<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Uncertain Territory 2.0</title>
	<atom:link href="http://aryaperdhana.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aryaperdhana.wordpress.com</link>
	<description>life is about being moving forward</description>
	<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 12:54:59 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=MU</generator>
	<language>id</language>
			<item>
		<title>Benda Kenangan</title>
		<link>http://aryaperdhana.wordpress.com/2008/07/22/benda-kenangan/</link>
		<comments>http://aryaperdhana.wordpress.com/2008/07/22/benda-kenangan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 12:54:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arya</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[saya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryaperdhana.wordpress.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Apa arti sebuah benda kenangan bagi Anda?
Beda orang, pasti akan berbeda pula jawaban yang muncul. Seorang teman pernah kehilangan ponselnya. Bukan soal harga ponsel yang menjadi penyebab dirinya menjadi sedikit bersedih. Menurutnya, ponsel itu memiliki kenangan karena melalui ponsel itu ia merayu seorang perempuan yang akhirnya menjadi pacarnya.
Saya juga pernah tinggal di sebuah rumah kos, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2008/07/r4621dh.jpeg"><img class="size-medium wp-image-58 alignleft" src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2008/07/r4621dh.jpeg?w=226&h=169" alt="" width="226" height="169" /></a>Apa arti sebuah benda kenangan bagi Anda?</p>
<p>Beda orang, pasti akan berbeda pula jawaban yang muncul. Seorang teman pernah kehilangan ponselnya. Bukan soal harga ponsel yang menjadi penyebab dirinya menjadi sedikit bersedih. Menurutnya, ponsel itu memiliki kenangan karena melalui ponsel itu ia merayu seorang perempuan yang akhirnya menjadi pacarnya.</p>
<p>Saya juga pernah tinggal di sebuah rumah kos, di mana pemilik rumah kos itu tampaknya begitu mencintai benda-benda kenangan yang ia miliki. Pasalnya, di banyak sudut rumahnya, banyak berserak benda yang menurut saya tidak penting keberadaannya, seperti sebuah sepeda butut yang nyaris saya tabrak ketika saya lari terbirit-birit akibat guncangan gempa Jogja tahun 2006 lalu.</p>
<p>Benda lain yang disimpan bapak kos saya waktu itu adalah dua buah jip kuno (merk Jeep?). Salah satu jipnya masih bisa jalan dengan baik meski suaranya berisik. Sedangkan satu jip lagi sudah disfungsi. Kabinnya menjadi tempat penjual pecel lele yang mangkal setiap malam untuk menyimpan kursi-kursi tendanya di waktu siang.</p>
<p>Lain lagi dengan seorang rekan yang lain yang merasa sedih ketika ia harus menjual mobilnya. Bukan karena ia bangkrut dan kere, tapi karena ia akan membeli ganti berupa mobil yang lebih baru. Ia murung karena mobil itu dibelinya dengan hasil keringatnya sendiri bekerja bertahun-tahun.</p>
<p>Kadang perilaku-perilaku seperti yang saya sebut di atas sulit untuk dimengerti &#8211;termasuk oleh orang seperti saya. Kerap kali saya menggerutu karena sepeda bapak kos saya itu mengurangi lahan parkir buat sepeda motor anak-anak kos. Kadang saya juga kesal karena jip tua di depan kos itu merusak pemandangan.</p>
<p>Tapi nilai setiap benda memang hidup di benak dan hati masing-masing. Barang yang bagi orang lain tampak tak memiliki makna, di mata orang lainnya lagi membangkitkan banyak memori.</p>
<p>Sebatang ponsel mungkin tidak membawa pengaruh apapun terhadap keberhasilan seorang pria mencuri hati perempuan (karena yang dipakai adalah fungsinya untuk berbicara, bukan tampilannya atau harganya yang mahal). Tapi cobalah mengerti ketika pria dan si perempuan itu saling bertukar gombalan cinta atau malah saling memaki karena bertengkar. Melankolis sekali bukan?</p>
<p>Sebuah mobil butut tentu kalah nyaman dinaiki ketimbang mobil yang lebih baru. Namun coba bayangkan ketika rekan saya tadi bekerja keras setiap hari dan menabung setiap sen gajinya demi membeli mobil dengan jerih payahnya sendiri. Bagi si pelaku, rasa kepuasannya barangkali tidak terperi dan terkatakan.</p>
<p>Itulah, setiap kenangan akan terus hidup dalam diri seorang manusia.</p>
<p><strong>Note:</strong> Postingan ini untuk mengenang sepeda motor R 4621 DH yang sudah menemani saya selama delapan tahun. Motor ini pernah saya namai Mariana Renata :)) Sebelum berpisah, sebetulnya saya ingin mencuci dia, tapi ternyata tidak sempat. Maaf ya?</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aryaperdhana.wordpress.com/57/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aryaperdhana.wordpress.com/57/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryaperdhana.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryaperdhana.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryaperdhana.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryaperdhana.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryaperdhana.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryaperdhana.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryaperdhana.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryaperdhana.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryaperdhana.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryaperdhana.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&blog=1618851&post=57&subd=aryaperdhana&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryaperdhana.wordpress.com/2008/07/22/benda-kenangan/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/aryaperdhana-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">arya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2008/07/r4621dh.jpeg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Pungkas dan McCandless</title>
		<link>http://aryaperdhana.wordpress.com/2008/07/09/pungkas-dan-mccandless/</link>
		<comments>http://aryaperdhana.wordpress.com/2008/07/09/pungkas-dan-mccandless/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jul 2008 01:58:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arya</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[dunia]]></category>

		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryaperdhana.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[
Tidak banyak orang yang mengenal Pungkas Tri Baruno. Itu sebelum hari Selasa, 8 Juli kemarin. Hari itu, Pungkas tewas saat mendaki gunung Gunung McKinley di Alaska, Amerika Serikat.
Usianya masih muda. Ia baru berumur dua dekade saat harus kehilangan nyawanya di punggung gunung bertinggi 6.194 meter di atas permukaan laut itu.
