Setahun

Januari 21, 2009 oleh arya

Setelah setahun menjelajahi senti demi senti tanah Jakarta ini, kesimpulan saya tetap sama. Jakarta adalah sebuah jam besar yang tersusun dari jam-jam kecil yang selalu berdetak dan berderap di manapun dan kapanpun(*). Dan Jakarta hanya cocok sebagai tempat mencari uang, bukan untuk tempat tinggal yang ideal.

Masih sama dengan tahun lalu ketika saya menetapkan hati untuk mencoba mengadu peruntungan di sini. Jakarta masih macet dan banjir. Perilaku masyarakatnya juga masih gitu-gitu saja. Orang kaya pakai mobil mewah hobi melanggar, orang nggak kaya pake motor butut juga suka melanggar.

Jakarta adalah sebuah ironi peradaban.

(*)dari cerpen Langgam Urbana karya Beni Setia

Bout

Januari 2, 2009 oleh arya

Membaca kisah seorang Viktor Bout, ingatan saya melayang kepada film ‘Lord of War’ yang pernah saya tonton. Yang terakhir ini adalah sebuah film produksi tahun 2005 yang dibintangi antara lain oleh Nicholas Cage.

Tetapi saya keliru. Bukan Bout yang mengekor ‘Lord of War’, tetapi justru ‘Lord of War’ yang ditulis berdasarkan kisah lelaki Rusia kelahiran 41 tahun silam tersebut.

Tak banyak yang mengetahui sepak terjang Bout sampai ia tertangkap aparat di Bangkok, Maret tahun lalu. Tuduhannya serius: memasok senjata untuk sejumlah kelompok yang terlibat dalam konflik bersenjata di banyak sudut-sudut dunia.

Bout adalah bopeng di wajah dunia yang kian sengkarut. Sebuah dunia yang menua tetapi tidak bertambah dewasa. Konflik bersenjata terjadi di banyak tempat di atas planet ini. Agama A kontra Agama B, Suku X melawan Suku Y, Isme ini versus Isme itu, dan lain sebagainya.

Dari konflik-konflik itulah, muncul Bout (dan banyak orang lainnya yang tidak akan diketahui hingga suatu saat nanti mereka ditangkap). Mereka menemukan ceruk yang menguntungkan mereka.

Selepas kejatuhan komunisme di akhir 1980-an, aset militer di Uni Sovyet (kemudian Rusia) banyak yang terbengkalai. Pesawat-pesawat dibiarkan berdebu di landasan akibat tak ada minyak, jutaan senapan, peluru, granat dan roket dibiarkan teronggok di gudang-gudang yang tak terjaga. Maka mulailah Bout berbisnis.

Bout tak memiliki ideologi. Ia adalah pedagang; Merchant of Death. Tak peduli apakah itu Al Qaeda, sekelompok warlord haus darah di Afrika Barat, atau kelompok yang didukung Amerika.

Ia mengirimkan senjatanya kepada pemerintah Afganistan di tahun 90-an. Namun ia lalu juga menjual senjata kepada Taliban pada saat bersamaan. Saat Taliban berkuasa di sana tahun 1996, Bout juga menjual pesawat-pesawatnya.

“Aku menjual kepada para orang kiri, dan juga orang kanan. Aku menjual kepada para pasifis, tetapi mereka bukan pelanggan rutinku,” ucap Yuri Orlov, tokoh utama dalam ‘Lord of War’ yang menjadi representasi Bout.

Dan seperti jamaknya pedagang, maka keuntungan, hanya keuntungan, adalah apa yang ada di pikiran orang-orang seperti Bout. Ia tak berurusan dengan warna kulit, agama atau aliran politik si klien. Masih kata Yuri Orlov, “Aku menguasai banyak bahasa. Tetapi aku tahu, yang artinya paling jelas adalah dolar, dinar, drachma, rubel, rupee dan pound-fucking-sterling.”

Nurani? Jangan harap Bout bakal tersentuh dengan pemandangan seorang bocah berusia 12 tahun menenteng AK-47 yang baku bunuh dengan anak lain yang berusia sama dari pihak musuh.

Bout boleh saja sudah berada di balik jeruji, tetapi orang-orang seperti dia akan tetap ada dan bahkan mungking bertambah. Selama masih ada orang-orang yang berperang, maka di sanalah Bout dkk akan bermain.

“Katakan apapun yang kau benci dariku. Bahwa aku penjelmaan iblis, bahwa aku bertanggungjawab atas terobeknya masyarakat dan ketenangan dunia. Bahwa aku pelaku genosida. Katakan apa yang ingin kau katakan tentangku sekarang,” demikian Yuri Orlov menceramahi agen Interpol yang menahannya.

