Arsip untuk ‘IT’ Kategori

Menghemat Baterai Android dengan Du Battery Saver

Agustus 20, 2013

DuBattery1

Saya adalah pemakai ponsel Android yang memiliki fitur dual SIM alias bisa memuat dua operator secara bersamaan. Satu operator CDMA yang khusus dipakai buat data dan satu lagi operator GSM yang dipakai untuk telepon.

Nah, salah satu kelemahan ponsel dual SIM adalah konsumsi baterai yang cukup boros. Kegiatan mencari sinyal 2 operator itu bisa cukup cepat membuat baterai yang jam 9 pagi masih 100% menjadi cuma setengahnya begitu masuk di atas jam 12 siang.

Hal ini makin parah bila saya melakukan perjalanan pulang kampung. Naik kereta artinya melewati daerah-daerah pedesaan di mana sinyal seluler timbul tenggelam. Ponsel semakin bekerja keras demi mendapatkan sinyal. Penurunan daya kian parah bila saya merasa bosan di perjalanan sehingga memakai ponsel saya untuk ngetwit atau ngobrol lewat Whatsapp.

Nah, di kampung saya, Purwokerto, kebetulan 2 operator yang ada di dalam hape saya termasuk kurang kuat sinyalnya. Kerja keras lagi deh hape saya itu. Kadang saya sampai harus ngecas hape 2 kali sehari atau saya harus rela hape saya mati di tengah jalan.

Suatu ketika, ada teman yang mengenalkan saya dengan aplikasi Du Battery Saver. Aplikasi ini ternyata sangat berguna bagi saya untuk menghemat baterai hape. Yang dilakukan oleh aplikasi gratis ini adalah men-disable fitur-fitur penguras tenaga yang tak perlu, sampai mengatur kecerahan layar (ini adalah penyedot terbanyak daya dari baterai).

Memakai aplikasi ini sangat gampang. Tinggal unduh aplikasinya dari Google Play di sini. Setelah terinstall, ada fitur buat melihat status baterai (daya yang terdapat di dalamnya serta suhu baterai) seperti ini:

DuBattery2

Nah, cobalah klik optimize di sini. Kamu akan ditunjukkan analisis terhadap hal-hal yang menyedot daya bateraimu dan cara buat menguranginya.

DuBattery7

Di tab sebelah kondisi baterai, ada tab saver. Di sini ada beberapa mode yang bisa dipilih, yaitu Long (cuma menyalakan fitur telepon dan SMS), General (fitur telepon/SMS dan paket data menyala), Sleep (cuma alarm yang menyala) dan custom mode yang bisa kita atur.

DuBattery4

Preferensi saya pribadi adalah seperti ini.

DuBattery3

Di tab sebelah saver, ada tab charge. Di sini kita bisa melihat status baterai saat sedang dicas. Kamu bisa melihat kapan bateraimu akan penuh terisi, tergantung kepada sumber daya colokanmu (apakah langsung dari listrik atau dari USB).

DuBaterry6

Nah tab paling kanan adalah tab monitor. Di sini kamu bisa melihat aplikasi-aplikasi apa yang memakan daya dan ada juga cara mematikannya.

DuBatery5

Cukup mudah kan memakainya? Tidak perlu jadi geek Android buat bisa memaksimalkan daya baterai hapemu dan menghindarkan kamu dari kerepotan mencari colokan atau membawa powerbank ke mana-mana hanya agar hapemu terus menyala dan kamu tetap terkoneksi dengan sekitarmu.

Mainan Baru

Agustus 5, 2013

IMAG2255

Kesadaran akan kesehatan di kalangan menengah Indonesia (oke, Jakarta) semakin meningkat. Beberapa tahun belakangan ini, fitness center semakin menjamur dan anggotanya tambah banyak. Teknologi dan gadget yang terkait dengan aktivitas fisik juga semakin populer.

Produsen alat olahraga Nike punya sebuah gadget khusus berupa gelang (wrist band) yang sudah cukup populer di sini, yaitu Nike FuelBand. Gelang ini bisa mengukur aktivitas fisik penggunanya seperti jumlah langkah kaki yang ditempuh tiap hari.

Selain FuelBand, sebenarnya ada wrist band lain yang kurang lebih memiliki fungsi serupa, seperti Jawbone Up dan Fitbit Flex. Nah, pekan lalu, gue dapat gelang Up gratis dari kantor sebagai bagian dari gerakan ‘100 Miles’ yang punya tujuan mengajak karyawan Yahoo! untuk lebih aktif bergerak dan ujung-ujungnya lebih sehat.

