Archive for Februari, 2012

Paris

Februari 22, 2012

 

Imajinasi lebih penting ketimbang pengetahuan ~ Albert Einstein

Imajinasi adalah unsur paling penting dalam film Midnight in Paris garapan sutradara senior Woody Allen. Melalui imajinasi, Allen mengajak para penontonnya untuk melompati ruang dan waktu, menuju kota Paris di berbagai masa.

Mudah untuk menikmati Midnight in Paris. Allen menyajikan sebuah film yang cerdas, lucu dan romantis—semuanya dibungkus di dalam keindahan kota Paris yang memang merupakan salah satu kota paling cantik di dunia. Tema dan latar belakang Eropa memang jadi penuh imajinasi di tangan Allen. Sebelum ini, saya menonton film Allen yang berjudul ‘Vicky Cristina Barcelona’ yang (tentu saja) berlatar belakang Barcelona. Dalam sebuah wawancara, Allen bilang kalau dia memang cinta dengan kota Paris, sehingga membuat film berlatar belakang Paris adalah sebuah hal alami buat dia.

Film dibuka dengan penggambaran Paris yang indah secara ekstensif di mana penonton dibawa melihat berbagai sudut Paris di siang hari, di malam hari, di saat terang, di saat hujan, dan lain sebagainya. Protagonis di film ini adalah Gil Pender, seorang penulis skenario film yang tergila-gila pada Paris dan berniat untuk tinggal di kota itu. Pender yang gandrung pada Paris tahun 1920-an (era di mana para sastrawan dan seniman tersohor menjadikan Paris sebagai sumber mata air inspirasi untuk karya-karya mereka) terikat pertunangan dengan Inez, perempuan yang tidak bisa mengerti obsesi Pender pada Paris.

Petualangan Pender dimulai ketika ia bertemu dengan seniman-seniman besar itu di sebuah sudut Paris. Ia kemudian bergaul dengan sastrawan-sastrawan seperti Ernest Hemingway, F Scott Fitzgerald dan istrinya Zelda, Gertrude Stein, dan T.S Eliot; juga dengan para seniman seperti Pablo Picasso, Salvador Dali, Luis Bunuel, Man Ray, dll. Pender menikmati gaya hidup bohemian yang dilakoni para seniman dan sastrawan tersebut karena di kepalanya, itulah Paris yang paling ideal buatnya.

Pender kemudian jatuh hati pada Adrianna, perempuan cantik yang menjadi model lukisan Picasso. Persamaan Pender dengan Adrianna adalah mereka sama-sama punya obsesi dengan masa lalu. Bila Pender tergila-gila pada Paris tahun 1920-an, maka Adrianna merindukan Paris pada sekitar pergantian abad 19 ke abad 20 yang disebut sebagai La Belle Epoque.

Karakter Pender dimainkan dengan sangat baik oleh Owen Wilson yang berhasil menghadirkan sosok Pender yang penuh keraguan terhadap karirnya sebagai penulis skenario film, tetapi di saat lain bisa dengan mantap mengkritik pandangan xenofobia dari calon mertuanya yang beraliran politik ‘kanan’. Kebingungan Pender ketika harus dihadapkan pada pilihan antara kembali pada Inez atau terus mengejar Adrianna ditampilkan Wilson dengan prima.

Selain gambar-gambar tentang gaya hidup bohemian para seniman, film ini dipenuhi dengan musik jazz yang manis, seperti lagu legendaris milik Cole Porter, Let’s Do It. Di luar itu, dibutuhkan sedikit pemahaman terhadap konteks ketika melihat Hemingway nyerocos seperti orang mabuk, atau ketika melihat Dali bagai tergila-gila dengan badak.

Terus terang, saya agak bias menilai film ini karena saya punya obsesi sendiri tentang Paris sebagai sebuah kota yang penuh dengan nuansa cinta, kota dengan seni mengalir dalam darahnya, kota di mana sastra adalah oksigen yang menjadi napasnya setiap hari. Tapi harus diakui, karya Allen yang satu ini memang layak mendapat pujian.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.