Arsip untuk ‘me’ Kategori

Mainan Baru

Agustus 5, 2013

IMAG2255

Kesadaran akan kesehatan di kalangan menengah Indonesia (oke, Jakarta) semakin meningkat. Beberapa tahun belakangan ini, fitness center semakin menjamur dan anggotanya tambah banyak. Teknologi dan gadget yang terkait dengan aktivitas fisik juga semakin populer.

Produsen alat olahraga Nike punya sebuah gadget khusus berupa gelang (wrist band) yang sudah cukup populer di sini, yaitu Nike FuelBand. Gelang ini bisa mengukur aktivitas fisik penggunanya seperti jumlah langkah kaki yang ditempuh tiap hari.

Selain FuelBand, sebenarnya ada wrist band lain yang kurang lebih memiliki fungsi serupa, seperti Jawbone Up dan Fitbit Flex. Nah, pekan lalu, gue dapat gelang Up gratis dari kantor sebagai bagian dari gerakan ‘100 Miles’ yang punya tujuan mengajak karyawan Yahoo! untuk lebih aktif bergerak dan ujung-ujungnya lebih sehat.

Di posting ini gue akan menunjukkan hal-hal berikut ini:

1. Fitur yang dimiliki;

2. Unboxing;

3. Setting; dan

4. Penggunaan.

Nah gue mulai aja ya.

1. Fitur

Jawbone Up ini dapat dipakai untuk mengukur 3 hal, yakni langkah, tidur dan asupan makanan. Semua itu diterjemahkan ke dalam satuan kalori yang dimasukkan ke dalam tubuh atau jumlah yang berhasil dibakar pengguna.

Kemampuan mengukur tidur dan asupan makanan ini yang tidak dimiliki oleh FuelBand, tapi bisa ditemukan pada Flex.

IMAG2241

Up punya bodi yang fleksibel dengan dilapisi karet di luarnya. Dengan bodi itu, Up cukup tahan cipratan air, keringat atau bahkan pancuran shower. Tapi sebaiknya Up tidak dipakai saat berenang, main selancar air atau masuk sauna.

2. Unboxing

Up dibungkus dengan sebuah boks yang lumayan eksklusif. Ada diagram bagian-bagian dari gelang ini, ada juga sedikit manualnya. Berikut ini cara unboxing Up. (maaf ya ternyata orientasi kameranya salah :))))))

Ini adalah bagian kepala Up, yang bila tutupnya dilepas terdapat jack 3.5 mm (jack audio) yang harus dicolokkan ke ponsel untuk mensinkronisasi data. Ini salah satu kelemahan Up karena FuelBand dan Flex bisa disinkronisasi secara nirkabel memakai bluetooth.

IMAG2247

Sementara ini adalah bagian ekor dari Up yang bila dipencet akan mengubah mode gelang dari move jadi sleep atau sebaliknya.

IMG_0073

3. Setting

Aplikasi bisa diunduh di Play Store untuk ponsel Android dan di AppStore untuk iPhone. Setelah itu, colokkan jack 3.5 mm di Up ke ponsel. kamu sign-up, isikan email dan password, klik sana-sini dan voila, Up kamu sudah bisa dipakai.

4. Pemakaian

Hal pertama harus kamu lakukan adalah memasang Up di pergelangan tangan. Begini kira-kira.
IMAG2245

Untuk dipakai mengukur langkah, kamu tinggal memencet ekor Up dan pastikan lampu tanda mode move menyala, lalu melangkahlah seperti biasa.

IMG_0075

Untuk dipakai mengukur tidur, kamu harus memencet ekor Up selama kira-kira 3-5 detik hingga lampu tanda mode sleep menyala, lalu tidurlah. Pengukuran tidur ini agak tricky karena bila Up mendeteksi kamu bergerak yang setara dengan 250 langkah, maka Up akan menganggap kamu sudah bangun.

IMG_0077

2013-07-31_09-38-21

Untuk mengukur asupan makanan, kamu harus masuk ke apps Up di ponsel dan masukkan makanan apa saja yang kamu konsumsi. Atau bila makanan itu punya bar code, tinggal pindai dan otomatis makanan akan terinput sendiri. Soal akurasi jumlah kalori yang ada di dalam makanan tersebut, gue kurang tahu apakah bisa diandalkan atau tidak.

IMG_0061

Setiap hari, kamu harus mensinkronkan gelang Up ke ponsel. Sebaiknya lakukan ini 2 kali sehari—sekali saat bangun tidur dan sekali lagi tepat sebelum tidur.

IMG_0062

Kamu bisa menetapkan target berapa jumlah langkah yang ingin kamu tempuh dan berapa jam kamu tidur dalam 24 jam. Up akan membandingkan capaian tidur dan langkah kamu dalam sehari dengan target ini.

Dari apps kamu bisa membagi pencapaian ini ke Facebook dan Twitter (sayangnya belum bisa ke Path). Caranya tekan lambang sharing ini dan posting kamu bisa dibaca oleh followers dan teman.

