Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘dunia’

Intelejen

Februari 6, 2009

Kata intelejen sangat lekat dengan sebuah perihal yang serius. Urusan akbar yang dijalankan oleh segilintir kaum terpilih menyangkut keselamatan sebuah kelompok atau negara di tengah lingkungan dunia yang kacau balau ini.

Tetapi toh intelejen bukanlah sebuah perkara yang suci hama. Intelejen bisa salah, bisa konyol, juga bisa bodoh dan kacau. Tim Weiner yang pernah memenangi Hadiah Pulitzer itu menuliskannya dengan memikat dalam lebih dari 800 halaman buku ‘Membongkar Kegagalan CIA: Spionasi Amatiran Sebuah Negara Adidaya’; sebuah buku yang mendapat perhatian lebih di sini oleh musabab cerita tentang Adam Malik-nya.

Intelejen, spionase, telik sandi atau apapun namanya dapat menjadi bahan lelucon satir dan diolok-olok. Itu setidaknya yang dilakukan oleh Joel dan Ethan Coen (Coen Brothers) dalam film besutan mereka ‘Burn After Reading’.

Film ini bertitik pangkal dari Ozzy, seorang pegawai (agen?) CIA yang daripada dipindah ke pos yang tidak ia sukai lantas lebih memilih mengundurkan diri dan kemudian berniat menulis buku.

Ozzy, selain bermasalah dengan kegemarannya minum (sesuatu yang membuatnya nyaris dipindah oleh CIA), juga bermasalah dengan rumah tangganya. Istrinya yang dokter gigi, Katie, berselingkuh dengan seorang lelaki dan belakangan berniat mengajukan perceraian dan menyewa jasa pengacara untuk menyelidiki Ozzy dan catatan keuangan dan pribadinya.

Persoalan menjadi rumit tatkala CD milik Ozzy dicuri oleh pengacara yang disewa Katie namun kemudian tertinggal di sebuah pusat kebugaran. CD itu ditemukan oleh dua pegawai rendahan pusat kebugaran yang berpikir bahwa mereka bisa memperoleh duit hasil dari memeras Ozzy. Salah satu dari mereka, Linda, bermimpi untuk memakai uang itu kelak untuk melakukan operasi plastik.

Dari hal yang remeh temeh seperti ini, persoalan membesar hingga melibatkan petinggi-petinggi CIA dan bahkan Kedutaan Besar Rusia. Coen bersaudara dengan sukses mengubah perkara intelejen yang rumit dan mengawang-awang itu menjadi ajang menertawakan biro telik sandi yang panik dan bingung.

Coen bersaudara dengan cerdas mengejek kegagapan intelejen Amerika menghadapi persoalan. Kegagapan yang sudah sejak lama terungkap ketika mereka gagal membendung serangan teroris pada September 2001.

CIA dan rekan-rekannya seperti ‘intel melayu’ yang bengong melihat negaranya diobrak-abrik. Ya mungkin mirip lah dengan telik sandi ‘intel melayu’ sesungguhnya yang malah gemar menginteli warganya sendiri dan menyingkirkan pembela hak asasi manusia.

Bout

Januari 2, 2009

Membaca kisah seorang Viktor Bout, ingatan saya melayang kepada film ‘Lord of War’ yang pernah saya tonton. Yang terakhir ini adalah sebuah film produksi tahun 2005 yang dibintangi antara lain oleh Nicholas Cage.

Tetapi saya keliru. Bukan Bout yang mengekor ‘Lord of War’, tetapi justru ‘Lord of War’ yang ditulis berdasarkan kisah lelaki Rusia kelahiran 41 tahun silam tersebut.

Tak banyak yang mengetahui sepak terjang Bout sampai ia tertangkap aparat di Bangkok, Maret tahun lalu. Tuduhannya serius: memasok senjata untuk sejumlah kelompok yang terlibat dalam konflik bersenjata di banyak sudut-sudut dunia.

Bout adalah bopeng di wajah dunia yang kian sengkarut. Sebuah dunia yang menua tetapi tidak bertambah dewasa. Konflik bersenjata terjadi di banyak tempat di atas planet ini. Agama A kontra Agama B, Suku X melawan Suku Y, Isme ini versus Isme itu, dan lain sebagainya.

Dari konflik-konflik itulah, muncul Bout (dan banyak orang lainnya yang tidak akan diketahui hingga suatu saat nanti mereka ditangkap). Mereka menemukan ceruk yang menguntungkan mereka.

Selepas kejatuhan komunisme di akhir 1980-an, aset militer di Uni Sovyet (kemudian Rusia) banyak yang terbengkalai. Pesawat-pesawat dibiarkan berdebu di landasan akibat tak ada minyak, jutaan senapan, peluru, granat dan roket dibiarkan teronggok di gudang-gudang yang tak terjaga. Maka mulailah Bout berbisnis.

