Benazir dan Kisah Negeri yang Koyak

Di sebuah siang yang ramai di Rawalpindi, sebuah tragedi terjadi. Seorang pemuda tanggung membawa senapan dan memuntahkan pelurunya ke dada dan leher Benazir Bhutto. Benazir pun terhuyung dan akhirnya tersungkur. Perempuan itu pun tewas. Ia baru 54 tahun.

Toh serangan tidak berhenti di situ. Sang pelaku memicu bahan peledak yang ditempelkan di sekujur tubuhnya. Setidaknya, 23 nyawa melayang sia-sia di hari laknat di sebuah kota yang hanya berjarak seperlemparan batu dari Islamabad itu.

Situasi menjadi kaos. Pakistan terguncang. Rakyat yang marah turun ke jalan-jalan di banyak kota. Kerusuhan pun merebak di sudut-sudut negeri.

***

Pakistan adalah sebuah negeri yang koyak. Mereka adalah bangsa yang percaya. Mereka meyakini demokrasi. Namun Pakistan kadang dan kerap mengkhianati dan dikhianati oleh demokrasi. Negeri itu terkoyak oleh ulah anak-anaknya sendiri. Mereka terbelah oleh ideologi, partai dan sekte.

Seperti juga saudara tuanya, India, Pakistan adalah bangsa yang riuh dan ricuh. Politik dan kekerasan bergandengan tangan akrab. Sangat erat. Dua hal itu terus saja menjadi mimpi buruk di saat 161 juta warga negeri itu tertidur lelap di malam hari.

Di sana, kita tak akan pernah tahu siapa teman dan siapa lawan. Seperti jamak dikatakan para bijak bestari itu, tak ada teman abadi dan musuh abadi. Yang ada hanyalah kepentingan abadi. Ya, itulah politik. Dan itu pula yang berlangsung di Pakistan. Bahkan jauh sebelum negeri seluas 880 ribu kilometer persegi itu memisahkan diri dari India lebih dari enam dasawarsa lalu.

Berpuluh-puluh atau bahkan mungkin beratus-ratus partai politik ada di Pakistan. Mereka membawa ide mereka masing-masing. Belum lagi ditambah dengan keberadaan tentara. Konflik kerap kali tak bisa dihindari. Semuanya hanya demi konsep absurd bernama kekuasaan.

Di Pakistan juga, entah ada berapa ratus ribu politisi, jendral, warlord dan para kepala suku yang masing-masing memiliki kekuatan dan pengaruh sendiri-sendiri. Tak terbayangkan betapa peliknya mengatur negeri yang dunia politiknya riuh rendah seperti itu.

***

Benazir lahir dalam sebuah dinasti politik. Sebuah tradisi yang lazim di Pakistan, demikian juga di negeri tetangga sekaligus musuh dan saudara kandungnya, India. Ayahnya, Zulfikar Ali Bhutto, juga seorang politisi. Saat menjabat sebagai Perdana Menteri, nasib sang ayah di kemudian hari berakhir tragis. Hidupnya diakhiri di tiang gantungan.

Mulai melihat dunia di sebuah negeri yang mayoritas Muslim, Benazir kecil justru lebih banyak mengenyam pendidikan Katolik. Menginjak dewasa, Benazir pun lebih banyak bersentuhan dengan pendidikan Barat. Sesuatu yang di kemudian hari membuat para penentangnya menganggap ia adalah seseorang yang “lain”. Benazir yang menjadi bagian dari “mereka” dan bukan “kita”.

Benazir diterima di Harvard University, salah satu perguruan tinggi paling prestisius. Tak hanya di Amerika Serikat, namun juga di seluruh dunia. Benazir bukanlah murid yang biasa-biasa saja. Perempuan muda itu masuk komunitas Phi Beta Kappa yang terhormat. Benazir muda juga mendapat nilai cum laude saat meraih gelar sarjananya di bidang politik.