Di posting ini gue akan menunjukkan hal-hal berikut ini:

1. Fitur yang dimiliki;

2. Unboxing;

3. Setting; dan

4. Penggunaan.

Nah gue mulai aja ya.

1. Fitur

Jawbone Up ini dapat dipakai untuk mengukur 3 hal, yakni langkah, tidur dan asupan makanan. Semua itu diterjemahkan ke dalam satuan kalori yang dimasukkan ke dalam tubuh atau jumlah yang berhasil dibakar pengguna.

Kemampuan mengukur tidur dan asupan makanan ini yang tidak dimiliki oleh FuelBand, tapi bisa ditemukan pada Flex.

IMAG2241

Up punya bodi yang fleksibel dengan dilapisi karet di luarnya. Dengan bodi itu, Up cukup tahan cipratan air, keringat atau bahkan pancuran shower. Tapi sebaiknya Up tidak dipakai saat berenang, main selancar air atau masuk sauna.

2. Unboxing

Up dibungkus dengan sebuah boks yang lumayan eksklusif. Ada diagram bagian-bagian dari gelang ini, ada juga sedikit manualnya. Berikut ini cara unboxing Up. (maaf ya ternyata orientasi kameranya salah :))))))

Ini adalah bagian kepala Up, yang bila tutupnya dilepas terdapat jack 3.5 mm (jack audio) yang harus dicolokkan ke ponsel untuk mensinkronisasi data. Ini salah satu kelemahan Up karena FuelBand dan Flex bisa disinkronisasi secara nirkabel memakai bluetooth.

IMAG2247

Sementara ini adalah bagian ekor dari Up yang bila dipencet akan mengubah mode gelang dari move jadi sleep atau sebaliknya.

IMG_0073

3. Setting

Aplikasi bisa diunduh di Play Store untuk ponsel Android dan di AppStore untuk iPhone. Setelah itu, colokkan jack 3.5 mm di Up ke ponsel. kamu sign-up, isikan email dan password, klik sana-sini dan voila, Up kamu sudah bisa dipakai.

4. Pemakaian

Hal pertama harus kamu lakukan adalah memasang Up di pergelangan tangan. Begini kira-kira.
IMAG2245

Untuk dipakai mengukur langkah, kamu tinggal memencet ekor Up dan pastikan lampu tanda mode move menyala, lalu melangkahlah seperti biasa.

IMG_0075

Untuk dipakai mengukur tidur, kamu harus memencet ekor Up selama kira-kira 3-5 detik hingga lampu tanda mode sleep menyala, lalu tidurlah. Pengukuran tidur ini agak tricky karena bila Up mendeteksi kamu bergerak yang setara dengan 250 langkah, maka Up akan menganggap kamu sudah bangun.

IMG_0077

2013-07-31_09-38-21

Untuk mengukur asupan makanan, kamu harus masuk ke apps Up di ponsel dan masukkan makanan apa saja yang kamu konsumsi. Atau bila makanan itu punya bar code, tinggal pindai dan otomatis makanan akan terinput sendiri. Soal akurasi jumlah kalori yang ada di dalam makanan tersebut, gue kurang tahu apakah bisa diandalkan atau tidak.

IMG_0061

Setiap hari, kamu harus mensinkronkan gelang Up ke ponsel. Sebaiknya lakukan ini 2 kali sehari—sekali saat bangun tidur dan sekali lagi tepat sebelum tidur.

IMG_0062

Kamu bisa menetapkan target berapa jumlah langkah yang ingin kamu tempuh dan berapa jam kamu tidur dalam 24 jam. Up akan membandingkan capaian tidur dan langkah kamu dalam sehari dengan target ini.

Dari apps kamu bisa membagi pencapaian ini ke Facebook dan Twitter (sayangnya belum bisa ke Path). Caranya tekan lambang sharing ini dan posting kamu bisa dibaca oleh followers dan teman.

IMG_0067

Di apps kamu juga bisa menambah teman (disebut dengan teammates), mengatur setting privasi, memberi emoticon dan komentar. Tak lupa, kamu bisa melihat detail aktivitas dan melakukan analisis sendiri tentang jam-jam kamu paling aktif, apakah tidur kamu nyenyak, dlsb.
IMG_0060
IMG_0059

Karena Samsung Tak Cuma Ponsel dan Tablet

Februari 27, 2013

IMAG1272Perang yang terjadi antara Samsung dengan Apple sedikit banyak menancapkan citra Samsung sebagai produsen gadget ponsel pintar dan tablet. Padahal, Samsung juga membuat banyak produk-produk keren lainnya seperti televisi, sound system, hingga kulkas dan mesin cuci.

