Kenangan Kereta Api

Sejak kecil, saya terpesona dengan kereta api.

Ular beroda besi yang dengan setia menyusuri rel-rel panjang dengan tak kenal lelah. Kerap kali saya bertanya, apakah rel-rel itu merasa kesepian? Menyusuri banyak tempat. Hutan, gunung, terowongan. Apakah sepasang rel itu pernah berbicara satu sama lain? Ah, entahlah.


Saya ingat, saat kecil saya beberapa kali pergi ke kota Malang naik kereta api. Sebenarnya, tidak benar-benar naik kereta api ke Malang. Saya dan keluarga naik kereta api ekonomi bernama Purbaya. Berangkat kira-kira jam enam pagi dari Stasiun Purwokerto. Kami akan turun di Stasiun Kertosono, timur kota Ngawi. Di Stasiun Kertosono inilah, rel jalur selatan akan bercabang. Ke kiri ke arah Surabaya, dan ke kanan ke arah Blitar, lalu Malang.

Tapi tidak, kami tidak meneruskan perjalanan ke Malang memakai kereta. Kami mencapai Malang memakai bus.😀

Kereta Purbaya sungguh jelek. Cat biru berpadu merah yang kusam dan atap yang menghitam. Kaca jendelanya pun pecah di sana sini. Melangkah ke dalam, ada bangku dengan busa yang tipis. Tanpa sandaran kepala. Hanya papan yang jadi bagian dari kursi dengan tinggi melebihi kepala.

Kamar mandinya pesing. Lantainya jauh dari kata bersih. Ditambah lagi, sepanjang perjalanan bakal banyak pengamen dan pedagang asongan. Jalannya lambat, seringkali dipaksa menunggu kereta dengan kelas lebih tinggi jika berlintasan. Gurauan kami dulu, di mana ada stasiun, di situ Purbaya akan berhenti dan menunggu kereta dari arah berlawanan melintas dahulu.

Beranjak dewasa, saya masih dan makin mencintai kereta api.

Saat sekolah menengah pertama dan menengah atas, saya beberapa kali pergi ke Yogyakarta. Berangkat pagi-pagi. Tak lagi menumpang Purbaya yang sudah almarhum. Kini ada reinkarnasinya, bernama KA Logawa. Tiket Purwokerto-Yogya dulu tiga ribu Rupiah (sekarang tarifnya dua puluh ribu Rupiah). Pulang dari Yogya sore hari, menumpang kereta yang sama, Logawa (tapi berbeda rangkaian, karena kereta ini berangkat dari Jember).

Suara lokomotif dan peluit petugas stasiun yang khas tak jarang terngiang di telinga. Kadang, saya melewatkan beberapa jam nongkrong di Stasiun. Ngapain? Tidak ngapa-ngapain. Hanya duduk, memandang rangkaian gerbong-gerbong yang datang dan pergi. Mengagumi keperkasaan lokomotif tua seri CC, dan juga menatap lekat-lekat lokomotif baru seri DD.

Menyaksikan para penumpang yang naik dan turun. Ada penumpang yang bersih parlente turun dari kereta kelas Argo. Ada pula bapak-bapak tua yang kumal turun dari kereta ekonomi yang buluk. Pun, ada mbok-mbok pedagang pecel lontong menjajakan jualannya. Waktu pun serasa terhenti di atas rel-rel perkasa itu.

Di dekat kantor saya, ada pintu perlintasan kereta api yang setiap hari saya lewati saat berangkat dan pulang kerja. Mungkin Anda akan merasa sebal kalau harus menunggu kereta lewat. Tapi saya justru senang bukan kepalang bila harus menunggu.

Matikan mesin motor, lalu bersandar di setang motor. Menatap si ular besi melintas. Ada kereta yang lewat dengan cepat, ada juga yang pelan. Menjejakkan roda-roda besi ke rel-rel baja. Menyenangkan sekali. Lokomotif, gerbong-gerbong renta, bau khas itu. Ah, romantisme saya pun melayang kembali ke masa lalu…

26 thoughts on “Kenangan Kereta Api

  1. matilah kau di jakarta…dimana 5 meter sekali ada perlintasan KRL, dengan kemacetannya yang menggila…nikmati kesenanganmu menunggu, ditemani timbal dan bisingnya suara klakson yang tak mengenal tata krama
    …jiakakaka

  2. Hahaha…aku pertama nyicipin naik KA sekitar tahun 2002 … hehehe telat banget
    Waktu itu iseng dari Yogya mau mudik ke Banjarnegara pakai KA (ke Purwokerto dulu)…waktu itu bayar Rp. 12.500 (tiket Lempuyangan-Jakarta)
    Tetapi mulai tahun 2005 jadi sering banget naik KA dan puncaknya awal tahun 2006, sekitar 2 minggu sekali naik KA Argolawu…kadang senja utama.