Tak hanya itu, saat melanjutkan studi di Oxford, Inggris, kecemerlangan tidak menjadi hilang dari diri Benazir. Ia juga terpilih sebagai Presiden Oxford Union. Ialah perempuan pertama dari Asia yang pernah mengetuai klub debat nan bergengsi itu.

Berangkat dari sebuah dinasti politik, maka mau tak mau Benazir kemudian menyeburkan dirinya di dunia yang pernah digeluti ayahnya dulu itu.

Karir Benazir berlangsung dengan jatuh bangun. Terpilih sebagai Perdana Menteri hanya untuk kemudian disingkirkan lawan politiknya. Kembali berkuasa dan lalu tergusur kembali. Ia bahkan terusir dari tanah airnya sendiri. Semua orang tahu, seluruhnya hanyalah soal politik. Tidak lebih dan tidak kurang.

Di penghujung 2007, Benazir yang delapan tahun diasingkan di Dubai dan London, akhirnya pulang. Kembali ke negeri asalnya, tak lantas berarti ia mendapat sambutan karangan bunga. Seperti biasa, persetujuan dan pertentangan mewarnai kepulangan Benazir.

18 Oktober, hanya beberapa jam setelah ia mendarat di Islambad, nyawa Benazir langsung terancam. Sebuah bom menyalak. Bom itu meledak dan menewaskan 139 orang. Benazir beruntung, ia selamat dari serangan itu.

Namun keberuntungan tidak sedang bersama Benazir di siang 27 Desember itu. Ia mungkin tidak pernah tahu bahwa hidupnya akan berakhir di Rawalpindi, hanya beberapa kilometer dari tempat Ali Bhutto dahulu digantung hingga ajal. Benazir diserang. Ia lalu terkulai. Ia usai.

44 thoughts on “Benazir dan Kisah Negeri yang Koyak

  1. Tragis… semoga penerus Benazir (anaknya yg berumur 19 Tahun) yg menggantikan dia sebagai ketua umum partai *apa ya lupa* bisa meneruskan perjuangannya

    “The best revenge is democracy itself ” (quote dari benazir bhuto (alm)) CMIIW

  2. bro, leadmu lumayan, kendati bisa jadi klise karena semua org kalo mau buat feature ttg peristiwa ini kebanyakan pasti akan mengisahkan detik2 kematiannya. tapi, okelah, wes lumayan lirih. tinggal diperkaya dg detail peristiwa yg digambarkan seperti drama, pasti jadi lebih mendebarkan. masalahe, nek ora nang lapangan, detail kuwi susah ditulis dg baik. wartawan internetional jew…. hehehehe….

    kapan2 kita omong2 soal beginian, ya!

  3. soal ini lagi ya?
    aku kopas komenku dari tempatnya ijal aka kapucino aka leksa aja yak😀

    Ada sebuah komentar terngiang di telinga saya:
    Jika melihat dari sejarah hidupnya dari kecil hingga kematiannya nyaris sama sekali tidak ada rasa simpati sedikitpun yang dapat saya berikan kecuali secara resmi dia beragama Islam walau dalam kesehariannya sejak kecil hingga menemui kematiannya, Benazir jauh dari nilai-nilai agama yang dianutnya
    (copas lagi komentar sebuah blog)

    Dan saya cukup setuju,
    sjauh ini media2 yg saya simak banyak mengungkit2 masalah latar belakang kehdupan Butho yg konon jauh dari kehidupan religius ato agamais, dia terkesan sering dugem, ngeroko, manja semasa gadisnya.
    Bahkan, katanya lagi sewaktu akan jd senat mahasiswa di kampusnya Oxford, dia menggunakan kelebihan fisiknya untuk menarik simpati para voter laki2, ck ck ck [-(

    But, jauh dari itu,
    saya juga cukup ternyengang karena Plaestina masih punya sosok wanita tangguh spt dia,
    slama ini saya pikir wanita palestina setipe smua,
    jauh dari kesan modern🙂

