Cinta yang Tak Berbalas

“Kecintaan seseorang terhadap negerinya tidak selalu mendapatkan balasan,” ucap Michael Brin suatu ketika pada tahun 1979.

Ungkapan itu saya baca dari sebuah buku berjudul ‘Kisah Sukses Google’ yang ada di samping saya. Kutipan dari Brin itu saya baca beberapa minggu lalu.

Saya tak tahu bagaimana cara Brin mengucapkan kalimat itu, juga emosi dan perasaannya saat itu. Di tengah Uni Sovyet yang tenah bergelora dengan semangat anti-Semit, orang-orang seperti Brin memang bagai tak mendapat tempat di sana.

Brin mengucapkan kalimat itu dan kemudian ia membawa seluruh anggota keluarganya pergi dari negeri yang tengah bergejolak itu.

Kisah tentang keluarga Brin selanjutnya adalah sejarah. Sergey, salah satu anak Michael Brin, dalam usia 25 tahun atau nyaris dua dekade setelah minggat dari Sovyet, mendirikan Google bersama Larry Page. Sergey menciptakan Google dari Amerika.

Beberapa hari setelah membaca kutipan Brin itu, saya berbincang dengan seorang atasan di kantor. Ada kalimatnya yang menggelitik pikiran saya. Ia berucap, “Saya sudah tidak punya nasionalisme, karena nasionalisme saya kini hanya untuk AC Milan.”

Saya tak sanggup tertawa. Dia terlihat serius betul saat mengucapkannya.

Kemudian, kami banyak ngobrol-ngobrol tentang sebuah perkara yang mengguncang negeri ini beberapa hari belakangan. Kisah memalukan seorang jaksa yang menerima uang berjumlah Rp 6 milyar –sangat layak diduga sebagai duit suap.

Cerita yang sungguh mengenaskan, bukan karena jaksanya belum sempat menikmati hasil korupsi (karena ketahuan). Menyedihkan sekaligus membuat geram karena inilah wajah bopeng negeri saya. Sebuah negeri yang sudah tidak memiliki tatanan lagi. Bukan hukum, yang pantas dipatuhi barangkali adalah materi.

Pikiran lama saya timbul kembali. Ide itu, ide untuk berpindah kewarganegaraan, melintas lagi di benak saya.

Bukan. Bukan karena nasionalisme saya kini hanya tersisa untuk Manchester United. Tidak pula karena saya sudah tidak mencintai negeri di mana saya telah menghirup udara, meminum air dan memberaki tanahnya selama seperempat abad ini. Bukan, bukan karena itu.

Jawaban yang saya pikir paling mendekati adalah karena kecintaan saya terhadap negeri ini tidak selalu mendapatkan balasan.

Seperti orang-orang bilang, hidup itu suatu pilihan. Andai saya bisa memilih, saya pilih hijrah saja dari sini. Namun sayang seribu sayang, pilihan itu tidak sedang tersaji di hadapan saya saat ini.

Putus asa? Mungkin. Pengecut? Oportunis? Barangkali benar. Silakan, pilihkan satu kata saja buat menilai saya.

58 thoughts on “Cinta yang Tak Berbalas

  1. Jawaban yang saya pikir paling mendekati adalah karena kecintaan saya terhadap negeri ini tidak selalu mendapatkan balasan.

    Dulu saya juga pernah nanya seperti ini sewaktu seminar tentang nasionalisme. Akhirnya orang yg saya tanya malah balik bertanya ke saya, “Apa yang sudah kau berikan untuk negaramu sehingga kau berani meminta balasan?”

    Glek…🙄

  2. jangan tanya apa yang sudah negara berikan untukmu, tapi tanya apa yang sudah kamu berikan untuk negaramu…
    *omongannya sapa ya?

    yah, saya juga sering ngerasa gitu
    yang membuat saya tetap bertahan di negeri ini adalah…saya belum ada cukup sumber daya untuk ke luar..:mrgreen:

  3. negara minta pemberian terus, tapi nggak memberi yang benar-benar diperlukan rakyatnya. malah sibuk nimba profit dari rakyatnya X)

    enaknya kalo gak ada barrier negara untuk kemana-mana. batas yang disebut nasionalisme, untuk bebas tinggal di mana kita mau.

    nasionalisme menurutku .. bukan soal mempertahankan negara, tapi mempertahankan tempat kita hidup🙂

  4. VJ Rianti malah mo pindah dari WN Inggris jadi WNI (eh, sama-2 WNI ya, hehehe). Mungkin di luar sana belum tentu lebih baik dari di sini.

    Bertahan aja, di sini kita bisa naik/turun bis di sembarang tempat, ga denda klo parkir dan meludah sembarangan, bisa nego klo ditilang😀

  5. @iman brotoseno : joih doms the Gunners😀

    @arp : hohohoho…tapi bukankah cinta sejati tidak memerlukan balasan? *ah mungkin karena saya abis ntn Star Dust.. *kaboooooorrrr*

  6. makin asik tulisanmu. ada beberapa kalimat bagus. misal: “Kisah tentang keluarga Brin selanjutnya adalah sejarah.”

    saiki aku tunggu catatan perjalananmu. ingat: kelas jursas baru saja kita mulai.

    jangan lupa: GLORY GLORY MAN UNITED!

  7. aaah nasionalisme saya ngga pindah buat Juventus tuh walaupun baru saja mengalahkan Inter Milan… wakakakakaka😛

    *fokus*
    negara ini ngga punya cinta.. beneraaaaan! tinggal usaha sendiri saja menumbuhkan rasa cinta terhadap negeri. hiks..

  8. Cintai sajalah… toh cinta memang tak harus memiliki berbalas. Kalau negara tak mampu membalas cintamu, yakinlah Tuhan akan menyimpan balasannya untukmu suatu saat nanti..

