GM

By arya

Wajahnya tirus. Rambutnya, juga kumis dan cambangnya, terlihat memutih di beberapa bagian. Saya menebak umurnya sudah di atas 60 tetapi belum lagi tiga perempat abad. Di depannya, tergeletak sebuah BlackBerry dan MacBook berwarna hitam.

Ia berbicara dengan suara yang tidak keras, tetapi intonasinya teratur dan tertata. Beberapa kali ia mendengarkan dua orang di depannya bicara. Sesekali ia tampak antusias.

Dia Goenawan Mohamad. Ketika saya berkenalan, saya bilang bahwa dialah yang membuat saya akrab dengan dunia tulis menulis.

Selama lebih dari 1,5 jam, GM, demikian ia dikenal publik, berbicara dengan dua orang di samping saya di beranda Komunitas Salihara, Pasar Minggu. Yang pertama adalah Zen Si Pejalan Jauh dan yang kedua adalah Paman Tyo yang duitnya konon meteran itu. Saya? Lebih banyak diam dan menyimak.

GM dan dua orang itu memperbicangkan banyak hal. Tetapi yang utama adalah ngobrol soal sejarah dan pelakunya, sastra dan buku serta beberapa hal lain, termasuk perihal pertunjukan.

Ia bertutur tentang Manikebu, tentang Sjahrir, tentang ayahnya yang mati ditembak Belanda, juga beberapa kali menyinggung tulisan-tulisan karyanya.

Orang ini, bagi saya adalah inspirasi. Dari dialah, secara tidak langsung, saya belajar menulis. Tulisan-tulisannya yang secara terjadwal dimuat di majalah Tempo adalah santapan saya. (Meskipun kini sudah jarang lagi. Alasan kesibukan. ahahahah)

Dari GM pula, saya tahu bahwa menulis tidaklah sekadar menyampaikan ide atau pemikiran. Ternyata, ide dan pemikiran itu juga bisa dilontarkan dengan estetika yang mengagumkan dan membuat pembaca mengendapkannya di benak.

GM mempengaruhi saya sebesar Pramoedya. Ketika masih iseng-iseng di Pers Mahasiswa dulu, bahkan saya dan kawan-kawan meniru habis konsep caping di satu halaman buletin yang kami asuh.

Demi bisa membaca tulisan GM, saya memfotokopi buku ‘Kata, Waktu’, buku setebal 1.500-an halaman terbitan Pusdat Tempo yang memuat kumpulan esai GM dari tahun 1960-an sampai 2001.

Niatnya, malam itu saya ingin minta tandatangan GM di buku itu. Tapi gara-gara buku itu bajakan, maka saya batalkan saja niat itu. Hahahaha.

Tag: , ,

30 Tanggapan ke “GM”

  1. wicak hidayat Berkata:

    tidak seperti kebanyakan alma mater detik yg terpengaruh oleh GM dan Pram, saya sendiri lebih condong terpengaruh pada Seno. Meskipun saya juga baca GM dengan setia di masa muda dulu.

    Sayang waktu di Salihara gak sempet ikut. Padahal kalo ikut saya mau bawa buku kumpulan puisinya GM terus minta ttd. (Dan kalo punyaku bukan bajakan lho.. hahahaha)

  2. priki Berkata:

    tapi siki isih iseng2 dadi mahasiswa ra?

    *kabuuuuuur*

  3. Chic Berkata:

    cih! buku bajakan kok pamer-pamer di blog :twisted:

  4. nothing Berkata:

    kowe yo seneng moco toh?? *ngapusi*

  5. yusdi Berkata:

    halo yak…..pa kabar…..

  6. itikkecil Berkata:

    hooo… buku bajakan… coba minta aja tanda tangan, pengen tahu reaksi GM kayak apa….

  7. arya Berkata:

    @mba ira
    belakangan, ketika ngobrol2 itu, GM ternyata ga masalah buku2nya dibajak. dia bilang kira2 begini, “ngapain saya melarang? saya juga ga dpt keuntungan apa2 dr bikin buku.”
    mungkin maksutnya keuntungan finansial bikin buku ya ga banyak2 amat lah. hiehehehe (pembaca GM menurutku relatip dikit :p)
    dia mempersilakan kalo karya2nya mo disebar2 lwt format PDF misalnya. gak masalah kata dia.