    Owya, satu lagi yg kelupaan😛
    ini pelajaran aja buat saya, JANGAN ASAL SIMPATI KALO BAHKAN ANDA SENDIRI TIDAK TAU DIA ITU SIAPA🙂

    sekian, terima kasih😀

  4. #nieke
    koreksi mbak, pakistan dan bukan palestina😀 dan FYI aja, pakistan sudah jauh lebih dahulu memiliki seorang pemimpin perempuan (ketimbang Indonesia, misalnya). dan itu terjadi di tengah sebuah negara Islam (not just Islam-majority).

    poin terakhir setuju
    sebetulnya, buat orang yang nggak speed-reading, bakalan bisa melihat bahwa nada tulisan saya tidak sedang membela siapapun. namun yang saya soroti adalah budaya kekerasan yang menempel di dunia politik pakistan dan juga di negara2 lainnya. sepertinya cukup jelas.

    terimakasih sudah mampir

  5. @ Arya:
    hahaha, iya bener, Pakistan!
    Duh, berarti komen2 saya sebelumnya juga salah tulis yah😀😛
    maaph maaph😀

    saya juga bukan mengoreksi tulisan Anda,
    saya hanya tergugah dengan isi postingan dan para komentator yg gak mainstream,
    apalagi dia bener2 tau soal kabar ini🙂

    soal pemimpin perempuan,
    makasih atas infonya,
    kalo soal ini saya memang belum banyak tau🙂

  6. i love her.

    konon kabarnya dia sudah tau akan diserang dan email dari dia sudah disampaikan kepada sebuah badan intelijen di USA dan dia berpesan setelah dia wafat emailnya tolong disebarkan ke media

    ternyata itu benar

    dan selamat jalan buk benazir

  7. Saya mah mengagumi dia sebatas keberaniannya turun dalam kancah politik. Toh belum ada tokoh politik yang saya kagumi secara personalnya. Tapi turut berduka juga..

  8. Nambahin ya, dari pencarian materi SMS Cinta nih:

    Pernikahan Benazir Bhutto dengan Asif Ali Zardari adalah hasil perjodohan. Ada spekulasi yang mengatakan bahwa Benazir mau menerima perjodohan demi mendapat status “menikah”, karena status tersebut adalah salah satu syarat utk bisa jadi pemimpin.

    Setelah perjodohan diumumkan, Asif tiap hari kirimi Bhutto mawar merah, dan memberinya cincin berlian berbentuk hati.

    Pendapat Benazir tentang menikah dengan perjodohan:

    Bagi saya, pilihannya bukan antara pernikahan atas dasar cinta atau pernikahan hasil perjodohan, tapi antara setuju dijodohkan atau tidak menikah sama sekali. Dalam perjodohan, ada sebuah komitmen mental.

  9. sisi lain benazir bhutto …. just wanna ask you see from other side …
    actually benazir is a fighter … women🙂

    Walau secara resmi Benazir Bhutto beragama Islam, namun dalam kesehariannya sejak kecil hingga menemui kematiannya, Benazir jauh dari nilai-nilai agama yang dianutnya. Bahkan sesaat sebelum dirinya menemui ajal, Bhutto baru saja menyampaikan pidato dalam rapat akbar bersama dengan pendukungnya dan menegaskan, jika dirinya berhasil menjadi pemimpin Pakistan kembali, maka dia akan langsung memimpin pemberangusan gerakan Islam di seluruh Pakistan. Benazir Bhutto menyebut gerakan Islam dengan istilah “Terorisme Fundamentalis”, sebuah terminologi khas Gedung Putih.

    “Apakah kita harus meminta orang asing untuk memberangus gerakan fundamentalis di sini? Tentu tidak! Kita akan bersama-sama, aku dan kalian semua, untuk menghabisi kelompok-kelompok fundamentalis yang mendirikan pemerintahan bayangan di Pakistan ini! Kita pasti bisa!” seru Bhutto dari atas podium hanya beberapa saat sebelum dia menemui ajal dengan cara mengerikan.