Ibu

Desember 23, 2008 oleh arya

Ibu saya lahir 22 Desember 1958. Jadi kemarin, usianya tepat setengah abad. Sungguh sebuah kebetulan bila dia lahir tepat di Hari Ibu.

Seorang ibu yang lebih dari 25 tahun lalu mungkin pernah begitu patah semangat dan berduka kala dikabari oleh dokter kandungan bahwa janinnya telah mati di dalam kandungan, bahkan ketika belum dilahirkan.

Suaminya sudah membeli kain kafan dan mempersiapkan pemakaman si anak yang belum terlahirkan. Betapa berat cobaan untuk pasangan yang baru menikah beberapa bulan itu.

Tapi ternyata dokter itu salah. Anak ibu saya lahir dalam keadaan hidup dan sehat. Dan berkat asuhannya anak itu sekarang sudah berusia 25 tahun lewat serta sudah menyumbangkan satu cucu.

Anak ibu saya itu adalah saya sendiri.

Selain untuk ibu saya, ucapan selamat Hari Ibu juga layak saya haturkan kepada istri saya yang juga telah menjadi seorang ibu.

PS: Posting ini memang telat satu hari. Tapi apa boleh buat, saya bukan orang yang bergelimang benwit internet kala tidak berada di kantor.

John

Desember 12, 2008 oleh arya

john1

Sudah 28 tahun lewat empat hari sejak John Lennon tewas. Empat peluru dari senjata Mark David Chapman menembus punggungnya dan membuat John yang berusia 40 tahun ketika itu meregang nyawa.

John yang gondrong, John yang genial musik, John yang kekiri-kirian dan John yang gandrung kepada banyak hal yang berbau-bau timur, mati di usia yang cukup muda.

John menulis ‘Imagine’ sebagai bagian dari sikapnya yang ‘anti-agama, anti-nasionalisme, anti-konvensional dan anti-kapitalisme’. “Tetapi karena lagu itu dibungkus dengan gula nan manis, maka ia diterima dunia,” katanya.

Lagu itu lantas mendunia. Hanya untuk contoh, perusahaan rekaman BMI menyebut lagu yang ditulis pada tahun 1971 itu sebagai lagu yang paling banyak diminta diputar di abad 20. Majalah musik Rolling Stone menempatkannya di urutan ketiga 500 lagu terbaik sepanjang masa.

Mantan Presiden Amerika Jimmy Carter berucap, “Di banyak negara di dunia ini, Anda mendengar lagu John Lennon, Imagine, sama seringnya dengan lagu kebangsaan.”

Menyebut nama John tentu tak lepas dari The Beatles. Bersama Paul McCartney, Ringo Starr dan George Harrison, mereka adalah salah satu band terhebat yang pernah dilahirkan di muka bumi ini.

John memotori Beatles. Membuat empat anak muda dari kota Liverpool itu dilirik Amerika, menjual lebih dari satu miliar album di seluruh dunia, menempatkan lebih dari 40 single, album atau Extended Plays(EP) di tangga nomor satu.

Tak hanya dalam musik John menonjol. Ia juga seorang aktivis pro-perdamaian. ‘Give Peace a Chance’, selain ‘Imagine’, adalah lagu wajib untuk mereka yang berdemo menentang perang di jalanan kota-kota besar dunia.

Bila saja John masih hidup hari ini, saya yakin dia akan turun ke jalan di New York, London atau Tokyo, mengumpat George Walker Bush dan meminta semua orang di dunia ini memberi perdamaian sebuah kesempatan.

Tetapi John sudah tak ada. Malam itu, Chapman menghabisinya; hanya beberapa jam setelah John memberinya tanda tangan di atas album ‘Double Fantasy’.

Guru

November 25, 2008 oleh arya

Saat duduk di bangku SMU, saya pernah punya seorang guru yang cukup revolusioner. Dia guru yang jauh dari kata konvensional; baik dari cara mengajar dan bergaul dengan murid-muridnya.

Namanya adalah Tri Joko H (duh, saya lupa ini huruf H singkatan apa :D ). Biasa dipanggil Pak TJ. Dia mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Dia adalah orang yang membuat nama Pramoedya Ananta Toer terdengar oleh telinga saya. Dia mengenalkan nama tokoh Raden Tirto Adhi Soerjo serta mengaitkannya dengan konteks sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Bukan sesuatu yang luar biasa pada saat ini barangkali. Tapi bayangkan hal itu terjadi pada tahun 1998.

Memang benar Soeharto sudah tidak lagi jadi Presiden RI. Namun kekuatan rezim Si Mbah ini belum lagi runtuh sepenuhnya (memang pernah runtuh ya?). Buku-buku Pram secara resmi masih dilarang beredar oleh Kejaksaan Agung. Selama rezim Orba, kata Pak TJ, buku itu beredar di bawah tanah.

