Arsip untuk ‘kuliner’ Kategori

Pasar

Februari 9, 2011

Pada awalnya adalah spontanitas. Tahun 1934, sekelompok petani di Los Angeles menggelar dagangan di bak truk mereka di sudut jalan antara Fairfax dan Third. Para pembeli berkerumun di lahan tanah yang dipetak-petak dengan garis yang dibikin dari kapur.

Berpuluh tahun kemudian, tempat itu menjadi sangat sibuk dan nama Farmers Market pun kian melambung. Para petani tidak lagi berdagang dengan modal truk, namun mereka punya toko dan kedai; sementara pengunjung juga tidak lagi harus berbecek-becek di atas tanah karena tempat itu kini sudah berlantai paving block dan aspal, di sana disediakan juga tempat parkir yang luas buat mobil mereka.

Ini papan tinggi di luar Famers Market.

Pada sebuah Minggu pagi menjelang siang di awal Januari, saya mendatangi Farmers Market. Sebelum ini, saya baru tahu keberadaan Farmers Market dari video yang saya tonton di kabin pesawat EVA Air yang membawa saya dari Taipei ke Los Angeles. Promosi di video tersebut cukup menarik, Farmers Market digambarkan sebagai tempat untuk mencari bahan-bahan makanan segar dll.

Meski suhu saat itu lumayan hangat, perkiraan saya sekitar 6-8 derajat Celcius, tapi angin musim dingin yang berembus pelan-pelan tetap saja membuat saya kadang menggeretakkan rahang. Hihihi.

Dari luar, terlihat sebuah menara yang mirip menara gereja dengan tulisan Farmers Market. Lalu ada juga papan tinggi yang mempromosikan barang apa saja yang bisa didapat dalam pasar itu. Saya tidak tahu apakah tampang Farmers Market ini sama atau tidak dengan pasar modern yang ada di Jakarta atau Tangerang karena saya belum pernah datang ke pasar modern di dua tempat yang saya sebut belakangan itu :p

Saya masuk ke dalam Farmers Market melalui sebuah jalan kecil yang terletak di dekat toko Monsieur Marcel. Suasana di dalam pasar belum terlalu ramai. Ada toko dan kedai berderet-deret, ada juga kursi-kursi dan meja yang ditata rapi.

Deretan meja makan di bawah sinar matahari, cukup menghangatkan suasana Los Angeles di musim dingin.

Setelah menebar pandangan ke beberapa arah, saya kemudian masuk ke toko Monsieur Marcel. Toko ini menjual berbagai macam kebutuhan dapur, seperti bumbu-bumbu, yoghurt, keju, wine, kopi dan teh, pasta, dll. Berada di toko ini kok saya langsung ingat teman saya, Herman, yang hobinya masak itu. Saya membayangkan, dia pasti akan sangat bahagia masuk ke toko ini.

Sejatinya, saya nggak tau mau beli apa di situ. Setelah sempat menimbang-nimbang mau beli wine, saya membatalkan niat itu karena saya bingung bawanya. Dari Las Vegas saja saya sudah bawa satu botol minuman beralkohol, takutnya nanti nggak lolos di bea cukai Jakarta. Akhirnya, saya membeli sebungkus kopi buat teman saya, Ipung, yang memang nitip ‘kopi Amerika’ sebelum berangkat. Tapi tunggu, kopi yang saya beli ternyata kopi Italia, bukan kopi Amerika :)) Ahsudahlah.

Keluar dari toko itu, saya berkeliling. Ada banyak toko yang saya lewati, seperti toko daging segar, restoran yang menjual masakan Meksiko, kedai es krim, toko poultry (menjual daging unggas), toko permen, sampai toko yang menjual sayuran segar seperti tomat, bawang, dll.

Toko pastry yang menjual kue-kue hangat.

Toko daging ini menyediakan mulai dari daging ayam, sapi, sampai daging babi.

Di depan toko-toko itu, orang-orang duduk berkelompok menikmati hidangan dan suasana. Suasana makin hangat (literally) karena beberapa kaki di atas meja-meja itu ada pemanas yang berfungsi mengusir hawa dingin bulan Januari ini. Dan karena hari ini hari Minggu, banyak di antara pengunjung ini yang datang bersama keluarganya.

Pasar yang sangat bersih. Membuat pengunjung betah.

Makan bersama keluarga di hari Minggu di Farmers Market. Akrab dan hangat.

Itu kotak hitam di langit-langit adalah pemanas ruangan. Daripada pengunjung kedinginan?


Mulai capek berkeliling-keliling selama kurang lebih 20-an menit, saya menuju salah satu toko dan membeli beberapa kotak coklat. Bukan coklat dengan kemasan modern, tetapi coklat home made yang cukup dikemas dengan kotak plastik tipis yang transparan. Sembari melayani pembeli lain, ibu penjaga toko yang dari logatnya terlihat berlatar belakang Hispanik itu mengajak berbincang seorang bapak dan anak di samping saya.