Saat membaca berita kematian Pungkas, ingatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2008/07/chris_mccandless.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-56" src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2008/07/chris_mccandless.jpg?w=300&h=121" alt="" width="300" height="121" /></a></p>
<p>Tidak banyak orang yang mengenal Pungkas Tri Baruno. Itu sebelum hari Selasa, 8 Juli kemarin. Hari itu, Pungkas tewas saat mendaki gunung Gunung McKinley di Alaska, Amerika Serikat.</p>
<p>Usianya masih muda. Ia baru berumur dua dekade saat harus kehilangan nyawanya di punggung gunung bertinggi 6.194 meter di atas permukaan laut itu.</p>
<p>Saat membaca <a href="http://www.detiknews.com/read/2008/07/08/231525/969035/10/pendaki-indonesia-tewas-di-alaska">berita kematian Pungkas</a>, ingatan saya melayang kepada Christopher Johnson McCandless yang kisah hidupnya saya saksikan lewat film <em><a href="http://www.imdb.com/title/tt0758758/">Into the Wild</a>.</em></p>
<p>McCandless juga seorang lelaki yang masih muda. Bila Pungkas meninggal di usia 20, maka McCandless tutup usia pada bilangan umur 24. Yang sama, keduanya mati di Alaska.</p>
<p>Namun cara, atau lebih mungkin penyebab kematian mereka, jauh-jauh berbeda.</p>
<p>Seperti dituturkan oleh Jon Krakauer dan Sean Penn dalam buku (1996) dan filmnya (1997), McCandless meregang nyawa akibat kenekatan dan kecerobohannya sendiri.</p>
<p>McCandless menjelajahi Alaska tanpa persiapan yang cukup. Ia hanya membekali dirinya dengan sebuah buku tentang tanam-tanaman, sebuah senapan berburu dan peta jalanan butut yang ia temukan di sebuah pompa bensin.</p>
<p>Tanpa peta topografi, kompas, serta peralatan keselamatan yang memadai, McCandless tak kuasa melawan dingin dan kejamnya alam Alaska. Ia meninggal setelah berada di daerah bernama Stampede Trail selama 189 hari.</p>
<p>Lain dengan Pungkas. Ia berangkat bukan tanpa rencana. Ia pendaki yang cukup berpengalaman dan petualangannya kali ini sudah dimulai <a href="http://www.detiknews.com/read/2008/07/09/023603/969065/10/kronologi-kegiatan-pungkas-menuju-mc-kinley">semenjak awal tahun</a>. Pungkas menapaki setiap inci punggung gunung tertinggi di Amerika Utara itu bersama tim ekspedisi Pramuka Indonesia.</p>
<p>(Bagaimanapun, ada juga yang mengatakan bahwa tim yang berangkat ke McKinley ini masih <a href="http://www.detiknews.com/read/2008/07/09/073405/969093/10/kurang-pengalaman-tim-ekspedisi-ri-nekat-ke-mc-kinley">kurang pengalaman</a>, sementara medan yang harus dihadapi begitu berat).</p>
<p>***</p>
<p>Meski nekat (dan konyol), kisah McCandless secara keseluruhan seperti dituturkan di film sangat menarik. Yang membuat saya terkesan adalah semangat McCandless yang berapi-api serta kerinduannya kepada kebebasan.</p>
<p>(Lulusan Emory University ini menyumbangkan nyaris seluruh uang miliknya dan kemudian menjadi petualang dengan nama Alexander Supertramp. McCandless yang muak dengan kemunafikan sosial masyarakat serta rumah tangga orang tuanya yang penuh dengan cekcok memilih jalan hidupnya sendiri.)</p>
<p>Saya tak tahu seperti apa Pungkas ketika hidup. Namun dari seorang pendaki gunung seperti dirinya, selalu ada semangat kebebasan yang hidup di dasar hatinya dan berpendar keluar. Mungkin juga ada passion yang meruap di sana (ia meninggal setelah <a href="http://www.detiknews.com/read/2008/07/09/000858/969051/10/pungkas-meninggal-di-alaska-usai-tancapkan-merah-putih">menancapkan bendera Merah Putih</a> di pucuk McKinley).</p>
<p>Yang jelas, dari McCandless dan Pungkas, saya belajar sesuatu.</p>
<p><strong>Foto: </strong>Gambar Christopher McCandless sebelum meninggal. Gambar ini diambil oleh dirinya sendiri di depan bus tempat ia tinggal di Stampede Trail sebelum akhirnya ia tewas di sana (sumber: Wikipedia)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aryaperdhana.wordpress.com/55/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aryaperdhana.wordpress.com/55/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryaperdhana.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryaperdhana.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryaperdhana.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryaperdhana.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryaperdhana.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryaperdhana.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryaperdhana.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryaperdhana.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryaperdhana.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryaperdhana.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&blog=1618851&post=55&subd=aryaperdhana&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryaperdhana.wordpress.com/2008/07/09/pungkas-dan-mccandless/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/aryaperdhana-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">arya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2008/07/chris_mccandless.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Jogja: K Bunder, Modernisasi dan Kapitalisme</title>
		<link>http://aryaperdhana.wordpress.com/2008/07/04/jogja-k-bunder-modernisasi-dan-kapitalisme/</link>
		<comments>http://aryaperdhana.wordpress.com/2008/07/04/jogja-k-bunder-modernisasi-dan-kapitalisme/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 13:19:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arya</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[pemikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryaperdhana.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[
Ada yang membetot perhatian saya ketika saya berkunjung ke Jogja pekan ini, yaitu bermunculannya toko-toko berlambang huruf K yang dikelilingi lingkaran di beberapa tempat di kota yang menyenangkan ini. Toko, eh minimarket, ini berjualan non-stop alias buka 24 jam.
Dulu, toko-toko berbasis waralaba seperti ini cuma ada satu atau dua buah saja. Sekarang, contohnya di Jalan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2008/07/circlek1.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-54" src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2008/07/circlek1.png?w=250&h=162" alt="" width="250" height="162" /></a></p>
<p>Ada yang membetot perhatian saya ketika saya berkunjung ke Jogja pekan ini, yaitu bermunculannya toko-toko berlambang huruf K yang dikelilingi lingkaran di beberapa tempat di kota yang menyenangkan ini. Toko, eh minimarket, ini berjualan non-stop alias buka 24 jam.</p>
