Gurun

Selesai nongkrongin pameran CES di Las Vegas selama dua hari, saya dan rombongan balik ke Los Angeles memakai bus. Bus? Beneran? Iya beneran. Hari Sabtu (8/1) itu, kami menempuh jarak sejauh 367 km antara Vegas-LA lewat jalan darat.

Bus kami beranjak dari hotel sekitar pukul 09.00 pagi dan mulai menginjak batas luar Vegas sekitar 15 menit kemudian. Ini kira-kira saja, karena dasarnya cuma pengamatan melihat rumah-rumah mulai jarang dan hamparan gurun mulai terlihat tak jauh dari situ.

Di tepi terluar Vegas ini masih ada segelintir kompleks perumahan (?). Rumah-rumah berukuran sedang dengan model yang cakep-cakep ada di situ. Tapi buat saya yang biasa hidup di tengah bumi yang hijau penuh pohon-pohon, kayaknya hidup di gurun begini nggak asik deh.

Rumah-rumah di bagian luar Las Vegas.

Gurun memang jadi menu utama perjalanan ini. Di kiri kanan jalan tol berukuran 2 x 4 lajur itu, pasir dan gunung pasir terhampar di mana-mana. Cuma di beberapa titik terlihat ada kelompok-kelompok kecil pemukiman dengan jumlah rumah tidak lebih dari jumlah jari di kedua tangan.

Kalau yang ini rumah-rumahnya agak banyak. Di tempat lain, kelompok pemukimannya lebih kecil.

Ya kaya umumnya gurun, nggak ada pohon yang bisa bikin mata sejuk sedikit, yang ada cuma semak-semak. Kalau binatang, yang bisa hidup di daerah kaya gitu paling kelinci, musang dan ular.

Gurun coklat dan langit biru. Gersang tapi cukup menakjubkan.

Kalau bosan nengokin gurun, saya biasanya mengalihkan perhatian ke kendaraan-kendaraan yang melintas di Interstate I-15 ini. Truk-truk besar (ada yang sopirnya cewek lho), mobil SUV yang menggandeng karavan, sampai bus-bus besar pengangkut turis berseliweran di sana.

Truk gede kaya gini berseliweran di Interstate I-15.

Sekitar 2,5 jam berjalan, kami sempat berhenti sejenak di sebuah rest area. Tapi rest area yang ini sedikit beda dengan yang ada di tol Cikampek atau Cipularang. Di sini tidak ada pom bensin, restoran atau kafe. Yang ada cuma toilet aja. Memang sih, di tempat lain ada juga rest area yang ada restoran dan pom bensinnya, mirip dengan yang di Indonesia.

Eh liat gagak lagi nangkring di rest area. Gagak liar kaya gini kadang galak juga katanya.
Di gurun banyak ularnya. Hati-hati kalau jalan.
Salah satu papan pengumuman di rest area.
Nampang dikit ya :p Di belakang itu jalan tol I-15.

Melanjutkan perjalanan, beberapa kali kembali menjumpai kelompok kecil rumah-rumah di tepi gurun. Imajinasi saya melayang, membayangkan di sana ada orang-orang pelarian yang membawa uang hasil rampokan dari Las Vegas. Mungkin mereka sembunyi di tempat-tempat seperti itu karena takut dikejar-kejar pembunuh bayaran kayak Anton Chigurh *halah*.

Tak lama kemudian kami melewati perbatasan negara bagian Nevada dan California. Meski sudah masuk California, pemandangan gurun masih tetap mendominasi. Kami kemudian berhenti di kota kecil bernama Barstow untuk makan siang. Nggak kayak kumpulan rumah-rumah di gurung, Barstow lumayan ramai. Ada perumahan, ada jalan-jalan kota dan ada fasilitas-fasilitas lain.

Mampir ke restoran steak di Barstow, kota kecil yang udah masuk negara bagian California.

Dari Barstow, paling cuma dibutuhkan waktu 2 jam ke Los Angeles. Selepas Barstow, pemandangan berubah sedikit lebih hijau. Meski vegetasinya masih berupa semak-semak, setidaknya mata nggak cuma disuguhi gurun berwarna coklat melulu. Di tepi jalan, juga mulai terlihat ada bekas salju yang mungkin jatuh di malam sebelumnya. Tiba-tiba, kabut turun dan udara terasa lebih dingin.

Kabut turun saat mendekati kota Rancho Cucamonga di San Bernardino County. Di beberapa tempat juga keliatan ada bekas hujan salju.
Senengnya liat ada kereta barang lewat selepas Barstow.