IMG_0067

Di apps kamu juga bisa menambah teman (disebut dengan teammates), mengatur setting privasi, memberi emoticon dan komentar. Tak lupa, kamu bisa melihat detail aktivitas dan melakukan analisis sendiri tentang jam-jam kamu paling aktif, apakah tidur kamu nyenyak, dlsb.
IMG_0060
IMG_0059

Jangan Mimpi Bikin F1 di Sini

Oktober 3, 2012

Kemarin-kemarin, waktu seorang teman meng-RT berita soal Thailand yang akan menggelar Grand Prix F1 mulai tahun 2014, reaksi yang muncul adalah menanyakan kapan Indonesia bisa menggelar balap jet darat juga.

Bila beneran sukses mendatangkan sirkus F1, Thailand akan jadi negara ketiga di Asia Tenggara yang melakukannya. Malaysia udah gelar F1 sejak tahun 1999 di Sirkuit Sepang, baru Singapura mengekor tahun 2008. Balapan yang dilangsungkan di atas sirkuit jalan raya di sekitar kawasan Marina Bay ini punya keistimewaan karena merupakan satu-satunya balapan malam di dunia. Thailand berusaha meniru Singapura dengan menawarkan balap di jalan raya di waktu malam. Ini adalah taktik untuk menyenangkan para penonton F1 yang kebanyakan masih terkonsentrasi di Eropa.

Menggelar F1 bukanlah pekerjaan sederhana. Pulling a Formula 1 race is absolutely a mammoth job! Dari pengamatan langsung gue sebagai penonton di Singapura minggu lalu, gue liat begitu banyak hal yang harus disiapkan. Soal jutaan ton logistik lomba, soal akomodasi untuk para peserta dan penonton, hingga ke hal-hal nonteknis balapan seperti parkir, hiburan dan makanan.

Dibanding menggelar balapan di sirkuit di waktu siang, balapan F1 malam di sirkuit jalan raya berarti butuh kerja keras dua kali lipat. Panitia GP Singapura harus menutup banyak jalan sejak seminggu sebelum balapan dimulai, mengangkut perlengkapan penerangan berjuta-juta watt dengan crane-crane yang berukuran raksasa, pembatas (barrier) jalan dari beton yang beratnya naujubilah, pagar tinggi buat memisahkan trek dari penonton, bikin tribun nonpermanen, sampai menyiapkan hal-hal yang sebenarnya kecil tapi nggak bisa disebut remeh kayak toilet, tempat sampah, dll.

Untuk bisa menggelar F1, panitia GP Singapura keluar duit Rp 1,1 triliun. Dari angka itu, sekitar 65 persen ditanggung Pemerintah dan sisanya ditutup oleh sponsor dan pendapatan dari tiket. Nggak murah kan? Sebagai pembanding, anggaran olahraga di APBN 2012 saja ‘hanya’ Rp 200 miliar.

Buat ukuran Singapura yang makmur saja,  itu bukan angka yang kecil. Gedenya angka inilah yang bikin negosiasi perpanjangan kontrak antara Singapura sama Bernie Ecclestone jadi alot (makanya waktu diumumkan kalau Singapura memperpanjang kontrak F1 sampai 2017, para penonton di sirkuit pun bersorak). Untungkah Singapura? Bisa jadi. Soalnya, jutaan wisatawan mengalir ke sana selama akhir pekan. Mereka membelanjakan uang sampai 150 juta dolar Singapura alias Rp 1,1 triliun. Impas saja. Tapi keuntungan lain yang didapat Singapura adalah citra dan brand sebagai negara tujuan wisata utama dunia.

Nah, balik ke pertanyaan apakah Indonesia bisa menggelar F1? Jawabnya: ada banyak PR yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Yang pertama adalah sirkuit. Kita Cuma punya Sentul yang nggak memenuhi standar ‘Grade 1’, syarat yang ditetapkan F1.

Mau menggelar di jalan raya? Di mana? Dulu tahun 2009 kita mau bikin GP A1 di sirkuit jalanan di Karawaci saja gagal, apalagi menggelar F1 yang jelas syaratnya lebih ketat?

Kalaupun kemudian ada sebagian jalan di Jakarta yang bisa dijadikan sirkuit jalan raya, pasti bakal ada penutupan jalan. Mengganggu banget, karena macet bakal meluber di sekitaran sirkuit. Tanpa ada penutupan jalan saja, Jakarta setiap hari sudah dikepung macet, apalagi bila ada penutupan.

Di Singapura, kemacetan nggak terlalu terasa karena mereka punya sistem transportasi umum yang sangat baik (tapi teteup ya, ada koran lokal Singapura yang memuat protes warga yang harus memutar). Jakarta jelas bukan contoh yang membanggakan kalau bicara soal transportasi umum. Jakarta cuma punya KRL yang jangkauannya terbatas, dengan jumlah perjalanan yang sedikit banget, jadi kapasitas angkutnya terbatas.

