Aku Selingkuh

Beberapa hari belakangan ini, hal-hal seputar kopi mengelilingi saya.

Ada seorang kolumnis yang sangat mencintai kopi dan mempersembahkan sebuah tulisan yang indah kepada seorang peracik kopi. Seorang barista. Ketika saya tanya siapa sang barista, ia cuma berucap pendek: “ada deh…”, dengan penuh misteri.

Lalu, ada juga sahabat lama yang gemar sekali ngopi. Dia mengaku paling senang berkunjung ke rumah saya hanya buat nyeruput kopi. Bujangan yang satu ini sekarang sedang gemar membaca Filosofi Kopi (sebuah buku yang pencapaian literer dan estetiknya biasa saja, saya pikir). Saya yakin betul, gara-gara membaca buku karangan penulis perempuan satu itu, dia jadi kerap memasang avatar gambar secangkir kopi hitam di perpesanan Yahoo!-nya.

Sebenarnya, saya suka kopi dari kecil. Mencicipi pahit-manis minuman yang konon berasal dari sebuah negara di Afrika timur bernama Ethiopia ini, saya awali pada usia 11 atau 12. Kelas 6 SD, kira-kira.

Dulu saya hanya tahu kopi hitam alias kopi tubruk. Terbikin dari kopi yang disangrai sendiri oleh ibu saya. Kental. Dengan gula pasir ataupun gula kelapa, kopi bikinan tangan ibu saya ini sama enaknya.

Seperti ditulis Dee, kopi tubruk itu lugu dan sederhana. Tidak peduli penampilan serta kasar, tapi memiliki aroma tajam yang sangat nikmat.

Tapi semenjak kedatangan majalah gratisan ini, mulailah saya selingkuh dengan kopi jenis lain. Orang menyebutnya, espresso-based. Kopi yang coklat alih-alih hitam.

Latte, cappuccino, cappuccino Viennese-style, macchiato. Hanya sekedar menyebut nama-nama. Beberapa sudah saya cicipi. Kopi yang tidak lagi kasar dan sederhana. Lebih stylish, tampil lebih anggun. Kemasan menarik, dipadu dengan rasa yang tetap nikmat. Perpaduan yang sempurna, bukan?

Rupanya, perselingkuhan itu makin dalam. Saya terjebak dan tidak bisa lepas. Saya makin terobsesi dengan kopi espresso-based. Saya mencicip di sini dan di sana. Mencoba-coba jenis-jenis baru, membandingkan rasa dari satu coffeeshop dengan coffeeshop lainnya.

Di depan meja kerja, keterobsesian itu tak pudar. Saya mulai untuk menjelajahi jejaring web untuk mencari tahu bagaimana caranya meracik kopi selingkuh ini. Kemudian upaya untuk mencari tahu informasi tentang mesin espresso. Lalu membayangkan mampu membeli sebiji suatu saat kelak. Untuk dipakai di rumah. Agar kopi-kopi nikmat itu bisa menemani saya setiap hari. Entah kapan bisa terwujud, mengingat harga mesin-mesin itu yang masih cukup mahal.

Hingga kini, kerinduan akan kopi itu belum hilang. Sebuah Sabtu yang panjang sudah saya lewati tadi siang. Tapi sayang, tak ada secangkir kopi menemani saya malam ini…

——————————
PS, untuk seorang kawan:
Jadi, kapan kita ngopi? Segelas kopi panas akan menemani kita bicara panjang. Soal hidup, keragu-raguan dan perkara kegelisahan-kegelisahanmu itu. Masih menyitir Dee, di dalam kopi selalu terselip rasa pahit, sedikit ataupun banyak. Tak apalah. Bukankah hidup memang selalu seperti itu, kawan?

*Gambar dicolong dari sini

17 thoughts on “Aku Selingkuh

  1. saya tidak anti kopi tapi saya juga tidak terlalu suka dengan kopi
    pilihan tetap jatuh pada air putih
    tapi kalo misalnya, ini misalnya lho ya, njenengan tiba2 ngajak untuk ngopi, ya saya mau2 saja, tapi yang dekat2 sama kampus saja, selembar 75 rupiah dan masih ada bonus lihat mahasiswi yang juga lagi ngopi😀

  2. we e e e..

    kopi itu dari Indonesia.. Espresso dans sebagainya itu hanyalah kelicikan orang eropa saja..

    cuma memang, orang indo ini kurang piinter meracik kopi, jadinya malah sekarang orang berburu kopi “ngeropah” padahal sebenernya itu ngambil kopinya dari indo..

    wis, gak perku kebanyakan cing-cong..

    KAPAN DIRIMU NRAKTIR SAYA NGOPI??

    gyahahahaha..

