Too Hard to Chew

Sebetulnya, saya malas mengirim SMS ucapan Idul Fitri yang isinya templet. Tapi saya pikir nggak apa-apa juga lah. Hitung-hitung memanfaatkan pulsa yang numpuk nggak terpakai.

SMS yang saya kirim isinya begini kira-kira:

“Hore, besok/hari ini* sudah bisa makan siang-siang lagi, bisa pamer-pamer lagi, bisa foya-foya lagi, bisa bikin dosa-dosa lagi. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin.”

Yang mengejutkan, datang balasan dari teman kos** yang bunyinya kira-kira begini:

“Astaghfirullah. Hati-hati dengan apa yang kita niatkan. Semoga kita masih bisa menjumpai Ramadan.”

Saya terkesiap *halah*. Saya lantas berniat membalasnya dengan kalimat pendek: “too hard to chew?” tapi kemudian saya urungkan karena saya tak mau hanya gara-gara SMS merusak pertemanan dan persaudaraan.

Hanya saja dalam hati saya masih agak heran dengan reaksi orang itu. Is it really too hard to chew? Apa dia tidak pernah mendengar kata ‘ironi’ ya?

Anyway, selamat Idul Fitri lagi. Maafkan kesalahan-kesalahan saya.

*tergantung dikirim tanggal 30 September atau 1 Oktober
**seorang mahasiswa perguruan tinggi agama Islam yang berkiblat ke Arab Saudi, pernah sekolah di Mesir juga.