<p>Dulu, toko-toko berbasis waralaba seperti ini cuma ada satu atau dua buah saja. Sekarang, contohnya di Jalan Sudirman saja, dalam jarak kurang dari 400 meter saja ada dua toko serupa. Satu terletak di sebelah timur sebuah restoran cepat saji (yang juga buka 24 jam) dan yang satunya hanya beberapa meter di timur Tugu.</p>
<p>Di Jogja, orang yang berjualan selama 24 jam bukanlah hal yang dianggap aneh. Nyaris di semua sudut, terutama di daerah kantong-kantong pondokan mahasiswa, ada yang namanya warung burjo alias bubur kacang ijo.</p>
<p>Kedai yang satu ini tak pernah libur; kecuali kalau penjualnya sakit atau mau mudik ke Kabupaten Kuningan di Jawa Barat sana.</p>
<p>Tapi menjamurnya toko K Bunder &#8211;demikian beberapa kali lidah saya yang suka keseleo melafalkan kata dalam bahasa Inggris menyebutnya&#8211; tidaklah sama dengan kehadiran kedai-kedai burjo yang dikerubuti mahasiswa kelaparan yang memesan seporsi indomie telur.</p>
<p>(Sebenarnya bukan hanya toko K Bunder yang menjamur, tapi juga minimarket-minimarket lain, yang meski tidak buka 24 jam, bahkan sanggup masuk hingga ke kampung-kampung yang aspalnya saja bolong di sana-sini.)</p>
<p>Seorang teman lama, seorang pemerhati gejala-gejala dan penanda kota amatiran dan sok tahu, angkat bicara ketika kami sedang duduk-duduk di angkringan menyeruput teh jahe hangat. &#8220;Itu adalah bagian dari <em>the-so-called</em> kemajuan alias modernisasi, mas.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kemajuan yang berdasar pada kapital. Di mana mereka yang memiliki modal lebih lah yang akan bertahan di dunia konsumerisme seperti ini,&#8221;</p>
<p>&#8220;Lagipula, wajah pembeli di kota ini pun sudah banyak yang berubah. Mereka <em>ndak</em> lagi mau berpayah-payah memutari pasar yang becek dan pengap. Mereka maunya belanja yang praktis dan di tempat yang berpendingin udara; kalau perlu, belanjanya dilakukan jam dua pagi,&#8221; cerorosnya panjang.</p>
<p>Saya <em>manggut-manggut</em> saja. Tinggal hampir enam bulan di Jakarta membuat saya juga mulai memperhatikan fenomena semacam ini.</p>
<p>&#8220;Jogja itu lagi ingin memirip-miripkan diri dengan Jakarta, mas,&#8221; teman saya ini rupanya punya banyak pendapat untuk dimuntahkan.</p>
<p>&#8220;Cara mereka berbelanja cuma salah satunya. Yang lain-lain pun tak beda jauh. Inilah anak kandung dari yang namanya modernitas,&#8221; kali ini ada nada mengeluh di nada suaranya.</p>
<p>&#8220;Tak cuma toko non-stop, mas. Di sini juga sedang menjamur lapangan-lapangan futsal sintetis buat mereka yang ingin menggerakan raga. Apa ndak mirip Jakarta tuh?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mirip Jakarta bagaimana? Bukannya berolahraga itu sehat&#8221; saya sedikit kesulitan mencerna kalimatnya.</p>
<p>&#8220;Ini soal ruang publik. Saya kok menilai tempat-tempat futsal itu bakal makin menggerogoti <em>public space</em> di sini. Kota makin sumpek, makin sedikit tempat terbuka yang bisa kita manfaatkan dengan gratis; untuk sekadar main sepakbola atau cuma nongkrong-nongkrong <em>gojek kere guyon goblok</em>,&#8221;</p>
<p>&#8220;Bermain futsal memang bisa bikin sehat mas. Tapi di sisi lain, jadinya nanti masyarakat bakal menilai kalau sudah ada lapangan futsal, maka lapangan sepakbola tak lagi dibutuhkan. Kalau mau berolahraga ya sana silahkan ke lapangan futsal berbayar, kira-kira begitu,&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan ruang publik itu bukan cuma sekadar tempat berolahraga; apalagi dipandang berdasar gratis atau bayarnya,&#8221; ia melanjutkan bicaranya sebelum saya sempat menyela.</p>
<p>&#8220;Itu adalah tempat di mana pluralisme dan semangat egaliter dirayakan. Di ruang publik terbuka, <em>ndak</em> ada pembedaan kasta. Semua berkedudukan sama dan berhak menikmati sarana itu tanpa melihat tebal tipisnya dompet atau status sosial dan pendidikan mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sama juga dengan minimarket-minimarket-an itu mas. Saya rindu sama pasar. Sudah lama saya ndak belanja ke sana. Semoga saya salah mas, tapi saya punya ketakutan modernisasi ini bakal menelan Jogja,&#8221; katanya sambil menelan ludah.</p>
<p>Saya perlahan-lahan mulai bisa mengerti. Saya menarik nafas panjang sembari menyomot pisang goreng hangat di depan saya. Diam-diam, saya setuju dengan dia.</p>
<p><strong>Catatan:</strong> Foto ini bukan toko K Bunder di Jogja, ini saya colong dari blog.roogles.com</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aryaperdhana.wordpress.com/52/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aryaperdhana.wordpress.com/52/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryaperdhana.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryaperdhana.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryaperdhana.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryaperdhana.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryaperdhana.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryaperdhana.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryaperdhana.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryaperdhana.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryaperdhana.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryaperdhana.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&blog=1618851&post=52&subd=aryaperdhana&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryaperdhana.wordpress.com/2008/07/04/jogja-k-bunder-modernisasi-dan-kapitalisme/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/aryaperdhana-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">arya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2008/07/circlek1.png?w=250" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Cinta yang Tak Berbalas</title>
		<link>http://aryaperdhana.wordpress.com/2008/03/19/cinta-yang-tak-berbalas/</link>
		<comments>http://aryaperdhana.wordpress.com/2008/03/19/cinta-yang-tak-berbalas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Mar 2008 14:37:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arya</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[pemikiran]]></category>

		<category><![CDATA[saya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryaperdhana.wordpress.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Kecintaan seseorang terhadap negerinya tidak selalu mendapatkan balasan,&#8221; ucap Michael Brin suatu ketika pada tahun 1979.
Ungkapan itu saya baca dari sebuah buku berjudul &#8216;Kisah Sukses Google&#8217; yang ada di samping saya. Kutipan dari Brin itu saya baca beberapa minggu lalu.