Orang-orang masih terlalu takut untuk membaca buku-buku Pram. Takut tiba-tiba nanti diciduk aparat, lantas dituduh sebagai komunis. Sebuah hal yang pasti ingin dihindari siapapun kala itu.

Dari situlah, saya tahu tentang Pram dan kemudian mulai mencari tahu lebih banyak. Saya mulai ngeh siapa itu Pram dan mulai membaca karya-karyanya. Dan seperti orang-orang lain, siapa sih yang tidak mengakui bahwa karya Pram memang luar biasa?

Ada beberapa lagi cerita tentang Pak TJ yang fragmen-fragmennya terlintas samar-samar di kepala saya saat ini. Maklum, sudah satu dekade terlewat.

Tentu saja, Pak TJ bukanlah satu-satunya guru yang menorehkan kesan istimewa kepada saya. Guru-guru yang telah membimbing saya semenjak TK, SD, SMP, SMA (tak dilupakan pula para dosen di bangku kuliah), semuanya punya arti masing-masing bagi saya. Tak saya ceritakan bukan berarti mereka tak spesial.

Guru yang baik dan sabar dalam mengajar, guru yang galak dan penuh disiplin atau guru yang jadi ‘musuh bebuyutan’ semasa sekolah, semuanya punya tempat khusus di hati saya.

Note:
Postingan ini adalah untuk memperingati Hari Guru yang jatuh pada hari ini, 25 November. Sebuah hari yang barangkali takkan pernah bisa diperingati dengan sama gempitanya dengan Hari Kemerdekaan, Hari Pahlawan atau bahkan Hari Kesaktian Pancasila. Padahal, tanpa guru kita bukanlah siapa-siapa.

Terimakasih kepada rekan Zen, seorang mantan calon guru (hahahaha) yang sudah mengingatkan tentang Hari Guru ini. Simak juga posting Pito.

Bond yang Tak Lagi Mengejutkan

November 9, 2008 oleh arya

Ketika menonton Casino Royale, saya takjub dengan interpretasi Daniel Craig tentang tokoh agen rahasia paling terkenal di dunia, James Bond.

Bond yang lekat dengan citra pria flamboyan –dan itu didukung dengan pemilihan aktor yang memang juga flamboyan seperti Sean Connery atau Pierce Brosnan– sukses diacak-acak oleh Craig. Lewat akting Craig, Bond jadi sosok agen rahasia yang dingin, nggak suka basa-basi dan nyebelin dalam bicara dan bertindak.

Namun kejutan hanya tercipta satu kali. Ketika formula yang sama diterapkan ke film Bond berikut, maka unsur excitementnya jauh menurun.

Quantum of Solace masih menghadirkan Bond yang beringas. Bahkan agen 007 ini hobi sekali membunuh lawannya, sebuah hal yang mendatangkan kegusaran dari atasannya di MI6, M (nggak ada yang lebih cocok memerankan M ketimbang Judi Dench).

Tapi nonton QOS sudah nggak setegang atau setakjub nonton Casino. Kekasaran Bond atau tidak adanya line ‘martini, shaken not stirred’ bukanlah hal baru; meski harus diakui akting Craig tetap meyakinkan.

Jalan cerita? Jangan ditanya. Semua film Bond itu ceritanya klise, standar soal good vs evil, Barat melawan kelompok teroris atau Blok Timur. Jalan ceritanya predictable dengan akhir yang juga klise.

Saya menyukai film-film Bond karena semata memang saya seneng sama genre film aksi. Terlalu banyak nonton film seperti A Beautiful Mind bisa membuat bosan. Sekali-sekali, nonton James Bond atau Hot Fuzz juga perlu (ah, perpaduan paling pas ya The Departed dan yang terbaik jelas Pulp Fiction).

Namun gara-gara Casino, saya memang berharap lebih kepada film Bond –dan Craig. Tapi saya hal itu nggak saya dapatkan di QOS karena seperti saya bilang, kejutan hanya terjadi satu kali.

Di luar hal itu, dua perempuan Bond, Olga Kurylenko dan Emma Arterton, jelas kalah cantik dan seksi dibanding Eva Green yang memerankan Vesper. Lebih-lebih lagi sutradara Marc Forster juga membatasi jumlah adegan percintaan yang dilakukan Bond. Hanya sekali 007 meniduri perempuan di QOS, itu pun dengan seorang perempuan yang perannya di film itu nggak penting.

Oya, buat yang mengharapkan ada kalimat tenar ‘my name is Bond, James Bond’, siap-siap kecewa karena line itu nggak bakal Anda temukan di film ini.