    *njaluk ditraktir we kakean crewet* :p

  3. Slurrrrpppp… kopi memang nikmat tetapi pasca njeglek sebulan lalu, aku baru meminum secangkir saja. Belum berani banyak-banyak.

  4. wah… kirain apaan… ternyata kopi😀
    palling enak itu kopi tubruk yg kenthel trus gulanya dikit aja… cemilannya singkong rebus ato pisang rebus…
    wah manteb tenan… apalgi dibayarin :p

  5. Mengapa (saudara sekalian) menikmati kopi?
    Saya jelas tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut karena saya bukan salah satu penikmat kopi. Namun orang-orang pecinta kopi, apalagi Mas Arya, paling tidak bisa memberikan alasan mengapa mereka tidak dapat hidup satu hari tanpa kopi, sangat terasa sekali terutama bagi orang bekerja.
    Berburu kopi terenak? Seperti suatu petualangan mencari kepuasan sempurna. Seorang teman saya, orang Jawa namun juga berdarah Aceh, sangat suka sekali mencoba-coba segala kopi nusantara. Kopi favorit adalah kopi Aceh, namun tidak akan menolak jika diberi kopi Makasar maupun kopi Lampung.
    Kalau Mas Arya sangat dekat dengan kopi tubruk, namun merasa telah melakukan selingkuh karena mencoba menyenangi kopi lain, … ah selingkuh juga bagian dari petualangan.

  6. Kalau mas Arya dan juga beberapa temannya adalah ‘pecandu kopi’, saya justru bukan penikmat atau pecandu kopi. Namun walau tidak sampai kecanduan, saya juga menikmati minuman lain, yang juga berkadar kafein walau rendah, yaitu ‘coke’ (susah sekali mencari padanan katanya dalam bahasa Indonesia). ‘Coke’ adalah salah satu minuman bersoda, yang memberikan efek lemas. Namun setelah saya minum ‘coke’, justru timbul tambahan semangat dalam diri saya, bisa jadi karena saya sudah tersugesti iklan produk ini. Kadang saya mencoba ‘selingkuh’ (aneh juga, padahal saya dan ‘coke’ tidak ada suatu perjanjian apapun, tidak tahu dengan Mas Arya, apakah dia sudah mengikat janji dengan kopi tubruk di bawah pohon semangka) dengan limun. Namun tetap saja sensasi rasa dan sugesti yang timbul tidak sehebat ‘coke’.

    Kalau Mas Arya merasa telah berselingkuh, saya malah berpoligami. ‘Pasangan’ saya yang lain adalah teh hangat menjurus panas. Untuk yang satu ini, efek yang diberikan lebih hebat, yaitu perasaan tenang. Dalam logika saya, efek tenang terjadi bukan karena suatu zat yang terkandung dalam pribadi teh itu sendiri, namun karena meminum teh hangat menjurus panas memang harus tenang. Kalau tidak tenang, bisa-bisa bibir menjadi nyonyor dan megap-megap. Meminum teh panas secara perlahan-lahan menjadikan diri lebih tenang, rileks. Bagi saya teh hangat menjurus panas adalah minuman yang cocok di saat-saat istirahat.

    Pasangan saya yang lain lagi dan bagi saya istimewa adalah es krim. Selalu ada perasaan gembira luar biasa ketika saya memakan es krim. Kegembiraan yang tidak bisa terlukiskan dengan kata-kata. Es krim memang istimewa, sudah selayaknya dimasukan dalam penemuan terhebat di bumi, sejajar dengan televisi dan pesawat terbang.

    Semua ‘pasangan’ saya memang manis, tidak ada yang pahit seperti kopi. Memang demikian adanya. Buat apa kita berpahit-pahit ria, toh kehidupan ini sudah lebih banyak pahitnya daripada kulit pohon kina sekalipun. Jangan berpikir ini adalah pelarian. ‘Pasangan-pasangan’ saya adalah anugerah yang membuat hidup ini menjadi lebih berwarna dan indah. Seperti sebuah kata-kata mutiara yang pernah saya dengar, ‘Hidup ini adalah pilihan, dan saya memilih untuk berbahagia.’

    Nb:
    Mau yang mana, kopi tubruk atau nubruk kopi.
    Enak yang mana, susu tubruk atau nubruk susu.

    Pilih mana, yang bubuk atau yang cair.
    Yang kental manis, atau yang kental-kentul.

    —–
    kiye kritike:
    terlalu singat, sehingga pembaca tidak bisa ikut merasakan perselingkuhanmu.

  7. wahh cocok dadi orang media… tulisanmu apik.. puitis tp gampang dicerna.. penggambaran seperti ngajak yg baca meresakan sendiri.. kl tentang kopi,aku bukan fans kopi… bukan karena ga suka tapi lebih karena kantong kosong..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s