Vegas

Dari sebuah gurun yang tandus, lahirlah kota Las Vegas di negara bagian Nevada, Amerika Serikat. Buat segala aktivitasnya, kota ini dengan bangga menyebut dirinya sendiri ‘Sin City’ alias kota dosa.

Pagi pukul 05.30 waktu Los Angeles, Jumat (7/1/2011) saya dan lima orang lain asal Indonesia sampe di Ontario International Airport, kira-kira 40 km sebelah timur LA. Pagi itu, kami akan terbang ke Las Vegas. Oya, Bandara Ontario ini bandara yang kira-kira ukurannya cuma sedikit lebih gede dari Adi Sucipto. Isinya kebanyakan penerbangan lokal, penerbangan internasionalnya paling ke Meksiko atau Kanada. Kalau penerbangan jarak jauh dari Asia atau Eropa ya masuk Los Angeles International Airports.

Bandara Internasional Ontario jam 5.00 pagi. Masih gelap banget soalnya lagi musim dingin.

Nggak cuma di Indonesia, pesawat di Amerika pun bisa didelay–seperti yang terjadi pada pesawat Southwest Airlines ini. Akibat harus menjalani pengecekan di mesin sebelah kanan, pesawat baru bisa terbang pukul 07.00. Nggak lama mengudara, bentangan panjang Pegunungan Sierra Nevada nampak di sebelah kanan pesawat. Hamparan salju menutupi sebagian puncak itu.

Dari dalam kabin Southwest Airlines. Lagi ngantre buat take-off, kira-kira jam 7.00 pagi.
Salju menutupi puncak-puncak Pegunungan Sierra Nevada.

Setelah beberapa saat mata dimanja pemandangan salju yang membuat putih lanskap, pemandangan perlahan berganti. Pegunungan Sierra Nevada mulai diganti dengan gurun-gurun pasir yang memang menjadi wajah utama negara bagian Nevada.

Hamparan gurun pasir yang luas serta bukit-bukit pasir terus menghiasi jendela kaca pesawat hingga pesawat mendekati Vegas. Kumpulan rumah-rumah yang teratur dalam blok-blok persegi perlahan mulai terlihat saat ketinggian pesawat berkurang.

Ini rumah-rumah yang udah di dekat Vegas. Teratur kaya di SIM City.

Pukul 08.10 pagi, kami sampe juga di Bandara Internasional McCarran, Las Vegas. Sebutan Kota Dosa langsung mendapat bukti ketika saya lihat mesin-mesin judi koin di bandara itu.

Ini mesin judi di Bandara Internasional McCarran, Las Vegas. Mainnya pake koin.

Mendekati pintu keluar, ada poster-poster promosi show-show di Las Vegas memenuhi ruang. Macem-macem isinya, mulai dari show -nya Cher, sulap David Copperfield, sampe pertunjukkan dewasa seperti show AVN Awards ini. Ehem.

Begini ini poster promosi show-show di dekat pintu keluar Bandara McCarran, Las Vegas.
AVN (Adult Video Network). Uhuy.

Sampai di luar bandara, udara dingin menyergap meski matahari lumayan cerah. Sebelum tambah menggigil, saya dan teman-teman naik ke bus sewaan buat pergi ke Las Vegas Convention Center (LVCC), tempat digelarnya Consumer Electronic Show (CES), tujuan utama liputan saya.

Di pinggir-pinggir jalan, Las Vegas keliatan tandus banget. Tanah alias pasir yang warnanya coklat agak merah jadi warna yang dominan dari kota yang dahulu menjadi bagian dari wilayah negara Meksiko itu.

Makin dekat ke pusat kota, suasana Las Vegas sebagai kota hiburan kian terasa. Hotel-hotel raksasa mewah kayak MGM Grand, Luxor, Planet Hollywood, Hilton, atau Mandarin Oriental, berlomba berebut cakrawala.

Hotel Luxor yang bentuknya piramida. Diambil dari sebuah nama kota di Mesir.

Mobil-mobil mewah terus berseliweran hilir mudik. Sedan limosin yang panjangnya bisa nyaris 10 meter, sampe limosin Humvee yang mewah dan gagah, bukanlah hal asing untuk ditemui di sini. (Cuma sekali liat mobil jelek, tepatnya mobil kuno. Waktu liat itu, saya spontan bilang, “Tumben ada mobil jelek di sini).

Jalanan menuju LVCC agak macet dikit, meski nggak separah macet di Jakarta. Rupanya, kemacetan itu terjadi karena ada kecelakaan. Kami liat ada mobil SUV yang terbalik dan rusak parah. Korban-korbannya kemungkinan udah dibawa masuk ambulans yang ada di samping mobil nahas itu.

Di tepi jalan, lagi-lagi papan-papan raksasa yang promosiin show-show spesial terlihat. Di trotoar, juga ada pamflet pertunjukkan khusus dewasa yang ditempatkan di dalam kotak-kotak kaca. Sempat liat pamfet-pamflet ini di beberapa tempat di sana.

Promosi show dewasa. Harganya mahal juga, mulai $39.99 sampe $69.99. Kalau ada bintang pornonya bisa lebih mahal lagi #uhuk.

Tapi Vegas di siang hari bukan Vegas yang sejati. Vegas yang sebenarnya ada di malam hari. Benar aja, waktu saya lewat di Las Vegas Strip (jalan yang menjadi ‘inti’ Vegas), suasana Vegas sudah jauh berbeda. Vegas di malam hari adalah Vegas yang menyala terang dengan lampu warna-warni yang berkelap-kelip tiada henti.

Kasino-kasino pun mulai ramai didatangi oleh para pengunjungnya. Nyaris semua hotel, besar ataupun kecil, mewah ataupun yang biasa, juga punya kasinonya masing-masing.

Saya dan rombongan menginap di Hotel Southpoint. Di bagian lobi, ada kasino yang punya macam-macam permainan. Mulai dari mesin judi slot, poker, sampe roulette.

Malam mulai menua, udara di luar semakin dingin, perkiraan saya sudah mendekati 2 derajat Celcius. Tapi di dalam kasino, orang-orang ini tidak peduli dan tetap asyik dengan kesenangannya bertaruh di meja judi.

Selamat datang di Kota Dosa, kawan.

13 thoughts on “Vegas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s