Bout tak memiliki ideologi. Ia adalah pedagang; Merchant of Death. Tak peduli apakah itu Al Qaeda, sekelompok warlord haus darah di Afrika Barat, atau kelompok yang didukung Amerika.

Ia mengirimkan senjatanya kepada pemerintah Afganistan di tahun 90-an. Namun ia lalu juga menjual senjata kepada Taliban pada saat bersamaan. Saat Taliban berkuasa di sana tahun 1996, Bout juga menjual pesawat-pesawatnya.

“Aku menjual kepada para orang kiri, dan juga orang kanan. Aku menjual kepada para pasifis, tetapi mereka bukan pelanggan rutinku,” ucap Yuri Orlov, tokoh utama dalam ‘Lord of War’ yang menjadi representasi Bout.

Dan seperti jamaknya pedagang, maka keuntungan, hanya keuntungan, adalah apa yang ada di pikiran orang-orang seperti Bout. Ia tak berurusan dengan warna kulit, agama atau aliran politik si klien. Masih kata Yuri Orlov, “Aku menguasai banyak bahasa. Tetapi aku tahu, yang artinya paling jelas adalah dolar, dinar, drachma, rubel, rupee dan pound-fucking-sterling.”

Nurani? Jangan harap Bout bakal tersentuh dengan pemandangan seorang bocah berusia 12 tahun menenteng AK-47 yang baku bunuh dengan anak lain yang berusia sama dari pihak musuh.

Bout boleh saja sudah berada di balik jeruji, tetapi orang-orang seperti dia akan tetap ada dan bahkan mungking bertambah. Selama masih ada orang-orang yang berperang, maka di sanalah Bout dkk akan bermain.

“Katakan apapun yang kau benci dariku. Bahwa aku penjelmaan iblis, bahwa aku bertanggungjawab atas terobeknya masyarakat dan ketenangan dunia. Bahwa aku pelaku genosida. Katakan apa yang ingin kau katakan tentangku sekarang,” demikian Yuri Orlov menceramahi agen Interpol yang menahannya.

Bond yang Tak Lagi Mengejutkan

November 9, 2008

Ketika menonton Casino Royale, saya takjub dengan interpretasi Daniel Craig tentang tokoh agen rahasia paling terkenal di dunia, James Bond.

Bond yang lekat dengan citra pria flamboyan –dan itu didukung dengan pemilihan aktor yang memang juga flamboyan seperti Sean Connery atau Pierce Brosnan– sukses diacak-acak oleh Craig. Lewat akting Craig, Bond jadi sosok agen rahasia yang dingin, nggak suka basa-basi dan nyebelin dalam bicara dan bertindak.

Namun kejutan hanya tercipta satu kali. Ketika formula yang sama diterapkan ke film Bond berikut, maka unsur excitementnya jauh menurun.

Quantum of Solace masih menghadirkan Bond yang beringas. Bahkan agen 007 ini hobi sekali membunuh lawannya, sebuah hal yang mendatangkan kegusaran dari atasannya di MI6, M (nggak ada yang lebih cocok memerankan M ketimbang Judi Dench).

Tapi nonton QOS sudah nggak setegang atau setakjub nonton Casino. Kekasaran Bond atau tidak adanya line ‘martini, shaken not stirred’ bukanlah hal baru; meski harus diakui akting Craig tetap meyakinkan.

Jalan cerita? Jangan ditanya. Semua film Bond itu ceritanya klise, standar soal good vs evil, Barat melawan kelompok teroris atau Blok Timur. Jalan ceritanya predictable dengan akhir yang juga klise.

Saya menyukai film-film Bond karena semata memang saya seneng sama genre film aksi. Terlalu banyak nonton film seperti A Beautiful Mind bisa membuat bosan. Sekali-sekali, nonton James Bond atau Hot Fuzz juga perlu (ah, perpaduan paling pas ya The Departed dan yang terbaik jelas Pulp Fiction).

Namun gara-gara Casino, saya memang berharap lebih kepada film Bond –dan Craig. Tapi saya hal itu nggak saya dapatkan di QOS karena seperti saya bilang, kejutan hanya terjadi satu kali.

Di luar hal itu, dua perempuan Bond, Olga Kurylenko dan Emma Arterton, jelas kalah cantik dan seksi dibanding Eva Green yang memerankan Vesper. Lebih-lebih lagi sutradara Marc Forster juga membatasi jumlah adegan percintaan yang dilakukan Bond. Hanya sekali 007 meniduri perempuan di QOS, itu pun dengan seorang perempuan yang perannya di film itu nggak penting.

