Arsip untuk ‘purwokerto’ Kategori

Guru

November 25, 2008

Saat duduk di bangku SMU, saya pernah punya seorang guru yang cukup revolusioner. Dia guru yang jauh dari kata konvensional; baik dari cara mengajar dan bergaul dengan murid-muridnya.

Namanya adalah Tri Joko H (duh, saya lupa ini huruf H singkatan apa :D). Biasa dipanggil Pak TJ. Dia mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Dia adalah orang yang membuat nama Pramoedya Ananta Toer terdengar oleh telinga saya. Dia mengenalkan nama tokoh Raden Tirto Adhi Soerjo serta mengaitkannya dengan konteks sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Bukan sesuatu yang luar biasa pada saat ini barangkali. Tapi bayangkan hal itu terjadi pada tahun 1998.

Memang benar Soeharto sudah tidak lagi jadi Presiden RI. Namun kekuatan rezim Si Mbah ini belum lagi runtuh sepenuhnya (memang pernah runtuh ya?). Buku-buku Pram secara resmi masih dilarang beredar oleh Kejaksaan Agung. Selama rezim Orba, kata Pak TJ, buku itu beredar di bawah tanah.

Orang-orang masih terlalu takut untuk membaca buku-buku Pram. Takut tiba-tiba nanti diciduk aparat, lantas dituduh sebagai komunis. Sebuah hal yang pasti ingin dihindari siapapun kala itu.

Dari situlah, saya tahu tentang Pram dan kemudian mulai mencari tahu lebih banyak. Saya mulai ngeh siapa itu Pram dan mulai membaca karya-karyanya. Dan seperti orang-orang lain, siapa sih yang tidak mengakui bahwa karya Pram memang luar biasa?

Ada beberapa lagi cerita tentang Pak TJ yang fragmen-fragmennya terlintas samar-samar di kepala saya saat ini. Maklum, sudah satu dekade terlewat.

Tentu saja, Pak TJ bukanlah satu-satunya guru yang menorehkan kesan istimewa kepada saya. Guru-guru yang telah membimbing saya semenjak TK, SD, SMP, SMA (tak dilupakan pula para dosen di bangku kuliah), semuanya punya arti masing-masing bagi saya. Tak saya ceritakan bukan berarti mereka tak spesial.

Guru yang baik dan sabar dalam mengajar, guru yang galak dan penuh disiplin atau guru yang jadi ‘musuh bebuyutan’ semasa sekolah, semuanya punya tempat khusus di hati saya.

Note:
Postingan ini adalah untuk memperingati Hari Guru yang jatuh pada hari ini, 25 November. Sebuah hari yang barangkali takkan pernah bisa diperingati dengan sama gempitanya dengan Hari Kemerdekaan, Hari Pahlawan atau bahkan Hari Kesaktian Pancasila. Padahal, tanpa guru kita bukanlah siapa-siapa.

Terimakasih kepada rekan Zen, seorang mantan calon guru (hahahaha) yang sudah mengingatkan tentang Hari Guru ini. Simak juga posting Pito.

10 Makanan Wajib di Kota Purwokerto (Bagian 2-habis)

Mei 1, 2007


Mari melanjutkan jalan-jalan kita mencari keunikan kuliner kota Purwokerto.
6. Ayam Goreng Eco Niki

Ayam gorengnya renyah di luar tapi empuk di dalam. Dipadu dengan sambal yang tidak terlalu pedas untuk ukuran saya (tapi dibilang pedas untuk istri saya). Selain itu, di sini juga disediakan kremesan yang garing. Kremesan ini bisa dinikmati bersama ayam dan nasinya, atau sekedar dijadikan camilan seperti halnya kerupuk.


Di mana? Temukan ayam goreng Eco Niki di depan SMU Negeri 4 (arghhh lagi-lagi, saya lupa nama jalan), di samping markas travel Bob Mila.
Berapa? Untuk sepotong ayam, harganya Rp 6000 saja.


7. Kripik Tempe

Kripik tempe Purwokerto berbeda dengan kripik tempe dari tempat lain. Kripik tempe Purwokerto berukuran sedikit lebih besar dari kripik tempe Malang, misalnya. Lalu, bila kripik tempe lain menggunakan bumbu jintan, kripik tempe Purwokerto tidak. Rasanya gurih. Selain sebagai teman minum, bisa juga dijadikan lauk makan.