  8. DIAJENG Berkata:

    kapan ya diajeng bisa ketemu GM ? :)

  9. DIAJENG Berkata:

    kalo ada pesta blogger biasanya beliau dateng ga mas ? :)

  10. arya Berkata:

    @diajeng
    2 thn PB, dia ga dateng. berharap aja PB 09 dia dateng :D

  11. paman tyo Berkata:

    halah, aku sudah bilang ke gm “dia mauminta tanda tangan tapi malu, soalnya bukunya fotokopian, mas…”

    eh peluang gak diambil. yo wis. dasar alya. payah. :D

  12. Iwan Rystiono Berkata:

    Wah, enaknya bisa ketemu pengarang terkenal.

    *ngecek apa punya buku GM dirumah…*

  13. arya Berkata:

    @mas paman
    hihihihi
    yowes ah besok2 kalo ketemu lagi tak minta tandatangan dia :p

  14. hedi Berkata:

    mosok ngono ae ga wani Ya…bener jare paman, payah :P

  15. tito Berkata:

    Kalau GM bertutur soal Manikebu, kamu pasti bertutur soal Mani dan Tebu, mani yang keluar dari batang seukuran tebu.

  16. ipang Berkata:

    bilang aja blom gajian, makanya blom bli aslinya…pasti dikasi tanda tangan om….

  17. Senja Berkata:

    Gue inget, Wicak pernah simpen buku Catatan Pinggir GM di kamar kosan. dan ditaro di atas meja belajar..
    sedangkan buku2 diktat Agronomika dan Food technology, disimpen dibawah almari

  18. -GoenRock- Berkata:

    Jare menginspirasi kok bukune bajakan :roll:

  19. omiyan Berkata:

    saya aja baru tahu hehehe

  20. ichanx Berkata:

    saya gak tertarik ama GM… tapi tertarik dengan pernyataan “paman tyo konon duitnya meteran” *nyiapin peralatan ngerampok… hahahaha

  21. okta Berkata:

    @ikut si ichanx ..mbehee

  22. antown Berkata:

    hahhaa, kalau ketahuan bajakan jadi malu..

    eh chanx ngikut juga :D

  23. pututik Berkata:

    Sayang banget ya pake bajakan, tp inspirasi jangan juga dibajak alias plagiat. Tetap semangat

  24. ketut epi Berkata:

    Skrg kyknya udah gak pernah fotokopi buku lagi. Bener kan? Bkn krn udah beli yg asli, tp krn udah gak sempet baca buku, hehehe…

    Kan skrg tiap hari bacaannya hasil browsingan, atau media pesaing, sampai2 tulisannya GM di Tempo aja ga dibaca lagi :P

  25. Rusa Bawean™ Berkata:

    wahh
    ternyata cuma bajakan
    hehehe

  26. polar Berkata:

    huhuhuu…bajakan, aslinya mana???

  27. omahseta Berkata:

    buku bajakan ga papa deh, pasti GM ga memasalahkan. asal bajakan itu dibaca, hehehehe….

    Zen memang salah satu “pembaca” terakrab GM. Paman tyo apalagi, hehehe…

  28. tikabanget™ Berkata:

    Duh.. maap ar..
    aku melewatkan keter-apdet-anmu..

  29. febri diansyah Berkata:

    hua hua hua…
    aku baru ingat, kamu masih kurang bayar saat kopi Kata Waktu itu……..
    btw ngopi saja kita dah bikin puasa, hehe2 apalagi asli ya :-) tapi kan memang ga dijual lagi tuh Kata Waktu

  30. isman Berkata:

    Solusinya padahal gampang: ajak aja temen yang punya buku aslinya. Terus minta izin nanti tanda tangan di buku temen itu difotokopi. Jadi buku bajakan ditandainya dengan bajakan pula. Klop lah. Temen pun senang dapat yang asli.

    Win-win!

Tinggalkan Balasan