Mau pakai bus? Aduh, lupakan deh. Transjakarta masih kurang busnya, jarak antarbus makin nggak menentu, kondisi bus yang tambah jelek, belum lagi jalurnya diserobot pengendara kendaraan pribadi. Bus umum selain Transjakarta? Ini lagi. Busnya buluk, knalpotnya berasap tebal, sopirnya ugal-ugalan dan masih banyak copetnya.

Singapura punya MRT, kita masih baru mulai membangun dan baru beroperasi tahun 2016. Menurut gue, itu pun nggak akan banyak membantu karena baru tersedia satu jalur. Sedangkan MRT Singapura punya empat line dengan panjang rel 157,9 km dan punya 102 stasiun, Itu pun ya, Singapura masih harus ‘memaksa’ MRT bekerja lembur sampai jam 01.00 pagi selama tiga hari.

Gimana dengan persoalan keamanan? Singapura itu negara polisi (dalam arti positif maupun negatif) yang angka kriminalitasnya kecil banget. Tapi masih saja, selama balapan mereka menerjunkan ribuan petugas polisi dan pengamanan partikelir karena lonjakan jumlah turis itu jadi lahan subur untuk berkembangnya kejahatan. Di Jakarta, angka kriminalitas masih cukup tinggi, apalagi bila ditambah keberadaan jutaan turis? Jangan sampai malah kita dipermalukan di dunia internasional dengan cerita-cerita para korban kejahatan yang sangat mudah beredar secara internasional.

Dari uraian data di atas, jelas kan kalau Indonesia belum siap untuk menggelar balapan F1 dalam waktu dekat; seberapa pun penginnya gue ngeliat Sebastian Vettel ngebut sampai kecepatan350 km per jam di negeri sendiri. Terima sajalah, level kita memang belum sampai ke sana.

(Ini adalah versi tulisan yang lebih nyantai dari tulisan asli yang dimuat di blog Arena Yahoo! Indonesia di sini)

5 Tempat Paling Menyenangkan di Jakarta

Juli 15, 2012

(dan sekitarnya)

Saya udah 4,5 tahun tinggal di Jakarta, tapi tidak pernah merasakan kebetahan yang sama dengan masa saya tinggal di Yogyakarta. Maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, Jakarta buat saya adalah pond of opportunity, bukan sebuah sanctuary.

Tapi Jakarta tetap punya pesonanya sendiri. Ada banyak tempat, kegiatan dan orang-orang yang menarik buat dilihat dan dikenal.

Nah, dalam edisi kedua flashmob blogging yang oleh mas Fanabis diberi nama #SemingguSatu ini, saya akan membahas tentang 5 tempat yang paling menyenangkan yang pernah saya kunjungi di Jakarta (dan sekitarnya).

  • Toko Buku

Favorit saya adalah toko buku Kinokuniya di Plaza Senayan. Ini tempat buat buku impor yang paling lengkap. Yang paling menggoda adalah rak-rak buku fiksi berbahasa Inggris. Saya sih lumayan betah beberapa kali ngider-ngider doang, baca 1-2 halaman dan nggak beli :)) Tapi pernah juga sih saya terjebak masuk ke situ dan secara impulsif beli buku dengan harga yang cukup…menguras kantong.

Tempat favorit kedua adalah Gramedia Matraman. Konon katanya ini toko buku terbesar di Asia Tenggara. Koleksinya jelas, lengkap. Trus lokasinya juga cukup mudah dijangkau. Kalau sudah di dalam, lumayan nyaman buat numpang baca. Hehe.

Toko buku favorit ketiga adalah Times Universitas Indonesia. Bukan di Jakarta sih, tapi di Depok. Ini lebih ke faktor lokasi yang akan saya jelasin di bawah nanti.

  • Kampus UI

Apa yang bikin kampus Universitas Indonesia menyenangkan buat saya? Baobab! Iya. Di sana ada beberapa pohon baobab, pohon raksasa yang bisa berumur ratusan tahun yang aslinya dari Afrika. Pohon baobab ini fascinating karena merupakan kekhawatiran utama tokoh Pangeran Kecil yang tinggal di planet kecil bernama asteroid B-612.

Pohon-pohon baobab yang di UI dulunya berasal dari Subang. Yang di UI masih kurus-kurus sekarang, tapi beberapa tahun ke depan pasti bakal meraksasa.

Selain pohon baobabnya, saya baru tahu kalau perpustakaan UI super duper awesome! Arsitekturnya bagus banget, ruang-ruangnya nyaman, fasilitasnya lengkap, ada kedai kopi (yang sayangnya) internasional, dan toko buku Times.

Dulu akhirnya diberaniin main ke kampus UI karena ada local guide di situ :p Lumayan juga dapat pengalaman naik bus kuning yang lehendaris itu.