Saya tak tahu bagaimana cara Brin mengucapkan kalimat itu, juga emosi dan perasaannya saat itu. Di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>&#8220;Kecintaan seseorang terhadap negerinya tidak selalu mendapatkan balasan,&#8221; ucap Michael Brin suatu ketika pada tahun 1979.</p>
<p>Ungkapan itu saya baca dari sebuah buku berjudul &#8216;Kisah Sukses Google&#8217; yang ada di samping saya. Kutipan dari Brin itu saya baca beberapa minggu lalu.</p>
<p>Saya tak tahu bagaimana cara Brin mengucapkan kalimat itu, juga emosi dan perasaannya saat itu. Di tengah Uni Sovyet yang tenah bergelora dengan semangat anti-Semit, orang-orang seperti Brin memang bagai tak mendapat tempat di sana.</p>
<p>Brin mengucapkan kalimat itu dan kemudian ia membawa seluruh anggota keluarganya pergi dari negeri yang tengah bergejolak itu.</p>
<p>Kisah tentang keluarga Brin selanjutnya adalah sejarah. Sergey, salah satu anak Michael Brin, dalam usia 25 tahun atau nyaris dua dekade setelah minggat dari Sovyet, mendirikan Google bersama Larry Page. Sergey menciptakan Google dari Amerika.</p>
<p>Beberapa hari setelah membaca kutipan Brin itu, saya berbincang dengan seorang atasan di kantor. Ada kalimatnya yang menggelitik pikiran saya. Ia berucap, &#8220;Saya sudah tidak punya nasionalisme, karena nasionalisme saya kini hanya untuk AC Milan.&#8221;</p>
<p>Saya tak sanggup tertawa. Dia terlihat serius betul saat mengucapkannya.</p>
<p>Kemudian, kami banyak <i>ngobrol-ngobrol </i>tentang sebuah perkara yang mengguncang negeri ini beberapa hari belakangan. Kisah memalukan seorang jaksa yang menerima uang berjumlah Rp 6 milyar &#8211;sangat layak diduga sebagai duit suap.</p>
<p>Cerita yang sungguh mengenaskan, bukan karena jaksanya belum sempat menikmati hasil korupsi (karena ketahuan). Menyedihkan sekaligus membuat geram karena inilah wajah bopeng negeri saya. Sebuah negeri yang sudah tidak memiliki tatanan lagi. Bukan hukum, yang pantas dipatuhi barangkali adalah materi.</p>
<p>Pikiran lama saya timbul kembali. Ide itu, ide untuk berpindah kewarganegaraan, melintas lagi di benak saya.</p>
<p>Bukan. Bukan karena nasionalisme saya kini hanya tersisa untuk Manchester United. Tidak pula karena saya sudah tidak mencintai negeri di mana saya telah menghirup udara, meminum air dan memberaki tanahnya selama seperempat abad ini. Bukan, bukan karena itu.</p>
<p>Jawaban yang saya pikir paling mendekati adalah karena kecintaan saya terhadap negeri ini tidak selalu mendapatkan balasan.</p>
<p>Seperti orang-orang bilang, hidup itu suatu pilihan. Andai saya bisa memilih, saya pilih hijrah saja dari sini. Namun sayang seribu sayang, pilihan itu tidak sedang tersaji di hadapan saya saat ini.</p>
<p>Putus asa? Mungkin. Pengecut? Oportunis? Barangkali benar. Silakan, pilihkan satu kata saja buat menilai saya.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aryaperdhana.wordpress.com/51/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aryaperdhana.wordpress.com/51/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryaperdhana.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryaperdhana.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryaperdhana.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryaperdhana.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryaperdhana.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryaperdhana.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryaperdhana.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryaperdhana.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryaperdhana.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryaperdhana.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&blog=1618851&post=51&subd=aryaperdhana&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryaperdhana.wordpress.com/2008/03/19/cinta-yang-tak-berbalas/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/aryaperdhana-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">arya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jakarta, Jakarta</title>
		<link>http://aryaperdhana.wordpress.com/2008/01/27/jakarta-jakarta/</link>
		<comments>http://aryaperdhana.wordpress.com/2008/01/27/jakarta-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jan 2008 05:24:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arya</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[jogja]]></category>

		<category><![CDATA[saya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryaperdhana.wordpress.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[
Ketika saya harus meninggalkan Yogyakarta pekan lalu, saya merasa bahwa langkah saya biasa-biasa saja. Enteng tidak, berat pun saya kira bukan. Ya, saya pada akhirnya harus pergi dari kota yang sudah saya tinggali semenjak empat setengah tahun lalu.
Pada akhirnya, saya sudah terdampar di sini, di sebuah kota yang pengap bernama Jakarta.
Jakarta modern adalah sebuah kota [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2008/01/kereta-reu-palinggi.jpg" title="kereta-reu-palinggi.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2008/01/kereta-reu-palinggi.jpg" alt="kereta-reu-palinggi.jpg" /></a></p>
<p>Ketika saya harus meninggalkan Yogyakarta pekan lalu, saya merasa bahwa langkah saya biasa-biasa saja. Enteng tidak, berat pun saya kira bukan. Ya, saya pada akhirnya harus pergi dari kota yang sudah saya tinggali semenjak empat setengah tahun lalu.</p>
<p>Pada akhirnya, saya sudah terdampar di sini, di sebuah kota yang pengap bernama Jakarta.</p>
<p>Jakarta modern adalah sebuah kota yang lahir dari rahim ambisi seorang insinyur-<i>cum</i>-negarawan bernama Soekarno.</p>
<p>Seperti digambarkan oleh Christopher Koch dalam bukunya <i>A Year of Living Dangerously</i>, Jakarta diciptakan Soekarno untuk menjadi sebuah ibukota dunia yang kelak akan mahsyur. Kota yang tak kalah gemerlap dari New York, tak kurang indah dari Barcelona (buat seseorang yang akan segera ke Barcelona, tolong periksa setiap jengkal keindahannya ya? <i>Would you</i>? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ) atau Paris. (Meski sang Bung akan selalu melewatkan akhir pekannya di selatan Jakarta, tepatnya di Bogor).</p>
<p>Jakarta, selain gemerlap, juga menyimpan keresahannya sendiri. Dan tentu saja, ia berbeda dan bertolak belakang dari Yogyakarta.</p>
<p>Pukul sembilan malam di Yogya adalah waktu untuk keluarga. Pada jam-jam ini, keluarga berkumpul di depan ruang televisi. Suami-istri menggusah anak tunggal mereka untuk segera tidur dan mereka akan larut dalam aktivitas mereka sendiri. Entah itu melanjutkan nonton teve sembari menyeruput teh hangat, bercengkerama atau bahkan bersenggama.</p>
<p>Di sana, malam adalah saatnya para kuli (seperti saya) serta mahasiswa-mahasiswa tua maupun muda merehatkan badan yang sudah <i>sayah.</i> Duduk-duduk di warung angkringan, menikmati kopi atau teh jahe. Membiarkan malam berlalu perlahan dalam hembusan asap dari tembakau yang dibakar.</p>
<p>Tapi Jakarta tidaklah sama. Saat-saat seperti itu, kota terkutuk ini masih berderap-derap. Bus-bus kota bersicepat menembus gelap. Masih banyak orang-orang yang berhamburan dari gedung-gedung tinggi bagaikan ribuan semut keluar dari sarangnya.</p>
<p>Wajah-wajah ayu tapi kuyu. Paras-paras lelah duduk terkantuk-kantuk. Pikiran mereka melayang entah ke mana. Mengawang-awang, melamun, tak tahu sedang memikirkan siapa. Pekerjaan, orang-orang di kantor dan di rumah, bos, selingkuhan, siapa tahu?</p>
<p>Di saat subuh menjelang, Jakarta dan daerah di sekelilingnya mulai menggeliat dalam langkahnya yang cepat. Bangkit sepagi mungkin dan memulai perjuangan membelah kemacetan yang menggila. Berpeluh dan mengeluh.</p>
<p>Dan 540 kilometer jauhnya di tenggara ibukota, orang-orang masih terlelap tidur dibuai sisa mimpi semalam. Terbangun dan menguap, menikmati sarapan pagi.</p>
