<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>uncertain territory 2.0</title>
	<atom:link href="http://aryaperdhana.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aryaperdhana.wordpress.com</link>
	<description>this world is such an uncertain place</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Jan 2012 06:28:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='aryaperdhana.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>uncertain territory 2.0</title>
		<link>http://aryaperdhana.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://aryaperdhana.wordpress.com/osd.xml" title="uncertain territory 2.0" />
	<atom:link rel='hub' href='http://aryaperdhana.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kecewa dengan ‘Indonesia Itu Mengecewakan’</title>
		<link>http://aryaperdhana.wordpress.com/2012/01/09/kecewa/</link>
		<comments>http://aryaperdhana.wordpress.com/2012/01/09/kecewa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2012 06:03:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arya</dc:creator>
				<category><![CDATA[pemikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryaperdhana.wordpress.com/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[Rabu (28/12/2011) pagi, pandangan saya terbetot pada iklan berbentuk jacket yang terlampir bersama satu eksemplar koran Kompas. Teks yang tertulis di bagian depan iklan jacket itu adalah, “Ha ha ha.. INDONESIA ITU MENGECEWAKAN.” Judul yang provokatif itu sukses menggiring saya untuk membaca lanjutan iklan tersebut dan menepikan berita di headline. Di balik halaman pertama tadi, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&amp;blog=1618851&amp;post=264&amp;subd=aryaperdhana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/12/indonesiamengecewakan.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-267" title="IndonesiaMengecewakan" src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/12/indonesiamengecewakan.jpg?w=450&#038;h=305" alt="" width="450" height="305" /></a></p>
<p>Rabu (28/12/2011) pagi, pandangan saya terbetot pada iklan berbentuk jacket yang terlampir bersama satu eksemplar koran Kompas. Teks yang tertulis di bagian depan iklan jacket itu adalah, “Ha ha ha.. INDONESIA ITU MENGECEWAKAN.”</p>
<p>Judul yang provokatif itu sukses menggiring saya untuk membaca lanjutan iklan tersebut dan menepikan berita di headline. Di balik halaman pertama tadi, tertulis teks yang bunyinya begini:</p>
<blockquote><p>“Indonesia itu “mengecewakan&#8230;”<br />
Perekonomian Indonesia yang berhasil tumbuh sampai 6,5% tahun 2011, ternyata bisa mengecewakan “kubu ekonomi” yang otimistis, sekaligus mengecewakan “kubu politik” yang pesimistis.</p>
<p>“Mestinya bukan hanya tubuh 6.5%.” Itu kata golongan yang optimistis.</p>
<p>“Kok ekonomi Indonesia bisa tumbuh sampai 6,5% ya.” Itu kata golongan yang kecewa mengapa ekonomi Indonesia bisa begini bagusnya.</p>
<p>He he he… Indoneisa itu memang mengecewakan. Bagi mereka yang hobinya kecewa.</p></blockquote>
<p>Di lembar kedua iklan itu, ada tulisan dengan huruf besar mengenai pemberian investment grade dan efek-efek positifnya buat negara, dunia usaha dan masyarakat. Lantas, di halaman terakhir, ada tiga grafik yang memperlihatkan GDP Indonesia dibandingkan dengan lima negara ASEAN, tren inflasi Indonesia dibandingkan dengan Brasil, Rusia, India dan Cina (BRIC) dan rasio utang terhadap GDP antara Indonesia dikomparasi dengan Jepang, AS, Brasil, Cina, India, ASEAN dan zona Euro.</p>
<p>Yang langsung mebuat gusar ketika melihat iklan yang dibuat oleh Keluarga Besar BUMN (yang terdiri dari BRI, BNI, Bukit Asam, Semen Gresik, Pertamina, PLN, Perusahaan Gas Negara, Jamsostek, Telkom Indonesia dan Bank Mandiri), pertama, adalah pada pemilihan gaya bahasanya.</p>
<p>Bahasa yang dipakai dalam iklan yang jelas tidak murah itu terasa sangat sinis, terutama kepada para pihak yang selama ini banyak mengkritik Pemerintah. Iklan tersebut seperti ingin mengatakan kepada para pengkritik Pemerintah bahwa sekeras apapun pengkritik bersuara, Pemerintah sudah menunjukkan statistik positif ekonomi Indonesia selama 2011 yang tumbuh sebesar 6,5%.</p>
<p>Padahal, paradigma kesuksesan ekonomi yang berdasar pada statistik ekonomi makro belaka tidak lagi relevan. Bahkan Bank Dunia pun mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi bukanlah segalanya. Alih-alih hanya memikirkan pertumbuhan, sudah selayaknya Pemerintah lebih memikirkan mengenai pemerataan, pengurangan pengangguran yang pada muaranya adalah pengurangan kemiskinan.</p>
<p>Sudah terlalu banyak contoh yang memperlihatkan bahwa pembangunan di Indonesia bersifat Jawa sentris sehingga menimbulkan kecemburuan dari daerah-daerah luar Jawa. Bila tidak dikelola dengan baik, ketidakpuasan-ketidakpuasan itu bisa berbahaya terhadap integritas bangsa.</p>
<p>Terlebih lagi, iklan ‘Indonesia Mengecewakan’ ini dibuat oleh sejumlah BUMN yang seharusnya lebih fokus ke sektor riil ketimbang hanya bergenit-genit dengan angka yang indah dilihat tetapi tak berarti bila tidak menyentuh sendi perekonomian kerakyatan.</p>
<p>Ada tiga bank yang menyokong iklan ini, yakni BRI, BNI dan Bank Mandiri, yang seharusnya lebih memikirkan bagaimana memperbesar porsi kredit untuk usaha kecil dan menengah yang selama ini terbukti tangguh dari terjangan krisis, tidak seperti korporasi besar yang justru mudah goyah.</p>
<p>Harus ditanyakan juga apakah bank-bank BUMN tersebut sudah merespons positif seruan Bank Indonesia untuk menurunkan tingkat bunga pinjamannya di saat BI Rate sudah cukup rendah dengan diturunkan hingga ke level 6 persen (turun 0,75 persen selama tahun 2011).</p>
<p>Di sana juga ada Pertamina yang seharusnya memperbaiki mekanisme pengawasan terhadap pembatasan konsumsi BBM bersubsidi oleh kalangan mampu atau PT Telkom yang seharusnya lebih fokus untuk memperluas akses daerah terpencil terhadap sarana komunikasi dan internet.</p>
<p>Jangan lupa juga dengan PLN. Perusahaan ini punya tugas berat untuk melakukan elektrifikasi 80,24 persen wilayah Indonesia pada tahun 2014. Hingga Oktober 2011, perusahaan setrum negara itu baru mengelektrifikasi 71,2 persen wilayah Indonesia dengan rincian 75,4 persen di wilayah Jawa-Bali, 68,2 persen di wilayah Indonesia Barat dan baru 59,2 persen di wilayah Indonesia Timur. Ini belum lagi ditambah dengan payahnya kinerja PLN dalam mengurangi pemadaman yang masih terus saja terjadi.</p>
<p>Hal berikutnya yang bikin gusar dari iklan yang bila ditotal berjumlah 2,5 halaman tersebut adalah terdapatnya kalimat “mengucapkan selamat kepada seluruh rakyat Indonesia yang bersama pemerintahan SBY berhasil mencapai investment grade di akhir 2011 ini.” Kalimat tersebut lebih terlihat sebagai usaha cari muka karena sekali lagi investment grade itu tidak otomatis berarti kesejahteraan rakyat meningkat.</p>
<p>Yang terakhir, untuk memasang iklan jacket di harian sebesar Kompas tentu tidaklah murah. Bila iklan berwarna satu halaman (7 kolom kali 100 milimeter kolom) bertarif Rp 330 juta, tentu bisa dihitung biaya yang harus dikeluarkan untuk membiayai iklan sebesar 2,5 halaman tersebut. Padahal, iklan tersebut juga dipasang di media lain, antara lain harian Bisnis Indonesia. Akan lebih baik bila dana untuk publikasi yang salah sasaran seperti itu dialihkan untuk hal-hal yang lebih berguna.</p>
<br />Filed under: <a href='http://aryaperdhana.wordpress.com/category/pemikiran/'>pemikiran</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryaperdhana.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryaperdhana.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryaperdhana.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryaperdhana.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aryaperdhana.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aryaperdhana.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aryaperdhana.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aryaperdhana.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryaperdhana.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryaperdhana.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryaperdhana.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryaperdhana.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryaperdhana.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryaperdhana.wordpress.com/264/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&amp;blog=1618851&amp;post=264&amp;subd=aryaperdhana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryaperdhana.wordpress.com/2012/01/09/kecewa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7e29d27c5f623d7958f14c455b8d74e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/12/indonesiamengecewakan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IndonesiaMengecewakan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Adinda</title>
		<link>http://aryaperdhana.wordpress.com/2011/12/22/adinda/</link>
		<comments>http://aryaperdhana.wordpress.com/2011/12/22/adinda/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 01:31:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arya</dc:creator>
				<category><![CDATA[fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryaperdhana.wordpress.com/?p=246</guid>
		<description><![CDATA[Adinda, Aku menulis surat ini dari tepian Sydney Harbour yang riuh. Keriuhan yang sungguh berbanding terbalik dengan apa yang aku rasakan di benak dan hatiku saat ini. Senja sudah luruh sejak sejam tadi. Angin yang sedari tadi meniupkan udara dingin dari Samudera Pasifik ke daratan menjadi semakin menggigit saja. Kemejaku tidak terlalu kuat mengusir hawa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&amp;blog=1618851&amp;post=246&amp;subd=aryaperdhana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/12/operahouse.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/12/operahouse.jpg?w=450&#038;h=291" alt="" title="OperaHouse" width="450" height="291" class="aligncenter size-full wp-image-252" /></a><br />
Adinda, </p>
<p>Aku menulis surat ini dari tepian Sydney Harbour yang riuh. Keriuhan yang sungguh berbanding terbalik dengan apa yang aku rasakan di benak dan hatiku saat ini. </p>
<p>Senja sudah luruh sejak sejam tadi. Angin yang sedari tadi meniupkan udara dingin dari Samudera Pasifik ke daratan menjadi semakin menggigit saja. Kemejaku tidak terlalu kuat mengusir hawa dingin ini sehingga aku harus menyalakan sebatang rokok kretek ini.</p>
<p>Malam ini purnama. Bulan yang tadi sore masih malu-malu memperlihatkan diri kini semakin berani menunjukkan cahayanya. Warnanya yang keperakan memantul di air laut. Warna yang sama juga menjadi seperti sebuah lampu sorot yang mengarah ke dinding Opera House yang berdiri anggun sekaligus angkuh di tengah air. Ujung-ujung runcing Opera House menjulang ke udara, seolah-olah ingin menusuk purnama di atasnya, tetapi apalah daya karena merobek langit pun ujung runcing itu tak sanggup.</p>
<p>Kapal-kapal berisi turis dengan lampu menyala masih saja ulang alik di air teluk. Mereka tampak seperti lentera minyak yang dihanyutkan di perairan yang warnanya menghitam karena malam yang mulai larut.</p>
<p>Di sebelah kiriku, Harbour Bridge masih membentang kokoh dengan baja-baja berwarna gelapnya. Sekelompok manusia berada di atas jembatan dan dari sini mereka terlihat seperti kumbang yang hilir mudik. Tahukah engkau kalau dulu puncak teratas busur di jembatan ini adalah tempat favorit untuk mereka yang berniat bunuh diri?</p>
<p>Adinda,</p>
<p>Entahlah, apa engkau masih ingat dengan momen pertemuan kita di sini dua tahun lalu. Ketika itu, engkau adalah mahasiswa tingkat akhir di University of New South Wales. Engkau yang calon arsitek, terduduk di sebuah bangku panjang, sendiri, membawa sebuah papan kecil, pensil dan kertas kosong. Engkau mengisap rokok Marlboro black menthol-mu perlahan, dengan mata menerawang ke laut lepas, di mana rumah-rumah berdiri tak beraturan di punggung bukit-bukit kecil itu.</p>
<p>Aku mengenali wajah Indonesiamu—tepatnya, wajah Jawamu. “Boleh pinjam korek?” tanyaku padamu ketika itu. Engkau tersenyum, menyalakan korekmu dan menyodorkannya ke hadapan wajahku. Aku mendekatkan rokok di mulutku dan kedua tanganku membentuk pagar untuk melindungi api dari angin Sydney Harbour yang kejam.</p>
<p>“Terima kasih,” kataku, masih memakai bahasa Indonesia karena walau tadi engkau tidak mengucapkan sepatah kata pun, aku yakin engkau mengerti kalimatku.</p>
<p>“Sama-sama,” jawabmu sembari melempar senyum. Aku lega. Lega karena tebakanku bahwa engkau orang Indonesia tidak meleset. Engkau memang orang Indonesia, bukan orang Malaysia atau Filipina yang memang punya paras wajah mirip.</p>
<p>“Arsya,” ucapku sembari menyorongkan tangan mengajakmu bersalaman. “Dinda,” balasmu sembari mengguncang tanganku dengan tanganmu.</p>
<p>Sebuah pertemuan yang biasa saja. Kita tidak banyak mengenalkan diri, hanya berbicara tentang keindahan senja hari di Sydney Harbour itu. Engkau bilang kalau kau sangat senang menyendiri di dekat Sydney Harbour karena sedang butuh inspirasi untuk menyelesaikan tugas akhirmu. </p>
<p>Ternyata pertemuan itu bukanlah pertemuan kita satu-satunya. Keesokan harinya, di kursi panjang dekat dermaga yang sama, aku lagi-lagi melihat sosokmu. Kembali aku menyapamu dan kembali kita bicara sekadarnya. Aku tidak berani mengajakmu bicara panjang-panjang karena aku takut mengganggu kesibukanmu membuat sketsa-sketsa. </p>
<p>Adinda,</p>
<p>Suatu hari, aku melihatmu tanpa papan kecil, pensil dan kertas putih seperti yang biasanya kau bawa. “Aku hanya ingin menikmati matahari terbenam. Kalau sedang sedih, aku suka sekali memandangi matahari terbenam,” jawabmu ketika aku tanya. Engkau menjawab dengan wajah tetap tertuju ke perairan, dan engkau baru menengok ke wajahku setelah kata terakhir keluar dari mulutmu.</p>
<p>“Pangeran Kecil, Antoine de Saint Exupery. Ketika sedang sangat sedih, Pangeran Kecil melihat matahari terbenam sebanyak empat puluh empat kali dalam sehari. Sayang sekali kita cuma bisa melihat satu matahari terbenam dalam sehari,” kataku sembari memantik api ke ujung batang rokok kretekku.</p>
<p>“Sebenarnya bisa bila kita bisa berpindah dengan cepat. Misalnya, kita dapat menyaksikan matahari terbenam di Sydney, lalu dengan cepat kita terbang ke Perth untuk melihat matahari terbenam lagi, terus kita melesat cepat terbang ke Banda Aceh untuk melihat matahari masuk peraduan kembali, dan seterusnya, dan seterusnya,” katamu.</p>
<p>Aku tersenyum. Meski agak mustahil, aku mengagumi imajinasimu. “Pangeran Kecil sangat beruntung karena untuk melihat empat puluh empat matahari terbenam ia hanya harus menggeser kursinya,” tiba-tiba kau menukas untuk merampungkan kalimatmu tadi.</p>
<p>“Jadi, kau suka membaca Pangeran Kecil?” tanyaku. “My all time favorite,” jawabmu singkat. Aku mengangguk. Lalu kita berdua kembali tenggelam dalam diam seperti dua buah televisi hitam putih yang bisu.</p>
<p>Pembicaraan mengenai Pangeran Kecil itulah yang menjadi mula kedekatan kita. Setelah itu, kita kian sering berjumpa. Tidak lagi hanya di tepian Sydney Harbour, karena aku mulai berani mengajakmu untuk sekadar ngopi-ngopi di kafe kecil di The Rocks, atau minum-minum ringan di bar di kota.</p>
<p>Dari pertemuan-pertemuan itu, aku tahu kalau kesedihanmu tempo hari adalah puncak dari segala kesedihan yang pernah kau alami sepanjang hidupmu yang baru menyentuh angka 22 tahun. Engkau bilang kalau engkau patah hati karena kekasihmu di Indonesia ternyata memilih meninggalkanmu dan menikahi perempuan lain.</p>
<p>“Aku tak tahu apakah ini marah atau sedih; atau malah keduanya, Sya,” ucapmu dengan wajah tertunduk. Jemarimu memainkan sendok kecil di buih capuccino di dalam cangkirmu. </p>
<p>“Kadang aku pikir lebih baik aku mati saja. Tapi aku tahu itu salah di mata agama. Aku juga tidak mau mengecewakan orang tuaku yang menaruh harapan besar padaku; ayah dan ibu yang sangat bangga ketika aku mengabarkan bahwa aku memperoleh beasiswa untuk kuliah di sini.”</p>
<p>Momen itulah yang mengubah pandanganku terhadapmu. Engkau yang aku pikir gadis mandiri yang ceria dengan imajinasi yang luar biasa, ternyata juga seorang gadis yang rapuh. Engkau lalu mulai  membenci laki-laki.</p>
<p>Kita bicara tentang banyak hal; malah mungkin terlalu banyak. Aku ingat betul, di sebuah bangku di tengah taman Macquarie Royal Garden, engkau ceritakan keresahanmu tentang Tuhan dan agama. </p>
<p>“Aku sekarang mudah tergetar kalau melihat orang berdoa di gereja, atau mendengar nyanyian mereka. Ini karena aku sedang merasa jauh dari Tuhan, atau karena God spot di otakku kian membesar?” tanyamu serius.</p>
<p>“Mungkin kamu mau jadi Kristen,” jawabku sedikit asal-asalan yang segera engkau sambut dengan pelototan mata yang malah membuatku tergelak.</p>
<p>“Ah kau sendiri pun bukan orang yang taat. Coba, kapan terakhir kau salat?” tanyamu. </p>
<p>“Jumat kemarin. Di KJRI,” kelitku.</p>
<p>“Iya, cuma seminggu sekali. Kau nanti lama-lama jadi agnostik juga,” sahutmu. Aku tak punya minat buat menghindar dan mendebat, karena itu aku hanya bisa membalas dengan senyum lebar.</p>
<p>Adinda,</p>
<p>Di waktu yang lain, engkau ceritakan tentang kerinduanmu pada ayahmu dan ketidaksanggupanmu untuk mengatakan bahwa engkau sayang padanya lewat telepon, karena tangismu akan lebih dahulu pecah sebelum engkau berhasil mengatakannya. Engkau merasa bersalah karena dulu ayahmu adalah orang yang paling menentang hubunganmu dengan pria yang kini telah meninggalkanmu itu.</p>
<p>“Rasanya ingin pulang, memeluk dia lagi. Menjadi gadis kecilnya lagi, menemaninya membeli pakaian dan aku akan menggandengnya di lengan, menuruti ke mana pun ia melangkah,” cetusmu menerawang.</p>
<p>“Telponlah dia. Sekarang. Jangan menunggu. Engkau tidak akan pernah tahu apakah waktu untuk itu masih ada,” saranku.</p>
<p>“Jangan menakut-nakuti aku!” serumu. “Aku tidak bisa menelponnya, apalagi mengatakan aku sayang padanya. Aku terlalu rapuh dan pasti aku menangis di telepon.”</p>
<p>“Apa salahnya menangis saat bicara dengan ayah?” tanyaku tak mengerti.</p>
<p>“Itu akan makin membuat mereka khawatir dan takut aku kenapa-kenapa. Lagipula, kalau sudah menangis aku selalu kehabisan kata-kata untuk diucapkan,” katamu. Aku mengangguk, mencoba memahami.</p>
<p>Tanpa pernah aku sadari, hatiku mengembara ke wilayah yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Pengembaraan yang ditenagai pertemuan-pertemuan dan janji-janji ngopi, minum dan nonton film yang kita lakukan. Tanpa perlu aku ucapkan, aku pikir kamu mengerti dengan apa yang aku rasakan di hati. Rasa yang tumbuh membesar seiring dengan gandengan tangan kita kala berjalan, rasa yang mengental di setiap usapanku di rambutmu yang panjang tergerai, rasa yang mengkristal dengan pukulan-pukulan kecilmu ke bahuku ketika aku merayumu. Hingga kemudian, suatu malam ketika kita kemalaman dan engkau terpaksa tidur di apartemenku yang hanya punya satu kamar. Malam itu, kita membuat keajaiban dan aku pikir kita tak terpisahkan lagi.</p>
<p>Adinda,</p>
<p>Ternyata, aku keliru. Kita tidaklah tak terpisahkan. Engkau kemudian bagai menghilang ditelan bumi. Kau tidak pernah lagi datang ke Sydney Harbour, tidak menjawab telponku atau menelponku balik, dan engkau juga tidak pernah membalas SMS dariku.</p>
<p>Aku mencoba berpikir positif bahwa engkau sedang berkonsentrasi menyelesaikan tugas akhirmu, sebagai pelunasan kewajibanmu kepada orang tuamu dan pemberi beasiswamu. Aku mencoba paham, walaupun hatiku sangat tersiksa tidak bisa bertemu dan sekadar menghabiskan senja denganmu lagi.</p>
<p>Hingga kemudian, bulan lalu aku menerima undangan perkawinanmu yang kau kirim dari Yogyakarta. Aku tersentak kaget. Terloncat seperti burung camar di Darling Harbour menghindari terpaan ombak yang datang tiba-tiba dibawa angin kencang bulan Desember. </p>
<p>Engkau sisipkan selembar surat di amplop undangan itu. Kau tulis di situ,<br />
<em></p>
<blockquote><p>“Arsya, maafkan aku bila harus memakai cara ini untuk kembali ke episode kehidupanmu. Sungguh, aku sebenarnya tidak ingin seperti ini. Sebenarnya aku ingin berpamitan kepadamu ketika studiku selesai dan aku kembali ke Indonesia. Tetapi aku merasa hal itu adalah kesia-siaan belaka.</p>
<p>Aku tahu perasaanmu kepadaku. Sebaliknya, aku pun sudah cukup jelas menunjukkan perasaanku kepadamu walau aku tidak pernah mengucapkannya. Tapi engkau tahu kan, pertemuan kita di bangku panjang itu adalah sebuah kesalahan. Seharusnya kita tidak perlu berjumpa sehingga tidak pernah ada apapun di antara kita. </p>
<p>Andai kita tidak bertemu, engkau tidak harus menceraikan istrimu. Andai kita tidak bertemu, engkau pasti sudah menyelesaikan tesismu dan engkau tidak perlu kehilangan beasiswa seperti yang engkau alami saat ini. Sungguh, Arsya, pertemuan kita adalah sebuah kesalahan.</p>
<p>Maafkan aku, Arsya. Aku sungguh sayang padamu, tapi pada akhirnya aku memilih pria ini sebagai calon suamiku. Aku tidak bisa menunggumu, Arsya. Aku lelah dengan semua petualanganku sendiri, aku lelah dibuai janji-janji, aku lelah menjalani segala yang tak pasti.</p>
<p>Aku mengerti bila engkau tidak mau datang ke perkawinanku. Aku sendiri pun tidak terlalu berharap kau ada di sana karena itu hanya akan menggoreskan luka baru di atas luka lama yang belum sembuh benar. Aku juga tidak terlalu berharap engkau akan memanjatkan doa agar perkawinanku langgeng dan bahagia. Bukan hanya karena engkau sendiri sudah bilang kalau engkau tidak percaya lagi pada agama, tetapi juga karena perkawinanku ini pasti memukulmu (aku membayangkan pukulan yang sama akan aku alami bila engkau menikahi perempuan lain kelak).</p>
<p>Terima kasih atas pengertianmu, Sya. Salam dari Yogya,”</p></blockquote>
<p></em><br />
Adinda,</p>
<p>Aku menulis surat ini dari tepian Sydney Harbour yang riuh rendah oleh suara orang-orang yang menyemut di restoran (di mana kita pernah jadi bagian dari mereka di suatu masa) di belakangku. Aku nyalakan sebatang rokok kretek lagi, berharap hasil pembakaran tembakau dan cengkeh di dalamnya bisa mengusir dingin dan sepi yang bersemayam di hatiku. </p>
<p>Lewat surat ini aku ingin mengucapkan selamat atas pilihanmu. Aku tidak akan mengirim ucapan semoga perkawinanmu abadi, atau berdoa semoga engkau bahagia menjalaninya, karena ucapan seperti itu hanya akan dikeluarkan oleh orang yang munafik. Maafkan aku untuk keterusteranganku itu.</p>
<p>Satu hal yang engkau harus tahu, Adinda. Perasaanku kepadamu tidak akan berubah, seperti kokohnya Harbour Bridge yang dengan sabar dan setia mengantarkan orang, mobil dan kereta api menyeberang. Dari tepian Sydney Harbour yang riuh, aku setia menunggumu. Entah sampai kapan.</p>
<br />Filed under: <a href='http://aryaperdhana.wordpress.com/category/fiksi/'>fiksi</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryaperdhana.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryaperdhana.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryaperdhana.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryaperdhana.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aryaperdhana.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aryaperdhana.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aryaperdhana.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aryaperdhana.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryaperdhana.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryaperdhana.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryaperdhana.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryaperdhana.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryaperdhana.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryaperdhana.wordpress.com/246/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&amp;blog=1618851&amp;post=246&amp;subd=aryaperdhana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryaperdhana.wordpress.com/2011/12/22/adinda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7e29d27c5f623d7958f14c455b8d74e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/12/operahouse.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">OperaHouse</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lakers (2)</title>
		<link>http://aryaperdhana.wordpress.com/2011/04/25/lakers-2/</link>
		<comments>http://aryaperdhana.wordpress.com/2011/04/25/lakers-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Apr 2011 09:08:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arya</dc:creator>
				<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[me]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryaperdhana.wordpress.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Catatan: Nyasar adalah fitur. Bagian kedua dari dua tulisan berisi bualan panjang ini. Staples Center. Ya, saya sudah di sini, nonton Lakers vs Knicks. Meski saya duduk di tribun teratas, itu tidak mengurangi antusiasme saya menikmati tontonan kelas dunia langsung di tempatnya seperti ini. Stadion yang sangat megah ini, selain menjadi markas Lakers juga menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&amp;blog=1618851&amp;post=233&amp;subd=aryaperdhana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Catatan: Nyasar adalah fitur. Bagian kedua dari dua tulisan berisi bualan panjang ini.<br />
</em><br />
<a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglaker1.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglaker1.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="Bloglaker1" width="450" height="337" class="aligncenter size-full wp-image-235" /></a></p>
<p>Staples Center. Ya, saya sudah di sini, nonton Lakers vs Knicks. Meski saya duduk di tribun teratas, itu tidak mengurangi antusiasme saya menikmati tontonan kelas dunia langsung di tempatnya seperti ini.<br />
<div id="attachment_236" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglaker3.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglaker3.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="Bloglaker3" width="450" height="337" class="size-full wp-image-236" /></a><p class="wp-caption-text">Section 301-302, Aisle U1. Tempat saya menonton.</p></div></p>
<p>Stadion yang sangat megah ini, selain menjadi markas Lakers juga menjadi markas tim NBA lainnya, Los Angeles Clippers. Selain itu, tim hoki es Los Angeles Kings juga berkandang di sini. Jadi, kalau Kings main, lapangan basket akan dibongkar dan diganti dengan lapangan es. Keren!</p>
<p>Ciri khas venue olahraga modern ada di bangunan ini. Toko suvenir dan kedai-kedai makanan berjejer di dalam, dekat dengan pintu masuk ke tribun masing-masing. Jadi, mereka yang nonton di sini bisa beli burger, pizza atau soda, juga jersey Lakers, menjelang pertandingan atau saat jeda. Oya, suvenirnya mahal-mahal, njrit! Ya sudahlah, saya beli saja satu kaus Lakers buat anak. Hihihi.<br />
<div id="attachment_237" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglaker6.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglaker6.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="Bloglaker6" width="450" height="337" class="size-full wp-image-237" /></a><p class="wp-caption-text">Para penonton antre beli makanan saat half-time.</p></div></p>
<p>Kembali ke dalam tribun, suasana sangat meriah. Di sebelah kiri saya, ada dua orang laki-laki pendukung Knicks yang dengan bebas berteriak-teriak mendukung timnya walau ia dikepung fans Lakers. Meski kadang bertukar celaan, tidak ada masalah antara fans Knicks itu dengan fans Lakers. Mereka sadar kalau ini cuma olahraga dan dukungan kepada tim kesayangannya tidak harus diikuti tindakan kekerasan.<br />
<div id="attachment_239" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglaker2.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglaker2.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="Bloglaker2" width="450" height="337" class="size-full wp-image-239" /></a><p class="wp-caption-text">Tip-off pertandingan Lakers vs Knicks.</p></div></p>
<div id="attachment_238" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglaker8.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglaker8.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="Bloglaker8" width="450" height="337" class="size-full wp-image-238" /></a><p class="wp-caption-text">Beginilah view lapangan dari tempat saya duduk. Tanpa zoom kamera :p</p></div>
<p>Saya mencoba ngobrol dengan dua fans Knicks di kiri saya. Yang satu pria berkulit hitam asli NY dan satu pria  berwajah Jepang yang ternyata berasal dari Hawaii. Selain itu, saya ngobrol dengan sepasang cowok-cewek orang LA asli di kanan saya. Mereka terkejut ketika tahu saya datang beribu-ribu kilometer dari Indonesia buat nonton NBA.</p>
<p>Tidak banyak yang bisa diceritakan dari pertandingan. Lakers terlalu kuat buat Knicks dan menang telak. Karena Lakers menang dan Knicks gagal mencetak lebih dari 100 angka, maka setiap penonton di stadion dapat voucher untuk menikmati dua buah taco gratis dari restoran Jack in the Box. Itulah mengapa di akhir-akhir pertandingan para penonton ramai-ramai berteriak, &#8220;We want tacos, we want tacos.&#8221; Hihihi, ternyata orang Amerika juga suka gratisan.</p>
<div id="attachment_240" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglaker5.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglaker5.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="Bloglaker5" width="450" height="337" class="size-full wp-image-240" /></a><p class="wp-caption-text">Suasana Staples Cnter ketika pertandingan resmi berakhir.</p></div>
<p>Ya sudah, begitulah cerita dari dalam Staples Center. Sekitar jam 21.15 waktu setempat, saya dan ribuan orang lainnya berduyun-duyun keluar stadion. Di pintu keluar semua orang mendapat dua voucher taco yang tadi dijanjikan. Bubarnya penonton berjalan tertib dan tidak menimbulkan kemacetan di luar. Mereka yang memakai mobil pribadi berjalan ke tempat mobilnya diparkir, yang lain memilih naik MRT dari Stasiun Pico atau naik taksi.<br />
<div id="attachment_241" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglaker4.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglaker4.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="Bloglaker4" width="450" height="337" class="size-full wp-image-241" /></a><p class="wp-caption-text">Keluar dari Staples Center dari Figueroa Street Entry. Di pintu keluar kami dapat 2 voucher taco dari sebuah restoran.</p></div></p>
<p>Tapi petualangan lain sudah menunggu saya sekeluar dari Staples Center. Sesuai rencana, saya berniat untuk naik bus nomor 62 yang lewat di jalan depan hotel. Untuk itu, saya harus menunggu di 5th Street yang kalau dihitung dari 11th Street tempat saya berada berarti saya harus berjalan sekitar enam blok. </p>
<p>Saya bertanya arah ke 5th Street kepada seorang petugas polisi di dekat situ. Eh, nama polisi itu Nguyen lho. Tapi dari cara dia ngomong, kayaknya dia itu keturunan Vietnam yang udah lahir di Amrik. Di LA, cukup banyak orang Vietnam, hanya saja kalah banyak dari orang Thailand, orang Jepang, Korea dan China.</p>
<p>Pukul 21.30-an, saya menyusuri jalanan downtown LA. Makin jauh dari Staples Center dan Nokia Theater, suasana makin sepi. Maklum, ini hari Minggu dan downtown LA adalah kawasan bisnis, maka wajar kalau sepi. Dibanding Jakarta yang sampai jam 1 pagi aja masih rame, jelas LA ini kalah jauh.</p>
<p>Setelah berjalan cukup jauh, saya sampe juga di 5th Street, di dekat persimpangan dengan Flower Street. Dari informasi yang saya gugling sebelumnya, bus kota pada akhir pekan di atas pukul 21.00 akan lewat antara 20-60 menit sekali. Ya sudah, saya pun mencoba menunggu.<br />
<div id="attachment_243" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/jalankaki.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/jalankaki.jpg?w=450&#038;h=412" alt="" title="jalankaki" width="450" height="412" class="size-full wp-image-243" /></a><p class="wp-caption-text">Ditakdirkan banyak jalan kaki. Jalan dari Staples sampe persimpangan 5th-Flower St. For nothing <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p></div></p>
<p>Dua puluh menit, bus no 62 yang saya tunggu tidak kunjung datang. Saya mulai gelisah, hari semakin malam dan mulai menginjak pukul 22.00. Kemudian, ada seorang ibu-ibu agak tua yang berjalan ke halte saya menunggu. Meski tadinya saya sudah yakin bus yang saya tunggu jurusannya benar, tetapi saya coba tanya saja ke dia apa benar bus no. 62 menuju Commerce. </p>
<p>&#8220;Oh kamu salah. Harusnya kamu naik bus no sekian (saya lupa dia ngomong bus nomor berapa) dari 6th atau 7th Street,&#8221; kata ibu itu. Saya jadi bingung dan mulai meragukan informasi yang saya dapat sendiri dari google. Akhirnya, saya menuruti ucapan ibu itu dan berjalan kembali ke arah sebaliknya. </p>
<p>Jalan 1-2 blok, saya melewati sejumlah homeless. Saya agak ngeri sebenernya, takutnya kalau dia tiba-tiba nodong atau malak. Meski LA aman, kita nggak mau jadi korban kan? Saya terus berjalan dan mulai menyadari kalau saya melewati jalan yang tidak saya lewati tadi. Saya nyasar! Dalam keadaan separuh panik, saya mulai tidak bisa melihat peta dengan benar. Langkah kaki saya kemudian malah mengantar saya ke sebuah jembatan di atas jalan tol! </p>
<p>Saya makin panik dong dan akhirnya memutuskan buat nyari taksi saja. Beruntung, nggak berapa lama ada taksi kosong lewat dan saya menyetopnya. Saya naik taksi dengan disapa, &#8220;Hola, amigos&#8221; dari sang sopir. Wah saya dikira orang Meksiko nih. Hihihi.</p>
<p>Saya tanya ke sopirnya, tahu hotel Doubletree di Commerce, nggak? Dia bilang nggak tahu. Mati lah. Saya beri alamatnya, Telegraph Street nomer sekian-sekian, dia masih nggak paham. Saya tanya lagi, tau Citadel nggak? Masih nggak paham juga. Setengah pasrah, saya lantas bilang, &#8220;Pokoknya jalan itu ada di tepi interstate I-15.&#8221;</p>
<p>Si sopir ini kayaknya mulai paham. Dia lalu membawa mobilnya lewat jalan tol. Sepanjang jalan, dia ngobrol pake bahasa yang saya duga bahasa India lewat handsfree ponselnya. Buat mencairkan ketegangan, saya tanya aja apakah dia dari India. Dia bilang benar dan dia balik tanya saya dari mana. &#8220;Indonesia,&#8221; jawab saya pendek.</p>
<p>Ketika mobil berjalan di jalan tol itulah saya lihat menara Citadel, sebuah kompleks perkantoran yang terletak di depan hotel. Saya bilang ke sopir buat menuju ke sana. Kemampuan saya buat menandai tempat-tempat yang pernah saya lewati jadi berguna! Saya perlahan mulai mengenali jalanan di sekitar tempat itu dan bilang ke sopir kalau dia sudah benar.</p>
<p>Saya kemudian ingat kalau saya belum makan malam. Perut terasa krucuk-krucuk juga. Akhirnya, saya minta berhenti di restoran Carls Jr yang jaraknya sekitar satu blok dari hotel. Pas mau turun, pintu belakang kanan tidak bisa dibuka. Saya kembali tegang, saya sudah berpikir yang tidak-tidak kalau saya bakal jadi korban kejahatan. Sopir turun dan mencoba membuka pintu dari luar. Tetap gagal. Saya tambah tegang. Untungnya, pintu belakang kiri bisa dibuka dan saya pun keluar. Saya bayar biaya taksi sekitar 30 dolar. Saya nggak kasih tips, selain karena menurut saya 30 dolar itu udah banyak, saya pikir itu juga sebagai &#8216;hukuman&#8217; karena pintunya macet dan bikin saya tegang. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> )</p>
<p>Saya mampir di Carls Jr dan membawa pulang makanan buat dimakan di hotel saja. Waktu sudah hampir jam 23.00 saat saya sampai di hotel. Berakhirlah sudah petualangan saya hari itu. Mulai dari lika-liku berburu tiket sampai nyasar di kota yang sangat asing, adalah sebuah pengalaman yang priceless buat saya.</p>
<br />Filed under: <a href='http://aryaperdhana.wordpress.com/category/dunia/'>dunia</a>, <a href='http://aryaperdhana.wordpress.com/category/me/'>me</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryaperdhana.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryaperdhana.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryaperdhana.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryaperdhana.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aryaperdhana.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aryaperdhana.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aryaperdhana.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aryaperdhana.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryaperdhana.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryaperdhana.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryaperdhana.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryaperdhana.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryaperdhana.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryaperdhana.wordpress.com/233/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&amp;blog=1618851&amp;post=233&amp;subd=aryaperdhana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryaperdhana.wordpress.com/2011/04/25/lakers-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7e29d27c5f623d7958f14c455b8d74e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglaker1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Bloglaker1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglaker3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Bloglaker3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglaker6.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Bloglaker6</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglaker2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Bloglaker2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglaker8.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Bloglaker8</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglaker5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Bloglaker5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglaker4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Bloglaker4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/jalankaki.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">jalankaki</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lakers (1)</title>
		<link>http://aryaperdhana.wordpress.com/2011/04/19/lakers-1/</link>
		<comments>http://aryaperdhana.wordpress.com/2011/04/19/lakers-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Apr 2011 08:54:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arya</dc:creator>
				<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[me]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryaperdhana.wordpress.com/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[Catatan: Cari tiket itu butuh perjuangan, Jendral! Bualan panjang, jadi sebaiknya saya pecah biar nggak capek bacanya. Bagian pertama dari dua tulisan. Saya jatuh cinta kepada sepakbola di usia 11 tahun, ketika Piala Dunia 1994 digelar di Amerika Serikat. Tapi saya baru memulai suka basket 2-3 tahun kemudian. Itu lebih karena teman-teman di sekolah juga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&amp;blog=1618851&amp;post=210&amp;subd=aryaperdhana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Catatan: Cari tiket itu butuh perjuangan, Jendral! Bualan panjang, jadi sebaiknya saya pecah biar nggak capek bacanya. Bagian pertama dari dua tulisan.<br />
</em></p>
<p><div id="attachment_212" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglakers3.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglakers3.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="BlogLakers3" width="450" height="337" class="size-full wp-image-212" /></a><p class="wp-caption-text">Stadion Staples Center di Los Angeles</p></div><br />
Saya jatuh cinta kepada sepakbola di usia 11 tahun, ketika Piala Dunia 1994 digelar di Amerika Serikat. Tapi saya baru memulai suka basket 2-3 tahun kemudian. Itu lebih karena teman-teman di sekolah juga menyukai basket.</p>
<p>Di masa saya mulai memerhatikan basket, saat itu adalah penghujung karir pebasket terhebat dunia, Michael Jordan. Tapi para pemain hebat lain seperti Hakeem Olajuwon, Patrick Ewing, Shaquille O&#8217;Neal, Reggie Miller dan Chris Webber juga cukup akrab di telinga.</p>
<p>Meski sepakbola adalah olahraga kesukaan nomor satu, tetapi saya justru merasakan pengalaman menyaksikan tontonan kelas dunia justru di cabang basket. Saya belum pernah nonton langsung Liga Inggris, Liga Italia atau Liga Spanyol di tempat asalnya, tetapi setidaknya saya sudah pernah nonton langsung pertandingan NBA.</p>
<p>Sebenarnya, nonton NBA tidak ada dalam rencana saya saat melakukan liputan ke Las Vegas dan Los Angeles awal Januari kemarin. Niat untuk nonton basket baru muncul saat saya membaca koran Los Angeles Times dalam <a href="http://aryaperdhana.wordpress.com/2011/01/21/gurun/">perjalanan dari Vegas ke LA</a>. Pertandingan yang ingin saya tonton adalah antara LA Lakers melawan New York Knicks di Staples Center, Minggu 9 Januari 2011, jam 18.30 waktu setempat. Kepada sopir yang membawa kami, Antonio, saya tanya apakah hotel saya di Doubletree, Commerce, jauh dari Staples Center. Antonio bilang kalau jaraknya nggak jauh dan masih terjangkau pakai taksi. </p>
<p>Malam Minggu, setelah sempat jalan-jalan sebentar di luar di hotel, saya habiskan waktu dengan googling info soal sarana transportasi untuk mencapai Staples Center dan kembali lagi ke hotel. Patut dicatat, tidak ada stasiun MRT yang dekat dengan hotel, dan itu berarti saya harus menghapal rute bus. Mengingat BlackBerry saya mati selama di sana, saya save saja peta rute bus yang ruwet itu ke ponsel agar bisa dilihat offline.</p>
<p>Tak lupa, saya bertanya ke tour guide saya tentang agenda hari Minggu pagi. Ternyata, pagi itu kami akan dibawa ke <a href="http://aryaperdhana.wordpress.com/2011/04/02/hollywood/">Hollywood</a>, <a href="http://aryaperdhana.wordpress.com/2011/02/09/pasar/">Farmers Market</a>, Pantai Santa Monica dan terakhir ke Staples Center dan Nokia Theatre. Dua bangunan terakhir ini terletak di satu tempat. Bagus, saya pikir. Nanti saya bisa ditinggal di Staples dan akan pulang sendiri ke hotel pakai angkutan umum.</p>
<p>Tour guide saya rupanya nyebelin. Dia seperti meragukan kalau saya bisa dapat tiket buat nonton. Saya bilang kalaupun tiket habis, saya bisa cari calo. Eh dia ngomong lagi kalau di Amerika nggak ada calo. &#8220;Kamu pikir ini di Indonesia?&#8221; ucap dia. Saya diam saja tapi memupuk asa buat dapat tiket. Saya belajar dari pengalaman mas Iman Brotoseno yang bisa dapat tiket <a href="http://blog.imanbrotoseno.com/?p=1058">nonton Arsenal</a> di hari pertandingan. </p>
<p>Hari Minggu, setelah puas jalan-jalan ke Hollywood, melewati Beverly Hills dan Rodeo Drive yang tenar itu, lalu makan siang di Pantai Santa Monica yang biasa buat syuting serial Baywatch, sekitar jam 3 sore kami akhirnya sampai juga di downtown LA, mengunjungi Staples Center dan Nokia Theater yang terletak di antara 11th Street dan Figueroa Street.</p>
<div id="attachment_213" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglakers2.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglakers2.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="BlogLakers2" width="450" height="337" class="size-full wp-image-213" /></a><p class="wp-caption-text">Tampak depan Staples Center. Bentuk hurup L-nya memang bentuk cekrekan.</p></div>
<p>Begitu tiba di sana, saya langsung menuju ticket box. Saya tanya, berapa tiket termurah buat pertandingan ini. Saya dibuat gigit jari ketika petugas di ticket box bilang kalau tiket buat seluruh kelas sudah habis. Saya pun mulai mengedarkan pandangan dan berjalan-jalan di sekitar stadion basket yang bisa diisi 30 ribu orang itu. Saya mencari calo &gt;:)</p>
<div id="attachment_214" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglakers5.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglakers5.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="BlogLakers5" width="450" height="337" class="size-full wp-image-214" /></a><p class="wp-caption-text">Ticket box, biasanya cuma buat penukaran tiket aja.</p></div>
<p>Mencari calo di Staples Center ternyata tidak mudah, tidak seperti di Stadion GBK di mana para calo dengan agresif menawarkan tiket kepada semua orang yang lewat. Belakangan, baru saya tahu kalau calo tiket pertandingan Lakers tidak mencari &#8216;mangsa&#8217; di sekitar Staples, tetapi beraksi di sekitar Nokia Theater di seberang jalan atau di jalan-jalan yang berjarak 2-3 blok di luar stadion.</p>
<p>Sembari memotret sana sini, saya sempat berbincang dengan seorang fans Lakers berkulit hitam. Ketika saya bilang saya cari tiket, dia bilang cari saja di &#8216;scooper&#8217; alias tukang catut, tampangnya biasanya laki-laki kulit hitam yang mencurigakan. Dalam hati saya membatin, &#8220;Ndasmu, kalau semua laki-laki kulit hitam yang tampangnya mencurigakan saya tanyai apakah dia calo atau bukan, bisa-bisa bukan tiket yang saya dapat tapi malah dapat bogem mentah.&#8221;</p>
<div id="attachment_215" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglakers4.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglakers4.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="BlogLakers4" width="450" height="337" class="size-full wp-image-215" /></a><p class="wp-caption-text">Yang baju kuning yang kasih saran saya buat nyari pria dengan tampang mencurigakan.</p></div>
<p>Saya belum menyerah. Saya kemudian mendekati tempat bertuliskan &#8216;press entry&#8217;, saya bilang kalau saya jauh-jauh dari Indonesia, bisa nggak saya masuk dengan status reporter. &#8220;Maaf, Anda harusnya mengirim email buat request liputan jauh-jauh hari. Setidaknya sepekan,&#8221; jawab seorang petugas pria dengan ramah. </p>
<p>&#8220;Kalau Anda mau, saya berikan alamat email buat korespondensi bila Anda mau meliput pertandingan berikutnya,&#8221; tawarnya simpatik. &#8220;Tidak, terima kasih. Ini hari terakhir saya di LA dan besok saya harus terbang kembali ke Indonesia,&#8221; jawab saya sembari berlalu.</p>
<p>Ya, seperti yang sudah saya bilang, nonton basket memang tidak ada dalam rencana saat berangkat dari Jakarta. April tahun lalu, saat saya seharusnya berangkat liputan ke Orlando, malah saya sempat mengirim email ke Orlando Magic apakah saya bisa meliput pertandingan mereka. Email itu tidak terjawab dan saya juga batal ke Orlando, tapi namanya juga usaha. Ya kan? :p</p>
<p>Saya mengitari Staples Center sampai dua kali, berusaha mencari orang yang mungkin mau menjual tiketnya. &#8220;Gimana, dapat tiket?&#8221; tanya teman serombongan saya saat berpapasan. &#8220;Belum. Negatif,&#8221; kata saya mulai putus asa.</p>
<p>Kans saya buat memperoleh selembar tiket menipis. Saya kemudian berjalan menjauh dari stadion buat mencari telepon umum. Saya mau mengontak <a href="http://thepenguinus.blogdetik.com/">teman saya ini</a> karena kami janjian untuk ketemu di sekitar Staples usai pertandingan. Saya berniat untuk memajukan waktu ketemu bila saya gagal nonton Lakers.</p>
<p>Saya baru nemu telepon umum di stasiun MRT Pico, cuma satu blok dari Staples Center. Telepon nggak nyambung. Pertama saya pikir kalau teman saya ini susah dihubungin karena lagi di Big Bear, sebuah kawasan pegunungan yang jaraknya sekitar 2 jam naik mobil dari LA. Ternyata, saya salah pencet nomor. Harusnya, saya nggak pakai kode area lagi kalau nelpon nomer lokal. Hihihi. Ndeso ya tuips.</p>
<p>Matahari musim dingin tenggelam lebih cepat dan sekitar pukul 17.30 suasana sudah gelap. Gagal menelpon, saya kembali ke Staples. Eh setibanya di sana, saya melihat ada antrean terbentuk di dekat ticket box. Saya tanya ke salah seorang cewek yang sedang ngantre itu antrean apa. Ternyata itu adalah antrean resale tiket pertandingan. Wah, kabar baik! Saya pun masuk antrean yang belum terlalu panjang itu.</p>
<p>Di situ, saya ngobrol-ngobrol sama cewek yang ternyata datang sama cowoknya. Saya tanya apakah tiket sold out begini karena lawannya Knicks (musuh bebuyutan Lakers selain Boston Celtics), dia bilang, setiap pertandingan Lakers memang sold out. Sebagai informasi, kalaupun main tandang, kehadiran Lakers akan membuat stadion itu juga sold out. Magnet Lakers memang luar biasa. </p>
<p>Saya juga ngobrol-ngobrol dengan dua orang mahasiswa asal Shanghai, China, yang kuliah di Columbus, Ohio, dan sedang jalan-jalan ke LA. Kami ngobrol banyak, mulai dari cerita saya waktu di Beijing sampai obrolan soal Yao Ming, center Houston Rockets yang sedang cedera panjang.</p>
<p>Antrean bergerak dan tiket dijual lagi. Saya dengar harga tiket mencapai 100 dolar AS. &#8220;Mahal anjrit!&#8217; pikir saya. Bahaya nih kalau nanti kantor nggak mau reimburse. Hahaha. Tak sampai 15 menit, petugas yang mengawasi antrean resale itu berteriak, &#8220;Siapa perlu satu tiket?&#8221; Saya mengangkat tangan dan maju. Ternyata harga tiketnya cuma 50 dolar tuips! Alhamdulillah, termasuk cukup murah. Setelah membayar dan tiket berpindah tangan, saya kembali ke dua mahasiswa China yang ada di belakang saya tadi. Saya salami mereka dan berucap, &#8220;Good luck!&#8221; &#8220;Have a nice game,&#8221; balas mereka. Kami berpisah di situ.<br />
<div id="attachment_223" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/tiketlakers.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/tiketlakers.jpg?w=450&#038;h=330" alt="" title="TiketLakers" width="450" height="330" class="size-full wp-image-223" /></a><p class="wp-caption-text">Bukti sahih tiket Lakers vs Knicks <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> )</p></div></p>
<p>Dapat tiket, persoalan belum selesai. Cuaca dingin membuat batere kamera saya lebih cepat habis. Nggak lucu dong kalau bisa masuk Staples Center tapi nggak ada foto? No pic=hoax! Saya lalu bertanya ke seorang steward perempuan apakah di dalam menjual batere. Dia bilang nggak ada, saya kemudian disarankan jalan sekitar dua blok ke arah timur (saya yakin ke arah timur) buat nyari batere di toko liquor.</p>
<p>Saya ngecek jam, sudah sekitar jam 18.00, cuma 30 menit sebelum pertandingan dimulai. Saya berlari ke arah yang dimaksud. Kira-kira dua blok, saya belok kanan satu blok. Di sana, ada toko liquor, tapi tokonya tutup. Mungkin ini karena hari Minggu. Saya masih terus berlari, mencari toko yang jual batere. Sekitar satu blok lagi, saya temukan ada toko liquor buka. Tapi, dia tidak jual batere <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> ( Saya akhirnya beli air minum di situ karena capek sehabis lari-lari. </p>
<p>Keluar dari toko liquor itu, saya terusin lagi jalan separuh berlari. Saya harus menemukan batere sehat buat kamera saya! Begitu tekad saya. Saya lari sampai melewati stasiun Pico yang tadi saya datangi. Di persimpangan jalan dekat Pico itulah saya lihat ada minimarket buka. Saya masuk dengan terburu-buru dan tanya apakah dia jual batere. Alhamdulillah, Puji Tuhan, dia jual! Saya buru-buru bayar. &#8220;Thanks buddy, in a rush to watch Lakers game.&#8221; kata saya sembari tersenyum.</p>
<p>Tuhan! Ternyata toko itu cuma berjarak satu blok dari Staples Center, tapi di sebelah baratnya! Saya menyesal banget kenapa harus lari-lari ke arah timur kalau akhirnya nemu di sebelah barat <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ) Ya sudahlah, saya tengok jam di ponsel masih jam 18.15an. Saya jalan agak santai kembali ke stadion. Di tengah jalan saya sempat lihat ada calo menawarkan tiket ke calon penonton yang memarkir mobilnya jauh dari stadion. </p>
<div id="attachment_231" class="wp-caption aligncenter" style="width: 415px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/staples1.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/staples1.jpg?w=450" alt="" title="Staples"   class="size-full wp-image-231" /></a><p class="wp-caption-text">Rute lari saya buat dapetin batere kamera <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_neutral.gif' alt=':|' class='wp-smiley' />  titik hitam itu letak tokonya</p></div>
<p>Saya masuk ke Staples Center lewat pintu di Figueroa Street. Tiket tidak disobek, cuma dipindai saja. Tas saya diperiksa, lalu saya naik eskalator buat mencari tribun saya. Ternyata, tribun saya berada di bagian teratas Staples Center tuips! Masih bisa ngelihat pemain di lapangan sih. Untungnya juga ada layar tv raksasa di atas lapangan yang membantu kita melihat aksi di lapangan dengan jelas. Dua menit menjelang tip-off, saya akhirnya duduk manis di tribun. Lakers vs Knicks, here we go!</p>
<div id="attachment_216" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglakers1.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglakers1.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="BlogLakers1" width="450" height="337" class="size-full wp-image-216" /></a><p class="wp-caption-text">Tribun tertinggi, seharga 50 dolar! YEAH!</p></div>
<p><em>Bersambung ke cerita berikutnya</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://aryaperdhana.wordpress.com/category/dunia/'>dunia</a>, <a href='http://aryaperdhana.wordpress.com/category/me/'>me</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryaperdhana.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryaperdhana.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryaperdhana.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryaperdhana.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aryaperdhana.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aryaperdhana.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aryaperdhana.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aryaperdhana.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryaperdhana.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryaperdhana.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryaperdhana.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryaperdhana.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryaperdhana.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryaperdhana.wordpress.com/210/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&amp;blog=1618851&amp;post=210&amp;subd=aryaperdhana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryaperdhana.wordpress.com/2011/04/19/lakers-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7e29d27c5f623d7958f14c455b8d74e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglakers3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">BlogLakers3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglakers2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">BlogLakers2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglakers5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">BlogLakers5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglakers4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">BlogLakers4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/tiketlakers.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">TiketLakers</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/staples1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Staples</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/bloglakers1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">BlogLakers1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hollywood</title>
		<link>http://aryaperdhana.wordpress.com/2011/04/02/hollywood/</link>
		<comments>http://aryaperdhana.wordpress.com/2011/04/02/hollywood/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Apr 2011 18:06:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arya</dc:creator>
				<category><![CDATA[dunia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryaperdhana.wordpress.com/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[Peringatan: postingan yang harusnya sudah terbit sejak lama, tapi tertunda karena malas. Banyak foto-foto narsis, tidak disarankan untuk dibaca orang yang sedang mabuk atau hamil :p Pagi itu, sebuah awal hari di awal Januari, matahari bersinar cerah di atas Los Angeles. Walau masih di suasana musim dingin, suhu pagi itu cukup ramah buat saya yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&amp;blog=1618851&amp;post=194&amp;subd=aryaperdhana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Peringatan: postingan yang harusnya sudah terbit sejak lama, tapi tertunda karena malas. Banyak foto-foto narsis, tidak disarankan untuk dibaca orang yang sedang mabuk atau hamil :p</em></p>
<p>Pagi itu, sebuah awal hari di awal Januari, matahari bersinar cerah di atas Los Angeles. Walau masih di suasana musim dingin, suhu pagi itu cukup ramah buat saya yang seumur hidup tinggal di negeri tropis, mungkin antara 10-12 derajat celcius.</p>
<p>Bus yang membawa saya dan rombongan menepi di Hollywood Boulevard, jalan yang punya reputasi jauh melampaui panjangnya yang cuma kurang lebih 1 kilometer itu. Iya, inilah jalan yang menjadi pusat dan inti, sekaligus rumah dari mesin raksasa bernama industri film Hollywood.</p>
<div id="attachment_196" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/hollywoodblvd.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/hollywoodblvd.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="HollywoodBlvd" width="450" height="337" class="size-full wp-image-196" /></a><p class="wp-caption-text">Jalan yang reputasinya melebihi panjangnya sendiri.</p></div>
<p>Perkembangan Hollywood sebagai pusat perfilman Amerika dimulai dari tahun 1920-an ketika studi-studio film memindahkan kandang mereka dari New York di Pantai Timur ke Los Angeles di Pantai Barat. Hollywood yang tadinya cuma sebuah kawasan ndeso pun perlahan menjadi area yang glamor.</p>
<p>Setelah sembilan dekade, wajah Hollywood sebenarnya telah berubah banyak. Kini, studio yang masih bermarkas di sana tinggal Paramount, sedangkan studio-studio lain seperti Universal, Columbia, Metro Goldwyn-Mayer atau Warner Brothers sudah menyingkir dari sana.</p>
<p>Tetapi pesona Hollywood memang luar biasa. Kemampuannya untuk menarik kunjungan wisatawan dari seluruh dunia sangat mengagumkan. Lantas, sebenarnya apa jualan mereka sampai sebegitu hebatnya menjadi magnet buat turis?</p>
<p>Yang paling terlihat di Hollywood Boulevard tentu saja adalah Walk of Fame, kumpulan tanda bintang berwarna merah muda yang bertuliskan nama-nama pesohor Hollywood. Walk of Fame ini terdapat di trotoar di kedua sisi jalan.</p>
<div id="attachment_198" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/ford.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/ford.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="Ford" width="450" height="337" class="size-full wp-image-198" /></a><p class="wp-caption-text">Hollywood Walk of Fame, dengan bintang berwarna merah muda yang terkenal itu.</p></div>
<p>Walk of Fame ini terbagi menjadi lima jenis, yaitu lambang piringan hitam untuk para pelaku industri rekaman musik (recording artist) seperti Michael Jackson atau George Benson, lambang kamera film klasik untuk mewakili pelaku industri film seperti sutradara Martin Scorsese atau aktor Leonardo Di Caprio, ikon mikrofon untuk mereka yang berkiprah di radio, ikon televisi buat para pelaku industri televisi dan lambang topeng komedi dan tragedi untuk mewakili mereka yang merupakan pelaku hiburan di panggung.</p>
<div id="attachment_199" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/jackson.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/jackson.jpg?w=450&#038;h=600" alt="" title="Jackson" width="450" height="600" class="size-full wp-image-199" /></a><p class="wp-caption-text">The Legend, The One and Only Michael Jackson.</p></div>
<p>Selain Walk of Fame, ada sejumlah obyek menarik lain di jalan ini. Di antaranya adalah bangunan Kodak Theater yang merupakan tempat perhelatan penghargaan Piala Oscar setiap tahun. Tanpa ada pergelaran Oscar, bangunan ini sepertinya biasa saja. Tapi dari salah satu tempat di Kodak Theater ini, kita bisa melihat Hollywood Sign yang terletak di atas bukit.</p>
<div id="attachment_200" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/kodak.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/kodak.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="Kodak" width="450" height="337" class="size-full wp-image-200" /></a><p class="wp-caption-text">Tanpa pergelaran Oscar, Kodak Theater ini sepi.</p></div>
<p>Ada juga Grauman Chinese Theater, sebuah gedung bioskop yang berarsitektur China. Di depan Chinese Theater, terdapat monumen berupa cap tangan dan kaki dari tokoh-tokoh film Hollywood. Yang unik, tidak cuma tokoh nyata seperti Johnny Depp atau Michael Douglas yang boleh membubuhkan jejak di sini, tetapi juga tokoh-tokoh fiksi seperti Donal Bebek atau robot R2D2 dari film Star Wars.</p>
<div id="attachment_201" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/chinesetheater.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/chinesetheater.jpg?w=450&#038;h=600" alt="" title="ChineseTheater" width="450" height="600" class="size-full wp-image-201" /></a><p class="wp-caption-text">Grauman&#039;s Chinese Theater, cita rasa Asia di Hollywood.</p></div>
<div id="attachment_202" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/depp2.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/depp2.jpg?w=450&#038;h=600" alt="" title="Depp2" width="450" height="600" class="size-full wp-image-202" /></a><p class="wp-caption-text">Pas banget sama tangannya Depp. Serius.</p></div>
<div id="attachment_203" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/donaldduck.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/donaldduck.jpg?w=450&#038;h=600" alt="" title="DonaldDuck" width="450" height="600" class="size-full wp-image-203" /></a><p class="wp-caption-text">Telapak kaki Donal Bebek ini dibuat tahun 1984.</p></div>
<p>Kemudian ada Hotel Roosevelt, hotel berarsitektur klasik Spanyol yang merupakan hotel berbintang lima pertama di Los Angeles. Di hotel ini, ada urban legend perihal sebuah kamar yang dihantui oleh arwah Marilyn Monroe yang memang pernah menginap di situ.</p>
<div id="attachment_204" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/roosevelt.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/roosevelt.jpg?w=450&#038;h=600" alt="" title="Roosevelt" width="450" height="600" class="size-full wp-image-204" /></a><p class="wp-caption-text">Hotel Roosevelt yang katanya dihantui arwah Marilyn Monroe.</p></div>
<p>Cuma itu? Tentu saja tidak. Masih ada obyek-obyek menarik lainnya yang juga layak dikunjungi, seperti Museum Lilin Madame Tussauds, Ripley&#8217;s Believe It or Not Odditorium, Hollywood Museum, Guinness World Record Museum, dan obyek-obyek lainnya yang mungkin tidak akan selesai dieksplorasi dalam satu siang saja.</p>
<div id="attachment_205" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/tussauds.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/tussauds.jpg?w=450&#038;h=600" alt="" title="Tussauds" width="450" height="600" class="size-full wp-image-205" /></a><p class="wp-caption-text">Poster film Little Fockers di muka Museum Madame Tussauds.</p></div>
<div id="attachment_206" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/hollywoodmuseum.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/hollywoodmuseum.jpg?w=450&#038;h=600" alt="" title="HollywoodMuseum" width="450" height="600" class="size-full wp-image-206" /></a><p class="wp-caption-text">Hollywood Museum ini gak tepat terletak di Hollywood Blvd, tapi agak masuk dikit.</p></div>
<div id="attachment_207" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/ripleys.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/ripleys.jpg?w=450&#038;h=600" alt="" title="Ripleys" width="450" height="600" class="size-full wp-image-207" /></a><p class="wp-caption-text">Tempat buat liat yang aneh-aneh gitu deh.</p></div>
<p>Bila ingin mengeksplorasi Hollywood lebih lanjut, tersedia sangat banyak tur yang menjajakan jasa di tepi Hollywood Boulevard. Dengan mengikuti tur itu, pengunjung akan diajak berkeliling ke rumah-rumah bintang Hollywood yang terletak di kawasan sekitar itu.</p>
<p>Dari Hollywood Boulevard ini, kita diajak untuk melihat kilasan sejarah tentang apa dan bagaimana industri perfilman terbesar dunia itu berjalan dan mengguritakan pengaruhnya ke seantero penjuru dunia.</p>
<br />Filed under: <a href='http://aryaperdhana.wordpress.com/category/dunia/'>dunia</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryaperdhana.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryaperdhana.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryaperdhana.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryaperdhana.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aryaperdhana.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aryaperdhana.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aryaperdhana.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aryaperdhana.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryaperdhana.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryaperdhana.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryaperdhana.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryaperdhana.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryaperdhana.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryaperdhana.wordpress.com/194/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&amp;blog=1618851&amp;post=194&amp;subd=aryaperdhana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryaperdhana.wordpress.com/2011/04/02/hollywood/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7e29d27c5f623d7958f14c455b8d74e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/hollywoodblvd.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">HollywoodBlvd</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/ford.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ford</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/jackson.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Jackson</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/kodak.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kodak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/chinesetheater.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ChineseTheater</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/depp2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Depp2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/donaldduck.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DonaldDuck</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/roosevelt.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Roosevelt</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/tussauds.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Tussauds</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/hollywoodmuseum.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">HollywoodMuseum</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/04/ripleys.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ripleys</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pasar</title>
		<link>http://aryaperdhana.wordpress.com/2011/02/09/pasar/</link>
		<comments>http://aryaperdhana.wordpress.com/2011/02/09/pasar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Feb 2011 17:52:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arya</dc:creator>
				<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryaperdhana.wordpress.com/?p=180</guid>
		<description><![CDATA[Pada awalnya adalah spontanitas. Tahun 1934, sekelompok petani di Los Angeles menggelar dagangan di bak truk mereka di sudut jalan antara Fairfax dan Third. Para pembeli berkerumun di lahan tanah yang dipetak-petak dengan garis yang dibikin dari kapur. Berpuluh tahun kemudian, tempat itu menjadi sangat sibuk dan nama Farmers Market pun kian melambung. Para petani [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&amp;blog=1618851&amp;post=180&amp;subd=aryaperdhana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada awalnya adalah spontanitas. Tahun 1934, sekelompok petani di Los Angeles menggelar dagangan di bak truk mereka di sudut jalan antara Fairfax dan Third. Para pembeli berkerumun di lahan tanah yang dipetak-petak dengan garis yang dibikin dari kapur.</p>
<p>Berpuluh tahun kemudian, tempat itu menjadi sangat sibuk dan nama Farmers Market pun kian melambung. Para petani tidak lagi berdagang dengan modal truk, namun mereka punya toko dan kedai; sementara pengunjung juga tidak lagi harus berbecek-becek di atas tanah karena tempat itu kini sudah berlantai paving block dan aspal, di sana disediakan juga tempat parkir yang luas buat mobil mereka.</p>
<div id="attachment_182" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/02/farmersmarket71.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/02/farmersmarket71.jpg?w=450&#038;h=600" alt="" title="FarmersMarket7" width="450" height="600" class="size-full wp-image-182" /></a><p class="wp-caption-text">Ini papan tinggi di luar Famers Market.</p></div>
<p>Pada sebuah Minggu pagi menjelang siang di awal Januari, saya mendatangi Farmers Market. Sebelum ini, saya baru tahu keberadaan Farmers Market dari video yang saya tonton di kabin pesawat EVA Air yang membawa saya dari Taipei ke Los Angeles. Promosi di video tersebut cukup menarik, Farmers Market digambarkan sebagai tempat untuk mencari bahan-bahan makanan segar dll.</p>
<p>Meski suhu saat itu lumayan hangat, perkiraan saya sekitar 6-8 derajat Celcius, tapi angin musim dingin yang berembus pelan-pelan tetap saja membuat saya kadang menggeretakkan rahang. Hihihi.</p>
<p>Dari luar, terlihat sebuah menara yang mirip menara gereja dengan tulisan Farmers Market. Lalu ada juga papan tinggi yang mempromosikan barang apa saja yang bisa didapat dalam pasar itu. Saya tidak tahu apakah tampang Farmers Market ini sama atau tidak dengan pasar modern yang ada di Jakarta atau Tangerang karena saya belum pernah datang ke pasar modern di dua tempat yang saya sebut belakangan itu :p</p>
<p>Saya masuk ke dalam Farmers Market melalui sebuah jalan kecil yang terletak di dekat toko Monsieur Marcel. Suasana di dalam pasar belum terlalu ramai. Ada toko dan kedai berderet-deret, ada juga kursi-kursi dan meja yang ditata rapi. </p>
<div id="attachment_183" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/02/farmersmarket4.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/02/farmersmarket4.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="FarmersMarket4" width="450" height="337" class="size-full wp-image-183" /></a><p class="wp-caption-text">Deretan meja makan di bawah sinar matahari, cukup menghangatkan suasana Los Angeles di musim dingin.</p></div>
<p>Setelah menebar pandangan ke beberapa arah, saya kemudian masuk ke toko Monsieur Marcel. Toko ini menjual berbagai macam kebutuhan dapur, seperti bumbu-bumbu, yoghurt, keju, wine, kopi dan teh, pasta, dll. Berada di toko ini kok saya langsung ingat teman saya, <a href="http://hermansaksono.com">Herman</a>, yang hobinya masak itu. Saya membayangkan, dia pasti akan sangat bahagia masuk ke toko ini.</p>
<p>Sejatinya, saya nggak tau mau beli apa di situ. Setelah sempat menimbang-nimbang mau beli wine, saya membatalkan niat itu karena saya bingung bawanya. Dari Las Vegas saja saya sudah bawa satu botol minuman beralkohol, takutnya nanti nggak lolos di bea cukai Jakarta. Akhirnya, saya membeli sebungkus kopi buat teman saya, <a href="http://lembaranpung.wordpress.com">Ipung</a>, yang memang nitip &#8216;kopi Amerika&#8217; sebelum berangkat. Tapi tunggu, kopi yang saya beli ternyata kopi Italia, bukan kopi Amerika <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ) Ahsudahlah.</p>
<p>Keluar dari toko itu, saya berkeliling. Ada banyak toko yang saya lewati, seperti toko daging segar, restoran yang menjual masakan Meksiko, kedai es krim, toko poultry (menjual daging unggas), toko permen, sampai toko yang menjual sayuran segar seperti tomat, bawang, dll. </p>
<div id="attachment_184" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/02/farmers1.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/02/farmers1.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="Farmers1" width="450" height="337" class="size-full wp-image-184" /></a><p class="wp-caption-text">Toko pastry yang menjual kue-kue hangat.</p></div>
<div id="attachment_185" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/02/farmersmarket3.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/02/farmersmarket3.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="FarmersMarket3" width="450" height="337" class="size-full wp-image-185" /></a><p class="wp-caption-text">Toko daging ini menyediakan mulai dari daging ayam, sapi, sampai daging babi.</p></div>
<p>Di depan toko-toko itu, orang-orang duduk berkelompok menikmati hidangan dan suasana. Suasana makin hangat (literally) karena beberapa kaki di atas meja-meja itu ada pemanas yang berfungsi mengusir hawa dingin bulan Januari ini. Dan karena hari ini hari Minggu, banyak di antara pengunjung ini yang datang bersama keluarganya. </p>
<div id="attachment_186" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/02/farmersmarket5.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/02/farmersmarket5.jpg?w=450&#038;h=600" alt="" title="FarmersMarket5" width="450" height="600" class="size-full wp-image-186" /></a><p class="wp-caption-text">Pasar yang sangat bersih. Membuat pengunjung betah.</p></div>
<div id="attachment_187" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/02/farmersmarket6.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/02/farmersmarket6.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="FarmersMarket6" width="450" height="337" class="size-full wp-image-187" /></a><p class="wp-caption-text">Makan bersama keluarga di hari Minggu di Farmers Market. Akrab dan hangat.</p></div>
<p><div id="attachment_188" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/02/farmersmarket8.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/02/farmersmarket8.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="FarmersMarket8" width="450" height="337" class="size-full wp-image-188" /></a><p class="wp-caption-text">Itu kotak hitam di langit-langit adalah pemanas ruangan. Daripada pengunjung kedinginan?</p></div><br />
Mulai capek berkeliling-keliling selama kurang lebih 20-an menit, saya menuju salah satu toko dan membeli beberapa kotak coklat. Bukan coklat dengan kemasan modern, tetapi coklat home made yang cukup dikemas dengan kotak plastik tipis yang transparan. Sembari melayani pembeli lain, ibu penjaga toko yang dari logatnya terlihat berlatar belakang Hispanik itu mengajak berbincang seorang bapak dan anak di samping saya. </p>
<p>Si ibu itu meledek si anak cowok yang mungkin usianya 7-8 tahun dengan bertanya apakah dia sudah punya pacar. Ibu itu lalu bilang kalau dia punya anak perempuan yang umurnya 6 tahun dan bertanya apakah si cowok kecil itu mau berkenalan dengan putrinya. Si anak cowok itu pun merasa malu dan banyak berlindung di balik badan ayahnya yang cuma cengar-cengir saja.</p>
<p>Sejam berada di Farmers Market membuat saya suka dengan konsep menjadikan pasar sebagai obyek wisata. Suatu hari nanti, saya ingin melihat orang asing menjadikan salah satu pasar di Jakarta, Yogyakarta, Malang, atau Makassar, sebagai salah satu tujuan wisata yang harus mereka kunjungi.</p>
<br />Filed under: <a href='http://aryaperdhana.wordpress.com/category/dunia/'>dunia</a>, <a href='http://aryaperdhana.wordpress.com/category/kuliner/'>kuliner</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryaperdhana.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryaperdhana.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryaperdhana.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryaperdhana.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aryaperdhana.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aryaperdhana.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aryaperdhana.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aryaperdhana.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryaperdhana.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryaperdhana.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryaperdhana.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryaperdhana.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryaperdhana.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryaperdhana.wordpress.com/180/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&amp;blog=1618851&amp;post=180&amp;subd=aryaperdhana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryaperdhana.wordpress.com/2011/02/09/pasar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7e29d27c5f623d7958f14c455b8d74e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/02/farmersmarket71.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">FarmersMarket7</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/02/farmersmarket4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">FarmersMarket4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/02/farmers1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Farmers1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/02/farmersmarket3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">FarmersMarket3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/02/farmersmarket5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">FarmersMarket5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/02/farmersmarket6.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">FarmersMarket6</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/02/farmersmarket8.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">FarmersMarket8</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gurun</title>
		<link>http://aryaperdhana.wordpress.com/2011/01/21/gurun/</link>
		<comments>http://aryaperdhana.wordpress.com/2011/01/21/gurun/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Jan 2011 11:35:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arya</dc:creator>
				<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryaperdhana.wordpress.com/?p=162</guid>
		<description><![CDATA[Selesai nongkrongin pameran CES di Las Vegas selama dua hari, saya dan rombongan balik ke Los Angeles memakai bus. Bus? Beneran? Iya beneran. Hari Sabtu (8/1) itu, kami menempuh jarak sejauh 367 km antara Vegas-LA lewat jalan darat. Bus kami beranjak dari hotel sekitar pukul 09.00 pagi dan mulai menginjak batas luar Vegas sekitar 15 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&amp;blog=1618851&amp;post=162&amp;subd=aryaperdhana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selesai nongkrongin pameran CES di Las Vegas selama dua hari, saya dan rombongan balik ke Los Angeles memakai bus. Bus? Beneran? Iya beneran. Hari Sabtu (8/1) itu, kami menempuh jarak sejauh 367 km antara Vegas-LA lewat jalan darat.</p>
<p>Bus kami beranjak dari hotel sekitar pukul 09.00 pagi dan mulai menginjak batas luar Vegas sekitar 15 menit kemudian. Ini kira-kira saja, karena dasarnya cuma pengamatan melihat rumah-rumah mulai jarang dan hamparan gurun mulai terlihat tak jauh dari situ.</p>
<p>Di tepi terluar Vegas ini masih ada segelintir kompleks perumahan (?). Rumah-rumah berukuran sedang dengan model yang cakep-cakep ada di situ. Tapi buat saya yang biasa hidup di tengah bumi yang hijau penuh pohon-pohon, kayaknya hidup di gurun begini nggak asik deh.</p>
<div id="attachment_163" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/diluarvegas.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/diluarvegas.jpg?w=450&#038;h=254" alt="" title="DiLuarVegas" width="450" height="254" class="size-full wp-image-163" /></a><p class="wp-caption-text">Rumah-rumah di bagian luar Las Vegas.</p></div>
<p>Gurun memang jadi menu utama perjalanan ini. Di kiri kanan jalan tol berukuran 2 x 4 lajur itu, pasir dan gunung pasir terhampar di mana-mana. Cuma di beberapa titik terlihat ada kelompok-kelompok kecil pemukiman dengan jumlah rumah tidak lebih dari jumlah jari di kedua tangan.</p>
<div id="attachment_164" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/rumahrumah.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/rumahrumah.jpg?w=450&#038;h=290" alt="" title="RumahRumah" width="450" height="290" class="size-full wp-image-164" /></a><p class="wp-caption-text">Kalau yang ini rumah-rumahnya agak banyak. Di tempat lain, kelompok pemukimannya lebih kecil.</p></div>
<p>Ya kaya umumnya gurun, nggak ada pohon yang bisa bikin mata sejuk sedikit, yang ada cuma semak-semak. Kalau binatang, yang bisa hidup di daerah kaya gitu paling kelinci, musang dan ular.</p>
<div id="attachment_165" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/gurun.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/gurun.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="Gurun" width="450" height="337" class="size-full wp-image-165" /></a><p class="wp-caption-text">Gurun coklat dan langit biru. Gersang tapi cukup menakjubkan.</p></div>
<p>Kalau bosan nengokin gurun, saya biasanya mengalihkan perhatian ke kendaraan-kendaraan yang melintas di Interstate I-15 ini. Truk-truk besar (ada yang sopirnya cewek lho), mobil SUV yang menggandeng karavan, sampai bus-bus besar pengangkut turis berseliweran di sana.</p>
<div id="attachment_166" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/truk.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/truk.jpg?w=450&#038;h=433" alt="" title="Truk" width="450" height="433" class="size-full wp-image-166" /></a><p class="wp-caption-text">Truk gede kaya gini berseliweran di Interstate I-15. </p></div>
<p>Sekitar 2,5 jam berjalan, kami sempat berhenti sejenak di sebuah rest area. Tapi rest area yang ini sedikit beda dengan yang ada di tol Cikampek atau Cipularang. Di sini tidak ada pom bensin, restoran atau kafe. Yang ada cuma toilet aja. Memang sih, di tempat lain ada juga rest area yang ada restoran dan pom bensinnya, mirip dengan yang di Indonesia.</p>
<div id="attachment_167" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/gagak.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/gagak.jpg?w=450&#038;h=322" alt="" title="Gagak" width="450" height="322" class="size-full wp-image-167" /></a><p class="wp-caption-text">Eh liat gagak lagi nangkring di rest area. Gagak liar kaya gini kadang galak juga katanya.</p></div>
<div id="attachment_168" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/ular.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/ular.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="Ular" width="450" height="337" class="size-full wp-image-168" /></a><p class="wp-caption-text">Di gurun banyak ularnya. Hati-hati kalau jalan.</p></div>
<div id="attachment_169" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/drunkdrivers.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/drunkdrivers.jpg?w=450&#038;h=370" alt="" title="DrunkDrivers" width="450" height="370" class="size-full wp-image-169" /></a><p class="wp-caption-text">Salah satu papan pengumuman di rest area.</p></div>
<div id="attachment_170" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/ditepitol.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/ditepitol.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="DiTepiTol" width="450" height="337" class="size-full wp-image-170" /></a><p class="wp-caption-text">Nampang dikit ya :p Di belakang itu jalan tol I-15.</p></div>
<p>Melanjutkan perjalanan, beberapa kali kembali menjumpai kelompok kecil rumah-rumah di tepi gurun. Imajinasi saya melayang, membayangkan di sana ada orang-orang pelarian yang membawa uang hasil rampokan dari Las Vegas. Mungkin mereka sembunyi di tempat-tempat seperti itu karena takut dikejar-kejar pembunuh bayaran kayak <a href="http://www.imdb.com/character/ch0027247/">Anton Chigurh</a> *halah*.</p>
<p>Tak lama kemudian kami melewati perbatasan negara bagian Nevada dan California. Meski sudah masuk California, pemandangan gurun masih tetap mendominasi. Kami kemudian berhenti di kota kecil bernama Barstow untuk makan siang. Nggak kayak kumpulan rumah-rumah di gurung, Barstow lumayan ramai. Ada perumahan, ada jalan-jalan kota dan ada fasilitas-fasilitas lain.</p>
<div id="attachment_171" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/barstow.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/barstow.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="Barstow" width="450" height="337" class="size-full wp-image-171" /></a><p class="wp-caption-text">Mampir ke restoran steak di Barstow, kota kecil yang udah masuk negara bagian California.</p></div>
<p>Dari Barstow, paling cuma dibutuhkan waktu 2 jam ke Los Angeles. Selepas Barstow, pemandangan berubah sedikit lebih hijau. Meski vegetasinya masih berupa semak-semak, setidaknya mata nggak cuma disuguhi gurun berwarna coklat melulu. Di tepi jalan, juga mulai terlihat ada bekas salju yang mungkin jatuh di malam sebelumnya. Tiba-tiba, kabut turun dan udara terasa lebih dingin.</p>
<div id="attachment_172" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/kabut.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/kabut.jpg?w=450&#038;h=331" alt="" title="Kabut" width="450" height="331" class="size-full wp-image-172" /></a><p class="wp-caption-text">Kabut turun saat mendekati kota Rancho Cucamonga di San Bernardino County. Di beberapa tempat juga keliatan ada bekas hujan salju.</p></div>
<div id="attachment_173" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/kereta.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/kereta.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="Kereta" width="450" height="337" class="size-full wp-image-173" /></a><p class="wp-caption-text">Senengnya liat ada kereta barang lewat selepas Barstow.</p></div>
<p>Kira-kira jam 14.00, kami mampir di Ontario Mills di kota Ontario. Ngapain? Ternyata tempat ini adalah pusat perbelanjaan, terutama belanja pakaian dan asesorisnya. Dari yang rencananya cuma sampai jam 16.00, ternyata molor sampai jam 17.30. Senja mulai turun ketika kami beranjak ke Los Angeles.</p>
<p>Cukup 50 menit perjalanan, kami akhirnya tiba di Los Angeles, makan malam dan masuk hotel. Mengingat waktu masih cukup sore, sebenarnya saya berniat ketemu <a href="http://thepenguinus.blogdetik.com/">teman</a> yang sekarang lagi tugas di KJRI Los Angeles. Tapi karena teman itu nggak berani keluar malam di atas jam 21.00 (diplomat, mantan wartawan pula, kok penakut #wahihi), maka saya akhirnya memilih jalan-jalan di sekitar situ, pulang, lalu tidur.</p>
<br />Filed under: <a href='http://aryaperdhana.wordpress.com/category/dunia/'>dunia</a>, <a href='http://aryaperdhana.wordpress.com/category/saya/'>saya</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryaperdhana.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryaperdhana.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryaperdhana.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryaperdhana.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aryaperdhana.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aryaperdhana.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aryaperdhana.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aryaperdhana.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryaperdhana.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryaperdhana.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryaperdhana.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryaperdhana.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryaperdhana.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryaperdhana.wordpress.com/162/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&amp;blog=1618851&amp;post=162&amp;subd=aryaperdhana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryaperdhana.wordpress.com/2011/01/21/gurun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7e29d27c5f623d7958f14c455b8d74e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/diluarvegas.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DiLuarVegas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/rumahrumah.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">RumahRumah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/gurun.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Gurun</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/truk.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Truk</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/gagak.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Gagak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/ular.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ular</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/drunkdrivers.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DrunkDrivers</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/ditepitol.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DiTepiTol</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/barstow.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Barstow</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/kabut.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kabut</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/kereta.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kereta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Vegas</title>
		<link>http://aryaperdhana.wordpress.com/2011/01/18/vegas/</link>
		<comments>http://aryaperdhana.wordpress.com/2011/01/18/vegas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Jan 2011 02:06:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arya</dc:creator>
				<category><![CDATA[dunia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryaperdhana.wordpress.com/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[Dari sebuah gurun yang tandus, lahirlah kota Las Vegas di negara bagian Nevada, Amerika Serikat. Buat segala aktivitasnya, kota ini dengan bangga menyebut dirinya sendiri &#8216;Sin City&#8217; alias kota dosa. Pagi pukul 05.30 waktu Los Angeles, Jumat (7/1/2011) saya dan lima orang lain asal Indonesia sampe di Ontario International Airport, kira-kira 40 km sebelah timur [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&amp;blog=1618851&amp;post=146&amp;subd=aryaperdhana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari sebuah gurun yang tandus, lahirlah kota Las Vegas di negara bagian Nevada, Amerika Serikat. Buat segala aktivitasnya, kota ini dengan bangga menyebut dirinya sendiri &#8216;Sin City&#8217; alias kota dosa.</p>
<p>Pagi pukul 05.30 waktu Los Angeles, Jumat (7/1/2011) saya dan lima orang lain asal Indonesia sampe di Ontario International Airport, kira-kira 40 km sebelah timur LA. Pagi itu, kami akan terbang ke Las Vegas. Oya, Bandara Ontario ini bandara yang kira-kira ukurannya cuma sedikit lebih gede dari Adi Sucipto. Isinya kebanyakan penerbangan lokal, penerbangan internasionalnya paling ke Meksiko atau Kanada. Kalau penerbangan jarak jauh dari Asia atau Eropa ya masuk Los Angeles International Airports.</p>
<div id="attachment_147" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/ontarioairport.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/ontarioairport.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="OntarioAirport" width="450" height="337" class="size-full wp-image-147" /></a><p class="wp-caption-text">Bandara Internasional Ontario jam 5.00 pagi. Masih gelap banget soalnya lagi musim dingin.</p></div>
<p>Nggak cuma di Indonesia, pesawat di Amerika pun bisa didelay&#8211;seperti yang terjadi pada pesawat Southwest Airlines ini. Akibat harus menjalani pengecekan di mesin sebelah kanan, pesawat baru bisa terbang pukul 07.00. Nggak lama mengudara, bentangan panjang Pegunungan Sierra Nevada nampak di sebelah kanan pesawat. Hamparan salju menutupi sebagian puncak itu.</p>
<div id="attachment_148" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/pesawat.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/pesawat.jpg?w=450&#038;h=600" alt="" title="Pesawat" width="450" height="600" class="size-full wp-image-148" /></a><p class="wp-caption-text">Dari dalam kabin Southwest Airlines. Lagi ngantre buat take-off, kira-kira jam 7.00 pagi.</p></div>
<div id="attachment_149" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/salju.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/salju.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="Salju" width="450" height="337" class="size-full wp-image-149" /></a><p class="wp-caption-text">Salju menutupi puncak-puncak Pegunungan Sierra Nevada.</p></div>
<p>Setelah beberapa saat mata dimanja pemandangan salju yang membuat putih lanskap, pemandangan perlahan berganti. Pegunungan Sierra Nevada mulai diganti dengan gurun-gurun pasir yang memang menjadi wajah utama negara bagian Nevada.</p>
<p>Hamparan gurun pasir yang luas serta bukit-bukit pasir terus menghiasi jendela kaca pesawat hingga pesawat mendekati Vegas. Kumpulan rumah-rumah yang teratur dalam blok-blok persegi perlahan mulai terlihat saat ketinggian pesawat berkurang.</p>
<div id="attachment_150" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/dekatlv.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/dekatlv.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="DekatLV" width="450" height="337" class="size-full wp-image-150" /></a><p class="wp-caption-text">Ini rumah-rumah yang udah di dekat Vegas. Teratur kaya di SIM City.</p></div>
<p>Pukul 08.10 pagi, kami sampe juga di Bandara Internasional McCarran, Las Vegas. Sebutan Kota Dosa langsung mendapat bukti ketika saya lihat mesin-mesin judi koin di bandara itu.</p>
<div id="attachment_151" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/slotmachine.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/slotmachine.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="SlotMachine" width="450" height="337" class="size-full wp-image-151" /></a><p class="wp-caption-text">Ini mesin judi di Bandara Internasional McCarran, Las Vegas. Mainnya pake koin.</p></div>
<p>Mendekati pintu keluar, ada poster-poster promosi show-show di Las Vegas memenuhi ruang. Macem-macem isinya, mulai dari show -nya Cher, sulap David Copperfield, sampe pertunjukkan dewasa seperti show AVN Awards ini. Ehem.</p>
<div id="attachment_152" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/show.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/show.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="Show" width="450" height="337" class="size-full wp-image-152" /></a><p class="wp-caption-text">Begini ini poster promosi show-show di dekat pintu keluar Bandara McCarran, Las Vegas.</p></div>
<div id="attachment_153" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/avn.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/avn.jpg?w=450&#038;h=600" alt="" title="AVN" width="450" height="600" class="size-full wp-image-153" /></a><p class="wp-caption-text">AVN (Adult Video Network). Uhuy.</p></div>
<p>Sampai di luar bandara, udara dingin menyergap meski matahari lumayan cerah. Sebelum tambah menggigil, saya dan teman-teman naik ke bus sewaan buat pergi ke Las Vegas Convention Center (LVCC), tempat digelarnya Consumer Electronic Show (CES), tujuan utama liputan saya.</p>
<p>Di pinggir-pinggir jalan, Las Vegas keliatan tandus banget. Tanah alias pasir yang warnanya coklat agak merah jadi warna yang dominan dari kota yang dahulu menjadi bagian dari wilayah negara Meksiko itu.</p>
<p>Makin dekat ke pusat kota, suasana Las Vegas sebagai kota hiburan kian terasa. Hotel-hotel raksasa mewah kayak MGM Grand, Luxor, Planet Hollywood, Hilton, atau Mandarin Oriental, berlomba berebut cakrawala.</p>
<div id="attachment_154" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/luxor.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/luxor.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="Luxor" width="450" height="337" class="size-full wp-image-154" /></a><p class="wp-caption-text">Hotel Luxor yang bentuknya piramida. Diambil dari sebuah nama kota di Mesir.</p></div>
<p>Mobil-mobil mewah terus berseliweran hilir mudik. Sedan limosin yang panjangnya bisa nyaris 10 meter, sampe limosin Humvee yang mewah dan gagah, bukanlah hal asing untuk ditemui di sini. (Cuma sekali liat mobil jelek, tepatnya mobil kuno. Waktu liat itu, saya spontan bilang, &#8220;Tumben ada mobil jelek di sini). </p>
<p>Jalanan menuju LVCC agak macet dikit, meski nggak separah macet di Jakarta. Rupanya, kemacetan itu terjadi karena ada kecelakaan. Kami liat ada mobil SUV yang terbalik dan rusak parah. Korban-korbannya kemungkinan udah dibawa masuk ambulans yang ada di samping mobil nahas itu.</p>