  •  Kebun Binatang Ragunan

Salah satu dari sedikit ruang terbuka hijau yang masih tersisa di Jakarta. Enak buat jalan-jalan siang-siang, ramai-ramai ataupun sendiri. Bisa membawa tikar dan bekal buat piknik. Oya, di dalam KB Ragunan ada pusat primata Schmutzer. Di sini, monyet-monyetnya banyak dan relatif sehat (soalnya dibiayai lembaga asing, kalau mengharap Pemerintah kasih dana layak buat perawatan hewan-hewan itu sih sama aja mimpi).

  • Plaza Senayan

Iya, saya memang nggak suka mall. Tapi buat pengecualian, saya suka Plaza Senayan. Ini bukan karena saya ngantor di samping PS sih. PS menurut saya adalah mall yang humble dari segi arsitektur. Tidak high rise, dan tidak mudah membuat para pengunjungnya tersesat seperti Grand Indonesia yang raksasa itu.

Meski bangunannya humble, tapi tidak dengan brand-brand yang dijajakan di sini. Terutama di lantai dasar.

Oya, di samping PS dan di depan kantor saya (Sentral Senayan II) ada air mancur yang terletak di tengah-tengah empat pohon beringin kecil. Kadang, kalau sore saya duduk-duduk di bawah pohon beringin sambil menyesap kopi atau merokok (atau melakukan keduanya bersamaan) sembari menonton air mancur yang diiringi musik,

  • Salihara

Yeah, inilah tempat buat mereka yang suka dengan seni, sastra dan diskusi intelektual yang berbobot *tsaah* Enggak, saya suka ke sini kalau ada pembacaan puisi atau ada konser musik jazz. Tapi kalau ada kuliah filsafat, diskusi buku atau pementasan teater sepertinya nggak terlalu tertarik. Saya senang kalau kerja dari tempat ini (ada wifinya), mungkin karena lokasinya yang dekat banget dengan kos :p

Kalau kamu, mana 5 tempat favorit di kotamu?

Lakers (2)

April 25, 2011

Catatan: Nyasar adalah fitur. Bagian kedua dari dua tulisan berisi bualan panjang ini.

Staples Center. Ya, saya sudah di sini, nonton Lakers vs Knicks. Meski saya duduk di tribun teratas, itu tidak mengurangi antusiasme saya menikmati tontonan kelas dunia langsung di tempatnya seperti ini.

Section 301-302, Aisle U1. Tempat saya menonton.

Stadion yang sangat megah ini, selain menjadi markas Lakers juga menjadi markas tim NBA lainnya, Los Angeles Clippers. Selain itu, tim hoki es Los Angeles Kings juga berkandang di sini. Jadi, kalau Kings main, lapangan basket akan dibongkar dan diganti dengan lapangan es. Keren!

Ciri khas venue olahraga modern ada di bangunan ini. Toko suvenir dan kedai-kedai makanan berjejer di dalam, dekat dengan pintu masuk ke tribun masing-masing. Jadi, mereka yang nonton di sini bisa beli burger, pizza atau soda, juga jersey Lakers, menjelang pertandingan atau saat jeda. Oya, suvenirnya mahal-mahal, njrit! Ya sudahlah, saya beli saja satu kaus Lakers buat anak. Hihihi.

Para penonton antre beli makanan saat half-time.

Kembali ke dalam tribun, suasana sangat meriah. Di sebelah kiri saya, ada dua orang laki-laki pendukung Knicks yang dengan bebas berteriak-teriak mendukung timnya walau ia dikepung fans Lakers. Meski kadang bertukar celaan, tidak ada masalah antara fans Knicks itu dengan fans Lakers. Mereka sadar kalau ini cuma olahraga dan dukungan kepada tim kesayangannya tidak harus diikuti tindakan kekerasan.

Tip-off pertandingan Lakers vs Knicks.

Beginilah view lapangan dari tempat saya duduk. Tanpa zoom kamera :p

Saya mencoba ngobrol dengan dua fans Knicks di kiri saya. Yang satu pria berkulit hitam asli NY dan satu pria berwajah Jepang yang ternyata berasal dari Hawaii. Selain itu, saya ngobrol dengan sepasang cowok-cewek orang LA asli di kanan saya. Mereka terkejut ketika tahu saya datang beribu-ribu kilometer dari Indonesia buat nonton NBA.

Tidak banyak yang bisa diceritakan dari pertandingan. Lakers terlalu kuat buat Knicks dan menang telak. Karena Lakers menang dan Knicks gagal mencetak lebih dari 100 angka, maka setiap penonton di stadion dapat voucher untuk menikmati dua buah taco gratis dari restoran Jack in the Box. Itulah mengapa di akhir-akhir pertandingan para penonton ramai-ramai berteriak, “We want tacos, we want tacos.” Hihihi, ternyata orang Amerika juga suka gratisan.

Suasana Staples Cnter ketika pertandingan resmi berakhir.