Kira-kira jam 14.00, kami mampir di Ontario Mills di kota Ontario. Ngapain? Ternyata tempat ini adalah pusat perbelanjaan, terutama belanja pakaian dan asesorisnya. Dari yang rencananya cuma sampai jam 16.00, ternyata molor sampai jam 17.30. Senja mulai turun ketika kami beranjak ke Los Angeles.

Cukup 50 menit perjalanan, kami akhirnya tiba di Los Angeles, makan malam dan masuk hotel. Mengingat waktu masih cukup sore, sebenarnya saya berniat ketemu teman yang sekarang lagi tugas di KJRI Los Angeles. Tapi karena teman itu nggak berani keluar malam di atas jam 21.00 (diplomat, mantan wartawan pula, kok penakut #wahihi), maka saya akhirnya memilih jalan-jalan di sekitar situ, pulang, lalu tidur.

Iklan

Vegas

Dari sebuah gurun yang tandus, lahirlah kota Las Vegas di negara bagian Nevada, Amerika Serikat. Buat segala aktivitasnya, kota ini dengan bangga menyebut dirinya sendiri ‘Sin City’ alias kota dosa.

Pagi pukul 05.30 waktu Los Angeles, Jumat (7/1/2011) saya dan lima orang lain asal Indonesia sampe di Ontario International Airport, kira-kira 40 km sebelah timur LA. Pagi itu, kami akan terbang ke Las Vegas. Oya, Bandara Ontario ini bandara yang kira-kira ukurannya cuma sedikit lebih gede dari Adi Sucipto. Isinya kebanyakan penerbangan lokal, penerbangan internasionalnya paling ke Meksiko atau Kanada. Kalau penerbangan jarak jauh dari Asia atau Eropa ya masuk Los Angeles International Airports.

Bandara Internasional Ontario jam 5.00 pagi. Masih gelap banget soalnya lagi musim dingin.

Nggak cuma di Indonesia, pesawat di Amerika pun bisa didelay–seperti yang terjadi pada pesawat Southwest Airlines ini. Akibat harus menjalani pengecekan di mesin sebelah kanan, pesawat baru bisa terbang pukul 07.00. Nggak lama mengudara, bentangan panjang Pegunungan Sierra Nevada nampak di sebelah kanan pesawat. Hamparan salju menutupi sebagian puncak itu.

Dari dalam kabin Southwest Airlines. Lagi ngantre buat take-off, kira-kira jam 7.00 pagi.
Salju menutupi puncak-puncak Pegunungan Sierra Nevada.

Setelah beberapa saat mata dimanja pemandangan salju yang membuat putih lanskap, pemandangan perlahan berganti. Pegunungan Sierra Nevada mulai diganti dengan gurun-gurun pasir yang memang menjadi wajah utama negara bagian Nevada.

Hamparan gurun pasir yang luas serta bukit-bukit pasir terus menghiasi jendela kaca pesawat hingga pesawat mendekati Vegas. Kumpulan rumah-rumah yang teratur dalam blok-blok persegi perlahan mulai terlihat saat ketinggian pesawat berkurang.

Ini rumah-rumah yang udah di dekat Vegas. Teratur kaya di SIM City.

Pukul 08.10 pagi, kami sampe juga di Bandara Internasional McCarran, Las Vegas. Sebutan Kota Dosa langsung mendapat bukti ketika saya lihat mesin-mesin judi koin di bandara itu.

Ini mesin judi di Bandara Internasional McCarran, Las Vegas. Mainnya pake koin.

Mendekati pintu keluar, ada poster-poster promosi show-show di Las Vegas memenuhi ruang. Macem-macem isinya, mulai dari show -nya Cher, sulap David Copperfield, sampe pertunjukkan dewasa seperti show AVN Awards ini. Ehem.

Begini ini poster promosi show-show di dekat pintu keluar Bandara McCarran, Las Vegas.
AVN (Adult Video Network). Uhuy.

Sampai di luar bandara, udara dingin menyergap meski matahari lumayan cerah. Sebelum tambah menggigil, saya dan teman-teman naik ke bus sewaan buat pergi ke Las Vegas Convention Center (LVCC), tempat digelarnya Consumer Electronic Show (CES), tujuan utama liputan saya.

Di pinggir-pinggir jalan, Las Vegas keliatan tandus banget. Tanah alias pasir yang warnanya coklat agak merah jadi warna yang dominan dari kota yang dahulu menjadi bagian dari wilayah negara Meksiko itu.

Makin dekat ke pusat kota, suasana Las Vegas sebagai kota hiburan kian terasa. Hotel-hotel raksasa mewah kayak MGM Grand, Luxor, Planet Hollywood, Hilton, atau Mandarin Oriental, berlomba berebut cakrawala.