    Ratu Dugem dan Playgirl

    Secara resmi, Benazir Bhutto dibesarkan dalam keluarga Islam. Ayahnya, Zulfikar Ali Bhutto adalah Perdana Menteri Pakistan yang tewas digantung oleh Presiden Zia Ul-Haq setelah jenderal ini melancarkan kudeta. Zia sendiri karena sikap politiknya dinilai AS terlalu mengakomodasi kepentingan gerakan Islam, maka CIA membunuhnya lewat suatu operasi rahasia dengan meledakkan pesawat yang ditumpanginya.

    Benazir oleh keluarganya di sekolahkan di sebuah yayasan Katholik ala Inggris di Pakistan. Saat usia 16 tahun, Benazir yang tidak mengenakan jilbab disekolahkan ke Radcliffe College di Massachusset, AS. Saat kuliah di Amerika ini, Benazir benar-benar mereguk kebebasan yang tidak bisa dijalaninya di Pakistan. Ia dikenal sebagai seorang gadis yang gemar belanja pakaian yang tengah trendy dan suka bepergian ke pesta-pesta di malam hari dan pulang dengan ditemani pemuda teman kencannya hingga hari beranjak siang.

    Dari Amerika, Benazir melanjutkan pendidikannya di Oxford, Inggris, mengambil jurusan Ilmu Hukum dan Politik. Di Inggris gaya hidupnya makin menggila. Benazir termasuk mahasiswa pandai, namun gaya hidupnya juga “meriah”: pesta dugem jalan terus, alkohol dengan setia terus menemani (walau hal ini sempat dibantahnya), juga suka gonta-ganti teman pria. Media Inggris, Dailymail, edisi Jumat (28/12) mengungkapkan sisi gelap kehidupan Benazir dari seorang teman lamanya semasa kuliah di Oxford. Dailymail sendiri menyebut Benazir sebagai “The Oxford Party Girl”.

    “Gaya hidup Benazir ketika kuliah di Oxford menjadi parody seorang gadis remaja Muslim, kaya raya, baru melek melihat dunia. Saat dia berpidato dalam kampanye untuk pemilihan Presiden Senat di Oxford, Benazir bahkan mengungkapkan gaya hidupnya yang liberal itu untuk menarik dan mendulang suara dari para pemilih laki-laki, ” demikian Dailymail.

    Gaya hidupnya agak berkurang ketika ayahnya tewas di tiang gantungan. Benazir masuk gelanggang politik dengan mengenakan kerudung, sesuatu yang tidak pernah dipakainya ketika di Amerika dan di Inggris. Namun walau berkerudung, sikap politik Benazir sangat American-minded. Dia menjadikan dirinya musuh bagi aktivis Islam di Pakistan dan sahabat setia bagi Amerika.

    CIA Dalangnya?

    Tidak aneh jika kematiannya ditangisi banyak tokoh-tokoh liberal. Bush pun langsung menuduh kematian Benazir dilakukan oleh terorisme fundamentalis. Padahal penyelidikan saja belum dimulai. Ada banyak dugaan tentang siapa sesungguhnya dalang di balik kematian Benazir. Bisa saja memang dibunuh anggota gerakan Islam, walau yang pertama ini relevansinya sangat meragukan karena tidak ada manfaatnya. Bisa dibunuh oleh Prevez Musharraf sendiri seperti yang banyak ditegaskan oleh para pendukungnya di Pakistan. Atau bahkan bukan mustahil CIA berada di belakang kematiannya.

    Bukan tidak mungkin, kematian Benazir memang dirancang jauh hari untuk semakin mengacaukan Pakistan dan menjadikan salah satu negeri Islam terbesar dunia ini pecah dan berkeping-keping. Bukankah di awal tahun 2000-an pernah terendus sebuah dokumen AS yang ingin melenyapkan Pakistan dan Indonesia di tahun 2025?

