Pungkas dan McCandless

Tidak banyak orang yang mengenal Pungkas Tri Baruno. Itu sebelum hari Selasa, 8 Juli kemarin. Hari itu, Pungkas tewas saat mendaki gunung Gunung McKinley di Alaska, Amerika Serikat.

Usianya masih muda. Ia baru berumur dua dekade saat harus kehilangan nyawanya di punggung gunung bertinggi 6.194 meter di atas permukaan laut itu.

Saat membaca berita kematian Pungkas, ingatan saya melayang kepada Christopher Johnson McCandless yang kisah hidupnya saya saksikan lewat film Into the Wild.

McCandless juga seorang lelaki yang masih muda. Bila Pungkas meninggal di usia 20, maka McCandless tutup usia pada bilangan umur 24. Yang sama, keduanya mati di Alaska.

Namun cara, atau lebih mungkin penyebab kematian mereka, jauh-jauh berbeda.

Seperti dituturkan oleh Jon Krakauer dan Sean Penn dalam buku (1996) dan filmnya (1997), McCandless meregang nyawa akibat kenekatan dan kecerobohannya sendiri.

McCandless menjelajahi Alaska tanpa persiapan yang cukup. Ia hanya membekali dirinya dengan sebuah buku tentang tanam-tanaman, sebuah senapan berburu dan peta jalanan butut yang ia temukan di sebuah pompa bensin.

Tanpa peta topografi, kompas, serta peralatan keselamatan yang memadai, McCandless tak kuasa melawan dingin dan kejamnya alam Alaska. Ia meninggal setelah berada di daerah bernama Stampede Trail selama 189 hari.

Lain dengan Pungkas. Ia berangkat bukan tanpa rencana. Ia pendaki yang cukup berpengalaman dan petualangannya kali ini sudah dimulai semenjak awal tahun. Pungkas menapaki setiap inci punggung gunung tertinggi di Amerika Utara itu bersama tim ekspedisi Pramuka Indonesia.

(Bagaimanapun, ada juga yang mengatakan bahwa tim yang berangkat ke McKinley ini masih kurang pengalaman, sementara medan yang harus dihadapi begitu berat).

***

Meski nekat (dan konyol), kisah McCandless secara keseluruhan seperti dituturkan di film sangat menarik. Yang membuat saya terkesan adalah semangat McCandless yang berapi-api serta kerinduannya kepada kebebasan.

(Lulusan Emory University ini menyumbangkan nyaris seluruh uang miliknya dan kemudian menjadi petualang dengan nama Alexander Supertramp. McCandless yang muak dengan kemunafikan sosial masyarakat serta rumah tangga orang tuanya yang penuh dengan cekcok memilih jalan hidupnya sendiri.)

Saya tak tahu seperti apa Pungkas ketika hidup. Namun dari seorang pendaki gunung seperti dirinya, selalu ada semangat kebebasan yang hidup di dasar hatinya dan berpendar keluar. Mungkin juga ada passion yang meruap di sana (ia meninggal setelah menancapkan bendera Merah Putih di pucuk McKinley).

Yang jelas, dari McCandless dan Pungkas, saya belajar sesuatu.

Foto: Gambar Christopher McCandless sebelum meninggal. Gambar ini diambil oleh dirinya sendiri di depan bus tempat ia tinggal di Stampede Trail sebelum akhirnya ia tewas di sana (sumber: Wikipedia)

31 thoughts on “Pungkas dan McCandless

  1. mendaki gunung itu memang penuh resiko. tidak semudah seperti yang ada di televisi. kurangnya persiapan juga dapat berakibat fatal…

  2. @sandal
    yups… karenanya saya tulis: dingin dan kejamnya alam. thx buat mengingatkan

    @adit
    beda pendapat boleh doms?😀

  3. @adit
    waktu mccandless mau nyebrang sungai, dia gak bisa karena sungainya deras. padahal, cuma seperempat mil dr tempat itu, ada jembatan penyeberangan. andai dia bawa peta, dia ndak akan mati konyol spt itu.

  4. Ya ALLAH guw bner2 g nyangka bgt, sampe skrg guw msih berharap klo ini cuma brita bohong,

    krang lebih dua tahun guw g ktemu pungkas sejak lulus sma, nyesel bgt rasanya klo tau bakalan begini jadinya,

    tapi guw sneng bgt bisa jadi tmen sebangkunya waktu sma

    luw bner2 tmen yg baik kas, luw org prtama yg ngajarin guw make internet, luw jg yg nge upgrade kompie guw dr windows 95 ke 98, “kas liat kas, skrg kompie guw udah XP”, guw g bakalan prnah bisa ngucapin kata2 itu k luw,

    guw masih inget bgt wktu d klas luw kadang2 suka tidur, apalagi pas pelajaran kimia nya pa’ Edi

    knangan bersama luw g bakal prnah guw lupain sampai kapan pun,
    zutto…
    itsumademo…
    itsumademo…

    luw udah ngeduluin kita bisa smpai ke level dunia,
    luw jg udah negeduluin kita untuk dipanggil oleh Yang Maha Kuasa…

    ……….selamat tinggal sahabat
    ……….kau pergi begitu cepat
    ……….tanpa sebuah isyarat
    ……….diselimuti salju lebat
    ……….kini kau berada di tempat yang disebut
    dengan “KEABADIAN”…………..

    ( Eien to iu basho ~ A Place Called Eternity)

  5. well setidaknya ada yang berbuat sesuatu membawa nama negara dengan menancapkan merah putih disana, tanpa gembar gembor apapun… Dari pada yang ada disini ribut sana-sini tapi tanpa hasil nyata…

  6. sBg anGgTa pRamuka jgA, saYa snGat kgUm mLihaT prJuangAn punGkas..
    dy laKi2 yg sngAt beRani..
    kekAguman saya ni, tDk bsA di LontaR ka dGn kTa2…

  7. woy!! ALEXANDER SUPERTRAMP gak bisa dibandingin sama PUNGKAS!!
    tujuan mereka jelas beda ! bedakan antara hobby petualang dan ideologi yg kuat sebagai manusia di alam! supertramp bukan orang yg MAU masuk ke dalam society! intinya Freedom Of Life!! and independent!!

  8. Mungkin Alexander Supertramp mati konyol (bagi sebagian orang yang TERJEBAK HIPOKRIT DUNIA”),,tapi setidaknya ia PERNAH HIDUP,,tidak seperti mereka-mereka yg hidup tapi sebenarnya TIDAK PERNAH HIDUP,,hanya menjalani RUTINITAS dan terjebak dalam SISTEM peradaban…..(dikutip dr sebuah blog)
    camkan bagi yg menganggap alexander supertramp mati sia sia hanya karena pencarian kebebasannya yang hakiki…
    True Freedom

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s