<p>Tapi ini bukanlah dikotomi tentang rural atau metropolis, maju atau tidak maju, modern atau terbelakang. Ini adalah tentang bagaimana budaya sebuah kota. Jakarta yang selalu terburu dan Yogya yang pelan mengalun.</p>
<p>Jakarta tentu tidak sama dengan Yogya. Adalah terlalu naif bila menganggap dua kota itu bisa dibandingkan satu dan yang lainnya. Saya tahu betul itu, meski di dalam hati saya (sudah) merindukan Yogya (lagi).</p>
<p>Kemarin malam, dari sebuah ruangan berpendingin yang nyaman di lantai delapan sebuah gedung mewah di pusat Jakarta, tiba-tiba saya teringat Soekarno.</p>
<p>(Foto: Crack Palinggi/Reuters)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aryaperdhana.wordpress.com/49/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aryaperdhana.wordpress.com/49/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryaperdhana.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryaperdhana.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryaperdhana.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryaperdhana.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryaperdhana.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryaperdhana.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryaperdhana.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryaperdhana.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryaperdhana.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryaperdhana.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&blog=1618851&post=49&subd=aryaperdhana&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryaperdhana.wordpress.com/2008/01/27/jakarta-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/aryaperdhana-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">arya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2008/01/kereta-reu-palinggi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kereta-reu-palinggi.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Demi Pageviews yang Maha Esa</title>
		<link>http://aryaperdhana.wordpress.com/2008/01/17/demi-pageviews-yang-maha-esa/</link>
		<comments>http://aryaperdhana.wordpress.com/2008/01/17/demi-pageviews-yang-maha-esa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jan 2008 16:58:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arya</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[kantor]]></category>

		<category><![CDATA[sepakbola]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryaperdhana.wordpress.com/2008/01/17/demi-pageviews-yang-maha-esa/</guid>
		<description><![CDATA[Demi pageviews yang Maha Esa


       ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div align="left">Demi <i>pageviews</i> yang Maha Esa</div>
<div align="center"></div>
<div align="left"></div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aryaperdhana.wordpress.com/48/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aryaperdhana.wordpress.com/48/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryaperdhana.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryaperdhana.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryaperdhana.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryaperdhana.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryaperdhana.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryaperdhana.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryaperdhana.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryaperdhana.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryaperdhana.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryaperdhana.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&blog=1618851&post=48&subd=aryaperdhana&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryaperdhana.wordpress.com/2008/01/17/demi-pageviews-yang-maha-esa/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/aryaperdhana-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">arya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Benazir dan Kisah Negeri yang Koyak</title>
		<link>http://aryaperdhana.wordpress.com/2007/12/28/benazir-dan-kisah-negeri-yang-koyak/</link>
		<comments>http://aryaperdhana.wordpress.com/2007/12/28/benazir-dan-kisah-negeri-yang-koyak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Dec 2007 16:30:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arya</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[dunia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryaperdhana.wordpress.com/2007/12/28/benazir-dan-kisah-negeri-yang-koyak/</guid>
		<description><![CDATA[Di sebuah siang yang ramai di Rawalpindi, sebuah tragedi terjadi. Seorang pemuda tanggung membawa senapan dan memuntahkan pelurunya ke dada dan leher Benazir Bhutto. Benazir pun terhuyung dan akhirnya tersungkur. Perempuan itu pun tewas. Ia baru 54 tahun.
Toh serangan tidak berhenti di situ. Sang pelaku memicu bahan peledak yang ditempelkan di sekujur tubuhnya. Setidaknya, 23 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Di sebuah siang yang ramai di Rawalpindi, <a href="http://news.bbc.co.uk/2/hi/south_asia/7161590.stm">sebuah tragedi</a> terjadi. Seorang pemuda tanggung membawa senapan dan memuntahkan pelurunya ke dada dan leher Benazir Bhutto. Benazir pun terhuyung dan akhirnya tersungkur. Perempuan itu pun tewas. Ia baru 54 tahun.</p>
<p>Toh serangan tidak berhenti di situ. Sang pelaku memicu bahan peledak yang ditempelkan di sekujur tubuhnya. Setidaknya, <a href="http://news.yahoo.com/s/ap/20071228/ap_on_re_as/pakistan;_ylt=Amr04cz1tZY_x4RAMCM_Da2s0NUE">23 nyawa</a> melayang sia-sia di hari laknat di sebuah kota yang hanya berjarak seperlemparan batu dari Islamabad itu.</p>
<p>Situasi menjadi <abbr title="chaos">kaos</abbr>. Pakistan terguncang. Rakyat yang marah turun ke jalan-jalan di banyak kota. Kerusuhan pun merebak di sudut-sudut negeri.</p>
<p>***</p>
<p>Pakistan adalah sebuah negeri yang koyak. Mereka adalah bangsa yang percaya. Mereka meyakini demokrasi. Namun Pakistan kadang dan kerap mengkhianati dan dikhianati oleh demokrasi. Negeri itu terkoyak oleh ulah anak-anaknya sendiri. Mereka terbelah oleh ideologi, partai dan sekte.</p>
<p>Seperti juga saudara tuanya, India, Pakistan adalah bangsa yang riuh dan ricuh. Politik dan kekerasan bergandengan tangan akrab. Sangat erat. Dua hal itu terus saja menjadi mimpi buruk di saat 161 juta warga negeri itu tertidur lelap di malam hari.</p>
<p>Di sana, kita tak akan pernah tahu siapa teman dan siapa lawan. Seperti jamak dikatakan para bijak bestari itu, tak ada teman abadi dan musuh abadi. Yang ada hanyalah kepentingan abadi. Ya, itulah politik. Dan itu pula yang berlangsung di Pakistan. Bahkan jauh sebelum negeri seluas 880 ribu kilometer persegi itu memisahkan diri dari India lebih dari enam dasawarsa lalu.</p>
<p>Berpuluh-puluh atau bahkan mungkin beratus-ratus partai politik ada di Pakistan. Mereka membawa ide mereka masing-masing. Belum lagi ditambah dengan keberadaan tentara. Konflik kerap kali tak bisa dihindari. Semuanya hanya demi konsep absurd bernama kekuasaan.</p>
<p>Di Pakistan juga, entah ada berapa ratus ribu politisi, jendral, <i>warlord</i> dan para kepala suku yang masing-masing memiliki kekuatan dan pengaruh sendiri-sendiri. Tak terbayangkan betapa peliknya mengatur negeri yang dunia politiknya riuh rendah seperti itu.</p>
<p>***</p>
<p>Benazir lahir dalam sebuah dinasti politik. Sebuah tradisi yang lazim di Pakistan, demikian juga di negeri tetangga sekaligus musuh dan saudara kandungnya, India. Ayahnya, Zulfikar Ali Bhutto, juga seorang politisi. Saat menjabat sebagai Perdana Menteri, nasib sang ayah di kemudian hari berakhir tragis. Hidupnya diakhiri di tiang gantungan.</p>
<p>Mulai melihat dunia di sebuah negeri yang mayoritas Muslim, Benazir kecil justru lebih banyak mengenyam pendidikan Katolik. Menginjak dewasa, Benazir pun lebih banyak bersentuhan dengan pendidikan Barat. Sesuatu yang di kemudian hari membuat para penentangnya menganggap ia adalah seseorang yang &#8220;lain&#8221;. Benazir yang menjadi bagian dari &#8220;mereka&#8221; dan bukan &#8220;kita&#8221;.</p>