Ya sudah, begitulah cerita dari dalam Staples Center. Sekitar jam 21.15 waktu setempat, saya dan ribuan orang lainnya berduyun-duyun keluar stadion. Di pintu keluar semua orang mendapat dua voucher taco yang tadi dijanjikan. Bubarnya penonton berjalan tertib dan tidak menimbulkan kemacetan di luar. Mereka yang memakai mobil pribadi berjalan ke tempat mobilnya diparkir, yang lain memilih naik MRT dari Stasiun Pico atau naik taksi.

Keluar dari Staples Center dari Figueroa Street Entry. Di pintu keluar kami dapat 2 voucher taco dari sebuah restoran.

Tapi petualangan lain sudah menunggu saya sekeluar dari Staples Center. Sesuai rencana, saya berniat untuk naik bus nomor 62 yang lewat di jalan depan hotel. Untuk itu, saya harus menunggu di 5th Street yang kalau dihitung dari 11th Street tempat saya berada berarti saya harus berjalan sekitar enam blok.

Saya bertanya arah ke 5th Street kepada seorang petugas polisi di dekat situ. Eh, nama polisi itu Nguyen lho. Tapi dari cara dia ngomong, kayaknya dia itu keturunan Vietnam yang udah lahir di Amrik. Di LA, cukup banyak orang Vietnam, hanya saja kalah banyak dari orang Thailand, orang Jepang, Korea dan China.

Pukul 21.30-an, saya menyusuri jalanan downtown LA. Makin jauh dari Staples Center dan Nokia Theater, suasana makin sepi. Maklum, ini hari Minggu dan downtown LA adalah kawasan bisnis, maka wajar kalau sepi. Dibanding Jakarta yang sampai jam 1 pagi aja masih rame, jelas LA ini kalah jauh.

Setelah berjalan cukup jauh, saya sampe juga di 5th Street, di dekat persimpangan dengan Flower Street. Dari informasi yang saya gugling sebelumnya, bus kota pada akhir pekan di atas pukul 21.00 akan lewat antara 20-60 menit sekali. Ya sudah, saya pun mencoba menunggu.

Ditakdirkan banyak jalan kaki. Jalan dari Staples sampe persimpangan 5th-Flower St. For nothing :(

Dua puluh menit, bus no 62 yang saya tunggu tidak kunjung datang. Saya mulai gelisah, hari semakin malam dan mulai menginjak pukul 22.00. Kemudian, ada seorang ibu-ibu agak tua yang berjalan ke halte saya menunggu. Meski tadinya saya sudah yakin bus yang saya tunggu jurusannya benar, tetapi saya coba tanya saja ke dia apa benar bus no. 62 menuju Commerce.

“Oh kamu salah. Harusnya kamu naik bus no sekian (saya lupa dia ngomong bus nomor berapa) dari 6th atau 7th Street,” kata ibu itu. Saya jadi bingung dan mulai meragukan informasi yang saya dapat sendiri dari google. Akhirnya, saya menuruti ucapan ibu itu dan berjalan kembali ke arah sebaliknya.

Jalan 1-2 blok, saya melewati sejumlah homeless. Saya agak ngeri sebenernya, takutnya kalau dia tiba-tiba nodong atau malak. Meski LA aman, kita nggak mau jadi korban kan? Saya terus berjalan dan mulai menyadari kalau saya melewati jalan yang tidak saya lewati tadi. Saya nyasar! Dalam keadaan separuh panik, saya mulai tidak bisa melihat peta dengan benar. Langkah kaki saya kemudian malah mengantar saya ke sebuah jembatan di atas jalan tol!

Saya makin panik dong dan akhirnya memutuskan buat nyari taksi saja. Beruntung, nggak berapa lama ada taksi kosong lewat dan saya menyetopnya. Saya naik taksi dengan disapa, “Hola, amigos” dari sang sopir. Wah saya dikira orang Meksiko nih. Hihihi.

Saya tanya ke sopirnya, tahu hotel Doubletree di Commerce, nggak? Dia bilang nggak tahu. Mati lah. Saya beri alamatnya, Telegraph Street nomer sekian-sekian, dia masih nggak paham. Saya tanya lagi, tau Citadel nggak? Masih nggak paham juga. Setengah pasrah, saya lantas bilang, “Pokoknya jalan itu ada di tepi interstate I-15.”

Si sopir ini kayaknya mulai paham. Dia lalu membawa mobilnya lewat jalan tol. Sepanjang jalan, dia ngobrol pake bahasa yang saya duga bahasa India lewat handsfree ponselnya. Buat mencairkan ketegangan, saya tanya aja apakah dia dari India. Dia bilang benar dan dia balik tanya saya dari mana. “Indonesia,” jawab saya pendek.

Ketika mobil berjalan di jalan tol itulah saya lihat menara Citadel, sebuah kompleks perkantoran yang terletak di depan hotel. Saya bilang ke sopir buat menuju ke sana. Kemampuan saya buat menandai tempat-tempat yang pernah saya lewati jadi berguna! Saya perlahan mulai mengenali jalanan di sekitar tempat itu dan bilang ke sopir kalau dia sudah benar.

