Kecewa dengan ‘Indonesia Itu Mengecewakan’

Rabu (28/12/2011) pagi, pandangan saya terbetot pada iklan berbentuk jacket yang terlampir bersama satu eksemplar koran Kompas. Teks yang tertulis di bagian depan iklan jacket itu adalah, “Ha ha ha.. INDONESIA ITU MENGECEWAKAN.”

Judul yang provokatif itu sukses menggiring saya untuk membaca lanjutan iklan tersebut dan menepikan berita di headline. Di balik halaman pertama tadi, tertulis teks yang bunyinya begini:

“Indonesia itu “mengecewakan…”
Perekonomian Indonesia yang berhasil tumbuh sampai 6,5% tahun 2011, ternyata bisa mengecewakan “kubu ekonomi” yang otimistis, sekaligus mengecewakan “kubu politik” yang pesimistis.

“Mestinya bukan hanya tubuh 6.5%.” Itu kata golongan yang optimistis.

“Kok ekonomi Indonesia bisa tumbuh sampai 6,5% ya.” Itu kata golongan yang kecewa mengapa ekonomi Indonesia bisa begini bagusnya.

He he he… Indoneisa itu memang mengecewakan. Bagi mereka yang hobinya kecewa.

Di lembar kedua iklan itu, ada tulisan dengan huruf besar mengenai pemberian investment grade dan efek-efek positifnya buat negara, dunia usaha dan masyarakat. Lantas, di halaman terakhir, ada tiga grafik yang memperlihatkan GDP Indonesia dibandingkan dengan lima negara ASEAN, tren inflasi Indonesia dibandingkan dengan Brasil, Rusia, India dan Cina (BRIC) dan rasio utang terhadap GDP antara Indonesia dikomparasi dengan Jepang, AS, Brasil, Cina, India, ASEAN dan zona Euro.

Yang langsung mebuat gusar ketika melihat iklan yang dibuat oleh Keluarga Besar BUMN (yang terdiri dari BRI, BNI, Bukit Asam, Semen Gresik, Pertamina, PLN, Perusahaan Gas Negara, Jamsostek, Telkom Indonesia dan Bank Mandiri), pertama, adalah pada pemilihan gaya bahasanya.

Bahasa yang dipakai dalam iklan yang jelas tidak murah itu terasa sangat sinis, terutama kepada para pihak yang selama ini banyak mengkritik Pemerintah. Iklan tersebut seperti ingin mengatakan kepada para pengkritik Pemerintah bahwa sekeras apapun pengkritik bersuara, Pemerintah sudah menunjukkan statistik positif ekonomi Indonesia selama 2011 yang tumbuh sebesar 6,5%.

Padahal, paradigma kesuksesan ekonomi yang berdasar pada statistik ekonomi makro belaka tidak lagi relevan. Bahkan Bank Dunia pun mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi bukanlah segalanya. Alih-alih hanya memikirkan pertumbuhan, sudah selayaknya Pemerintah lebih memikirkan mengenai pemerataan, pengurangan pengangguran yang pada muaranya adalah pengurangan kemiskinan.

Sudah terlalu banyak contoh yang memperlihatkan bahwa pembangunan di Indonesia bersifat Jawa sentris sehingga menimbulkan kecemburuan dari daerah-daerah luar Jawa. Bila tidak dikelola dengan baik, ketidakpuasan-ketidakpuasan itu bisa berbahaya terhadap integritas bangsa.

Terlebih lagi, iklan ‘Indonesia Mengecewakan’ ini dibuat oleh sejumlah BUMN yang seharusnya lebih fokus ke sektor riil ketimbang hanya bergenit-genit dengan angka yang indah dilihat tetapi tak berarti bila tidak menyentuh sendi perekonomian kerakyatan.

Ada tiga bank yang menyokong iklan ini, yakni BRI, BNI dan Bank Mandiri, yang seharusnya lebih memikirkan bagaimana memperbesar porsi kredit untuk usaha kecil dan menengah yang selama ini terbukti tangguh dari terjangan krisis, tidak seperti korporasi besar yang justru mudah goyah.

Harus ditanyakan juga apakah bank-bank BUMN tersebut sudah merespons positif seruan Bank Indonesia untuk menurunkan tingkat bunga pinjamannya di saat BI Rate sudah cukup rendah dengan diturunkan hingga ke level 6 persen (turun 0,75 persen selama tahun 2011).

Di sana juga ada Pertamina yang seharusnya memperbaiki mekanisme pengawasan terhadap pembatasan konsumsi BBM bersubsidi oleh kalangan mampu atau PT Telkom yang seharusnya lebih fokus untuk memperluas akses daerah terpencil terhadap sarana komunikasi dan internet.

Jangan lupa juga dengan PLN. Perusahaan ini punya tugas berat untuk melakukan elektrifikasi 80,24 persen wilayah Indonesia pada tahun 2014. Hingga Oktober 2011, perusahaan setrum negara itu baru mengelektrifikasi 71,2 persen wilayah Indonesia dengan rincian 75,4 persen di wilayah Jawa-Bali, 68,2 persen di wilayah Indonesia Barat dan baru 59,2 persen di wilayah Indonesia Timur. Ini belum lagi ditambah dengan payahnya kinerja PLN dalam mengurangi pemadaman yang masih terus saja terjadi.

Hal berikutnya yang bikin gusar dari iklan yang bila ditotal berjumlah 2,5 halaman tersebut adalah terdapatnya kalimat “mengucapkan selamat kepada seluruh rakyat Indonesia yang bersama pemerintahan SBY berhasil mencapai investment grade di akhir 2011 ini.” Kalimat tersebut lebih terlihat sebagai usaha cari muka karena sekali lagi investment grade itu tidak otomatis berarti kesejahteraan rakyat meningkat.

Yang terakhir, untuk memasang iklan jacket di harian sebesar Kompas tentu tidaklah murah. Bila iklan berwarna satu halaman (7 kolom kali 100 milimeter kolom) bertarif Rp 330 juta, tentu bisa dihitung biaya yang harus dikeluarkan untuk membiayai iklan sebesar 2,5 halaman tersebut. Padahal, iklan tersebut juga dipasang di media lain, antara lain harian Bisnis Indonesia. Akan lebih baik bila dana untuk publikasi yang salah sasaran seperti itu dialihkan untuk hal-hal yang lebih berguna.

6 Tanggapan to “Kecewa dengan ‘Indonesia Itu Mengecewakan’”

  1. cK Says:

    alhamdulillah alyak apdet blog!

  2. memeth Says:

    TAKBIIIR

  3. Titiw Says:

    Sayang ya, kenapa pake tajuk seperti itu. Mengecewakan.

  4. rasarab Says:

    Bener mas ane juga heran pas dapet gambar koren itu. Mungkin niat nya emang baik mau mengguna semangat tapi bahasanya salah kaprah malah terkesan antipati.
    saya setuju sama uraian mas arya

  5. flafea Says:

    saat membaca iklan itu, pikiran yang muncul, “iklan ini kok terkesan mendukung pemerintah (baca: SBY) banget, sih? siap-siap buat 2014, ya?” :)

  6. casiraghii Says:

    hmmm….menarik juga jurnalis olahraga jadi kolumnis ekonomi :d

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: