Benazir dan Kisah Negeri yang Koyak

Desember 28, 2007

Di sebuah siang yang ramai di Rawalpindi, sebuah tragedi terjadi. Seorang pemuda tanggung membawa senapan dan memuntahkan pelurunya ke dada dan leher Benazir Bhutto. Benazir pun terhuyung dan akhirnya tersungkur. Perempuan itu pun tewas. Ia baru 54 tahun.

Toh serangan tidak berhenti di situ. Sang pelaku memicu bahan peledak yang ditempelkan di sekujur tubuhnya. Setidaknya, 23 nyawa melayang sia-sia di hari laknat di sebuah kota yang hanya berjarak seperlemparan batu dari Islamabad itu.

Situasi menjadi kaos. Pakistan terguncang. Rakyat yang marah turun ke jalan-jalan di banyak kota. Kerusuhan pun merebak di sudut-sudut negeri.

***

Pakistan adalah sebuah negeri yang koyak. Mereka adalah bangsa yang percaya. Mereka meyakini demokrasi. Namun Pakistan kadang dan kerap mengkhianati dan dikhianati oleh demokrasi. Negeri itu terkoyak oleh ulah anak-anaknya sendiri. Mereka terbelah oleh ideologi, partai dan sekte.

Seperti juga saudara tuanya, India, Pakistan adalah bangsa yang riuh dan ricuh. Politik dan kekerasan bergandengan tangan akrab. Sangat erat. Dua hal itu terus saja menjadi mimpi buruk di saat 161 juta warga negeri itu tertidur lelap di malam hari.

Di sana, kita tak akan pernah tahu siapa teman dan siapa lawan. Seperti jamak dikatakan para bijak bestari itu, tak ada teman abadi dan musuh abadi. Yang ada hanyalah kepentingan abadi. Ya, itulah politik. Dan itu pula yang berlangsung di Pakistan. Bahkan jauh sebelum negeri seluas 880 ribu kilometer persegi itu memisahkan diri dari India lebih dari enam dasawarsa lalu.

Berpuluh-puluh atau bahkan mungkin beratus-ratus partai politik ada di Pakistan. Mereka membawa ide mereka masing-masing. Belum lagi ditambah dengan keberadaan tentara. Konflik kerap kali tak bisa dihindari. Semuanya hanya demi konsep absurd bernama kekuasaan.

Di Pakistan juga, entah ada berapa ratus ribu politisi, jendral, warlord dan para kepala suku yang masing-masing memiliki kekuatan dan pengaruh sendiri-sendiri. Tak terbayangkan betapa peliknya mengatur negeri yang dunia politiknya riuh rendah seperti itu.

***

Benazir lahir dalam sebuah dinasti politik. Sebuah tradisi yang lazim di Pakistan, demikian juga di negeri tetangga sekaligus musuh dan saudara kandungnya, India. Ayahnya, Zulfikar Ali Bhutto, juga seorang politisi. Saat menjabat sebagai Perdana Menteri, nasib sang ayah di kemudian hari berakhir tragis. Hidupnya diakhiri di tiang gantungan.

Mulai melihat dunia di sebuah negeri yang mayoritas Muslim, Benazir kecil justru lebih banyak mengenyam pendidikan Katolik. Menginjak dewasa, Benazir pun lebih banyak bersentuhan dengan pendidikan Barat. Sesuatu yang di kemudian hari membuat para penentangnya menganggap ia adalah seseorang yang “lain”. Benazir yang menjadi bagian dari “mereka” dan bukan “kita”.

Benazir diterima di Harvard University, salah satu perguruan tinggi paling prestisius. Tak hanya di Amerika Serikat, namun juga di seluruh dunia. Benazir bukanlah murid yang biasa-biasa saja. Perempuan muda itu masuk komunitas Phi Beta Kappa yang terhormat. Benazir muda juga mendapat nilai cum laude saat meraih gelar sarjananya di bidang politik.

Tak hanya itu, saat melanjutkan studi di Oxford, Inggris, kecemerlangan tidak menjadi hilang dari diri Benazir. Ia juga terpilih sebagai Presiden Oxford Union. Ialah perempuan pertama dari Asia yang pernah mengetuai klub debat nan bergengsi itu.

Berangkat dari sebuah dinasti politik, maka mau tak mau Benazir kemudian menyeburkan dirinya di dunia yang pernah digeluti ayahnya dulu itu.

Karir Benazir berlangsung dengan jatuh bangun. Terpilih sebagai Perdana Menteri hanya untuk kemudian disingkirkan lawan politiknya. Kembali berkuasa dan lalu tergusur kembali. Ia bahkan terusir dari tanah airnya sendiri. Semua orang tahu, seluruhnya hanyalah soal politik. Tidak lebih dan tidak kurang.

Di penghujung 2007, Benazir yang delapan tahun diasingkan di Dubai dan London, akhirnya pulang. Kembali ke negeri asalnya, tak lantas berarti ia mendapat sambutan karangan bunga. Seperti biasa, persetujuan dan pertentangan mewarnai kepulangan Benazir.

18 Oktober, hanya beberapa jam setelah ia mendarat di Islambad, nyawa Benazir langsung terancam. Sebuah bom menyalak. Bom itu meledak dan menewaskan 139 orang. Benazir beruntung, ia selamat dari serangan itu.

Namun keberuntungan tidak sedang bersama Benazir di siang 27 Desember itu. Ia mungkin tidak pernah tahu bahwa hidupnya akan berakhir di Rawalpindi, hanya beberapa kilometer dari tempat Ali Bhutto dahulu digantung hingga ajal. Benazir diserang. Ia lalu terkulai. Ia usai.


Perbandingan Tarif Per Detik Simpati Pe-De vs XL Bebas

Desember 16, 2007

Rupanya, perang antar operator telekomunikasi selular di negeri ini masih terus berlanjut. Setelah XL yang meluncurkan tarif super murah Rp 1/detik melalui XL Bebas-nya, kini Telkomsel ikut terjun ke arena perang tarif itu dengan memperkenalkan tarif Simpati Rp 0.5/detik.

Jelas sekali, apa yang diperbuat oleh Telkomsel itu adalah upaya untuk menjawab tarif yang dimiliki XL. Meski begitu, operator terbesar di Indonesia itu membantah bahwa tarif Rp 0,5/detik ini adalah jawaban atas vonis KPPU yang mengharuskannya menurunkan tarif 15% menyusul terbuktinya kasus monopoli yang dilakukan Temasek (perusahaan BUMN Singapura yang ikut memiliki Telkomsel –dan juga Indosat).

Tidak semua pelanggan Simpati bisa menikmati fitur itu. Hanya mereka yang memakai Simpati Pe-De lah yang bisa. Pemakai Simpati reguler harus mengubah sistem penarifannya menjadi per detik dengan mengakses *880#.

Saya sendiri belum mencoba berpindah ke sistem tarif per detik. Soalnya, dengan memakai tarif per detik, maka kita tidak bisa lagi menikmati bonus bicara dan bonus SMS. Bonus bicara+SMS yang ada pun jadi tidak bisa dipakai (kecuali kita berpindah lagi ke sistem tarif per menit). Selain itu, setiap kita pindah sistem tarif, maka pulsa kita akan dipotong Rp 3.000.

Sebelumnya, saya sudah memakai XL bebas. Saya pun kemudian mencoba menghitung-hitung tarif kedua operator ini. Oya, sebagai informasi, untuk XL Bebas, tarif Rp 1/detik ke sesama XL berlaku setelah detik ke-121 dan seterusnya. Untuk detik ke 1-120, dikenai tarif Rp 10/detik. Sedangkan untuk Simpati Pe-De, tarif Rp 0,5/detik ke sesama Telkomsel berlaku setelah detik ke-61. Di detik pertama hingga 60, pelanggan harus membayar Rp 25/detik.

Oke, mari berhitung. Siapa yang lebih murah dari siapa. Tapi untuk diketahui, khusus untuk tarif XL Bebas, saya memakai tarif yang diterapkan di region Jawa Tengah-DIY. Setahu saya, sistem perhitungan di region DKI Jakarta sedikit berbeda.

Menit ke

Tarif Telkomsel

Tarif XL

0-1

1500

600

2

1530

1200

3

1560

1260

4

1590

1320

5

1620

1380

6

1650

1440

7

1680

1500

8

1710

1560

9

1740

1620

10

1770

1680

11

1800

1740

12

1830

1800

13

1860

1860

14

1890

1920

Nah, dari tabel di atas, terlihat bahwa tarif Simpati akan terasa lebih murah jika Anda melakukan pembicaraan telepon dengan durasi 14 menit atau lebih. Sementara, Anda yang banyak melakukan pembicaraan dengan lama kurang dari 14 menit, maka tarif XL Bebas akan terasa lebih murah.

Apakah Anda akan memilih memakai Simpati atau memakai XL, semuanya terserah kepada Anda. Silakan memilih tarif mana yang menurut Anda paling murah. Perang antar operator telekomunikasi sudah seharusnya membuat konsumen diuntungkan.

Disclaimer: Saya tidak bekerja untuk salah satu operator ataupun operator seluler lainnya dan juga afiliasinya. Posting ini murni pendapat pribadi dan tidak ditujukan untuk mempromosikan operator mana pun. Semua pemakaian jasa operator seluler adalah sepenuhnya tanggungjawab pembaca.


Terlambat Itu (Kadang) Menyenangkan

Nopember 29, 2007

Terlambat. Sebuah kata yang mungkin sangat dibenci oleh begitu banyak orang. Namun sayangnya, kata terlambat ini bisa jadi adalah sebuah kosakata yang akrab dengan keseharian rakyat Indonesia.

Pegawai negeri yang terlambat, kuli swasta yang telat, jadwal kereta api yang ngaret, keberangkatan pesawat yang molor, dan berbagai macam keterlambatan-keterlambatan lain ada di negeri ini.

Tapi, pernahkah Anda merasa bahwa terlambat itu kadang menyenangkan? :D

Itulah yang terjadi pada saya sore ini. Jadwal pesawat yang akan saya tumpangi dari Jakarta ke Jogja adalah jam 17.30. Yang menjadi persoalan, saya baru keluar kantor di kawasan Warung Buncit jam 3 sore.

Bayang-bayang keterlambatan dan ketinggalan pesawat makin terasa saat bus bandara yang saya naiki baru berangkat dari Blok M jam 4 kurang. Itu pun masih ditambah macet hampir di sepanjang jalan Sudirman. Makanya, dalam hati saya berdoa kuat-kuat, semoga pesawat yang mau membawa saya terlambat! Dan semoga ada juga orang-orang yang seperti saya ini dan kemudian memanjatkan doa yang sama.

Pukul 17.15, saya baru sampai Soekarno-Hatta. Mampus, pikir saya. Saya 50% yakin bahwa saya bakal ditolak naik. Bahkan kalau saja saya pakai Garuda (dan kenyataannya tidak), keyakinan bahwa saya bakal ditinggal naik jadi 90%.

Tapi syukurlah. Thank God! Alhamdulillah! Haleluia! Doa saya sepertinya didengar Tuhan  dan petugas di tempat check-in minta saya untuk tidak terburu-buru karena pesawatnya terlambat! Sangat jarang saya mensyukuri sebuah keterlambatan. Yang pasti, saat itu adalah salah satunya. Thank God I’m living in Indonesia. Seandainya saja saya tinggal di Eropa yang super-disiplin, sudah pasti saya bakal gigit jari karena ketinggalan kereta pesawat.

Keterlambatan yang tadinya saya syukuri perlahan berubah menjadi menyebalkan! Mungkin Tuhan terlalu berlebihan dalam mengabulkan permintaan (aneh) saya. Pesawat Adam Air jurusan Jakarta-Jogja dijadwal ulang baru terbang jam 19.10. Seperti juga jamaknya manusia, saya yang tadi senyam-senyum jadi berubah kepingin misuh-misuh. Dasar menungso! Mbatin saya.

Untunglah pihak maskapai sedikit tanggap sama keterlambatan itu. Mereka berinisiatif membagi-bagikan roti bun produknya Roti boy masing-masing satu biji ke setiap penumpang (ditambah segelas air 200ml). Saya yang sudah mulai ngomel-ngomel, jadi merasa geli sendiri.

Lho kok geli? Emang ada yang lucu? Lha iya, maskapai murah kan penerbangannya no frills. Alias gak pake snek, apalagi makan. Yang ada cuman minuman air putih digelasin, trus dikasih label oranye. Makanya, saat mereka bagi-bagi roti, rasanya sedikit lucu juga. Jadi saya naik penerbangan yang bukan lagi no-frills dong? Hehehehe. Lumayanlah. Walaupun cuman seharga 5.000-7.000 perak, sepertinya taktik mereka meredam kekesalan penumpang cukup berhasil.

Daaaan…. what a day. Ini dia gong cerita kali ini. Guess what? Saya melihat Om Roy Sukro masuk ke ruang tunggu yang sama dengan saya! Aih, aih… Ternyata Om Pakar 68% ini mau ke Jogja juga rupanya. Wahahahaha. Apakah saya pakai histeris teriak-teriak gitu? Hahahaha. Dalam hati saja deh. Nanti saya bisa-bisa dianggap norak sama penumpang lain.

Alhamdulillah, meskipun saya sepesawat sama Om Roy, pesawat yang saya (kami?) tumpangi tidak meledak di udara. *mengelus dada* Meskipun cuaca nggak terlalu bagus dan bikin pesawat jadi sedikit bumpy, toh akhirnya saya tiba dengan selamat (tiba dengan Selamat, atau tiba dengan Om Roy ya? Bingung saya. :p) di Jogja.

Jogja, it feels like I’m leaving for a century. :D


Jazz

Nopember 24, 2007

Di Jakarta sana, malam ini ada konser yang ditajuki The 9th Jakarta International Jazz Festival atau lebih tenarnya Jak Jazz 2007. Tanda masuknya mahal, makanya saya nggak sanggup beli (apalagi kalau harus beli tiket pesawat/kereta bolak-balik Yogya-Jakarta). Berapa? Wis tho, percaya saja sama saya, mahal!

Kalau maksa nonton, kantong saku ini mungkin nggak cuman bakal bobol habis-habisan, tapi juga harus pensiun sebagai kantong. Pasalnya, tuannya bukan tipe orang yang tahu diri. “Sontoloyo, baru ndengerin jes kemarin sore aja udah nggaya. Biayayakan pingin nglurug ke Jakarta. Bonek yo bonek, tapi mbok yao mikir.” Mungkin begitu pikir kantong saku celana saya yang tiap hari dijejali dompet tipis nan kere itu.

Ngomong-ngomong soal konser jes kayak ini, saya cuman bisa ngelirik iri sama temen saya yang satu ini. Beliau begitu beruntung bisa masuk arena. Konon, gratis. Soalnya dia itu wartawan. Jurnalis. Jadi, blusukan mendengarkan tiupan saksofon dari Jay Beckenstein yang enerjik sambil mikir nanti mau nulis apa. Hehehe.

Nah, ngelantur sampai soal masuk konser, saya pernah dengar omongan garing seperti di bawah ini entah dari kapan tahun. Katanya, orang yang nonton konser jes itu terbagi jadi empat golongan. (Penting: ini kategorisasi yang sama sekali nggak ilmiah. Jangan dijadikan referensi).

Pertama, penjahat. Alias pencinta jes sepenuh hati. Dia memang dari sononya sudah seneng sama musik yang dulunya dimainkan kaum budak negro ini. Koleksi CD sama kasetnya (atau mungkin MP3?) pasti didominasi sama nama-nama seperti Fourplay, Lee Ritenour, atau Dave Grusin atau setidaknya Michael Buble.

Yang kedua, penjahit. Alias pencinta jes setengah hati. Kadang, dia ndengerin Accoustic Alchemy, tapi besoknya ganti lagi jadi Ungu. Mood-mood-an, nggak tentu. Kira-kira semacam itu lah.

Lalu yang ketiga, pejabat. Pencinta jes ikut sobat. Temen nonton Jak Jazz, dia ngikut. Besoknya nonton Java Jazz, mbuntut juga. Pokoknya demi lancarnya pergaulan lah. Socialite, mungkin?

Nah yang terakhir ini yang temen saya ini mungkin masuk. Penjaga, alias pencinta jes gratisan. Wartawan, keluarganya promotor, orang dari sponsor. Semua dari mereka yang bisa dapat free pass karena berbagai hal. Hehehe. Beruntunglah betul mereka ya?


Nasib

Nopember 22, 2007

Apa itu nasib? Bakal banyak jawaban yang muncul jika pertanyaan itu diajukan. Nasib adalah sebuah konsep abstrak yang kerap kali tidak bisa dimengerti oleh manusia. Tak jarang pula, nasib disalahmengerti.

Sebagian orang percaya bahwa determinan nasib seorang manusia ada pada diri manusia itu sendiri. Sementara sebagian yang lain meyakini bahwa kuasa atas nasib berada di luar jangkauan indrawi manusia.

Tidak, saya tidak sedang mau berkhotbah mengenai teori siapa yang benar. Saya tidak akan berpanjang lebar mendebatkan pendapat mana yang lebih bisa diterima (meski saya memiliki keyakinan sendiri yang, tentu saja, tidaklah penting bagi Anda).

Saat ini, absurditas nasib mungkin akan benar-benar dipahami oleh dua orang: Guus Hiddink dan Steve McClaren. Penghayatan mengenai nasib memang bisa datang melalui apa saja, termasuk sepakbola.

Nama yang pertama adalah seorang lelaki Belanda yang menjadi juru latih kesebelasan Rusia. Penampilannya meyakinkan. Wajahnya ramah dan menyimpan ketenangan bagaikan ombak laut utara di musim panas. Namun ia juga dingin, sedingin hujan salju menggigit yang jatuh di pelataran Kremlin.

Sedangkan nama kedua adalah peracik strategi kesebelasan Inggris. Ia Englishman asli. Ia masih muda dan enerjik. Ia cukup berpengalaman, namun sebatas menjadi orang kedua. McClaren memang pernah melewatkan banyak tahun menjadi tangan kanan Sir Alex Ferguson di Manchester United. Sebagai orang nomor satu, McClaren baru pernah menjadi nahkoda Middlesbrough. Klub medioker dari Inggris tengah itu pernah dibawanya ke final Piala UEFA, taman bermain nomor dua Eropa.

10 Oktober lalu, Rusia dan Inggris bertempur di penyisihan Piala Eropa 2008. Di bawah balutan cuaca dingin Moskow dan lapangan buatan di Luzhniki yang tak lazim, Inggris dikalahkan Rusia 2-1. Barangkali, saat itu Hiddink tengah tersenyum puas di depan kecutnya McClaren.

Pendulum nasib memihak kepada Hiddink. Pasukannya berada di atas angin untuk menuju ke Austria-Swiss, dua negara tuan rumah Euro.

Satu bulan berikutnya, keseimbangan pendulum itu berbalik arah mendekati McClaren. Hiddink meratapi kekalahan Rusia di tangan Israel dengan angka 1-2. Pertarungan di Tel Aviv, sebuah kota yang memiliki sejarah konflik panjang, 17 November itu benar-benar bagai palu godam buat Hiddink. Situasi berubah 180 derajat, dan ini tentu membuat senyum McClaren mengembang.

Hiddink pasrah. Ia orang yang mendua. Di satu sisi ia percaya bahwa nasib timnya ada di tangan 11 pemain yang ia turunkan ke lapangan saat meladeni Andorra. Namun ia juga tahu bahwa nasib tim yang diasuhnya juga tergantung kepada apa yang terjadi jauh di London sana, saat Inggris menghadapi Kroasia.

2×45 menit di dua tempat sudah dilangsungkan. Hasilnya, Hiddink membawa Rusia menang 1-0. Sebaliknya, di Wembley baru yang megah itu, McClaren harus meratapi kekalahan timnya 2-3 sekaligus mengubur mimpinya melaju ke Austria-Swiss. Hiddink menjadi orang terakhir yang bisa tertawa.

Nasib memang tidak bisa diduga. Tak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi hingga itu benar-benar terjadi. Itulah yang dialami McClaren dan Hiddink malam tadi. McClaren berubah dari seorang manajer tim yang diunggulkan menjadi pencundang. Sementara Hiddink berganti dari seorang yang tengah terpojok menjadi pahlawan. Semuanya terjadi hanya dalam waktu 90 menit. Menakjubkan? Itulah nasib.


Mengakui Hidup itu Kadang Tidak Adil

Nopember 16, 2007

Beberapa waktu lalu, saya nonton sebuah film yang judulnya The Interpreter (2005). Saya tidak akan berkisah panjang lebar tentang isi film ini. Tapi ada kutipan menarik dari salah satu adegan.

Tokoh utama film itu, Silvia Broome (Nicole Kidman), seorang warga negara fiksi bernama Matobo, bertutur kepada agen rahasia AS Tobin Keller (Sean Penn) tentang sebuah hidup yang kadang terasa tidak adil.

“Di suku Ku di Matobo, ada pengadilan penenggelaman orang. Di sana, jika ada seseorang yang terbunuh, satu tahun masa berkabung akan diakhir dengan pengadilan itu,”

“Orang-orang akan menggelar pesta sepanjang malam di tepi sungai. Saat fajar, pelaku pembunuhan akan diikat ke dalam sebuah perahu, dan kemudian perahu itu akan ditenggelamkan. Orang itu takkan bisa berenang,”

“Keluarga korban memiliki dua pilihan: membiarkan orang itu mati karam atau menyelamatkan nyawanya,”

“Suku Ku percaya, jika keluarga itu membiarkan si pembunuh mati tenggalam, mereka akan mendapatkan keadilan. Tetapi mereka akan menghabiskan seluruh hidup mereka dalam kesedihan,”

“Tapi jika mereka menyelamatkan pembunuh itu, mereka mengakui bahwa hidup itu tidaklah selalu adil. Namun tindakan itu akan menerbangkan kelaraan.”

(Diterjemahkan secara ngawur oleh saya sendiri)

Nah sekarang, maukah Anda mengakui bahwa hidup ini memang kadang tidak adil?