Saya kemudian ingat kalau saya belum makan malam. Perut terasa krucuk-krucuk juga. Akhirnya, saya minta berhenti di restoran Carls Jr yang jaraknya sekitar satu blok dari hotel. Pas mau turun, pintu belakang kanan tidak bisa dibuka. Saya kembali tegang, saya sudah berpikir yang tidak-tidak kalau saya bakal jadi korban kejahatan. Sopir turun dan mencoba membuka pintu dari luar. Tetap gagal. Saya tambah tegang. Untungnya, pintu belakang kiri bisa dibuka dan saya pun keluar. Saya bayar biaya taksi sekitar 30 dolar. Saya nggak kasih tips, selain karena menurut saya 30 dolar itu udah banyak, saya pikir itu juga sebagai ‘hukuman’ karena pintunya macet dan bikin saya tegang. :))

Saya mampir di Carls Jr dan membawa pulang makanan buat dimakan di hotel saja. Waktu sudah hampir jam 23.00 saat saya sampai di hotel. Berakhirlah sudah petualangan saya hari itu. Mulai dari lika-liku berburu tiket sampai nyasar di kota yang sangat asing, adalah sebuah pengalaman yang priceless buat saya.

Lakers (1)

April 19, 2011

Catatan: Cari tiket itu butuh perjuangan, Jendral! Bualan panjang, jadi sebaiknya saya pecah biar nggak capek bacanya. Bagian pertama dari dua tulisan.

Stadion Staples Center di Los Angeles


Saya jatuh cinta kepada sepakbola di usia 11 tahun, ketika Piala Dunia 1994 digelar di Amerika Serikat. Tapi saya baru memulai suka basket 2-3 tahun kemudian. Itu lebih karena teman-teman di sekolah juga menyukai basket.

Di masa saya mulai memerhatikan basket, saat itu adalah penghujung karir pebasket terhebat dunia, Michael Jordan. Tapi para pemain hebat lain seperti Hakeem Olajuwon, Patrick Ewing, Shaquille O’Neal, Reggie Miller dan Chris Webber juga cukup akrab di telinga.

Meski sepakbola adalah olahraga kesukaan nomor satu, tetapi saya justru merasakan pengalaman menyaksikan tontonan kelas dunia justru di cabang basket. Saya belum pernah nonton langsung Liga Inggris, Liga Italia atau Liga Spanyol di tempat asalnya, tetapi setidaknya saya sudah pernah nonton langsung pertandingan NBA.

Sebenarnya, nonton NBA tidak ada dalam rencana saya saat melakukan liputan ke Las Vegas dan Los Angeles awal Januari kemarin. Niat untuk nonton basket baru muncul saat saya membaca koran Los Angeles Times dalam perjalanan dari Vegas ke LA. Pertandingan yang ingin saya tonton adalah antara LA Lakers melawan New York Knicks di Staples Center, Minggu 9 Januari 2011, jam 18.30 waktu setempat. Kepada sopir yang membawa kami, Antonio, saya tanya apakah hotel saya di Doubletree, Commerce, jauh dari Staples Center. Antonio bilang kalau jaraknya nggak jauh dan masih terjangkau pakai taksi.

Malam Minggu, setelah sempat jalan-jalan sebentar di luar di hotel, saya habiskan waktu dengan googling info soal sarana transportasi untuk mencapai Staples Center dan kembali lagi ke hotel. Patut dicatat, tidak ada stasiun MRT yang dekat dengan hotel, dan itu berarti saya harus menghapal rute bus. Mengingat BlackBerry saya mati selama di sana, saya save saja peta rute bus yang ruwet itu ke ponsel agar bisa dilihat offline.

Tak lupa, saya bertanya ke tour guide saya tentang agenda hari Minggu pagi. Ternyata, pagi itu kami akan dibawa ke Hollywood, Farmers Market, Pantai Santa Monica dan terakhir ke Staples Center dan Nokia Theatre. Dua bangunan terakhir ini terletak di satu tempat. Bagus, saya pikir. Nanti saya bisa ditinggal di Staples dan akan pulang sendiri ke hotel pakai angkutan umum.

Tour guide saya rupanya nyebelin. Dia seperti meragukan kalau saya bisa dapat tiket buat nonton. Saya bilang kalaupun tiket habis, saya bisa cari calo. Eh dia ngomong lagi kalau di Amerika nggak ada calo. “Kamu pikir ini di Indonesia?” ucap dia. Saya diam saja tapi memupuk asa buat dapat tiket. Saya belajar dari pengalaman mas Iman Brotoseno yang bisa dapat tiket nonton Arsenal di hari pertandingan.

Hari Minggu, setelah puas jalan-jalan ke Hollywood, melewati Beverly Hills dan Rodeo Drive yang tenar itu, lalu makan siang di Pantai Santa Monica yang biasa buat syuting serial Baywatch, sekitar jam 3 sore kami akhirnya sampai juga di downtown LA, mengunjungi Staples Center dan Nokia Theater yang terletak di antara 11th Street dan Figueroa Street.

