
Dahinya berkerut; seperti biasa. Tetapi wajah itu tidak memperlihatkan keseriusan dalam tingkat yang sama dengan yang sering saya saksikan melalui tabung kaca televisi. Kalimatnya hangat dan ramah.
Dialah Arsene Wenger. Memakai kaos putih, celana pendek hitam dan sepatu kets, dia melayani wawancara dari tiga pewarta Indonesia, ditambah dua orang pendamping dari penaja.
Kami bertanya, ia menjawab. Ia tak terlalu terkejut ketika tahu bahwa klubnya, Arsenal, dan Liga Inggris adalah tontonan yang sangat populer di sini. Tapi tampaknya ia cukup kaget saat tahu negeri ini punya 220 juta penduduk.
Ia pun bicara soal sepakbola dunia, soal filosofinya dalam bersepakbola, perihal identitas kebangsaan. Ah sayang saya lupa menanyakan bahasa apa yang ia pakai di ruang ganti Emirates.
Pembicaraan di antara kami pun mengalir. Waktu 10 menit –dari seharusnya 15 menit, tapi dipotong gara-gara durasi acara molor– terasa begitu cepat dan setelah berfoto beberapa bingkai, kami pun harus pergi.
Arsenal bukanlah klub idola saya. Tetapi andai saya tidak menggemari Manchester United, mungkin saya akan jatuh cinta kepada ‘Gudang Peluru’ dari London utara itu karena saya mengagumi cara mereka bersepakbola.
Di bawah Wenger, Arsenal adalah tim yang punya filosofi ‘menyerang adalah pertahanan terbaik’. Wenger, pemilik gelar insinyur dan master ekonomi, juga gemar merekrut anak-anak muda dari berbagai penjuru dunia ke dalam timnya.
Memang, sudah empat tahun ini gaya itu tidak berhasil menghadirkan satu pun silverware ke markas Arsenal. Tetapi Wenger adalah seorang idealis. Keyakinannya pada filosofi yang ia imani tidak luntur hanya karena kering prestasi.
Wenger berada di kutub berbeda dengan seorang manajer yang barangkali tega ‘memarkir 11 bus’ di depan gawang timnya hanya agar timya tidak kalah.
Wenger dan Arsenalnya juga tidak sama dengan klub yang sanggup menggelontorkan puluhan juta poundsterling (barangkali dengan cara ngutang) untuk mendatangkan pemain-pemain berlabel super bintang.
Tapi di mata saya, Wenger juga punya sebuah idealisme yang tak bisa saya pahami. Dalam keyakinannya, Wenger menganggap bahwa identitas tidaklah given; ia tidak tergantung kepada lokasi di mana Anda dilahirkan. Bagi Wenger, identitas adalah sebuah proses.
Untuk Wenger, seorang Prancis tetap bisa punya identitas Inggris, seorang India bisa punya identitas Amerika, atau malah seorang Spanyol bisa punya identitas Indonesia.
Karenanya, Arsenal cuma punya segelintir pemain asli Inggris. Yang lainnya datang mulai dari sudut kumuh Pantai Gading, dataran Rusia yang bersalju, Spanyol yang bermandi matahari hingga ke Brasil yang gegap gempita.
Bagi saya, identitas tetap saja terkiat kepada akar di mana Anda tumbuh. Sebuah klub Inggris punya identitas dan tradisi yang tidak akan pernah secara utuh dipahami oleh orang Amerika Latih, misalnya.
Tapi saya bukanlah seorang manajer terkenal dengan tiga titel Premiership di curriculum vitae. Jadi kalau Wenger bisa mengucapkan argumentasinya di hadapan ribuan pewarta dari seluruh penjuru dunia, saya cukup menulisnya di sini saja.
Ya kan?
Tag: arsenal, arsene wenger, sepakbola, wenger
Juni 14, 2009 pukul 10:59 pm |
identitas sebagai hasil sebuah proses menjadi pembenaran bagi Wenger untuk tidak banyak memakai pemain Inggris, karena dia orang Prancis.
Juni 15, 2009 pukul 8:38 am |
Arya wrote :
“Tapi saya bukanlah seorang manajer terkenal dengan tiga titel Premiership di curriculum vitae…”
wis wani ngomongi cv karo titel ya? weiss..sulamet..sulamet
*nyalami arya sing wis arep lulus*
*ngabur*
Juni 15, 2009 pukul 8:39 am |
tak dongakna isa ketemu sir fergie neng senayan, kang
Juni 15, 2009 pukul 9:10 am |
@ipung
*plakeplak*
eh suwun dongane :d
Juni 15, 2009 pukul 11:13 am |
semoga lain kali para pelatih nyambangi kamu di detik. biar kamu ndak usah susah susah kemana-mana.
Juni 15, 2009 pukul 11:57 am |
identitasmu sendiri bukannya masih dipertanyakan Yak?
*nyungsep*
Juni 15, 2009 pukul 6:31 pm |
kebijakan arsenal malah ta’pikir adalah beli murah, jual mahal. kadang2 – akhir2 ini – malah curiga kalo klub ini memang nggak pernah ngincer juara liga inggris mati2an. cukuplah asal selalu lolos ke eropa aja. kesannya lebih mentingin pendapatan klub ketimbang prestasi buat muasin pendukungnya
Juni 16, 2009 pukul 6:52 pm |
arsenal cen sip, dan saya suka si arsenal sejak ada si non flying ducth man hingga jamannya si henry.
musim ini ndak terlalu memperhatikan, maklum di malang ga bisa nonton liga enggeress.
Juni 17, 2009 pukul 9:44 am |
yah paling gak hrsnya im yg skrg dipertahankan selama bebrapa tahun ke depan …kl sdh juara mau bangun g muda lagi ya monggo
Juni 21, 2009 pukul 11:15 pm |
luarbiasa!! *Arsene Wenger-nya*
Juni 24, 2009 pukul 8:25 am |
syemm kowe ar…aku yang mengimpikan sejak dulu, lha jebule kowe duluan..
Juni 24, 2009 pukul 10:28 am |
@mas iman
ke london aja mas. tp jgn lupa ajak2 hihihi
Juli 9, 2009 pukul 6:30 pm |
wooo murtad iks
Juli 19, 2009 pukul 2:00 pm |
Idealisme memang diperlukan termasuk juga di sepakbola
Juli 21, 2009 pukul 4:58 pm |
@ Teguh Saja
Pernyataan anda gak nyambung. Wenger gak mau beli pemain Inggris karena harganya kemahalan makanya dia beli dr negara lain.
@ Chic
Sepertinya anda hrs tambah referensi / info ttg sepakbola. Wenger telah bnyk menjadikan pemain bintang. Barca, Milan, Madrid bnyk mengincar pemain arsenal bahkan Maurinho (si mulut besar) telah “jatuh cinta” berulangkali dng pemain2 arsenal.
Go……. Young Guns……..
Juli 21, 2009 pukul 5:02 pm |
@the_spirit
wogh, kirain komentar situ dr si empunya blog hihihihi
September 27, 2009 pukul 1:19 pm |
masnya boleh loh kalo mo ngapdet blog,.
Oktober 5, 2009 pukul 1:33 pm |
apik2….
mu, arsenal, chelsea, liverpool punya cerita sendiri2… kalau ada yg lain dishare juga dong ..
Oktober 8, 2009 pukul 8:25 pm |
arsenal pencetak pemain muda bertalenta, dan saya berpikir, wanger merupakan manager yang pintar memilih pemain dan menjadikan pemain tersebut incaran klub-klub besar.
terima kasih infonya mas..