Mengakui Hidup itu Kadang Tidak Adil

Beberapa waktu lalu, saya nonton sebuah film yang judulnya The Interpreter (2005). Saya tidak akan berkisah panjang lebar tentang isi film ini. Tapi ada kutipan menarik dari salah satu adegan.

Tokoh utama film itu, Silvia Broome (Nicole Kidman), seorang warga negara fiksi bernama Matobo, bertutur kepada agen rahasia AS Tobin Keller (Sean Penn) tentang sebuah hidup yang kadang terasa tidak adil.

“Di suku Ku di Matobo, ada pengadilan penenggelaman orang. Di sana, jika ada seseorang yang terbunuh, satu tahun masa berkabung akan diakhir dengan pengadilan itu,”

“Orang-orang akan menggelar pesta sepanjang malam di tepi sungai. Saat fajar, pelaku pembunuhan akan diikat ke dalam sebuah perahu, dan kemudian perahu itu akan ditenggelamkan. Orang itu takkan bisa berenang,”

“Keluarga korban memiliki dua pilihan: membiarkan orang itu mati karam atau menyelamatkan nyawanya,”

“Suku Ku percaya, jika keluarga itu membiarkan si pembunuh mati tenggalam, mereka akan mendapatkan keadilan. Tetapi mereka akan menghabiskan seluruh hidup mereka dalam kesedihan,”

“Tapi jika mereka menyelamatkan pembunuh itu, mereka mengakui bahwa hidup itu tidaklah selalu adil. Namun tindakan itu akan menerbangkan kelaraan.”

(Diterjemahkan secara ngawur oleh saya sendiri)

Nah sekarang, maukah Anda mengakui bahwa hidup ini memang kadang tidak adil?

30 thoughts on “Mengakui Hidup itu Kadang Tidak Adil

  1. Hidup itu adil. bahagia atau menderita adalah episode hidup yang harus di lalui.
    kita bisa mengubah jalan cerita dengan berusaha. Dan kualitas manusia diukur dari kemampuan dia mengubah jalan hidupnya menjadi lebih baik.

  2. Semua yang terjadi dalam hidup kita bukan karena kebatulan. ada campur tangan Tuhan tentunya. Dan Dia tak mungkin memberikan sesuatu tanpa pertimbangan *edisi sok bijak

  3. (Diterjemahkan secara ngawur oleh saya sendiri)

    Kapan antum tidak ngawur?😀

    BTW patokan adil itu seperti apa to?
    Sepertinya patokan adil masih bersifat relatif juga … kecuali dalam matematika😀

  4. menurutku, yang ga adil itu dunia. soalnya di akherat sanah kan kita juga “hidup”, dan di akherat sanah insya4JJ1 adil..(setuju sama Mba Chika bandung jakarta)

  5. “Namun tindakan itu akan menerbangkan kelaraan”
    wkwkwk… kaya lirik lagu dangdut .. .

    hidup di Film itu emang tidak adil…apalagi film laga. karena penjahatnya selalu kalah

  6. Everyone who loses somebody wants revenge, on God if they can’t find anyone else. But in Africa, in Matobo, the Ku believe that the only way to end grief is to save a life. If someone is murdered, a year of mourning ends with a ritual that we call the Drowning Man Trial. There’s an all-night party beside a river. At dawn, the killer is put in a boat. He’s taken out on the water and he’s dropped. He’s bound so that he can’t swim. The family of the dead then has to choose. They can let him drown or they can save him. The Ku believe that if the family lets the killer drown, they’ll have justice but spend the rest of their lives in mourning. But if they save him, if they admit that life isn’t always just… that very act can take away their sorrow.
    🙄

  7. kata siapa hidup ini tak adil? kadang memang gak semua berjalan sesuai keinginan, tapi justru di situ letak adilnya kan? kalo semua2 gampang, semua2 bisa kita raih, lha ya malah aneeehhh….

    trus trus, KENAPA JUGA aku komen sok bijak gini, jawabannya ’embuh’. hakhakhakhak…

  8. yach…. hidup memang gak selalu adil kok….
    tapi justru ketidakadilan membawa untung *seperti yang kamu ceritakan di atas* ^^
    orang bilang kalau mau adil adil-adilnya nanti aja di akhirat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s