Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘IT’

Perbandingan Tarif Per Detik Simpati Pe-De vs XL Bebas

Desember 16, 2007

Rupanya, perang antar operator telekomunikasi selular di negeri ini masih terus berlanjut. Setelah XL yang meluncurkan tarif super murah Rp 1/detik melalui XL Bebas-nya, kini Telkomsel ikut terjun ke arena perang tarif itu dengan memperkenalkan tarif Simpati Rp 0.5/detik.

Jelas sekali, apa yang diperbuat oleh Telkomsel itu adalah upaya untuk menjawab tarif yang dimiliki XL. Meski begitu, operator terbesar di Indonesia itu membantah bahwa tarif Rp 0,5/detik ini adalah jawaban atas vonis KPPU yang mengharuskannya menurunkan tarif 15% menyusul terbuktinya kasus monopoli yang dilakukan Temasek (perusahaan BUMN Singapura yang ikut memiliki Telkomsel –dan juga Indosat).

Tidak semua pelanggan Simpati bisa menikmati fitur itu. Hanya mereka yang memakai Simpati Pe-De lah yang bisa. Pemakai Simpati reguler harus mengubah sistem penarifannya menjadi per detik dengan mengakses *880#.

Saya sendiri belum mencoba berpindah ke sistem tarif per detik. Soalnya, dengan memakai tarif per detik, maka kita tidak bisa lagi menikmati bonus bicara dan bonus SMS. Bonus bicara+SMS yang ada pun jadi tidak bisa dipakai (kecuali kita berpindah lagi ke sistem tarif per menit). Selain itu, setiap kita pindah sistem tarif, maka pulsa kita akan dipotong Rp 3.000.

Sebelumnya, saya sudah memakai XL bebas. Saya pun kemudian mencoba menghitung-hitung tarif kedua operator ini. Oya, sebagai informasi, untuk XL Bebas, tarif Rp 1/detik ke sesama XL berlaku setelah detik ke-121 dan seterusnya. Untuk detik ke 1-120, dikenai tarif Rp 10/detik. Sedangkan untuk Simpati Pe-De, tarif Rp 0,5/detik ke sesama Telkomsel berlaku setelah detik ke-61. Di detik pertama hingga 60, pelanggan harus membayar Rp 25/detik.

Oke, mari berhitung. Siapa yang lebih murah dari siapa. Tapi untuk diketahui, khusus untuk tarif XL Bebas, saya memakai tarif yang diterapkan di region Jawa Tengah-DIY. Setahu saya, sistem perhitungan di region DKI Jakarta sedikit berbeda.

Menit ke

Tarif Telkomsel

Tarif XL

0-1

1500

600

2

1530

1200

3

1560

1260

4

1590

1320

5

1620

1380

6

1650

1440

7

1680

1500

8

1710

1560

9

1740

1620

10

1770

1680

11

1800

1740

12

1830

1800

13

1860

1860

14

1890

1920

Nah, dari tabel di atas, terlihat bahwa tarif Simpati akan terasa lebih murah jika Anda melakukan pembicaraan telepon dengan durasi 14 menit atau lebih. Sementara, Anda yang banyak melakukan pembicaraan dengan lama kurang dari 14 menit, maka tarif XL Bebas akan terasa lebih murah.

Apakah Anda akan memilih memakai Simpati atau memakai XL, semuanya terserah kepada Anda. Silakan memilih tarif mana yang menurut Anda paling murah. Perang antar operator telekomunikasi sudah seharusnya membuat konsumen diuntungkan.

Disclaimer: Saya tidak bekerja untuk salah satu operator ataupun operator seluler lainnya dan juga afiliasinya. Posting ini murni pendapat pribadi dan tidak ditujukan untuk mempromosikan operator mana pun. Semua pemakaian jasa operator seluler adalah sepenuhnya tanggungjawab pembaca.

Perang Telco

September 7, 2007

 

bts.jpg

Selesai KKN yang melelahkan selama dua setengah bulan, akhirnya saya bisa sedikit memanjakan pikiran dan badan. Ngapain? Ngopi, tentu saja.

Maka, saya dan seorang kawan pun melewatkan sore itu ke sebuah kafe di Amplaz. Bukan, bukan Starbucks yang baru buka itu :D. Menunggu matahari tergelincir di peraduannya, ngobrol memang cara yang sangat menyenangkan.