  3. suka kereta api itu tanda2 ADHD tuh…hehehe..mas Arya ga percaya lihat org2 pinter suka ngamatin yg aneh2 tapi mas kemarin di jkt baru dicritain ada yg ketabrak kereta api serem deh

  4. dah pernah coba naek kereta api bengawan wonogiri? satu dari sedikit kereta api yg masih merayap di jalanan kota (Solo). Cuma 2000 rupiah, lebih murah drpd naek bus. Masih pake loko BB 30023 lagi.

  5. ” Lokomotif, gerbong-gerbong renta, bau khas itu. Ah, romantisme saya pun melayang kembali ke masa lalu…

    Fiuh fiuh… apa tuh maksudnya… ada romantisme apa ya di masa lalu di kereta api?
    ^_^

    ketahuan deh ketahuan…(apa sih anak ini??!!)

    btw, this is my first time to drop my words here…
    Nice… nice…
    ^^;

  6. “Lokomotif, gerbong-gerbong renta, bau khas itu. Ah, romantisme saya pun melayang kembali ke masa lalu…

    Fiuh fiuh… ada Romantisme apa ya di masa lalu itu? Hooh… iya iya… tahu deh… ^_^

    Hmm… jadi ketahuan nih…(apa sih ini anak??!!)

    by : jejakpena

    btw, this is my first time to drop my word here, yah… ^^;
    Nice… nice…

  7. kulayangkan pandangku melalui kaca jendela
    dari tempat kubersandar seiring lantun kereta
    membawaku melintasi tempat-tempat yang indah

    ah.. aku rindu naik kereta ke tempat2 jauh diujung sana ^^

  8. “kamar mandinya pesing”
    Cuma itu yang kau ingat?? aku curiga loh Ya….

    Saya tak pernah mudik. Kereta membuat saya trauma. Setahun lalu, saya buta stasiun dan memutuskan tuk naik argolawu ato entah apa namanya yg hargany selangit…dgn harapan turun tepat d Tugu saat jam 4 pagi. Tak taunya, sy diturunkan di Solo…habislah saya…saya trauma sekali…

  9. terakhir naik kereta pas pulang ke solo naek prameks..😀

    aku kadang kangen jg naik prameks kalo pas pulang, kangen sama penumpang cewek-cewek modisnya..

  10. pertama kali naik kereta api senja utama ke jakarta. nyaman banget rasanya secara belum pernah.

    namun nasi gorengnya amatlah mahal waktu itu. memang sih aku sudah menduga akan lebih mahal, namun tak setinggi realnya.

    jadilah di jakarta kehabisan sangu.🙂

  11. Saya juga suka kereta api…
    Jenis apapun, bahkan hanya KRL..tapi justru KRL bnyk menyimpan kenangan selama 3 thn menjamblangi Jakarta-Depok ^_^

    S 03 CI

  12. Kangen naik kereta api. Sudah lama tidak mencicipi asyiknya berkereta.
    Dulu malah sempat merasakan naik “sepur klutuk” jurusan Jember-Banyuwangi.
    Sejak di kalimantan, tidak pernah lagi melihat kereta api.
    Makanya kalo mudik ke Jawa, lihat KA seperti lihat putri nan jelita🙂

  13. dulu pas kecil juga sering naik kereta bareng2 sekeluarga… oooh senangnya🙂
    terakhir kali naek prameks yang sekarang tambah oke aja… walaupun harus berdiri nyaris dua jam tapi tetep menikmati😀

  14. Aku selalu menikmati perjalanan setiap naik kereta api. Sebagai anak dari pasangan Sleman – Ciamis, sejak kecil sudah terbiasa suk-sukan di kereta ekonomi jurusan Jogja – Bandung. Zaman SMA bisa menikmati kelas bisnis pas piknik SMA. Zaman kuliah selalu naik bus non AC untuk pulang dari Tangerang ke Sleman. Zaman sudah punya anak, naiknya Taksaka supaya istri dan anak merasa nyaman. Kalau bus ya yang pake AC.

    Sensasi naik kereta tidak tergantikan oleh moda angkutan darat yang lain. Suara jeglag-jegleg rel beradu dengan roda kereta dan goyangan gerbong ke kiri dan kanan sungguh mempesona.

    Sayangnya, gelaran rel saat ini lebih pendek daripada dulu saat zaman Belanda.

  15. aku juga suka KA, tapi biasanya yg excecutive hehehe.. pelanggan argo anggrek dan argo muria.

    kalo KA yg bisnis suka gak tahan bau asap rokoknya…😦

    tapi kalo liat KA yg lewat sih suka juga.. ada rasa gimanaaa gt🙂

  16. emang bnr….klo yg namanya KA ngk ada duanya………..tuh
    terutama loko uap kendaraan besi yg paling antik…
    coba di Indonesia loko2 uap bisa berjalan kembali
    kan buat pariwisata lumayan tuh…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s