<p>Di tepi jalan, lagi-lagi papan-papan raksasa yang promosiin show-show spesial terlihat. Di trotoar, juga ada pamflet pertunjukkan khusus dewasa yang ditempatkan di dalam kotak-kotak kaca. Sempat liat pamfet-pamflet ini di beberapa tempat di sana.</p>
<div id="attachment_155" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/showdewasa.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/showdewasa.jpg?w=450&#038;h=337" alt="" title="ShowDewasa" width="450" height="337" class="size-full wp-image-155" /></a><p class="wp-caption-text">Promosi show dewasa. Harganya mahal juga, mulai $39.99 sampe $69.99. Kalau ada bintang pornonya bisa lebih mahal lagi #uhuk.</p></div>
<p>Tapi Vegas di siang hari bukan Vegas yang sejati. Vegas yang sebenarnya ada di malam  hari. Benar aja, waktu saya lewat di Las Vegas Strip (jalan yang menjadi &#8216;inti&#8217; Vegas), suasana Vegas sudah jauh berbeda. Vegas di malam hari adalah Vegas yang menyala terang dengan lampu warna-warni yang berkelap-kelip tiada henti.</p>
<p>Kasino-kasino pun mulai ramai didatangi oleh para pengunjungnya. Nyaris semua hotel, besar ataupun kecil, mewah ataupun yang biasa, juga punya kasinonya masing-masing.</p>
<p>Saya dan rombongan menginap di Hotel Southpoint. Di bagian lobi, ada kasino yang punya macam-macam permainan. Mulai dari mesin judi slot, poker, sampe roulette. </p>
<p>Malam mulai menua, udara di luar semakin dingin, perkiraan saya sudah mendekati 2 derajat Celcius. Tapi di dalam kasino, orang-orang ini tidak peduli dan tetap asyik dengan kesenangannya bertaruh di meja judi.</p>
<p>Selamat datang di Kota Dosa, kawan.</p>
<br />Filed under: <a href='http://aryaperdhana.wordpress.com/category/dunia/'>dunia</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryaperdhana.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryaperdhana.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryaperdhana.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryaperdhana.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aryaperdhana.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aryaperdhana.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aryaperdhana.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aryaperdhana.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryaperdhana.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryaperdhana.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryaperdhana.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryaperdhana.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryaperdhana.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryaperdhana.wordpress.com/146/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&amp;blog=1618851&amp;post=146&amp;subd=aryaperdhana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryaperdhana.wordpress.com/2011/01/18/vegas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7e29d27c5f623d7958f14c455b8d74e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/ontarioairport.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">OntarioAirport</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/pesawat.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Pesawat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/salju.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Salju</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/dekatlv.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DekatLV</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/slotmachine.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">SlotMachine</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/show.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Show</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/avn.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">AVN</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/luxor.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Luxor</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/showdewasa.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ShowDewasa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imigrasi</title>
		<link>http://aryaperdhana.wordpress.com/2011/01/14/imigrasi/</link>
		<comments>http://aryaperdhana.wordpress.com/2011/01/14/imigrasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Jan 2011 00:28:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arya</dc:creator>
				<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[IT]]></category>
		<category><![CDATA[saya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryaperdhana.wordpress.com/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[Pekan lalu, saya melakukan perjalanan terjauh saya selama 20 tahun lebih saya hidup di dunia. Saya terbang ke Los Angeles untuk sebuah acara liputan. Amerika, negara yang bisa dibilang sebagai negara yang dibenci tapi dirindu. Dibenci karena kebijakan mereka yang suka sembarangan, tetapi juga dirindu karena mereka adalah ekonomi terbesar dunia. Selain itu, banyak juga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&amp;blog=1618851&amp;post=142&amp;subd=aryaperdhana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/welcome.jpg"><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/welcome.jpg?w=300&#038;h=206" alt="" title="Welcome" width="300" height="206" class="aligncenter size-medium wp-image-143" /></a></p>
<p>Pekan lalu, saya melakukan perjalanan terjauh saya selama 20 tahun lebih saya hidup di dunia. Saya terbang ke Los Angeles untuk sebuah acara liputan.</p>
<p>Amerika, negara yang bisa dibilang sebagai negara yang dibenci tapi dirindu. Dibenci karena kebijakan mereka yang suka sembarangan, tetapi juga dirindu karena mereka adalah ekonomi terbesar dunia. Selain itu, banyak juga orang yang memimpikan untuk mengunjungi atau tinggal di sana.</p>
<p>Setelah terbang 6 jam dari Jakarta ke Taipei, lalu terbang 11,5 jam dari Taipei, akhirnya saya tiba di Bandara Internasional Los Angeles pada hari Rabu 5 Januari jam 19.30 waktu Los Angeles.</p>
<p>Melewati imigrasi di LA, saya termasuk yang harus melalui screening kedua. Deg, jantung sempat berdebar. Namun mengingat perbincangan di Jakarta dengan <a href="http://twitter.com/wicakhidayat">Wicak Hidayat</a> yang selalu kena screening kedua dalam beberapa kali kunjungan ke AS, saya tenang-tenang saja.</p>
<p>Di depan meja imigrasi  (yang ditangani oleh Custom and Border Protection (CBP)), ada belasan orang yang bernasib seperti saya. Di sana, kami harus mengisi formulir tentang apa kepentingan kami datang ke AS. Cukup 2 menitan, acara mengisi formulir selesai, tapi  untuk menunggu sampai dilepas, bisa butuh sampai 1 jam sendiri!</p>
<p>Setelah 1 jam-an menunggu, saya dipanggil dan sidik jari saya diminta (proses yang wajar yang juga dilakukan di screening pertama). Lantas, paspor saya dikembalikan sembari diberi tahu kalau saya harus melapor ke CBP sebelum nanti pulang dari Los Angeles. Tanpa banyak tanya, saya pun berlalu. </p>
<p>Di pemeriksaan barang, tidak ada masalah. Mereka cuma menanyakan apakah benar saya seorang wartawan. Lalu, saya pun keluar dari bandara bahkan tanpa pemeriksaan terhadap barang-barang yang saya bawa.</p>
<br />Filed under: <a href='http://aryaperdhana.wordpress.com/category/dunia/'>dunia</a>, <a href='http://aryaperdhana.wordpress.com/category/it/'>IT</a>, <a href='http://aryaperdhana.wordpress.com/category/saya/'>saya</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryaperdhana.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryaperdhana.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryaperdhana.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryaperdhana.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aryaperdhana.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aryaperdhana.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aryaperdhana.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aryaperdhana.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryaperdhana.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryaperdhana.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryaperdhana.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryaperdhana.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryaperdhana.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryaperdhana.wordpress.com/142/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&amp;blog=1618851&amp;post=142&amp;subd=aryaperdhana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryaperdhana.wordpress.com/2011/01/14/imigrasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7e29d27c5f623d7958f14c455b8d74e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2011/01/welcome.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Welcome</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sembunyi</title>
		<link>http://aryaperdhana.wordpress.com/2009/10/31/sembunyi/</link>
		<comments>http://aryaperdhana.wordpress.com/2009/10/31/sembunyi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 12:35:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arya</dc:creator>
				<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[kantor]]></category>
		<category><![CDATA[pemikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryaperdhana.wordpress.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[Di dunia yang orang ramai menyebutnya sebagai social networking world ini, bersembunyi, atau menyembunyikan keberadaan, adalah sebuah hal yang sudah sangat sulit ditemui. Setiap detik, setiap menit, setiap jam, kita (saya menganggap Anda yang bisa membaca tulisan nggak jelas ini di blog, berarti Anda cukup melek internet dan segala tetek bengeknya) berada di pusaran informasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&amp;blog=1618851&amp;post=137&amp;subd=aryaperdhana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2009/10/sembunyi.jpg?w=450" alt="sembunyi" title="sembunyi"   class="aligncenter size-full wp-image-138" /></p>
<p>Di dunia yang orang ramai menyebutnya sebagai <em>social networking world</em> ini, bersembunyi, atau menyembunyikan keberadaan, adalah sebuah hal yang sudah sangat sulit ditemui. </p>
<p>Setiap detik, setiap menit, setiap jam, kita (saya menganggap Anda yang bisa membaca tulisan <em>nggak</em> jelas ini di blog, berarti Anda cukup melek internet dan segala tetek bengeknya) berada di pusaran informasi tentang keberadaan orang-orang di sekitar kita. Silakan anggap hal itu penting atau remeh, tinggal disesuaikan dengan kepentingan dan perspektif Anda. </p>
<p>Coba saja pantau Facebook, Plurk, atau belakangan Twitter. Lihatlah betapa orang-orang dengan gegap gempita dan penuh semangat mengabarkan bahwa mereka sedang makan di kafe anu, dugem di klab itu atau sedang berada di beranda rumah si anu. Sayang, saya belum pernah membaca status orang yang sedang <em>nongkrong</em> di WC sambil ber-BlackBerry :p</p>
<p>Semua jadi terbuka. Sudah sulit untuk menemukan sebuah celah untuk menyembunyikan keberadaan kita. Bahkan kalau pun saya tidak menulis keberadaan di Facebook atau Twitter, bisa jadi teman saya jalan-jalan yang mengabarkannya. </p>
<p>Bayangkan bila (<em>eh</em> ini kejadian fiksional, <em>lho</em>) ada seorang pegawai kantor yang tidak masuk kantor dengan alasan sedang terbaring sakit. Mungkin cukup menelpon supervisor dengan suara yang lemah atau terbatuk-batuk, sang penyelia bisa jadi telah percaya bahwa si karyawan ini memang butuh rihat.</p>
<p>Jadi masalah (masalah menurut siapa, ya?) bila kemudian si karyawan ternyata tidak benar-benar berbaring di tempat tidurnya dan malah pergi bersama teman-teman kuliah dulu untuk datang ke pameran foto atau museum.  </p>
<p>Si karyawan itu mungkin tidak akan dengan konyolnya memberi tahu di mana keberadaannya. Tapi apa yang terjadi bila teman-temannya yang mengabarkannya dan orang-orang di kantornya, terlebih penyelianya, membaca keberadaan si karyawan tadi?</p>
<p>Tentang manfaat atau mudarat, tentu saja tergantung dari mana kita melihatnya. Tapi satu hal yang pasti, tempat gelap untuk bersembunyi itu memang sudah kian sempit <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> <em></p>
<br />Posted in internet, kantor, pemikiran  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryaperdhana.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryaperdhana.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryaperdhana.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryaperdhana.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aryaperdhana.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aryaperdhana.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aryaperdhana.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aryaperdhana.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryaperdhana.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryaperdhana.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryaperdhana.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryaperdhana.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryaperdhana.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryaperdhana.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryaperdhana.wordpress.com&amp;blog=1618851&amp;post=137&amp;subd=aryaperdhana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryaperdhana.wordpress.com/2009/10/31/sembunyi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7e29d27c5f623d7958f14c455b8d74e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryaperdhana.files.wordpress.com/2009/10/sembunyi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sembunyi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