    Dokumen dari hasil kajian strategis yang dipimpin mantan Menteri Pertahanan Amerika Serikat berdarah Yahudi bernama William Cohen, berjudul “Asia Tahun 2025 dan Pengaruhnya terhadap Keamanan Nasional Amerika di Abad 21” dengan tegas memprediksi (baca: menskenariokan) Indonesia dan Pakistan akan hilang dari peta bumi di tahun 2025. Penyebab dari ‘tenggelamnya’ kedua negara tersebut adalah karena konflik internal atau konflik antar suku, golongan, klan, atau agama, separatisme, dan untuk itu semua sebagai syarat mutlaknya adalah ketidak-stabilan ekonomi. Kajian tersebut meramalkan bahwa dalam 25 tahun ke depan, akan terjadi peristiwa berskala besar dan internasional yang akan sangat mempengaruhi keamanan nasional Amerika Serikat.

    Amerika sangat berhasrat untuk menguasai Pakistan karena negeri ini memiliki instalasi nuklir. Sedangkan Indonesia, ya kita tahu sendirilah.

    Kematian Benazir Bhutto merupakan hal yang amat lumrah dalam dunia politik. Di Indonesia pun ada tragedi Munir yang meninggal karena diracun oleh tangan-tangan kekuasaan. Jadi peristiwa ini sama sekali tidak perlu dibesar-besarkan atau bahkan ditangisi. Biasa sajalah.

  10. Walau secara resmi Benazir Bhutto beragama Islam, namun dalam kesehariannya sejak kecil hingga menemui kematiannya, Benazir jauh dari nilai-nilai agama yang dianutnya. Bahkan sesaat sebelum dirinya menemui ajal, Bhutto baru saja menyampaikan pidato dalam rapat akbar bersama dengan pendukungnya dan menegaskan, jika dirinya berhasil menjadi pemimpin Pakistan kembali, maka dia akan langsung memimpin pemberangusan gerakan Islam di seluruh Pakistan. Benazir Bhutto menyebut gerakan Islam dengan istilah “Terorisme Fundamentalis”, sebuah terminologi khas Gedung Putih.

    “Apakah kita harus meminta orang asing untuk memberangus gerakan fundamentalis di sini? Tentu tidak! Kita akan bersama-sama, aku dan kalian semua, untuk menghabisi kelompok-kelompok fundamentalis yang mendirikan pemerintahan bayangan di Pakistan ini! Kita pasti bisa!” seru Bhutto dari atas podium hanya beberapa saat sebelum dia menemui ajal dengan cara mengerikan.

    Ratu Dugem dan Playgirl

    Secara resmi, Benazir Bhutto dibesarkan dalam keluarga Islam. Ayahnya, Zulfikar Ali Bhutto adalah Perdana Menteri Pakistan yang tewas digantung oleh Presiden Zia Ul-Haq setelah jenderal ini melancarkan kudeta. Zia sendiri karena sikap politiknya dinilai AS terlalu mengakomodasi kepentingan gerakan Islam, maka CIA membunuhnya lewat suatu operasi rahasia dengan meledakkan pesawat yang ditumpanginya.

    Benazir oleh keluarganya di sekolahkan di sebuah yayasan Katholik ala Inggris di Pakistan. Saat usia 16 tahun, Benazir yang tidak mengenakan jilbab disekolahkan ke Radcliffe College di Massachusset, AS. Saat kuliah di Amerika ini, Benazir benar-benar mereguk kebebasan yang tidak bisa dijalaninya di Pakistan. Ia dikenal sebagai seorang gadis yang gemar belanja pakaian yang tengah trendy dan suka bepergian ke pesta-pesta di malam hari dan pulang dengan ditemani pemuda teman kencannya hingga hari beranjak siang.