    *ikutan Okta, sok menasehati🙂

  9. saya barusan baca artikel tentang Avi Basuki yang walaupun udah cerai sama suaminya yang orang Italy itu dia tetep ga mau kembali ke Indonesia dengan alasan banyak hal yang ga menyenangkan dari negeri itu, korupsi, ketidakteraturan dimana2, juga masalah kebebasan, sehingga dia memilih untuk jadi expat di negara lain. Saya sih merasa saya masih Indonesia, masih cinta semua masakan kita *lirik perut yang kian ga jelas*, masih suka dengan laki2 indonesia, masih betah tinggal dan menghirup udara Indonesia yang tambah panas, masih menyukai semua alam Indonesia, tapi saya sudah ga yakin saya percaya dengan pemerintah negara ini, skeptis dengan mau dibawa negara ini..

  10. emang, nasionalisme emang mahal…

    kemaren liat metro, tekai mau nikahin ponakan sndri biar bisa jadi warga negara sono… beuh…

    trus kalimat terakhir hostnya, “apa yang salah dengan negeri ini?”

  11. salam perjuangan dari bandung
    saya juga sudah kehilangan nasionalisme apa lagi kalau melihat ibu megakatri di cara parodi republik mimpi, masalanya beliau suka berteriak merdeka, tidak ada kata lain kali selain merdeka

    baca artikelku agar engkau tidak busung lapar dinegeri ini …………
    orang bisa di beli dengan uang,
    berhati-hatilah mencari sahabat dan mencurahkan isi hatimu, satu-satunya orang yang layak kamu percayai dalam kondisi apapun adalah dirimu sendiri. Jangan lupa itu.
    http://puang07.fotopages.com

  12. [QUOTE] Saya sudah tidak punya nasionalisme, karena nasionalisme saya kini hanya untuk AC Milan [/QUOTE]

    saya ngakak mbacanya…..

    tapi emang sih, bingung kalo ditanya soal nasionalisme. yang tertinggal cuman sisa2 hasil nonton film perjuangan jaman dulu…..

    tapi diluar masalah pemerintah, sinetron…. saya tetep cinta negeri ini…. Pemandangan, budaya bener2 membuat saya pengen menjelajahi Indonesia…..

  13. _____________ Bukan karena nasionalisme saya kini hanya tersisa untuk Manchester United _______
    …… kalo emang bukan, trs… apa……..

    **** suerius ********
    andaikata klo emang inyong punya Nasionalisme, dan NASIONALISMEku laku utk dijual (paling tdak PEGADAIAN mo nerima) mungkin udah Inyong jual, dr kemaren2…. (buat modal mborong NASIONALISMEnya para PENJAHAT eh PENJABAT :D) biar g ky gini kejadianyya ato buat buikin negara sendiri….

    tuapi yang lebih puenting dalam keyakinanku BUKAN DUKUN ato MBAH SIAPALAH yg mo bertindak tp ya AWAKE DEWE iki…. dan dalam Inyong meyakini hidup selama ini selalu , dan sebisa mungkin “BERTAQWA KEPADA TUHAN YME dalam keadaan apasaja dan kondisi bagimanapun, dan ini selalu terpatri nang ATI dan inyong terapkan dalam segala HAL termasuk kehidupan berbangsa…..
    jadi MUNGKIN klo REKA sadar sedang putus asa ato OPORTUNIS, kan enak to dah tau penyakitnya, yah tinggal carikan aja obatnya di apotik terdekat…. he….. (kebanyakan ya…)

  14. kalo dipikir2 kita khan dah bayar pajak terus itu duit ga dikelola dengan baek oleh pemerintah eh malah dikorup. sekarang kalo ditanya kita dah kasi apa untuk negara kita,khan ya kita dah rajin bayar pajak,kalo ngelolanya bagus mestinya bisa maju kayak negara2 asia yang laen,kita dah ketinggalan jauh banget,,duh inet aja masih mahal,,pokokna selama inet masih mahal disini,saya tetep beranggapan kalo pemerintah telah gagal,,hhhhh

  15. Emangnya cinta harus berbalas ya…??

    Kalau memang mau mencintai yang cintai saja. Kalau nunggu atau berharap balesan mungkin itu bukan cinta..

  16. ups…. kok komentar di atas salah pencet?
    Seharusnya ke blognya cK. yaudah diterusin aja deh
    Sempat liat juga skrinsyutnya arya di blognya cK, ternyata udah jadi blogger gaul ya?😀

  17. halo arya…
    mengutip seorang teman, obyek yang kamu cintai itu bukan mesin pembaca pikiran yang begitu tahu setiap detail apa yang kita pikirkan – sehingga bisa membalasnya!Seringnya perlu tindakan, ungkapan konkrit atau jelas yang mendeskripsikan “mencintai” itu sendiri.

  18. hehehhe..(senyum dulu sebelum koment)

    rupanya masih banyak orang yang belum tau apa itu mencintai, bagaimana tau, buktinya mencintai saja belum bisa, dan minta balasan pula…

    hehhehehe..(lucu)
    hehehhehe..(senyum lagi..)
    hehhehe…..(senyum lagi, ..)

    hehehheh…(menyeka air mata)

    salam kenal, pak Arya

  19. Hidup memperlihatkan, bahwa orang yany kerap bicara tentang Nasionalisme malah menjual negara. Itulah kita semua menjadi apatis dengan Nasionalisme.

    Aku adalah orang tidak NASIONALISME, aku mencintai negeri ini tanpa sebuah paham ideologi Nasionalisme. Mengapa karena kecintaanku ini tidak akan ku bagi dengan ide-ide orang yang pernah menjual negeri, yang mengaku. NASIONALIS!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s