<p>Benazir diterima di Harvard University, salah satu perguruan tinggi paling prestisius. Tak hanya di Amerika Serikat, namun juga di seluruh dunia. Benazir bukanlah murid yang biasa-biasa saja. Perempuan muda itu masuk komunitas Phi Beta Kappa yang terhormat. Benazir muda juga mendapat nilai <i>cum laude</i> saat meraih gelar sarjananya di bidang politik.</p>
<p>Tak hanya itu, saat melanjutkan studi di Oxford, Inggris, kecemerlangan tidak menjadi hilang dari diri Benazir. Ia juga terpilih sebagai Presiden Oxford Union. Ialah perempuan pertama dari Asia yang pernah mengetuai klub debat nan bergengsi itu.</p>
<p>Berangkat dari sebuah dinasti politik, maka mau tak mau Benazir kemudian menyeburkan dirinya di dunia yang pernah digeluti ayahnya dulu itu.</p>
<p>Karir Benazir berlangsung dengan jatuh bangun. Terpilih sebagai Perdana Menteri hanya untuk kemudian disingkirkan lawan politiknya. Kembali berkuasa dan lalu tergusur kembali. Ia bahkan terusir dari tanah airnya sendiri. Semua orang tahu, seluruhnya hanyalah soal politik. Tidak lebih dan tidak kurang.</p>
<p>Di penghujung 2007, Benazir yang delapan tahun diasingkan di Dubai dan London, akhirnya <a href="http://www.cbc.ca/world/story/2007/10/17/bhutto.html">pulang</a>. Kembali ke negeri asalnya, tak lantas berarti ia mendapat sambutan karangan bunga. Seperti biasa, persetujuan dan pertentangan mewarnai kepulangan Benazir.</p>
<p>18 Oktober, hanya beberapa jam setelah ia mendarat di Islambad, nyawa Benazir langsung terancam. Sebuah bom menyalak. Bom itu meledak dan menewaskan <a href="http://www.nytimes.com/2007/10/19/world/asia/19pakistan.html?_r=1&amp;oref=slogin">139 orang</a>. Benazir beruntung, ia selamat dari serangan itu.</p>
<p>Namun keberuntungan tidak sedang bersama Benazir di siang 27 Desember itu. Ia mungkin tidak pernah tahu bahwa hidupnya akan berakhir di Rawalpindi, hanya beberapa kilometer dari tempat Ali Bhutto dahulu digantung hingga ajal. Benazir diserang. Ia lalu terkulai. Ia usai.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aryaperdhana.wordpress.com/47/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aryaperdhana.wordpress.com/47/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryaperdhana.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryaperdhana.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryaperdhana.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryaperdhana.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryaperdhana.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryaperdhana.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryaperdhana.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryaperdhana.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryaperdhana.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryaperdhana.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&blog=1618851&post=47&subd=aryaperdhana&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryaperdhana.wordpress.com/2007/12/28/benazir-dan-kisah-negeri-yang-koyak/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/aryaperdhana-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">arya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perbandingan Tarif Per Detik Simpati Pe-De vs XL Bebas</title>
		<link>http://aryaperdhana.wordpress.com/2007/12/16/perbandingan-tarif-per-detik-simpati-pe-de-vs-xl-bebas/</link>
		<comments>http://aryaperdhana.wordpress.com/2007/12/16/perbandingan-tarif-per-detik-simpati-pe-de-vs-xl-bebas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Dec 2007 07:08:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arya</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[IT]]></category>

		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryaperdhana.wordpress.com/2007/12/16/perbandingan-tarif-per-detik-simpati-pe-de-vs-xl-bebas/</guid>
		<description><![CDATA[Rupanya, perang antar operator telekomunikasi selular di negeri ini masih terus berlanjut. Setelah XL yang meluncurkan tarif super murah Rp 1/detik melalui XL Bebas-nya, kini Telkomsel ikut terjun ke arena perang tarif itu dengan memperkenalkan tarif Simpati Rp 0.5/detik.
Jelas sekali, apa yang diperbuat oleh Telkomsel itu adalah upaya untuk menjawab tarif yang dimiliki XL. Meski [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Rupanya, <a href="http://aryaperdhana.wordpress.com/2007/09/07/perang-telco/">perang antar operator</a> telekomunikasi selular di negeri ini masih terus berlanjut. Setelah <a href="http://www.xl.co.id">XL</a> yang meluncurkan tarif super murah <a href="http://antobilang.wordpress.com/2007/09/11/eksploitasi-tubuh/">Rp 1/detik</a> melalui <a href="http://www.xl.co.id/Bebas">XL Bebas</a>-nya, kini <a href="http://www.telkomsel.com">Telkomsel</a> ikut terjun ke arena perang tarif itu dengan <a href="http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/12/tgl/10/time/144304/idnews/864791/idkanal/406">memperkenalkan</a> tarif <a href="http://www.telkomsel.com/web/simpati">Simpati</a> Rp 0.5/detik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Jelas sekali, apa yang diperbuat oleh Telkomsel itu adalah upaya untuk menjawab tarif yang dimiliki XL. Meski begitu, operator terbesar di Indonesia itu membantah bahwa tarif Rp 0,5/detik ini adalah jawaban atas vonis KPPU yang mengharuskannya <a href="http://detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/11/tgl/19/time/182719/idnews/854651/idkanal/328">menurunkan tarif 15%</a> menyusul terbuktinya <a href="http://detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/11/tgl/19/time/174703/idnews/854655/idkanal/399">kasus monopoli yang dilakukan Temasek</a> (perusahaan BUMN Singapura yang ikut memiliki Telkomsel &#8211;dan juga <a href="http://www.indosat.com">Indosat</a>).</p>
<p>Tidak semua pelanggan Simpati bisa menikmati fitur itu. Hanya mereka yang memakai Simpati Pe-De lah yang bisa. Pemakai Simpati reguler harus mengubah sistem penarifannya menjadi per detik dengan mengakses *880#.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Saya sendiri belum mencoba berpindah ke sistem tarif per detik. Soalnya, dengan memakai tarif per detik, maka kita tidak bisa lagi menikmati bonus bicara dan bonus SMS. Bonus bicara+SMS yang ada pun jadi tidak bisa dipakai (kecuali kita berpindah lagi ke sistem tarif per menit). Selain itu, setiap kita pindah sistem tarif, maka pulsa kita akan dipotong Rp 3.000.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sebelumnya, saya sudah memakai XL bebas. Saya pun kemudian mencoba menghitung-hitung tarif kedua operator ini. Oya, sebagai informasi, untuk XL Bebas, tarif Rp 1/detik ke sesama XL berlaku setelah detik ke-121 dan seterusnya. Untuk detik ke 1-120, dikenai tarif Rp 10/detik. Sedangkan untuk Simpati Pe-De, tarif Rp 0,5/detik ke sesama Telkomsel berlaku setelah detik ke-61. Di detik pertama hingga 60, pelanggan harus membayar Rp 25/detik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Oke, mari berhitung. Siapa yang lebih murah dari siapa. Tapi untuk diketahui, khusus untuk tarif XL Bebas, saya memakai tarif yang diterapkan di region Jawa Tengah-DIY. Setahu saya, sistem perhitungan di region DKI Jakarta sedikit berbeda.</p>
<table class="MsoTableGrid" style="border-collapse:collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0">