    Dari Amerika, Benazir melanjutkan pendidikannya di Oxford, Inggris, mengambil jurusan Ilmu Hukum dan Politik. Di Inggris gaya hidupnya makin menggila. Benazir termasuk mahasiswa pandai, namun gaya hidupnya juga “meriah”: pesta dugem jalan terus, alkohol dengan setia terus menemani (walau hal ini sempat dibantahnya), juga suka gonta-ganti teman pria. Media Inggris, Dailymail, edisi Jumat (28/12) mengungkapkan sisi gelap kehidupan Benazir dari seorang teman lamanya semasa kuliah di Oxford. Dailymail sendiri menyebut Benazir sebagai “The Oxford Party Girl”.

    “Gaya hidup Benazir ketika kuliah di Oxford menjadi parody seorang gadis remaja Muslim, kaya raya, baru melek melihat dunia. Saat dia berpidato dalam kampanye untuk pemilihan Presiden Senat di Oxford, Benazir bahkan mengungkapkan gaya hidupnya yang liberal itu untuk menarik dan mendulang suara dari para pemilih laki-laki, ” demikian Dailymail.

    Gaya hidupnya agak berkurang ketika ayahnya tewas di tiang gantungan. Benazir masuk gelanggang politik dengan mengenakan kerudung, sesuatu yang tidak pernah dipakainya ketika di Amerika dan di Inggris. Namun walau berkerudung, sikap politik Benazir sangat American-minded. Dia menjadikan dirinya musuh bagi aktivis Islam di Pakistan dan sahabat setia bagi Amerika.

    CIA Dalangnya?

    Tidak aneh jika kematiannya ditangisi banyak tokoh-tokoh liberal. Bush pun langsung menuduh kematian Benazir dilakukan oleh terorisme fundamentalis. Padahal penyelidikan saja belum dimulai. Ada banyak dugaan tentang siapa sesungguhnya dalang di balik kematian Benazir. Bisa saja memang dibunuh anggota gerakan Islam, walau yang pertama ini relevansinya sangat meragukan karena tidak ada manfaatnya. Bisa dibunuh oleh Prevez Musharraf sendiri seperti yang banyak ditegaskan oleh para pendukungnya di Pakistan. Atau bahkan bukan mustahil CIA berada di belakang kematiannya.

    Bukan tidak mungkin, kematian Benazir memang dirancang jauh hari untuk semakin mengacaukan Pakistan dan menjadikan salah satu negeri Islam terbesar dunia ini pecah dan berkeping-keping. Bukankah di awal tahun 2000-an pernah terendus sebuah dokumen AS yang ingin melenyapkan Pakistan dan Indonesia di tahun 2025?

    Dokumen dari hasil kajian strategis yang dipimpin mantan Menteri Pertahanan Amerika Serikat berdarah Yahudi bernama William Cohen, berjudul “Asia Tahun 2025 dan Pengaruhnya terhadap Keamanan Nasional Amerika di Abad 21” dengan tegas memprediksi (baca: menskenariokan) Indonesia dan Pakistan akan hilang dari peta bumi di tahun 2025. Penyebab dari ‘tenggelamnya’ kedua negara tersebut adalah karena konflik internal atau konflik antar suku, golongan, klan, atau agama, separatisme, dan untuk itu semua sebagai syarat mutlaknya adalah ketidak-stabilan ekonomi. Kajian tersebut meramalkan bahwa dalam 25 tahun ke depan, akan terjadi peristiwa berskala besar dan internasional yang akan sangat mempengaruhi keamanan nasional Amerika Serikat.

    Amerika sangat berhasrat untuk menguasai Pakistan karena negeri ini memiliki instalasi nuklir. Sedangkan Indonesia, ya kita tahu sendirilah.

    Kematian Benazir Bhutto merupakan hal yang amat lumrah dalam dunia politik. Di Indonesia pun ada tragedi Munir yang meninggal karena diracun oleh tangan-tangan kekuasaan. Jadi peristiwa ini sama sekali tidak perlu dibesar-besarkan atau bahkan ditangisi. Biasa sajalah.

  11. pertama gak dong….

    dilanjutin teteup gak dong….

    tapi aku jadi tau kalo kamu bener2 peduli sama apa yang ada…
    siip…teruskan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s