Si ibu itu meledek si anak cowok yang mungkin usianya 7-8 tahun dengan bertanya apakah dia sudah punya pacar. Ibu itu lalu bilang kalau dia punya anak perempuan yang umurnya 6 tahun dan bertanya apakah si cowok kecil itu mau berkenalan dengan putrinya. Si anak cowok itu pun merasa malu dan banyak berlindung di balik badan ayahnya yang cuma cengar-cengir saja.

Sejam berada di Farmers Market membuat saya suka dengan konsep menjadikan pasar sebagai obyek wisata. Suatu hari nanti, saya ingin melihat orang asing menjadikan salah satu pasar di Jakarta, Yogyakarta, Malang, atau Makassar, sebagai salah satu tujuan wisata yang harus mereka kunjungi.

10 Makanan Wajib di Kota Purwokerto (Bagian 2-habis)

Mei 1, 2007


Mari melanjutkan jalan-jalan kita mencari keunikan kuliner kota Purwokerto.
6. Ayam Goreng Eco Niki

Ayam gorengnya renyah di luar tapi empuk di dalam. Dipadu dengan sambal yang tidak terlalu pedas untuk ukuran saya (tapi dibilang pedas untuk istri saya). Selain itu, di sini juga disediakan kremesan yang garing. Kremesan ini bisa dinikmati bersama ayam dan nasinya, atau sekedar dijadikan camilan seperti halnya kerupuk.


Di mana? Temukan ayam goreng Eco Niki di depan SMU Negeri 4 (arghhh lagi-lagi, saya lupa nama jalan), di samping markas travel Bob Mila.
Berapa? Untuk sepotong ayam, harganya Rp 6000 saja.


7. Kripik Tempe

Kripik tempe Purwokerto berbeda dengan kripik tempe dari tempat lain. Kripik tempe Purwokerto berukuran sedikit lebih besar dari kripik tempe Malang, misalnya. Lalu, bila kripik tempe lain menggunakan bumbu jintan, kripik tempe Purwokerto tidak. Rasanya gurih. Selain sebagai teman minum, bisa juga dijadikan lauk makan.

Di mana? Kripik tempe, yang terbaik adalah yang dibikin tetangga belakang rumah saya di Gandasuli, Karang Pucung. Kripik produk tetangga saya ini, dijamin baru digoreng. Tapi, Anda bisa juga menemukannya di pusat oleh-oleh. Misalnya, pusat oleh-oleh Ny Sutrisno (Belong) yang terletak di belakang Moro Grosir.
Berapa? 1 bungkus kripik berkisar Rp 3.000-5.000.


8. Mie Palma

Mie goreng/rebus dan nasi goreng gampang ditemukan di mana-mana. Tapi Mie Palma ini istimewa. Mie gorengnya memakai mie yang lebar (kwetiaw). Lalu, dimasak di atas tungku arang. Panasnya merata. Bumbunya pun sudah tercium harus saat dicemplungkan dalam wajan. Saat mie dimakan, rasanya benar-benar mantap!


Di mana? Mie Palma mangkal di depan Fuji Film di perempatan Jl. Jenderal Sudirman dengan Jl. Kol Sugiono. Perempatan ini disebut perempatan Palma.
Berapa? Harga satu porsi mie goreng/rebus atau nasi goreng adalah Rp 8.000.


9. Getuk Goreng

Ini dia, satu makanan yang tidak ditemukan di tempat lain. Berawal dari kreasi Sanpirngad berpuluh-puluh tahun lalu (saya belum lahir waktu itu :p), yang menggoreng getuk buatannya agar tidak basi dan bisa dimakan buat esok hari. Ternyata getuk goreng ini disukai orang, sehingga lalu dijual. Pada dasarnya, getuk biasa yang terbuat dari singkong dan gula merah, lalu digoreng dalam bentuk bulatan-bulatan sebesar batu.

Di mana? Di sepanjang jalan raya Sokaraja yang menuju Semarang atau Yogyakarta, bertebaran toko-toko yang menjual getuk goreng. Atau sekali lagi, bisa juga ditemukan di toko oleh-oleh.
Berapa? Satu bungkus getuk goreng yang dikemas dalam bentuk besek (dari anyaman bambu), bisa diperoleh dengan harga Rp 5.000-8.000.


10. Es Jorok

Saya bingung, entah kenapa tempat ini diberi nama es jorok? Tapi, tenang saja, meski namanya es jorok, es buah dan es campur ini tidak jorok. Tempatnya cukup bersih meski rada kecil. Rasa es buah atau es campur yang disiram susu coklat di atasnya akan membuat kerongkongan yang kering terasa sejuk.


Di mana? Warung es jorok berada di Jalan Riyanto, Sumampir, sedikit di sebelah utara kampus Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.
Berapa? Jika Anda punya uang Rp 4.000, Anda sudah bisa menikmati satu mangkuk penuh es jorok yang nikmat ini.

Nah…itulah sepuluh makanan yang merupakan bagian dari kekayaan kuliner kota Purwokerto. Meski ada yang khas, mungkin ada beberapa makanan yang bisa ditemukan di kota-kota lain. Tapi percayalah, jenis kuliner di kota Purwokerto memiliki keunikan tersendiri yang patut dicoba.