Hari ini, Rabu (27/2/2013), digelar sebuah acara bertajuk Samsung Forum 2013. Ini adalah acara Samsung di seluruh Asia Pasifik untuk memamerkan produk-produk andalan mereka di hadapan media, blogger dan publik.

Semua orang mungkin mengagumi keberadaan Samsung Galaxy SIII, Galaxy Note 8, atau Galaxy Tab. Tapi terus terang, saya kurang bisa mengikuti kecepatan perkembangan teknologi ponsel dan tablet Samsung. Akhirnya, saya lebih senang memperhatikan deretan televisi saja.

IMAG1264

Di depan, pengunjung disambut dengan televisi raksasa berukuran 85 inci beresoulsi ultra high-definition. Suasana di dalam ruangan pameran terasa seperi booh Samsung di pameran CES di Las Vegas lho.

Salah satu produk televisi yang menarik perhatian saya adalah Smart TV yang berukuran 55 inci. Selain ukurannya yang besar dan nyaman, televisi ini punya fitur tambahan yang tak kalah menarik. Yang pertama adalah kemampuan sosialnya (sepertinya kemampuan media sosial adalah fiture yang coba ditanamkan Samsung di nyaris semua produknya). Pengguna bisa memakai Twitter, Facebook, Skype dan Youtube di televisi ini. Agar bisa memakai fitur media sosial itu, tentu saja dibutuhkan koneksi internet. Pengguna bisa memakai koneksi kabel (LAN) dan wifi.  Dengan fitur-fitur media sosial tersebut, kita bisa lho ngetwit atau update status Facebook lewat televisi, atau menikmati video-video di Youtube dengan layar yang jauh lebih besar dari layar komputer (tentu saja!).

IMAG1269Ada 2 jenis Smart TV yang dipamerkan. Yang pertama yang dilepas untuk pasar Australia memiliki kelebihan lain berupa kemampuan streaming untuk saluran-saluran televisi tertentu. Sayangnya, fitur ini tidak ditanamkan di jenis TV yang dipasarkan untuk wilayah Asia Tenggara.
Fitur andalan lain dari Smart TV ini adalah kemampuan untuk memutar film-film 3 dimensi. Untuk bisa menikmati film 3D ini, kita harus memakai kaca mata khusus. Saat mencoba fitur 3D, gambar yang ditampilkan televisi ini sangat tajam dan terasa nyata.

Namun untuk bisa menikmati konten berupa film atau video musik tersebut, kita harus memiliki koneksi internet karena Smart TV tidak bisa memutar film yang disimpan secara lokal. Artinya, kita tidak bisa cuma menancapkan flash disk atau hard disk berisi film. Televisi harus terkoneksi dengan server di mana film-film tersebut disimpan untuk bisa menikmati konten tersebut. Meski begitu, dengan harga koneksi internet yang semakin murah, seharusnya hal itu tidak jadi masalah.

IMAG1267Samsung sendiri menjamin bahwa konten-konten (khususnya film) yang tersedia di server mereka bakal terus diperbarui. Samsung juga tidak menutup kemungkinan suatu saat ada film-film lokal yang diunggah di server mereka.

Nah, buat yang berniat membeli televisi canggih, Smart TV mungkin bisa jadi pilihan. Tak sekadar mendapat televisi dengan resolusi tajam, jernih dan nyata, tetapi juga televisi yang memungkinkan penggunanya tetap terhubung dan eksis di media sosial.

Disclaimer: Posting blog ini dibuat untuk mengikuti kontes liveblogging Samsung Indonesia. Penulis berusaha untuk menyediakan informasi yang sebenar-benarnya dan sejujur-jujurnya mengenai produk di atas.

Menguji Ketangguhan Sinyal dalam #XLNetRally

Juli 14, 2012

Seperti tradisi dalam dua tahun belakangan, XL Axiata kembali menggelar acara #XLNetRally yang bertujuan untuk menguji ketangguhan sinyal mereka menghadapi lonjakan komunikasi voice, SMS dan data saat Idul Fitri nanti. Tahun ini, XLNetRally digelar hari Jumat dan Sabtu (6 dan 7/7/2012).

Saya termasuk yang diundang oleh XL untuk mengikuti XLNetRally itu dari Jakarta bersama dengan belasan blogger lain. Beberapa sudah saya kenal seperti Wiwik, Chichi dan Marcos. Yang lain-lain ada yang sudah pernah beberapa kali melintas namanya di timeline Twitter seperti om kumis IDBerry, tapi ada juga yang benar-benar belum kenal seperti om Edo Rusyanto, Benny Nugroho, Fajar Dinihari, Ronald ‘WowKonyol’ dll. Selain para blogger, XLNetRally juga mengajak rombongan wartawan dari berbagai media. Selain itu, ada juga blogger yang berangkat dari Bandung dan Surabaya.

