Sembunyi

sembunyi

Di dunia yang orang ramai menyebutnya sebagai social networking world ini, bersembunyi, atau menyembunyikan keberadaan, adalah sebuah hal yang sudah sangat sulit ditemui.

Setiap detik, setiap menit, setiap jam, kita (saya menganggap Anda yang bisa membaca tulisan nggak jelas ini di blog, berarti Anda cukup melek internet dan segala tetek bengeknya) berada di pusaran informasi tentang keberadaan orang-orang di sekitar kita. Silakan anggap hal itu penting atau remeh, tinggal disesuaikan dengan kepentingan dan perspektif Anda.

Coba saja pantau Facebook, Plurk, atau belakangan Twitter. Lihatlah betapa orang-orang dengan gegap gempita dan penuh semangat mengabarkan bahwa mereka sedang makan di kafe anu, dugem di klab itu atau sedang berada di beranda rumah si anu. Sayang, saya belum pernah membaca status orang yang sedang nongkrong di WC sambil ber-BlackBerry :p

Semua jadi terbuka. Sudah sulit untuk menemukan sebuah celah untuk menyembunyikan keberadaan kita. Bahkan kalau pun saya tidak menulis keberadaan di Facebook atau Twitter, bisa jadi teman saya jalan-jalan yang mengabarkannya.

Bayangkan bila (eh ini kejadian fiksional, lho) ada seorang pegawai kantor yang tidak masuk kantor dengan alasan sedang terbaring sakit. Mungkin cukup menelpon supervisor dengan suara yang lemah atau terbatuk-batuk, sang penyelia bisa jadi telah percaya bahwa si karyawan ini memang butuh rihat.

Jadi masalah (masalah menurut siapa, ya?) bila kemudian si karyawan ternyata tidak benar-benar berbaring di tempat tidurnya dan malah pergi bersama teman-teman kuliah dulu untuk datang ke pameran foto atau museum.

Si karyawan itu mungkin tidak akan dengan konyolnya memberi tahu di mana keberadaannya. Tapi apa yang terjadi bila teman-temannya yang mengabarkannya dan orang-orang di kantornya, terlebih penyelianya, membaca keberadaan si karyawan tadi?

Tentang manfaat atau mudarat, tentu saja tergantung dari mana kita melihatnya. Tapi satu hal yang pasti, tempat gelap untuk bersembunyi itu memang sudah kian sempit🙂

37 thoughts on “Sembunyi

  1. seperti sang begawan bloger itu, bukan karena kemiripan nama di ranah maya beliau paman dan saya uncle, namun saya pun masih sukar mengikuti gaya di plurk dan twitter. lebih mudah menceritakan apa yang sudah terjadi ketimbang yang sedang terjadi.
    oiya, tapi bagaimana bila teman yang bercerita, ya?🙂
    ada jalan keluar, om?
    kejujuran itu bgaimana kalau kita bikin murah?

    1. yes, be a man of the past. kalo mencegah teman yg posting, paling cuma bisa bilang ‘jgn mention namaku’. tp ya kadang kan kalo orang juga gampang lupa.

  2. makanya kalau bohong lewat sosial media, jangan pergi keluar rumah. diem aja di kamar sibuk berpura-pura tidak ada dikos.
    oh dan ada juga kok orang yang pasang status sedang nongkrong di WC.

  3. ah ya teringat makan siang bersama kapan tau itu. begitu tiba di lokasi, saya langsung dapet peringatan : “jangan men-tweet-kan keberadaan ku di sini”.

    saya bengong. padahal saya tidak berniat nge-tweet sama sekali:mrgreen:

  4. setuju sama Cya… kalo ngaku sakit jangan malah keluyuran….
    tapi ada bagusnya juga sih… para playboy cap kucing itu mati langkah… soalnya keberadaan mereka bisa dipantau…

  5. saya pernah bahkan sering membaca status org yang sedang di WC, bahkan sampai ada istilah “twitdolling”, ngetweet sambil… *u know what*😀

    o iya, buat kasus “pura2” sakit juga kalo ngga salah pernah terjadi sama teman saya, tp tidak persis seperti yang dibayangkan, cm hampir serupa lah🙂

  6. Kayak ngeblog — juga di blog ini yang jarang di-update — memang semuanya seperlunya, secukupnya. Hal yang menggganggu dalam jejaring sosial adalah saya tidak mengumumkan diri tapi orang lain yang mengumumkan. Misalnya, “Lagi mergokin maspaman ngisi komen di blog Alyak”. Oh privasi? Kenapa kian menipis?

  7. ketauan boong seperti yg ditulis di atas paling hukumannya ditegur, blm sampe di pecat hehehe

    gilanya lagi (ini bukan fiktif dan sdh banyak yang terjadi), jejaring sosial ikut andil memperbanyak kasus perceraian. perselingkuhan yang ketauan di jejaring sosial. aduhhh disinilah jeleknya jejaring sosil yang bisa menemukan seseorang dengan mantan, bekas….dsb yang seharusnya tidak terjadi demi kebaikan haha

    mending jejaring sosial buat cari duit aja kali yaaa….

  8. “Sayang, saya belum pernah membaca status orang yang sedang nongkrong di WC sambil ber-BlackBerry :p”

    pantes join mancrut .. buanyak yang foto foto di toilet tuh .. wkwkwkw

  9. untuk hal ini harus hati-hati, jangan sampai kita memberikan lokasi kita. makanya saya ga pernah pakai GPS yang menurut saya sebagai “too much information” .

    Aniway, kunjungan pertama nih. please to meet you admin😀

  10. Plg kesel klo ada murid yg absen dr sekolah, krn alasan apapun, tp dgn santai nge-tweet (pas jam sekolah) klo dia lg makan di mana, maen ke mall/plasa mana, shopping, dsb. Mbok ya klo pas mbolos, ga usah tweeting macem2. Mentolo…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s