Mungkin ada beberapa makanan yang terlewat dan tidak sempat terlintas di benak saya. Jadi, bila ada waktu nanti, saya mungkin masih akan menulis tentang makanan-makanan lain di kota Purwokerto.
———————
+foto getuk goreng dicomot dari sini

10 Makanan Wajib di Kota Purwokerto (Bagian 1)

April 28, 2007

Pulang kampung ke Purwokerto, saatnya kita berjalan-jalan dan menikmati keunikan makanan kota yang terletak di ketinggian 750 MDPL (Meter di atas permukaan laut)1 ini. Mari…


Inilah 10 makanan yang wajib Anda makan di kota Purwokerto nan sejuk ini.
1. Mendoan

Mendoan2 adalah sejenis tempe yang lebar dan tipis, digoreng dengan balutan tepung beras/glepung dan tepung terigu. Enak dimakan dengan dicocol ke sambal atau saus, atau bisa juga dengan cabe rawit yang pedesnya mak nyuss!


Di mana? Di hampir seluruh penjuru Purwokerto bisa Anda dapatkan mendoan ini. Cari saja penjual gorengan, niscaya Anda takkan kesulitan menemukan mendoan.
Berapa? Harganya sangat murah. Mulai dari Rp 300-1000 per bijinya

2. Soto Sokaraja

Soto Sokaraja adalah soto khas Purwokerto (selain Soto Sungeb yang akan saya jelaskan di bawah ini). Ciri khasnya, soto asal Purwokerto memakai ketupat serta berbumbu kacang dengan taburan kerupuk di mangkoknya.

Di mana? Paling tepat tentu saja bila Anda datang ke Sokaraja langsung. Terletak di jalan utama menuju Yogyakarta dan Semarang, sekitar 9 KM arah timur Purwokerto.

Berapa? Cukup cabut Rp 5.000-6.000 saja dari dompet Anda

3. Soto Sungeb

Sebenarnya agak bingung juga membedakan Soto Sungeb dengan Soto Sokaraja. Sedikit bedanya mungkin tidak digunakannya kacang goreng (bukan bumbu kacang) di dalam Soto Sungeb. Sama seperti Soto Sokaraja, Soto Sungeb juga menggunakan ketupat dan bukan nasi. Masih ada taburan krupuk dan mie goreng serta bumbu kacang yang pedas.


Di mana? Temukan di sepanjang Jl. RA Wiriaatmadja atau lebih dikenal sebagai Jalan Bank3. Jangan bingung dengan banyaknya warung Soto Sungeb. Dari segi rasa, hampir sama saja, kok.

Berapa? Sama juga dengan Soto Sokaraja, cukup keluarkan Rp 5.000-6.000 untuk setiap porsinya.

4. Sate Suhada

Sate Suhada khusus menyediakan sate kambing dan gulai kambing yang rasanya benar-benar mantap. Daging kambing muda yang dipakai untuk membuat sate ini akan membuat lidah bergoyang nikmat karena rasa daging yang empuk dibakar pas dan dipadu bumbu kecap atau kacang yang pas.


Di mana? Temukan Sate Suhada di sebelah selatan perempatan Srimaya (Tanaka Motor). Maaf, saya lupa nama jalannya. :D
Berapa? Untuk seporsi sate kambing yang murni daging, bayarlah Rp 9.000 per porsinya. Untuk yang dicampur dengan hati, bayarlah Rp 8.000. Sedangkan gulai dihargai Rp. 9.000 per porsi


5. Es Duren

Siang-siang yang terik, enaknya segarkan tenggorokan dengan es duren. Duren yang legit dan empuk, dicampur dengan santan dan susu coklat, akan membuat indra perasa Anda berada di langit ke tujuh.


Di mana? Sebenarnya, es duren yang enak tidak berada di Purwokerto. Datanglah ke Purbalingga, 30 KM timur Purwokerto, dan tanya kepada penduduk sekitar, es duren yang terkenal itu. Pasti Anda bakal sampai ke tempat yang benar. Eh tapi tunggu dulu, sejak beberapa bulan lalu, es duren juga tampil di sekitar kompleks GOR Satria (lagi-lagi saya lupa nama jalannya). Jadi tidak perlu terlalu jauh ke Purbalingga untuk menikmati segarnya es duren ini.

Berapa? Satu porsi es duren berharga Rp 8.000 saja kok.

Masih mau lanjut? Bagaimana? Masih ingin memanjakan lidah Anda dengan kelezatan kuliner khas Purwokerto? Tunggu tulisan saya berikutnya ya…

——————————–
1: Versi saya :D
2: Konon berasal dari kata
mendo yang berarti setengah lembek
3: Disebut Jalan Bank, karena di jalan inilah terdapat Museum BRI. Museum BRI ini terletak di lokasi yang dulunya adalah tempat Raden Arya Wiriaatmaja mendirikan
Hulp en Spaar Bank yang kemudian berubah menjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank tertua di Indonesia
+mohon maaf kepada Bondan Winarno yang ucapan khasnya saya kutip
++gambar mendoan saya ambil dari sini


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.