<tr>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong>Menit ke</strong></p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong>Tarif Telkomsel</strong></p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong>Tarif XL</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">0-1</p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">1500</p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">600</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">2</p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">1530</p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">1200</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">3</p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">1560</p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">1260</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">4</p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">1590</p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">1320</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">5</p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">1620</p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">1380</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">6</p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">1650</p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">1440</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">7</p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">1680</p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">1500</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">8</p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">1710</p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">1560</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">9</p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">1740</p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">1620</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">10</p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">1770</p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">1680</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">11</p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">1800</p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">1740</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">12</p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">1830</p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">1800</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">13</p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">1860</p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">1860</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">14</p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong>1890</strong></p>
</td>
<td style="width:147.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="197">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong>1920</strong></p>
</td>
</tr>
</table>
<p><span>                                   </span><span>   </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Nah, dari tabel di atas, terlihat bahwa tarif Simpati akan terasa lebih murah jika Anda melakukan pembicaraan telepon dengan durasi 14 menit atau lebih. Sementara, Anda yang banyak melakukan pembicaraan dengan lama kurang dari 14 menit, maka tarif XL Bebas akan terasa lebih murah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Apakah Anda akan memilih memakai Simpati atau memakai XL, semuanya terserah kepada Anda. Silakan memilih tarif mana yang menurut Anda paling murah. Perang antar operator telekomunikasi sudah seharusnya membuat konsumen diuntungkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Disclaimer</strong>: Saya tidak bekerja untuk salah satu operator ataupun operator seluler lainnya dan juga afiliasinya. Posting ini murni pendapat pribadi dan tidak ditujukan untuk mempromosikan operator mana pun. Semua pemakaian jasa operator seluler adalah sepenuhnya tanggungjawab pembaca.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aryaperdhana.wordpress.com/46/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aryaperdhana.wordpress.com/46/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryaperdhana.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryaperdhana.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryaperdhana.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryaperdhana.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryaperdhana.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryaperdhana.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryaperdhana.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryaperdhana.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryaperdhana.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryaperdhana.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&blog=1618851&post=46&subd=aryaperdhana&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryaperdhana.wordpress.com/2007/12/16/perbandingan-tarif-per-detik-simpati-pe-de-vs-xl-bebas/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/aryaperdhana-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">arya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Terlambat Itu (Kadang) Menyenangkan</title>
		<link>http://aryaperdhana.wordpress.com/2007/11/29/terlambat-itu-kadang-menyenangkan/</link>
		<comments>http://aryaperdhana.wordpress.com/2007/11/29/terlambat-itu-kadang-menyenangkan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Nov 2007 15:44:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arya</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[saya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryaperdhana.wordpress.com/2007/11/29/terlambat-itu-kadang-menyenangkan/</guid>
		<description><![CDATA[Terlambat. Sebuah kata yang mungkin sangat dibenci oleh begitu banyak orang. Namun sayangnya, kata terlambat ini bisa jadi adalah sebuah kosakata yang akrab dengan keseharian rakyat Indonesia.
Pegawai negeri yang terlambat, kuli swasta yang telat, jadwal kereta api yang ngaret, keberangkatan pesawat yang molor, dan berbagai macam keterlambatan-keterlambatan lain ada di negeri ini.
Tapi, pernahkah Anda merasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify">Terlambat. Sebuah kata yang mungkin sangat dibenci oleh begitu banyak orang. Namun sayangnya, kata terlambat ini bisa jadi adalah sebuah kosakata yang akrab dengan keseharian rakyat Indonesia.</p>
<p>Pegawai negeri yang terlambat, kuli swasta yang telat, jadwal kereta api yang <em>ngaret,</em> keberangkatan pesawat yang <em>molor,</em> dan berbagai macam keterlambatan-keterlambatan lain ada di negeri ini.</p>
<p>Tapi, pernahkah Anda merasa bahwa terlambat itu kadang menyenangkan? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Itulah yang terjadi pada saya sore ini. Jadwal pesawat yang akan saya tumpangi dari Jakarta ke Jogja adalah jam 17.30. Yang menjadi persoalan, saya baru keluar kantor di kawasan Warung Buncit jam 3 sore.</p>
<p>Bayang-bayang keterlambatan dan ketinggalan pesawat makin terasa saat bus bandara yang saya naiki baru berangkat dari Blok M jam 4 kurang. Itu pun masih ditambah macet hampir di sepanjang jalan Sudirman. Makanya, dalam hati saya berdoa kuat-kuat, semoga pesawat yang mau membawa saya terlambat! Dan semoga ada juga orang-orang yang seperti saya ini dan kemudian memanjatkan doa yang sama.</p>
<p>Pukul 17.15, saya baru sampai Soekarno-Hatta. Mampus, pikir saya. Saya 50% yakin bahwa saya bakal ditolak naik. Bahkan kalau saja saya pakai Garuda (dan kenyataannya tidak), keyakinan bahwa saya bakal ditinggal naik jadi 90%.</p>
<p>Tapi syukurlah. <em>Thank God</em>! Alhamdulillah! Haleluia! Doa saya sepertinya didengar Tuhan  dan petugas di tempat <em>check-in</em> minta saya untuk tidak terburu-buru karena pesawatnya terlambat! Sangat jarang saya mensyukuri sebuah keterlambatan. Yang pasti, saat itu adalah salah satunya. <em>Thank God I&#8217;m living in Indonesia</em>. Seandainya saja saya tinggal di Eropa yang super-disiplin, sudah pasti saya bakal gigit jari karena ketinggalan <strike>kereta</strike> pesawat.</p>