Hotel Luxor yang bentuknya piramida. Diambil dari sebuah nama kota di Mesir.

Mobil-mobil mewah terus berseliweran hilir mudik. Sedan limosin yang panjangnya bisa nyaris 10 meter, sampe limosin Humvee yang mewah dan gagah, bukanlah hal asing untuk ditemui di sini. (Cuma sekali liat mobil jelek, tepatnya mobil kuno. Waktu liat itu, saya spontan bilang, “Tumben ada mobil jelek di sini).

Jalanan menuju LVCC agak macet dikit, meski nggak separah macet di Jakarta. Rupanya, kemacetan itu terjadi karena ada kecelakaan. Kami liat ada mobil SUV yang terbalik dan rusak parah. Korban-korbannya kemungkinan udah dibawa masuk ambulans yang ada di samping mobil nahas itu.

Di tepi jalan, lagi-lagi papan-papan raksasa yang promosiin show-show spesial terlihat. Di trotoar, juga ada pamflet pertunjukkan khusus dewasa yang ditempatkan di dalam kotak-kotak kaca. Sempat liat pamfet-pamflet ini di beberapa tempat di sana.

Promosi show dewasa. Harganya mahal juga, mulai $39.99 sampe $69.99. Kalau ada bintang pornonya bisa lebih mahal lagi #uhuk.

Tapi Vegas di siang hari bukan Vegas yang sejati. Vegas yang sebenarnya ada di malam hari. Benar aja, waktu saya lewat di Las Vegas Strip (jalan yang menjadi ‘inti’ Vegas), suasana Vegas sudah jauh berbeda. Vegas di malam hari adalah Vegas yang menyala terang dengan lampu warna-warni yang berkelap-kelip tiada henti.

Kasino-kasino pun mulai ramai didatangi oleh para pengunjungnya. Nyaris semua hotel, besar ataupun kecil, mewah ataupun yang biasa, juga punya kasinonya masing-masing.

Saya dan rombongan menginap di Hotel Southpoint. Di bagian lobi, ada kasino yang punya macam-macam permainan. Mulai dari mesin judi slot, poker, sampe roulette.

Malam mulai menua, udara di luar semakin dingin, perkiraan saya sudah mendekati 2 derajat Celcius. Tapi di dalam kasino, orang-orang ini tidak peduli dan tetap asyik dengan kesenangannya bertaruh di meja judi.

Selamat datang di Kota Dosa, kawan.

Imigrasi

Pekan lalu, saya melakukan perjalanan terjauh saya selama 20 tahun lebih saya hidup di dunia. Saya terbang ke Los Angeles untuk sebuah acara liputan.

Amerika, negara yang bisa dibilang sebagai negara yang dibenci tapi dirindu. Dibenci karena kebijakan mereka yang suka sembarangan, tetapi juga dirindu karena mereka adalah ekonomi terbesar dunia. Selain itu, banyak juga orang yang memimpikan untuk mengunjungi atau tinggal di sana.

Setelah terbang 6 jam dari Jakarta ke Taipei, lalu terbang 11,5 jam dari Taipei, akhirnya saya tiba di Bandara Internasional Los Angeles pada hari Rabu 5 Januari jam 19.30 waktu Los Angeles.

Melewati imigrasi di LA, saya termasuk yang harus melalui screening kedua. Deg, jantung sempat berdebar. Namun mengingat perbincangan di Jakarta dengan Wicak Hidayat yang selalu kena screening kedua dalam beberapa kali kunjungan ke AS, saya tenang-tenang saja.

Di depan meja imigrasi (yang ditangani oleh Custom and Border Protection (CBP)), ada belasan orang yang bernasib seperti saya. Di sana, kami harus mengisi formulir tentang apa kepentingan kami datang ke AS. Cukup 2 menitan, acara mengisi formulir selesai, tapi untuk menunggu sampai dilepas, bisa butuh sampai 1 jam sendiri!

Setelah 1 jam-an menunggu, saya dipanggil dan sidik jari saya diminta (proses yang wajar yang juga dilakukan di screening pertama). Lantas, paspor saya dikembalikan sembari diberi tahu kalau saya harus melapor ke CBP sebelum nanti pulang dari Los Angeles. Tanpa banyak tanya, saya pun berlalu.

Di pemeriksaan barang, tidak ada masalah. Mereka cuma menanyakan apakah benar saya seorang wartawan. Lalu, saya pun keluar dari bandara bahkan tanpa pemeriksaan terhadap barang-barang yang saya bawa.