Asian Cup Retrospective (1): Mereka Yang Tak Ber-Tanah Air

Bayangkan Anda adalah manusia yang tak memiliki tanah air. Mungkin, Anda tak mengenal kata “pulang”. Buat Anda, rumah adalah sesuatu yang jauh. Mengawang. Sekedar imajinasi kosong. Mengelana, mengembara. Lantas perlahan lupa kepada awal dari diri kita. Bila Anda ingin tahu contoh manusia-manusia yang tak ber-tanah air, lihatlah tim sepakbola Irak. Sungguh nelangsa.

Irak dengan gilang gemilang merebut Piala Asia 2007. Inilah kali pertama mereka merebut titel sepakbola paling bergengsi di Asia. Dalam partai final di Jakarta, Irak mengalahkan tetangganya, Arab Saudi 1-0.

Sebuah sundulan dari in-and-out leader mereka, kapten Younes Mahmoud Khalef, membungkam pasukan Rajawali Hijau Arab Saudi.

Keharuan tertangkap dari raut muka para pemain Irak. Mereka tentu saja teringat keadaan di kampung halaman mereka. Negeri yang tercabik-cabik perang. Bom bunuh diri, pembunuhan, dan penculikan terjadi di mana-mana. “Di Baghdad, Anda takkan tahu siapa yang akan membunuh Anda hari ini”, ucap seorang pemain.

Irak, mereka yang terfragmentasi, ternyata bisa memberi obat luka yang manis. Saya yakin, di dalam tim Irak, ada yang Sunni, ada yang Syiah, ada yang Kurdi, dan bahkan mungkin ada yang Kristen. Tapi mereka bersatu. Mereka maju dengan gagah berani. Dipimpin pria setengah baya, Jorvan Vieira yang Katolik.

Mereka tumbangkan satu dari banyak penjajah mereka, Australia. Mereka kalahkan lawan-lawan yang memiliki organisasi sepakbola lebih teratur. Mereka membungkam negeri-negeri makmur yang bergelimang dinar. Mereka pukul telak negara dengan pendapatan per-kapita jauh di atas mereka.

Irak memberi contoh nyaris sempurna tentang apa itu arti persatuan.

Tapi pedih. Para pahlawan rakyat itu tak bisa berpesta di negeri sendiri. Karena pertimbangan keamanan, Irak menggelar perayaan di Dubai, Uni Emirat Arab dan bukan di Baghdad, Basra, atau kota mana pun di Irak. Di antara gembira, ada kepedihan. Di tengah pesta, ada duka merayap di hati mereka.

Mereka tak bisa bersuka ria di depan para kerabat yang menunggu. Tak ada tukar peluk cium dengan rakyat yang sudah mendukung dan mendoakan mereka. Sedih? Pasti. Mereka adalah: yang tak ber-tanah air.

Foto: Ed Wray/AP

3 thoughts on “Asian Cup Retrospective (1): Mereka Yang Tak Ber-Tanah Air

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s