<p>Keterlambatan yang tadinya saya syukuri perlahan berubah menjadi menyebalkan! Mungkin Tuhan terlalu berlebihan dalam mengabulkan permintaan (aneh) saya. Pesawat Adam Air jurusan Jakarta-Jogja dijadwal ulang baru terbang jam 19.10. Seperti juga jamaknya manusia, saya yang tadi senyam-senyum jadi berubah <em>kepingin</em> misuh-misuh. Dasar <em>menungso!</em> <em>Mbatin</em> saya.</p>
<p>Untunglah pihak maskapai sedikit tanggap sama keterlambatan itu. Mereka berinisiatif membagi-bagikan roti bun produknya Roti boy masing-masing satu biji ke setiap penumpang (ditambah segelas air 200ml). Saya yang sudah mulai <em>ngomel-ngomel,</em> jadi merasa geli sendiri.</p>
<p><em>Lho</em> kok geli? Emang ada yang lucu? <em>Lha</em> iya, maskapai murah kan penerbangannya <em>no frills</em>. Alias <em>gak pake snek,</em> apalagi makan. Yang ada cuman minuman air putih <em>digelasin,</em> <em>trus</em> dikasih label oranye. Makanya, saat mereka bagi-bagi roti, rasanya sedikit lucu juga. Jadi saya naik penerbangan yang bukan lagi <em>no-frills dong</em>? Hehehehe. Lumayanlah. Walaupun cuman seharga 5.000-7.000 <em>perak,</em> sepertinya taktik mereka meredam kekesalan penumpang cukup berhasil.</p>
<p>Daaaan&#8230;. <em>what a day</em>. Ini dia gong cerita kali ini. <em>Guess what</em>? Saya melihat <a href="http://aryaperdhana.wordpress.com/2007/08/06/8-pertanyaan-untuk-roy-suryo/">Om Roy Sukro</a> masuk ke ruang tunggu yang sama dengan saya! Aih, aih&#8230; Ternyata Om Pakar 68% ini mau ke Jogja juga rupanya. Wahahahaha. Apakah saya pakai histeris teriak-teriak gitu? Hahahaha. Dalam hati saja deh. Nanti saya bisa-bisa dianggap norak sama penumpang lain.</p>
<p>Alhamdulillah, meskipun saya sepesawat sama Om Roy, pesawat yang saya (kami?) tumpangi tidak <a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/01/tgl/03/time/171725/idnews/726547/idkanal/10">meledak di udara</a>. *mengelus dada* Meskipun cuaca <em>nggak</em> terlalu bagus dan bikin pesawat jadi sedikit <em>bumpy,</em> toh akhirnya saya tiba dengan selamat (tiba dengan Selamat, atau tiba dengan Om Roy ya? Bingung saya. :p) di Jogja.</p>
<p>Jogja, <em>it feels like I&#8217;m leaving for a century</em>. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aryaperdhana.wordpress.com/45/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aryaperdhana.wordpress.com/45/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryaperdhana.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryaperdhana.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryaperdhana.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryaperdhana.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryaperdhana.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryaperdhana.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryaperdhana.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryaperdhana.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryaperdhana.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryaperdhana.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&blog=1618851&post=45&subd=aryaperdhana&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryaperdhana.wordpress.com/2007/11/29/terlambat-itu-kadang-menyenangkan/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/aryaperdhana-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">arya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jazz</title>
		<link>http://aryaperdhana.wordpress.com/2007/11/24/jazz/</link>
		<comments>http://aryaperdhana.wordpress.com/2007/11/24/jazz/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Nov 2007 17:22:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arya</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[saya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryaperdhana.wordpress.com/2007/11/24/jazz/</guid>
		<description><![CDATA[Di Jakarta sana, malam ini ada konser yang ditajuki The 9th Jakarta International Jazz Festival atau lebih tenarnya Jak Jazz 2007. Tanda masuknya mahal, makanya saya nggak sanggup beli (apalagi kalau harus beli tiket pesawat/kereta bolak-balik Yogya-Jakarta). Berapa? Wis tho, percaya saja sama saya, mahal!
Kalau maksa nonton, kantong saku ini mungkin nggak cuman bakal bobol [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify">Di Jakarta sana, malam ini ada konser yang ditajuki The 9th Jakarta International Jazz Festival atau lebih tenarnya <a href="http://www.jakjazz.com">Jak Jazz 2007</a>. Tanda masuknya mahal, makanya saya <em>nggak</em> sanggup beli (apalagi kalau harus beli tiket pesawat/kereta bolak-balik Yogya-Jakarta). Berapa? <em>Wis tho,</em> percaya saja sama saya, mahal!</p>
<p>Kalau <em>maksa</em> nonton, kantong saku ini mungkin <em>nggak</em> cuman bakal bobol habis-habisan, tapi juga harus pensiun sebagai kantong. Pasalnya, tuannya bukan tipe orang yang tahu diri. <em>&#8220;Sontoloyo, baru ndengerin jes kemarin sore aja udah nggaya. Biayayakan pingin nglurug ke Jakarta. Bonek yo bonek, tapi mbok yao mikir.&#8221;</em> Mungkin begitu pikir kantong saku celana saya yang tiap hari dijejali dompet tipis nan kere itu.</p>
<p><em>Ngomong-ngomong </em>soal konser jes kayak ini, saya cuman bisa ngelirik iri sama <a href="http://chikastuff.wordpress.com">temen saya</a> yang satu ini. Beliau begitu beruntung bisa masuk arena. Konon, gratis. Soalnya dia itu wartawan. Jurnalis. Jadi, blusukan mendengarkan tiupan saksofon dari Jay Beckenstein yang enerjik sambil mikir nanti mau nulis apa. Hehehe.</p>
<p><em>Nah, ngelantur </em>sampai soal masuk konser, saya pernah dengar omongan garing seperti di bawah ini entah dari kapan tahun. Katanya, orang yang nonton konser jes itu terbagi jadi empat golongan. (Penting: ini kategorisasi yang sama sekali <em>nggak</em> ilmiah. Jangan dijadikan referensi).</p>
<p>Pertama, penjahat. Alias pencinta jes sepenuh hati. Dia memang dari sononya sudah seneng sama musik yang dulunya dimainkan kaum budak negro ini. Koleksi CD sama kasetnya (atau mungkin MP3?) pasti didominasi sama nama-nama seperti Fourplay, Lee Ritenour, atau Dave Grusin atau setidaknya Michael Buble.</p>
<p>Yang kedua, penjahit. Alias pencinta jes setengah hati. Kadang, dia <em>ndengerin</em> Accoustic Alchemy, tapi besoknya ganti lagi jadi Ungu. <em>Mood-mood</em>-an, <em>nggak</em> tentu. Kira-kira semacam itu lah.</p>
<p>Lalu yang ketiga, pejabat. Pencinta jes ikut sobat. Temen nonton Jak Jazz, dia <em>ngikut.</em> Besoknya nonton Java Jazz, <em>mbuntut</em> juga. Pokoknya demi lancarnya pergaulan lah. <em>Socialite,</em> mungkin?</p>
<p>Nah yang terakhir ini yang <a href="http://chikastuff.wordpress.com">temen saya</a> ini mungkin masuk. Penjaga, alias pencinta jes gratisan. Wartawan, keluarganya promotor, orang dari sponsor. Semua dari mereka yang bisa dapat <em>free pass</em> karena berbagai hal. Hehehe. Beruntunglah betul mereka ya?</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aryaperdhana.wordpress.com/44/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aryaperdhana.wordpress.com/44/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryaperdhana.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryaperdhana.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryaperdhana.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryaperdhana.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryaperdhana.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryaperdhana.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryaperdhana.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryaperdhana.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryaperdhana.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryaperdhana.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&blog=1618851&post=44&subd=aryaperdhana&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryaperdhana.wordpress.com/2007/11/24/jazz/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/aryaperdhana-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">arya</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>