Oya, buat yang mengharapkan ada kalimat tenar ‘my name is Bond, James Bond’, siap-siap kecewa karena line itu nggak bakal Anda temukan di film ini.

Pungkas dan McCandless

Juli 9, 2008

Tidak banyak orang yang mengenal Pungkas Tri Baruno. Itu sebelum hari Selasa, 8 Juli kemarin. Hari itu, Pungkas tewas saat mendaki gunung Gunung McKinley di Alaska, Amerika Serikat.

Usianya masih muda. Ia baru berumur dua dekade saat harus kehilangan nyawanya di punggung gunung bertinggi 6.194 meter di atas permukaan laut itu.

Saat membaca berita kematian Pungkas, ingatan saya melayang kepada Christopher Johnson McCandless yang kisah hidupnya saya saksikan lewat film Into the Wild.

McCandless juga seorang lelaki yang masih muda. Bila Pungkas meninggal di usia 20, maka McCandless tutup usia pada bilangan umur 24. Yang sama, keduanya mati di Alaska.

Namun cara, atau lebih mungkin penyebab kematian mereka, jauh-jauh berbeda.

Seperti dituturkan oleh Jon Krakauer dan Sean Penn dalam buku (1996) dan filmnya (1997), McCandless meregang nyawa akibat kenekatan dan kecerobohannya sendiri.

McCandless menjelajahi Alaska tanpa persiapan yang cukup. Ia hanya membekali dirinya dengan sebuah buku tentang tanam-tanaman, sebuah senapan berburu dan peta jalanan butut yang ia temukan di sebuah pompa bensin.

Tanpa peta topografi, kompas, serta peralatan keselamatan yang memadai, McCandless tak kuasa melawan dingin dan kejamnya alam Alaska. Ia meninggal setelah berada di daerah bernama Stampede Trail selama 189 hari.

Lain dengan Pungkas. Ia berangkat bukan tanpa rencana. Ia pendaki yang cukup berpengalaman dan petualangannya kali ini sudah dimulai semenjak awal tahun. Pungkas menapaki setiap inci punggung gunung tertinggi di Amerika Utara itu bersama tim ekspedisi Pramuka Indonesia.

(Bagaimanapun, ada juga yang mengatakan bahwa tim yang berangkat ke McKinley ini masih kurang pengalaman, sementara medan yang harus dihadapi begitu berat).

***

Meski nekat (dan konyol), kisah McCandless secara keseluruhan seperti dituturkan di film sangat menarik. Yang membuat saya terkesan adalah semangat McCandless yang berapi-api serta kerinduannya kepada kebebasan.

(Lulusan Emory University ini menyumbangkan nyaris seluruh uang miliknya dan kemudian menjadi petualang dengan nama Alexander Supertramp. McCandless yang muak dengan kemunafikan sosial masyarakat serta rumah tangga orang tuanya yang penuh dengan cekcok memilih jalan hidupnya sendiri.)

Saya tak tahu seperti apa Pungkas ketika hidup. Namun dari seorang pendaki gunung seperti dirinya, selalu ada semangat kebebasan yang hidup di dasar hatinya dan berpendar keluar. Mungkin juga ada passion yang meruap di sana (ia meninggal setelah menancapkan bendera Merah Putih di pucuk McKinley).

Yang jelas, dari McCandless dan Pungkas, saya belajar sesuatu.

Foto: Gambar Christopher McCandless sebelum meninggal. Gambar ini diambil oleh dirinya sendiri di depan bus tempat ia tinggal di Stampede Trail sebelum akhirnya ia tewas di sana (sumber: Wikipedia)

Benazir dan Kisah Negeri yang Koyak

Desember 28, 2007

Di sebuah siang yang ramai di Rawalpindi, sebuah tragedi terjadi. Seorang pemuda tanggung membawa senapan dan memuntahkan pelurunya ke dada dan leher Benazir Bhutto. Benazir pun terhuyung dan akhirnya tersungkur. Perempuan itu pun tewas. Ia baru 54 tahun.

Toh serangan tidak berhenti di situ. Sang pelaku memicu bahan peledak yang ditempelkan di sekujur tubuhnya. Setidaknya, 23 nyawa melayang sia-sia di hari laknat di sebuah kota yang hanya berjarak seperlemparan batu dari Islamabad itu.

Situasi menjadi kaos. Pakistan terguncang. Rakyat yang marah turun ke jalan-jalan di banyak kota. Kerusuhan pun merebak di sudut-sudut negeri.