Di mana? Kripik tempe, yang terbaik adalah yang dibikin tetangga belakang rumah saya di Gandasuli, Karang Pucung. Kripik produk tetangga saya ini, dijamin baru digoreng. Tapi, Anda bisa juga menemukannya di pusat oleh-oleh. Misalnya, pusat oleh-oleh Ny Sutrisno (Belong) yang terletak di belakang Moro Grosir.
Berapa? 1 bungkus kripik berkisar Rp 3.000-5.000.


8. Mie Palma

Mie goreng/rebus dan nasi goreng gampang ditemukan di mana-mana. Tapi Mie Palma ini istimewa. Mie gorengnya memakai mie yang lebar (kwetiaw). Lalu, dimasak di atas tungku arang. Panasnya merata. Bumbunya pun sudah tercium harus saat dicemplungkan dalam wajan. Saat mie dimakan, rasanya benar-benar mantap!


Di mana? Mie Palma mangkal di depan Fuji Film di perempatan Jl. Jenderal Sudirman dengan Jl. Kol Sugiono. Perempatan ini disebut perempatan Palma.
Berapa? Harga satu porsi mie goreng/rebus atau nasi goreng adalah Rp 8.000.


9. Getuk Goreng

Ini dia, satu makanan yang tidak ditemukan di tempat lain. Berawal dari kreasi Sanpirngad berpuluh-puluh tahun lalu (saya belum lahir waktu itu :p), yang menggoreng getuk buatannya agar tidak basi dan bisa dimakan buat esok hari. Ternyata getuk goreng ini disukai orang, sehingga lalu dijual. Pada dasarnya, getuk biasa yang terbuat dari singkong dan gula merah, lalu digoreng dalam bentuk bulatan-bulatan sebesar batu.

Di mana? Di sepanjang jalan raya Sokaraja yang menuju Semarang atau Yogyakarta, bertebaran toko-toko yang menjual getuk goreng. Atau sekali lagi, bisa juga ditemukan di toko oleh-oleh.
Berapa? Satu bungkus getuk goreng yang dikemas dalam bentuk besek (dari anyaman bambu), bisa diperoleh dengan harga Rp 5.000-8.000.


10. Es Jorok

Saya bingung, entah kenapa tempat ini diberi nama es jorok? Tapi, tenang saja, meski namanya es jorok, es buah dan es campur ini tidak jorok. Tempatnya cukup bersih meski rada kecil. Rasa es buah atau es campur yang disiram susu coklat di atasnya akan membuat kerongkongan yang kering terasa sejuk.


Di mana? Warung es jorok berada di Jalan Riyanto, Sumampir, sedikit di sebelah utara kampus Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.
Berapa? Jika Anda punya uang Rp 4.000, Anda sudah bisa menikmati satu mangkuk penuh es jorok yang nikmat ini.

Nah…itulah sepuluh makanan yang merupakan bagian dari kekayaan kuliner kota Purwokerto. Meski ada yang khas, mungkin ada beberapa makanan yang bisa ditemukan di kota-kota lain. Tapi percayalah, jenis kuliner di kota Purwokerto memiliki keunikan tersendiri yang patut dicoba.

Mungkin ada beberapa makanan yang terlewat dan tidak sempat terlintas di benak saya. Jadi, bila ada waktu nanti, saya mungkin masih akan menulis tentang makanan-makanan lain di kota Purwokerto.
———————
+foto getuk goreng dicomot dari sini

10 Makanan Wajib di Kota Purwokerto (Bagian 1)

April 28, 2007

Pulang kampung ke Purwokerto, saatnya kita berjalan-jalan dan menikmati keunikan makanan kota yang terletak di ketinggian 750 MDPL (Meter di atas permukaan laut)1 ini. Mari…


Inilah 10 makanan yang wajib Anda makan di kota Purwokerto nan sejuk ini.
1. Mendoan

Mendoan2 adalah sejenis tempe yang lebar dan tipis, digoreng dengan balutan tepung beras/glepung dan tepung terigu. Enak dimakan dengan dicocol ke sambal atau saus, atau bisa juga dengan cabe rawit yang pedesnya mak nyuss!