Hari 1

Sebagai anak kereta sejati (iya, sejak 4-5 bulan belakangan saya rutin naik KRL buat pergi dan pulang kantor), saya mulai berangkat dari Stasiun Pasar Minggu, Jumat pagi banget. Saya naik KRL jurusan Jakartakota dan turun di Stasiun Gambir tepat jam 6.00 pagi. Di Gambir, saya ketemu dengan beberapa teman blogger, juga Adhams dari XL, serta kenalan sama mas Harry Deje, mas Dipa, mas Saranto dan mas Dolly dan mbak Turina (semuanya dari XL) serta dua ranger @XLCare idola kita semua, yaitu neng Alin dan neng Intan. Lalu ketemu juga dengan Ardhi, bosnya detikInet, yang sempat mengira saya pergi sebagai wartawan tapi ternyata enggak :))

Ini saya: Big Daddy is watching you! (Foto: Wiwikwae)

Sebelum berangkat, ada sedikit sambutan dari Presiden Direktur XL Axiata Hasnul Suhaimi. Hasnul menjelaskan bahwa kebutuhan data para pengguna seluler di Indonesia makin meningkat. “Saat ini, layanan 2G saja tidak cukup, sudah harus 3G,” ungkap dia. Karena itulah, XL berusaha terus memperbanyak BTS 3G dengan target membangun 1.000 BTS 3G tiap bulan guna melengkapi ‘arsenal’ BTS mereka yang sudah mencapai 33 ribu BTS. (Btw, pagi itu kelucuan pak Hasnul ngalah-ngalahin MC-nya, Tommy *pecut Tommy*)

Sekitar pukul 7.30 pagi, setelah diajak ngobrol sama pak Hasnul yang berpesan ala restoran Padang, “kalau Anda puas dengan layanan XL, ceritakan pada yang lain; kalau tidak puas, ceritakan pada kami,” kami berangkat menuju Semarang. Regu blogger ditempatkan di gerbong eksekutif KA Argo Muria yang sudah di-booking khusus, sementara rombongan wartawan ditempatkan di gerbong khusus wisata Toraja #envy. Di dua gerbong ini, XL menyediakan layanan wifi yang menggunakan layanan data XL juga. Karena itu, saya mencoba mengetes kekuatan sinyal wifi itu dengan laptop saya. Selama masih bergerak di Jakarta sih cukup oke. Saya bisa membuka MetroTwit, Gmail, sampai membaca 9Gag. Oya, saya bahkan membuat post di blog Posterous saya dengan menggunakan sinyal wifi tadi. Agak tersendat sih, tapi sukses terunggah tuh. Selanjutnya, kualitas sinyal XL bervariasi. Kalau di daerah yang cukup banyak rumah, kualitas sinyal cukup bagus buat sekadar ngetwit, tapi kalau di daerah tengah hutan yang cukup terpencil, biasanya kualitas sinyal memburuk sehingga gadget tidak bisa nyambung ke internet.

Chichi, Wiwik, saya dan Marcos bersama Pak Hasnul Suhaimi (Foto: Chichi Utami)

Ini saya lagi mencoba internetan dengan laptop memakai sinyal wifi XL. Memakai kelambu biar nggak ketahuan lagi buka apa :p (Foto: Wiwikwae)


Di perjalanan, tim dari XL, mas Irwan dan mas Asep, menjelaskan mengenai bagaimana wujud kesiapan XL menghadapi lonjakan komunikasi sebelum dan sesudah Idul Fitri. Layar tv LCD di gerbong kereta menampilkan peta rute yang sedang ditempuh KA Argo Muria dan titik-titik berwarna hijau (yang berarti kualitas sinyal sangat bagus), kuning (kualitas sinyal sedang) dan merah (kualitas sinyal buruk atau blank). Di jalur utara. Mayoritas kualitas sinyal XL terpantau berwarna hijau. Meski begitu, ada juga beberapa titik merah, seperti di sekitar Alas Roban, Batang. Mas Irwan dari XL memaparkan kalau kontur alam di sekitar daerah itu memang menyulitkan buat menempatkan BTS. Bila kondisi memungkinkan, XL akan mengerahkan mobile BTS buat memperkuat sinyal.

