Setahun

Setelah setahun menjelajahi senti demi senti tanah Jakarta ini, kesimpulan saya tetap sama. Jakarta adalah sebuah jam besar yang tersusun dari jam-jam kecil yang selalu berdetak dan berderap di manapun dan kapanpun(*). Dan Jakarta hanya cocok sebagai tempat mencari uang, bukan untuk tempat tinggal yang ideal.

Masih sama dengan tahun lalu ketika saya menetapkan hati untuk mencoba mengadu peruntungan di sini. Jakarta masih macet dan banjir. Perilaku masyarakatnya juga masih gitu-gitu saja. Orang kaya pakai mobil mewah hobi melanggar, orang nggak kaya pake motor butut juga suka melanggar.

Jakarta adalah sebuah ironi peradaban.

(*)dari cerpen Langgam Urbana karya Beni Setia

38 thoughts on “Setahun

  1. setahun Yak? baru setahun kamu sudah mengeluh??
    cih! sama sekali ndak punya jiwa pejuang!!!
    sana balik ke Jogja.. selesaikan skripsi
    mwahahahahahaha

    *kabur ke timbuktu*

  2. oke mari dilist, kata apa yang harus difilter:
    1. pertamax (sudah)
    2. lulus (dipertimbangkan)
    3. skripsi (dipertimbangkan dengan sangat)

    @wicak
    ya begitulah pak, termasuk saya kok. kalo lg naik motor jg udah kaya orang brengsek aja :p

  3. yang brani ke jkrta,aq salut. tough guy,beneran! aq bukan,makanya biar ditawarin,dipaksa,disuap,suruh kesana tetap nehi. macetnya,….oh my God!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s