Benda Kenangan

Apa arti sebuah benda kenangan bagi Anda?

Beda orang, pasti akan berbeda pula jawaban yang muncul. Seorang teman pernah kehilangan ponselnya. Bukan soal harga ponsel yang menjadi penyebab dirinya menjadi sedikit bersedih. Menurutnya, ponsel itu memiliki kenangan karena melalui ponsel itu ia merayu seorang perempuan yang akhirnya menjadi pacarnya.

Saya juga pernah tinggal di sebuah rumah kos, di mana pemilik rumah kos itu tampaknya begitu mencintai benda-benda kenangan yang ia miliki. Pasalnya, di banyak sudut rumahnya, banyak berserak benda yang menurut saya tidak penting keberadaannya, seperti sebuah sepeda butut yang nyaris saya tabrak ketika saya lari terbirit-birit akibat guncangan gempa Jogja tahun 2006 lalu.

Benda lain yang disimpan bapak kos saya waktu itu adalah dua buah jip kuno (merk Jeep?). Salah satu jipnya masih bisa jalan dengan baik meski suaranya berisik. Sedangkan satu jip lagi sudah disfungsi. Kabinnya menjadi tempat penjual pecel lele yang mangkal setiap malam untuk menyimpan kursi-kursi tendanya di waktu siang.

Lain lagi dengan seorang rekan yang lain yang merasa sedih ketika ia harus menjual mobilnya. Bukan karena ia bangkrut dan kere, tapi karena ia akan membeli ganti berupa mobil yang lebih baru. Ia murung karena mobil itu dibelinya dengan hasil keringatnya sendiri bekerja bertahun-tahun.

Kadang perilaku-perilaku seperti yang saya sebut di atas sulit untuk dimengerti –termasuk oleh orang seperti saya. Kerap kali saya menggerutu karena sepeda bapak kos saya itu mengurangi lahan parkir buat sepeda motor anak-anak kos. Kadang saya juga kesal karena jip tua di depan kos itu merusak pemandangan.

Tapi nilai setiap benda memang hidup di benak dan hati masing-masing. Barang yang bagi orang lain tampak tak memiliki makna, di mata orang lainnya lagi membangkitkan banyak memori.

Sebatang ponsel mungkin tidak membawa pengaruh apapun terhadap keberhasilan seorang pria mencuri hati perempuan (karena yang dipakai adalah fungsinya untuk berbicara, bukan tampilannya atau harganya yang mahal). Tapi cobalah mengerti ketika pria dan si perempuan itu saling bertukar gombalan cinta atau malah saling memaki karena bertengkar. Melankolis sekali bukan?

Sebuah mobil butut tentu kalah nyaman dinaiki ketimbang mobil yang lebih baru. Namun coba bayangkan ketika rekan saya tadi bekerja keras setiap hari dan menabung setiap sen gajinya demi membeli mobil dengan jerih payahnya sendiri. Bagi si pelaku, rasa kepuasannya barangkali tidak terperi dan terkatakan.

Itulah, setiap kenangan akan terus hidup dalam diri seorang manusia.

Note: Postingan ini untuk mengenang sepeda motor R 4621 DH yang sudah menemani saya selama delapan tahun. Motor ini pernah saya namai Mariana Renata :)) Sebelum berpisah, sebetulnya saya ingin mencuci dia, tapi ternyata tidak sempat. Maaf ya?

48 thoughts on “Benda Kenangan

  1. aku juga selalu sedih tiap kali harus menjual sesuatu atau menggantinya dengan yang lebih baru. rasanya seperti sebagian dari hatiku terbawa pergi. halah.

  2. aku pernah ketemu motor lama yang dah dijual waktu di trafic light….
    rasanya seeneng banget… dan pingin tanya tanya sama bapak yang ngendarai….
    sayang situasinya gak memungkinkan.

  3. Aku sama istriku sempet pengen nyimpen benda kenangan dari jaman-jaman di kontrakan dulu. Ini termasuk wajan bolong, panci bocor dan sebagainya. Rencananya mau kita masukin dalam kotak kaca atau dijadiin hiasan di dapur. Hehehe.

  4. “Motor ini pernah saya namai Mariana Renata :))”

    kasihan sekali dikau nak… begitu susahnya dapet pacar, sampai-sampai motor pun kau namai cewek. karena dia satu-satunya yang tak menolakmu?

    dunia memang seringkali tak adil. begitulah dunia.

    sing sabar ya dul…

    *kaboor*

  5. ada rasa yang tak bisa diungkapkan ketika menyentuh suatu benda kenangan, dan memori kita akan meluncur ke masa lalu…

    kembali mengingat detailnya, merasakan emosinya.

  6. Saya dulu juga punya GL-Pro 92 kesayangan, tapi apa daya terpaksa dijual. Sebetulnya gak langsung dijual ke orang lain, tapi ke saudara sendiri supaya bisa tetap melihatnya. Tapi ketika saudara tersebut juga membutuhkan uang, sedangkan saya sendiri juga sedang tidak punya uang, maka motor tersebut harus dilepas ke orang lain, dan sampai sekarang saya gak tau kemana jalannya.
    Hanya sesekali, jika terlihat motor dengan striping sama jadi inget lagi, sedih lagi…😦

  7. Ya, sulit membuang benda kenangan. Akhirnya saya pun sering nyimpen ‘sampah’. Gudang jadi penuh.Tapi yang penting kita tidak terhanyut kenangan itu dan jalan di tempat. Artinya kita harus bisa menerima kenyataan.

    Saya sempat ngalamin itu selama bertahun2. akhirnya bisa menerima kenyataan juga.

    tapi bisa lah, asal kita rajin berdoa dan memohon.

    semoga sukses dan keep this blog inspiring.

  8. mosok namane mariana renata..biar klo naik seras naik mariana renata yach…barang kenangan?opo yach..oiya, seprei kenangan tempat dulu pertama…ehmmm…pertama nganu….hmmm pertamajadi anak kost

  9. Yen saya benda yang memiliki nilai kenangan yang pa;ing berharga dan saya simpen sampe sekarang adalah barang2 elektronik rakitan sendiri waktu masih sma dulu. Ada tape deck, equalizer, amplifier, fm transceiver dan er-er yang lain. Ngerakit dengan susah payah menabung buat nyicil beli komponen2nya sampe bisa dipakai. Sekarang wes ndak pernah dipake tapi isih tak simpen dikampung

  10. Pa kbr, pak?

    Benda kenangan yg msh dijaga mpe sekarang :
    # hape 6600 (kenangan prajab bersama bangpay)
    # si Buriq, motor shogun tua kami. Dibeli dgn menyisihkan gaji sedikit demi sedikit…
    # jilbab, kado ultah dari Sang Angin.
    Sbnarnya banyak krn sayah suka ngoleksi. Mpe tiket nonton bioskop pun sayah simpen. Tapi suami kbratan krn hanya nambah2in bawaan kalo pindah katanya T_T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s