Saya sempat menanyakan apakah XL juga melakukan persiapan serupa di jalur selatan, mengingat saya pulang mudiknya ke Purwokerto. Mas Asep mengonfirmasi hal itu, tapi dengan memberi catatan bahwa kualitas sinyal XL di Purwokerto masih kategori merah. Waaa…sedih tuips. Kampung halamanku ternyata terbelakang :( (belakangan, ada keterangan tambahan kalau XL secara rutin menempatkan mobile BTS di Purwokerto guna mengatasi kelemahan itu). Semoga pada saat Lebaran sudah teratasi ya, mas dan mbak di XL. Kan nanti Lebaran saya mau kirim-kirim ucapan lewat Whatsapp dan Twitter, biar hemat :p

Kilometer demi kilometer dilalui KA Argo Muria ini. Cirebon, Tegal, lalu Pekalongan. Pemandangan indah alam pulau Jawa yang masih asli membentang di kiri dan kanan kereta. Waktu semakin siang, kami pun diberi kesempatan makan siang. Menunya mantap jaya: sop buntut. Mengisi perut yang kosong buat mengembalikan tenaga yang terkuras buat haha-hihi dan ikut kuis di atas gerbong, dengan ditemani pemandangan sawah, pepohonan, laut, kota, dan desa, sungguh menyenangkan hingga kantuk pun menjelang. Tapi kantuk yang menyerang tidak sempat terpuaskan oleh tidur karena sekitar pukul 13.30 kereta kami tiba di Semarang. Rasa-rasanya, saya sudah 12 tahun tidak pernah menginjakkan kaki di ibukota Jawa Tengah ini.

Di Stasiun Semarangtawang kami disambut oleh mbak-mbak manis yang menyuguhkan jamu beras kencur dan kunir asem yang sueger. Lalu, setelah rehat beberapa menit (sempat merokok di luar stasiun bareng om Edo), kami dibagi dalam 4 rombongan. Saya masuk dalam Bus 4 bersama beberapa blogger lain dan 2 ranger idola kita bersama #ihik. Kirain busnya bus biasa, tapi ternyata dugaan saya salah! Keempat bus yang membawa kami menuju Jogjakarta adalah bus eksklusif milik Omah Mlaku (Bus 1 dan 2) dan AM Trans (Bus 3 dan 4). Bus ini punya desain interior seperti rumah, lengkap dengan kamar tidur, dapur, kursi duduk, sofa panjang, kursi pijat Osim, kulkas dan tv LCD 32 inci.

Penampakan bus AMTrans yang kami naiki

Melihat ada tv, sound system dan dua mik, insting para banci karaoke pun muncul. Sayangnya, di koleksi milik bus cuma ada karaoke lagu-lagu jadul semacam lagunya Deddy Dores. Untunglah om Deddy (yang bukan Dores) ID Berry datang dengan pertolongan lewat BlackBerry Playbooknya. Setelah colok sana colok sini, akhirnya kami bisa berkaraoke lagu-lagu yang…tetep jadul, seperti lagu More Than Words-nya Extreme sampai I Want to Know What Love Is-nya Foreigner #karaokepenyingkapumur. Errrr. Tapi ada juga lagu-lagu baru ding seperti lagunya Katy Perry. Nyaris sepanjang tiga jam perjalanan darat itu kami nyanyi-nyanyi dan ketawa-ketawa terus sampai tidak terasa kami sudah menjejak bumi Sleman. Horeee! Bus kami diarahkan ke Restoran Mang Engking di jalan Godean. Dasar lapar, semua makanan mulai dari karedok, ikan goreng dan bakar, sampai udang goreng dan bakar yang lezat dibantai tanpa sisa. Di sini, beberapa dari kami mengagumi kemampuan Adhams buat melahap porsi besar makanan meskipun badannya nggak besar :))

Suasana interior bus AM Trans

 

Keluar dari Mang Engking, kami dibawa menuju Raminten, tempat tongkrongan anak muda yang sepertinya sedang hits di Jogja, di kawasan Kotabaru. Tapi karena tempatnya penuh (dan sepertinya tidak banyak tempat parkir tersedia buat empat bus berukuran raksasa), kami akhirnya langsung dibawa ke hotel Grand Quality tempat kami menginap. Menyusuri jalanan Jogja dari atas bus seperti layaknya turis ternyata sanggup membuat saya merasakan kangen terhadap kota yang terakhir saya kunjungi akhir Februari lalu itu. Kelebat kenangan bersama orang-orang tertentu melintas di kepala sembari saya ngobrol dengan Chichi (aslinya #surhat, tuips). Sudah-sudah, nggak usah dibahas lagi soal kenangannya. Takut nanti postingannya berubah jadi curhat :))