Tampak depan Staples Center. Bentuk hurup L-nya memang bentuk cekrekan.

Begitu tiba di sana, saya langsung menuju ticket box. Saya tanya, berapa tiket termurah buat pertandingan ini. Saya dibuat gigit jari ketika petugas di ticket box bilang kalau tiket buat seluruh kelas sudah habis. Saya pun mulai mengedarkan pandangan dan berjalan-jalan di sekitar stadion basket yang bisa diisi 30 ribu orang itu. Saya mencari calo >:)

Ticket box, biasanya cuma buat penukaran tiket aja.

Mencari calo di Staples Center ternyata tidak mudah, tidak seperti di Stadion GBK di mana para calo dengan agresif menawarkan tiket kepada semua orang yang lewat. Belakangan, baru saya tahu kalau calo tiket pertandingan Lakers tidak mencari ‘mangsa’ di sekitar Staples, tetapi beraksi di sekitar Nokia Theater di seberang jalan atau di jalan-jalan yang berjarak 2-3 blok di luar stadion.

Sembari memotret sana sini, saya sempat berbincang dengan seorang fans Lakers berkulit hitam. Ketika saya bilang saya cari tiket, dia bilang cari saja di ‘scooper’ alias tukang catut, tampangnya biasanya laki-laki kulit hitam yang mencurigakan. Dalam hati saya membatin, “Ndasmu, kalau semua laki-laki kulit hitam yang tampangnya mencurigakan saya tanyai apakah dia calo atau bukan, bisa-bisa bukan tiket yang saya dapat tapi malah dapat bogem mentah.”

Yang baju kuning yang kasih saran saya buat nyari pria dengan tampang mencurigakan.

Saya belum menyerah. Saya kemudian mendekati tempat bertuliskan ‘press entry’, saya bilang kalau saya jauh-jauh dari Indonesia, bisa nggak saya masuk dengan status reporter. “Maaf, Anda harusnya mengirim email buat request liputan jauh-jauh hari. Setidaknya sepekan,” jawab seorang petugas pria dengan ramah.

“Kalau Anda mau, saya berikan alamat email buat korespondensi bila Anda mau meliput pertandingan berikutnya,” tawarnya simpatik. “Tidak, terima kasih. Ini hari terakhir saya di LA dan besok saya harus terbang kembali ke Indonesia,” jawab saya sembari berlalu.

Ya, seperti yang sudah saya bilang, nonton basket memang tidak ada dalam rencana saat berangkat dari Jakarta. April tahun lalu, saat saya seharusnya berangkat liputan ke Orlando, malah saya sempat mengirim email ke Orlando Magic apakah saya bisa meliput pertandingan mereka. Email itu tidak terjawab dan saya juga batal ke Orlando, tapi namanya juga usaha. Ya kan? :p

Saya mengitari Staples Center sampai dua kali, berusaha mencari orang yang mungkin mau menjual tiketnya. “Gimana, dapat tiket?” tanya teman serombongan saya saat berpapasan. “Belum. Negatif,” kata saya mulai putus asa.

Kans saya buat memperoleh selembar tiket menipis. Saya kemudian berjalan menjauh dari stadion buat mencari telepon umum. Saya mau mengontak teman saya ini karena kami janjian untuk ketemu di sekitar Staples usai pertandingan. Saya berniat untuk memajukan waktu ketemu bila saya gagal nonton Lakers.

Saya baru nemu telepon umum di stasiun MRT Pico, cuma satu blok dari Staples Center. Telepon nggak nyambung. Pertama saya pikir kalau teman saya ini susah dihubungin karena lagi di Big Bear, sebuah kawasan pegunungan yang jaraknya sekitar 2 jam naik mobil dari LA. Ternyata, saya salah pencet nomor. Harusnya, saya nggak pakai kode area lagi kalau nelpon nomer lokal. Hihihi. Ndeso ya tuips.

Matahari musim dingin tenggelam lebih cepat dan sekitar pukul 17.30 suasana sudah gelap. Gagal menelpon, saya kembali ke Staples. Eh setibanya di sana, saya melihat ada antrean terbentuk di dekat ticket box. Saya tanya ke salah seorang cewek yang sedang ngantre itu antrean apa. Ternyata itu adalah antrean resale tiket pertandingan. Wah, kabar baik! Saya pun masuk antrean yang belum terlalu panjang itu.

Di situ, saya ngobrol-ngobrol sama cewek yang ternyata datang sama cowoknya. Saya tanya apakah tiket sold out begini karena lawannya Knicks (musuh bebuyutan Lakers selain Boston Celtics), dia bilang, setiap pertandingan Lakers memang sold out. Sebagai informasi, kalaupun main tandang, kehadiran Lakers akan membuat stadion itu juga sold out. Magnet Lakers memang luar biasa.

