan. Kegagapan yang sudah sejak lama terungkap ketika mereka gagal membendung serangan teroris pada September 2001.

CIA dan rekan-rekannya seperti ‘intel melayu’ yang bengong melihat negaranya diobrak-abrik. Ya mungkin mirip lah dengan telik sandi ‘intel melayu’ sesungguhnya yang malah gemar menginteli warganya sendiri dan menyingkirkan pembela hak asasi manusia.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.