Sampai di hotel, menaruh barang bawaan yang tidak seberapa, lalu mandi dan bersih-bersih badan, saya sih nggak langsung tidur (kecuali Wiwik yang langsung molor sehabis mandi. Faktor U, tuips #digetok). Ajakan buat Jumintenan bareng anak-anak CahAndong langsung disambar saya dan Chichi. Naik taksi, kami bergabung dengan Sandalian, Lina (dan Lumen yang tertidur pulas), Pangsit, Christin dan Choro di Kopiitem, Babarsari. Ngobrol sana-sini, saya dan Chichi berniat buat menyusul rombongan hore #XLNetRally yang dipimpin om Deddy yang katanya sedang ngopi joss di angkringan Tugu. Sampai sana, lho kok sepi? Selidik punya selidik, mereka ternyata pintong ke Malioboro, tepatnya di dekat Batik Terang Bulan. Kami menyusul ke sana naik becak (serius, saya selama 4,5 tahun di Jogja keknya nggak pernah naik becak di Malioboro). Di sebuah warung lesehan, selain om Deddy juga ada Cak Uding (dengan jenggotnya yang mooi. Hihi) dan Leoni yang menyusul sendiri dari Jakarta, lalu ketemu juga dengan tweeps Jogja seperti Jewe (yang baru pernah ketemu), Bernad, Arga, Utied dan Ilham. Nongkrong sampai sekitar jam 1.30, kami akhirnya pulang ke kamar dan tidur.

Hari 2

Sabtu pagi, saya bangun jam 7.00 walau malamnya baru tidur jam 2.00. Udah kebiasaan tuips, libur-libur pun bangun pagi. Sarapan di hotel, terus ketemu dengan blogger dari Surabaya, Benny Chandra, lalu juga ketemu dengan dua blogger Bandung yang udah sering mensyen-mensyenan, Catur dan teh Nita Sellya.

Sedari malam, saya merasakan kalau sinyal XL di Jogja nggak terlalu bagus. Browsing dan whatsapp sering gagal atau delay. Saya pun sempat mengadu ke Adhams agar ke depan ada perbaikan. Sembari menunggu rombongan siap untuk menuju Liquid Cafe tempat akan digelarnya Obsat, Adhams menjelaskan kepada saya tentang bagaimana sinyal seluler bekerja. Ada banyak istilah teknis yang kurang saya mengerti, tapi saya banyak belajar mengenai kenapa sinyal seluler bisa kuat dan lemah, apa saja yang jadi penghalang, dlsb #learnnewthingseveryday

Sebelum menuju ke Liquid di Jalan Magelang, saya, Chichi dan Wiwik sempat menengok seorang teman yang sedang hamil muda dan harus diopname di RS Happy Land (Cepat sembuh ya, Nungk!) sebelum menyusul ke Liquid dengan taksi. Sampai sana, ternyata rombongan yang dari hotel malah belum sampai :)) Maka, kami pun makan duluan. Menunya gudeg dan pecel, trus ada juga gerobak angkringan yang menyediakan teh jahe anget. Sayang acaranya siang sih, jadi teh jahenya kurang nendang. Coba kalau malam (Jogja lagi dingin banget di musim kemarau ini, katanya bisa sampe 20 derajat Celcius), pasti bakal habis lebih dari dua gelas tuh. Selain rombongan dari Jakarta, Bandung dan Surabaya, juga datang blogger dan tweeps dari Jogja, Solo dan sekitarnya seperti Hamid, Bagus, dkk.

Acara Obsat pun dimulai. Pertamanya, mas Asep kembali memaparkan kesiapan jaringan XL menghadapi derasnya penggunaan jaringan seluler selama Lebaran. Sehari-harinya saja, XL harus mengantarkan trafic suara sebanyak 600 juta menit, 660 juta SMS dan 52 Terabyte (TB) data. Apalagi saat Lebaran, traffic itu naik hingga 30%. Masih dari XL, mas Deje dan ranger Alin dan ranger Intan kemudian menjelaskan mengenai apa itu @XLCare, yaitu customer service yang berbasis media sosial Twitter dan Facebook. Sehari-hari, ada 8 petugas yang disebut ranger akan menjawab keluhan dan pertanyaan pengguna XL serta berbagi informasi seputar gadget dan telekomunikasi yang disebut #XLShare. Menurut saya, menggunakan media sosial buat menampung keluhan dan pertanyaan pelanggan cukup strategis. Sekarang, dibanding menelpon call center dan harus memencet-mencet beberapa angka sebelum bisa bicara dengan CS (ya kalau CSnya nggak sibuk? Kalau CSnya sibuk, harus nunggu. Kan bayar tuh). Apalagi, XLCare berjanji bahwa setiap pertanyaan atau keluhan akan direspons paling lambat dalam tujuh menit!