Selesai ngopi, kami melewati selasar Amplaz. Ada keramaian yang mencolok. Ada promosi sebuah operator yang baru masuk ke Jogja dan Jawa Tengah. Ramai sekali.

Rupanya, sang operator baru itu memang benar-benar kencang dalam upaya branding produknya. Promosi besar-besaran. Both above the line and under the line. Di selasar mall yang luas itu, calon pelanggan diberi keleluasaan untuk memilih nomor yang dia inginkan. Tentu saja selama belum dibeli konsumen lain (yang mungkin juga spekulan nomor cantik).

Dalam perspektif lebih luas, rupanya perang antar operator telekomunikasi seluler makin menggila. Berebut menawarkan tarif voice dan SMS yang murah. Berebut memberikan banjir bonus, fitur-fitur ekstra, bahkan undian berhadiah.

Lihat saja, dalam beberapa bulan terakhir, ada sejumlah operator baru (berbasis GSM maupun CDMA) yang meluncurkan produknya. Lihat yang ini, dan yang ini. Pasar yang relatif masih berkembang memang membuat ngiler para pengusaha untuk terjun meraup Rupiah.

Apa untungnya untuk kita para konsumen?

Tentu saja perang telco seperti saya gambarkan di atas akan membawa keuntungan bagi konsumen. Kompetisi super-ketat seperti ini membuat konsumen bisa memilih operator yang paling sesuai dengan kebutuhannya. Sejauh ini memang tidak ada ultimate product yang katakanlah: tarif SMS-nya murah, billing dihitung per detik, internet GPRS murah, 3G murah, jangkauan luas dan sinyal kuat, voucher murah, dan lain-lainnya. Sejauh ini, as far as I know, belum ada produk super seperti itu.

Kompetisi yang ketat juga membuat para pelaku bisnis lama seperti yang ini dan ini berpikir ulang mengenai tarif yang mereka kenakan. Saya sebagai pengguna operator yang ini merasa bahwa struktur tarif yang ada benar-benar memberatkan. Saya bertahan karena nomor saya masih 12 digit (beli starter-packnya pun mahal :p) dan sudah relatif dikenal para relasi.

Sebagai contoh, soal struktur tarif SMS. Menurut supervisor saya, seorang jurnalis teknologi informasi yang sudah cukup senior, production cost dari sebiji SMS adalah sekitar Rp 16. Sementara tarif yang dikenakan kepada saya mencapai Rp 350 per teks terkirim. Bayangkan betapa untungnya operator-operator itu?

Belum lagi bicara soal tarif voice yang berbasis waktu per 30 detik. Melihat operator yang mengenakan tarif voice per detik, bahkan sampai ada yang Rp 1 per detik, maka saya berharap besar, operator sang pemimping pasar yang sombong ini bisa menurunkan tarifnya.

Jadi tentu saja, sebagai konsumen telekomunikasi, saya menyambut baik perang telco kali ini. Semoga saja konsumen menjadi pemenangnya.

Gambar diambil dari sini

Mengukur Benwit

Agustus 19, 2007

Kantor saya memasang provider internet baru. Niatnya buat backup layanan provider yang ini. Mengingat kerjaan kami makin banyak, tapi bandwidth yang ada sungguh mepet. Apalagi harus di-share sama kantor yang di Jakarta.

Si Spidi ini tenar karena banyak sekali keluhan yang mengarah padanya. Wah pokoknya nggak akan selesai saya jelasin di sini. Tapi tak ada ruginya mencoba. Toh saya nggak keluar duit sepeserpunBeberapa hari awal pemakaian si Spidi ini, jalanan cukup lancar. Bahkan saya pamer kepada seorang fakir benwit, bahwa kantor kini lagi banjir benwit. Hahahaha.

Mengunduh ini-itu, membuka yang sebenarnya tidak boleh dibuka, dan beberapa hal lainnya yang muskil dilakukan dengan alokasi benwit yang lama.

Cari-cari info soal pengukuran benwit, saya menemukan link ini. Akhirnya saya ukur benwit layanan Spidi ini. Pengukuran dilakukan pada hari Senin, 20 Agustus 2007, Pukul 00.45 WIB.

Hasilnya, ini dia….



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.