***

Pakistan adalah sebuah negeri yang koyak. Mereka adalah bangsa yang percaya. Mereka meyakini demokrasi. Namun Pakistan kadang dan kerap mengkhianati dan dikhianati oleh demokrasi. Negeri itu terkoyak oleh ulah anak-anaknya sendiri. Mereka terbelah oleh ideologi, partai dan sekte.

Seperti juga saudara tuanya, India, Pakistan adalah bangsa yang riuh dan ricuh. Politik dan kekerasan bergandengan tangan akrab. Sangat erat. Dua hal itu terus saja menjadi mimpi buruk di saat 161 juta warga negeri itu tertidur lelap di malam hari.

Di sana, kita tak akan pernah tahu siapa teman dan siapa lawan. Seperti jamak dikatakan para bijak bestari itu, tak ada teman abadi dan musuh abadi. Yang ada hanyalah kepentingan abadi. Ya, itulah politik. Dan itu pula yang berlangsung di Pakistan. Bahkan jauh sebelum negeri seluas 880 ribu kilometer persegi itu memisahkan diri dari India lebih dari enam dasawarsa lalu.

Berpuluh-puluh atau bahkan mungkin beratus-ratus partai politik ada di Pakistan. Mereka membawa ide mereka masing-masing. Belum lagi ditambah dengan keberadaan tentara. Konflik kerap kali tak bisa dihindari. Semuanya hanya demi konsep absurd bernama kekuasaan.

Di Pakistan juga, entah ada berapa ratus ribu politisi, jendral, warlord dan para kepala suku yang masing-masing memiliki kekuatan dan pengaruh sendiri-sendiri. Tak terbayangkan betapa peliknya mengatur negeri yang dunia politiknya riuh rendah seperti itu.

***

Benazir lahir dalam sebuah dinasti politik. Sebuah tradisi yang lazim di Pakistan, demikian juga di negeri tetangga sekaligus musuh dan saudara kandungnya, India. Ayahnya, Zulfikar Ali Bhutto, juga seorang politisi. Saat menjabat sebagai Perdana Menteri, nasib sang ayah di kemudian hari berakhir tragis. Hidupnya diakhiri di tiang gantungan.

Mulai melihat dunia di sebuah negeri yang mayoritas Muslim, Benazir kecil justru lebih banyak mengenyam pendidikan Katolik. Menginjak dewasa, Benazir pun lebih banyak bersentuhan dengan pendidikan Barat. Sesuatu yang di kemudian hari membuat para penentangnya menganggap ia adalah seseorang yang “lain”. Benazir yang menjadi bagian dari “mereka” dan bukan “kita”.

Benazir diterima di Harvard University, salah satu perguruan tinggi paling prestisius. Tak hanya di Amerika Serikat, namun juga di seluruh dunia. Benazir bukanlah murid yang biasa-biasa saja. Perempuan muda itu masuk komunitas Phi Beta Kappa yang terhormat. Benazir muda juga mendapat nilai cum laude saat meraih gelar sarjananya di bidang politik.

Tak hanya itu, saat melanjutkan studi di Oxford, Inggris, kecemerlangan tidak menjadi hilang dari diri Benazir. Ia juga terpilih sebagai Presiden Oxford Union. Ialah perempuan pertama dari Asia yang pernah mengetuai klub debat nan bergengsi itu.

Berangkat dari sebuah dinasti politik, maka mau tak mau Benazir kemudian menyeburkan dirinya di dunia yang pernah digeluti ayahnya dulu itu.

Karir Benazir berlangsung dengan jatuh bangun. Terpilih sebagai Perdana Menteri hanya untuk kemudian disingkirkan lawan politiknya. Kembali berkuasa dan lalu tergusur kembali. Ia bahkan terusir dari tanah airnya sendiri. Semua orang tahu, seluruhnya hanyalah soal politik. Tidak lebih dan tidak kurang.

Di penghujung 2007, Benazir yang delapan tahun diasingkan di Dubai dan London, akhirnya pulang. Kembali ke negeri asalnya, tak lantas berarti ia mendapat sambutan karangan bunga. Seperti biasa, persetujuan dan pertentangan mewarnai kepulangan Benazir.

18 Oktober, hanya beberapa jam setelah ia mendarat di Islambad, nyawa Benazir langsung terancam. Sebuah bom menyalak. Bom itu meledak dan menewaskan 139 orang. Benazir beruntung, ia selamat dari serangan itu.

Namun keberuntungan tidak sedang bersama Benazir di siang 27 Desember itu. Ia mungkin tidak pernah tahu bahwa hidupnya akan berakhir di Rawalpindi, hanya beberapa kilometer dari tempat Ali Bhutto dahulu digantung hingga ajal. Benazir diserang. Ia lalu terkulai. Ia usai.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.