Ranger Intan, Alin dan Hary Deje sedang presentasi (Foto: Marcos)

Selesai giliran dari XL, kemudian tampillah Edo Rusyanto. Meski rambutnya sudah memutih, blogger otomotif yang satu ini masih sangat semangat bicara tentang road safety, apalagi menjelang musim mudik Lebaran. Data yang didapat Edo dari Polri, dari H-7 hingga H-1 Idul Fitri tahun 2011, terjadi 297 kecelakaan dengan korban meninggal dunia 49 orang, 83 orang luka berat dan 315 luka ringan. Edo menambahkan kalau mayoritas dari korban kecelakaan itu adalah pemotor. Pemotor memang rawan kecelakaan, selain karena kendaraannya kecil, ia juga mudah diserang kelelahan yang membuat konsentrasi turun dan menimbulkan kecelakaan. Edo menyarankan agar pemotor beristirahat tiap 2 jam, namun tetap tidak menyarankan naik motor buat mudik mengingat risikonya.

Sesi terakhir dari Obsat kali ini adalah pemaparan Trinity tentang gadget dan travelling. Trinity yang rutin menulis blog di Yahoo!, selain di blognya sendiri, mengaku kalau orang lain itu menganggap bepergian sebagai liburan, maka ia menyebut bahwa liburan adalah pekerjaan rutinnya. Sementara liburan buat dia adalah ketika berdiam diri di rumah. Trinity menjelaskan bahwa gadget punya peran penting dalam travelling. Selain sebagai dokumentasi, juga demi eksistensi diri di media sosial. Karenanya, penting juga buat memilih operator yang memiliki jangkauan sinyal luas dan bisa roaming data di luar negeri.

Selesai Obsat di Liquid, saya, Wiwik dan Chichi melipir ke Kedai Kopi Gejayan buat kopdar (lagi!) dengan teman-teman CA. Di sana hadir Lina dan Lumen (kali ini bangun, yay!), Enade PhD, Ijal, Momon, Nico dan Celo. Ngobrol sana-sini, dari yang nggak penting sampai yang nggak penting sekali banget, akhirnya sekitar jam 16.45 saya harus pamit buat ke bandara karena ditunggu pesawat ke Jakarta jam 17.40. Setelah dibekali oleh-oleh sekardus besar (yang isinya antara lain gudeg kendil Yu Djum yang lehendaris itu), menunggu sebentar di ruang tunggu, akhirnya saya boarding ke pesawat Lion Air yang hebatnya hari itu on time sodara-sodara! Saya beruntung karena saya duduk sederet sama ranger ^AL #ihik. Yang tadinya berniat buat baca buku (atau tidur) di pesawat, saya malah akhirnya ngobrol sama Alin hingga nggak kerasa pesawat sudah mendarat di Bandara Soekarno Hatta Tangerang. Aaaaakkk. Cuma 50 menit tuips! I wanted more! #eh

Senja di langit Jogja menjelang kepulangan :)

Sungguh, perjalanan #XLNetRally kali ini sangat enjoyable. Jalan-jalan ke Semarang dan Jogja, trus ketemu teman-teman baru yang asyik banget. Semoga tahun depan saya diundang lagi ya #ngarep

Disclaimer: XL menanggung semua biaya perjalanan dan akomodasi selama saya berangkat dari Stasiun Gambir sampai pulang ke Jakarta lagi. Tulisan ini sangat diupayakan untuk tetap obyektif, tetapi penilaian akhir saya serahkan kepada pembaca sekalian.

Imigrasi

Januari 14, 2011

Pekan lalu, saya melakukan perjalanan terjauh saya selama 20 tahun lebih saya hidup di dunia. Saya terbang ke Los Angeles untuk sebuah acara liputan.

Amerika, negara yang bisa dibilang sebagai negara yang dibenci tapi dirindu. Dibenci karena kebijakan mereka yang suka sembarangan, tetapi juga dirindu karena mereka adalah ekonomi terbesar dunia. Selain itu, banyak juga orang yang memimpikan untuk mengunjungi atau tinggal di sana.

Setelah terbang 6 jam dari Jakarta ke Taipei, lalu terbang 11,5 jam dari Taipei, akhirnya saya tiba di Bandara Internasional Los Angeles pada hari Rabu 5 Januari jam 19.30 waktu Los Angeles.

Melewati imigrasi di LA, saya termasuk yang harus melalui screening kedua. Deg, jantung sempat berdebar. Namun mengingat perbincangan di Jakarta dengan Wicak Hidayat yang selalu kena screening kedua dalam beberapa kali kunjungan ke AS, saya tenang-tenang saja.