Saya juga ngobrol-ngobrol dengan dua orang mahasiswa asal Shanghai, China, yang kuliah di Columbus, Ohio, dan sedang jalan-jalan ke LA. Kami ngobrol banyak, mulai dari cerita saya waktu di Beijing sampai obrolan soal Yao Ming, center Houston Rockets yang sedang cedera panjang.

Antrean bergerak dan tiket dijual lagi. Saya dengar harga tiket mencapai 100 dolar AS. “Mahal anjrit!’ pikir saya. Bahaya nih kalau nanti kantor nggak mau reimburse. Hahaha. Tak sampai 15 menit, petugas yang mengawasi antrean resale itu berteriak, “Siapa perlu satu tiket?” Saya mengangkat tangan dan maju. Ternyata harga tiketnya cuma 50 dolar tuips! Alhamdulillah, termasuk cukup murah. Setelah membayar dan tiket berpindah tangan, saya kembali ke dua mahasiswa China yang ada di belakang saya tadi. Saya salami mereka dan berucap, “Good luck!” “Have a nice game,” balas mereka. Kami berpisah di situ.

Bukti sahih tiket Lakers vs Knicks :))

Dapat tiket, persoalan belum selesai. Cuaca dingin membuat batere kamera saya lebih cepat habis. Nggak lucu dong kalau bisa masuk Staples Center tapi nggak ada foto? No pic=hoax! Saya lalu bertanya ke seorang steward perempuan apakah di dalam menjual batere. Dia bilang nggak ada, saya kemudian disarankan jalan sekitar dua blok ke arah timur (saya yakin ke arah timur) buat nyari batere di toko liquor.

Saya ngecek jam, sudah sekitar jam 18.00, cuma 30 menit sebelum pertandingan dimulai. Saya berlari ke arah yang dimaksud. Kira-kira dua blok, saya belok kanan satu blok. Di sana, ada toko liquor, tapi tokonya tutup. Mungkin ini karena hari Minggu. Saya masih terus berlari, mencari toko yang jual batere. Sekitar satu blok lagi, saya temukan ada toko liquor buka. Tapi, dia tidak jual batere :(( Saya akhirnya beli air minum di situ karena capek sehabis lari-lari.

Keluar dari toko liquor itu, saya terusin lagi jalan separuh berlari. Saya harus menemukan batere sehat buat kamera saya! Begitu tekad saya. Saya lari sampai melewati stasiun Pico yang tadi saya datangi. Di persimpangan jalan dekat Pico itulah saya lihat ada minimarket buka. Saya masuk dengan terburu-buru dan tanya apakah dia jual batere. Alhamdulillah, Puji Tuhan, dia jual! Saya buru-buru bayar. “Thanks buddy, in a rush to watch Lakers game.” kata saya sembari tersenyum.

Tuhan! Ternyata toko itu cuma berjarak satu blok dari Staples Center, tapi di sebelah baratnya! Saya menyesal banget kenapa harus lari-lari ke arah timur kalau akhirnya nemu di sebelah barat :)) Ya sudahlah, saya tengok jam di ponsel masih jam 18.15an. Saya jalan agak santai kembali ke stadion. Di tengah jalan saya sempat lihat ada calo menawarkan tiket ke calon penonton yang memarkir mobilnya jauh dari stadion.

Rute lari saya buat dapetin batere kamera :| titik hitam itu letak tokonya

Saya masuk ke Staples Center lewat pintu di Figueroa Street. Tiket tidak disobek, cuma dipindai saja. Tas saya diperiksa, lalu saya naik eskalator buat mencari tribun saya. Ternyata, tribun saya berada di bagian teratas Staples Center tuips! Masih bisa ngelihat pemain di lapangan sih. Untungnya juga ada layar tv raksasa di atas lapangan yang membantu kita melihat aksi di lapangan dengan jelas. Dua menit menjelang tip-off, saya akhirnya duduk manis di tribun. Lakers vs Knicks, here we go!

Tribun tertinggi, seharga 50 dolar! YEAH!

Bersambung ke cerita berikutnya

Setahun

Januari 21, 2009

Setelah setahun menjelajahi senti demi senti tanah Jakarta ini, kesimpulan saya tetap sama. Jakarta adalah sebuah jam besar yang tersusun dari jam-jam kecil yang selalu berdetak dan berderap di manapun dan kapanpun(*). Dan Jakarta hanya cocok sebagai tempat mencari uang, bukan untuk tempat tinggal yang ideal.

Masih sama dengan tahun lalu ketika saya menetapkan hati untuk mencoba mengadu peruntungan di sini. Jakarta masih macet dan banjir. Perilaku masyarakatnya juga masih gitu-gitu saja. Orang kaya pakai mobil mewah hobi melanggar, orang nggak kaya pake motor butut juga suka melanggar.

Jakarta adalah sebuah ironi peradaban.

(*)dari cerpen Langgam Urbana karya Beni Setia


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.