Di mana? Di hampir seluruh penjuru Purwokerto bisa Anda dapatkan mendoan ini. Cari saja penjual gorengan, niscaya Anda takkan kesulitan menemukan mendoan.
Berapa? Harganya sangat murah. Mulai dari Rp 300-1000 per bijinya

2. Soto Sokaraja

Soto Sokaraja adalah soto khas Purwokerto (selain Soto Sungeb yang akan saya jelaskan di bawah ini). Ciri khasnya, soto asal Purwokerto memakai ketupat serta berbumbu kacang dengan taburan kerupuk di mangkoknya.

Di mana? Paling tepat tentu saja bila Anda datang ke Sokaraja langsung. Terletak di jalan utama menuju Yogyakarta dan Semarang, sekitar 9 KM arah timur Purwokerto.

Berapa? Cukup cabut Rp 5.000-6.000 saja dari dompet Anda

3. Soto Sungeb

Sebenarnya agak bingung juga membedakan Soto Sungeb dengan Soto Sokaraja. Sedikit bedanya mungkin tidak digunakannya kacang goreng (bukan bumbu kacang) di dalam Soto Sungeb. Sama seperti Soto Sokaraja, Soto Sungeb juga menggunakan ketupat dan bukan nasi. Masih ada taburan krupuk dan mie goreng serta bumbu kacang yang pedas.


Di mana? Temukan di sepanjang Jl. RA Wiriaatmadja atau lebih dikenal sebagai Jalan Bank3. Jangan bingung dengan banyaknya warung Soto Sungeb. Dari segi rasa, hampir sama saja, kok.

Berapa? Sama juga dengan Soto Sokaraja, cukup keluarkan Rp 5.000-6.000 untuk setiap porsinya.

4. Sate Suhada

Sate Suhada khusus menyediakan sate kambing dan gulai kambing yang rasanya benar-benar mantap. Daging kambing muda yang dipakai untuk membuat sate ini akan membuat lidah bergoyang nikmat karena rasa daging yang empuk dibakar pas dan dipadu bumbu kecap atau kacang yang pas.


Di mana? Temukan Sate Suhada di sebelah selatan perempatan Srimaya (Tanaka Motor). Maaf, saya lupa nama jalannya. :D
Berapa? Untuk seporsi sate kambing yang murni daging, bayarlah Rp 9.000 per porsinya. Untuk yang dicampur dengan hati, bayarlah Rp 8.000. Sedangkan gulai dihargai Rp. 9.000 per porsi


5. Es Duren

Siang-siang yang terik, enaknya segarkan tenggorokan dengan es duren. Duren yang legit dan empuk, dicampur dengan santan dan susu coklat, akan membuat indra perasa Anda berada di langit ke tujuh.


Di mana? Sebenarnya, es duren yang enak tidak berada di Purwokerto. Datanglah ke Purbalingga, 30 KM timur Purwokerto, dan tanya kepada penduduk sekitar, es duren yang terkenal itu. Pasti Anda bakal sampai ke tempat yang benar. Eh tapi tunggu dulu, sejak beberapa bulan lalu, es duren juga tampil di sekitar kompleks GOR Satria (lagi-lagi saya lupa nama jalannya). Jadi tidak perlu terlalu jauh ke Purbalingga untuk menikmati segarnya es duren ini.

Berapa? Satu porsi es duren berharga Rp 8.000 saja kok.

Masih mau lanjut? Bagaimana? Masih ingin memanjakan lidah Anda dengan kelezatan kuliner khas Purwokerto? Tunggu tulisan saya berikutnya ya…

——————————–
1: Versi saya :D
2: Konon berasal dari kata
mendo yang berarti setengah lembek
3: Disebut Jalan Bank, karena di jalan inilah terdapat Museum BRI. Museum BRI ini terletak di lokasi yang dulunya adalah tempat Raden Arya Wiriaatmaja mendirikan
Hulp en Spaar Bank yang kemudian berubah menjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank tertua di Indonesia
+mohon maaf kepada Bondan Winarno yang ucapan khasnya saya kutip
++gambar mendoan saya ambil dari sini


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.