Di depan meja imigrasi (yang ditangani oleh Custom and Border Protection (CBP)), ada belasan orang yang bernasib seperti saya. Di sana, kami harus mengisi formulir tentang apa kepentingan kami datang ke AS. Cukup 2 menitan, acara mengisi formulir selesai, tapi untuk menunggu sampai dilepas, bisa butuh sampai 1 jam sendiri!

Setelah 1 jam-an menunggu, saya dipanggil dan sidik jari saya diminta (proses yang wajar yang juga dilakukan di screening pertama). Lantas, paspor saya dikembalikan sembari diberi tahu kalau saya harus melapor ke CBP sebelum nanti pulang dari Los Angeles. Tanpa banyak tanya, saya pun berlalu.

Di pemeriksaan barang, tidak ada masalah. Mereka cuma menanyakan apakah benar saya seorang wartawan. Lalu, saya pun keluar dari bandara bahkan tanpa pemeriksaan terhadap barang-barang yang saya bawa.

Perbandingan Tarif Per Detik Simpati Pe-De vs XL Bebas

Desember 16, 2007

Rupanya, perang antar operator telekomunikasi selular di negeri ini masih terus berlanjut. Setelah XL yang meluncurkan tarif super murah Rp 1/detik melalui XL Bebas-nya, kini Telkomsel ikut terjun ke arena perang tarif itu dengan memperkenalkan tarif Simpati Rp 0.5/detik.

Jelas sekali, apa yang diperbuat oleh Telkomsel itu adalah upaya untuk menjawab tarif yang dimiliki XL. Meski begitu, operator terbesar di Indonesia itu membantah bahwa tarif Rp 0,5/detik ini adalah jawaban atas vonis KPPU yang mengharuskannya menurunkan tarif 15% menyusul terbuktinya kasus monopoli yang dilakukan Temasek (perusahaan BUMN Singapura yang ikut memiliki Telkomsel –dan juga Indosat).

Tidak semua pelanggan Simpati bisa menikmati fitur itu. Hanya mereka yang memakai Simpati Pe-De lah yang bisa. Pemakai Simpati reguler harus mengubah sistem penarifannya menjadi per detik dengan mengakses *880#.

Saya sendiri belum mencoba berpindah ke sistem tarif per detik. Soalnya, dengan memakai tarif per detik, maka kita tidak bisa lagi menikmati bonus bicara dan bonus SMS. Bonus bicara+SMS yang ada pun jadi tidak bisa dipakai (kecuali kita berpindah lagi ke sistem tarif per menit). Selain itu, setiap kita pindah sistem tarif, maka pulsa kita akan dipotong Rp 3.000.

Sebelumnya, saya sudah memakai XL bebas. Saya pun kemudian mencoba menghitung-hitung tarif kedua operator ini. Oya, sebagai informasi, untuk XL Bebas, tarif Rp 1/detik ke sesama XL berlaku setelah detik ke-121 dan seterusnya. Untuk detik ke 1-120, dikenai tarif Rp 10/detik. Sedangkan untuk Simpati Pe-De, tarif Rp 0,5/detik ke sesama Telkomsel berlaku setelah detik ke-61. Di detik pertama hingga 60, pelanggan harus membayar Rp 25/detik.

Oke, mari berhitung. Siapa yang lebih murah dari siapa. Tapi untuk diketahui, khusus untuk tarif XL Bebas, saya memakai tarif yang diterapkan di region Jawa Tengah-DIY. Setahu saya, sistem perhitungan di region DKI Jakarta sedikit berbeda.

Menit ke

Tarif Telkomsel

Tarif XL

0-1

1500

600

2

1530

1200

3

1560

1260

4

1590

1320

5

1620

1380

6

1650

1440

7

1680

1500

8

1710

1560

9

1740

1620

10

1770

1680

11

1800

1740

12

1830

1800

13

1860

1860

14

1890

1920

Nah, dari tabel di atas, terlihat bahwa tarif Simpati akan terasa lebih murah jika Anda melakukan pembicaraan telepon dengan durasi 14 menit atau lebih. Sementara, Anda yang banyak melakukan pembicaraan dengan lama kurang dari 14 menit, maka tarif XL Bebas akan terasa lebih murah.

Apakah Anda akan memilih memakai Simpati atau memakai XL, semuanya terserah kepada Anda. Silakan memilih tarif mana yang menurut Anda paling murah. Perang antar operator telekomunikasi sudah seharusnya membuat konsumen diuntungkan.

Disclaimer: Saya tidak bekerja untuk salah satu operator ataupun operator seluler lainnya dan juga afiliasinya. Posting ini murni pendapat pribadi dan tidak ditujukan untuk mempromosikan operator mana pun. Semua pemakaian jasa operator seluler adalah sepenuhnya tanggungjawab pembaca.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.