Pasar

Pada awalnya adalah spontanitas. Tahun 1934, sekelompok petani di Los Angeles menggelar dagangan di bak truk mereka di sudut jalan antara Fairfax dan Third. Para pembeli berkerumun di lahan tanah yang dipetak-petak dengan garis yang dibikin dari kapur.

Berpuluh tahun kemudian, tempat itu menjadi sangat sibuk dan nama Farmers Market pun kian melambung. Para petani tidak lagi berdagang dengan modal truk, namun mereka punya toko dan kedai; sementara pengunjung juga tidak lagi harus berbecek-becek di atas tanah karena tempat itu kini sudah berlantai paving block dan aspal, di sana disediakan juga tempat parkir yang luas buat mobil mereka.

Ini papan tinggi di luar Famers Market.

Pada sebuah Minggu pagi menjelang siang di awal Januari, saya mendatangi Farmers Market. Sebelum ini, saya baru tahu keberadaan Farmers Market dari video yang saya tonton di kabin pesawat EVA Air yang membawa saya dari Taipei ke Los Angeles. Promosi di video tersebut cukup menarik, Farmers Market digambarkan sebagai tempat untuk mencari bahan-bahan makanan segar dll.

Meski suhu saat itu lumayan hangat, perkiraan saya sekitar 6-8 derajat Celcius, tapi angin musim dingin yang berembus pelan-pelan tetap saja membuat saya kadang menggeretakkan rahang. Hihihi.

Dari luar, terlihat sebuah menara yang mirip menara gereja dengan tulisan Farmers Market. Lalu ada juga papan tinggi yang mempromosikan barang apa saja yang bisa didapat dalam pasar itu. Saya tidak tahu apakah tampang Farmers Market ini sama atau tidak dengan pasar modern yang ada di Jakarta atau Tangerang karena saya belum pernah datang ke pasar modern di dua tempat yang saya sebut belakangan itu :p

Saya masuk ke dalam Farmers Market melalui sebuah jalan kecil yang terletak di dekat toko Monsieur Marcel. Suasana di dalam pasar belum terlalu ramai. Ada toko dan kedai berderet-deret, ada juga kursi-kursi dan meja yang ditata rapi.

Deretan meja makan di bawah sinar matahari, cukup menghangatkan suasana Los Angeles di musim dingin.

Setelah menebar pandangan ke beberapa arah, saya kemudian masuk ke toko Monsieur Marcel. Toko ini menjual berbagai macam kebutuhan dapur, seperti bumbu-bumbu, yoghurt, keju, wine, kopi dan teh, pasta, dll. Berada di toko ini kok saya langsung ingat teman saya, Herman, yang hobinya masak itu. Saya membayangkan, dia pasti akan sangat bahagia masuk ke toko ini.

Sejatinya, saya nggak tau mau beli apa di situ. Setelah sempat menimbang-nimbang mau beli wine, saya membatalkan niat itu karena saya bingung bawanya. Dari Las Vegas saja saya sudah bawa satu botol minuman beralkohol, takutnya nanti nggak lolos di bea cukai Jakarta. Akhirnya, saya membeli sebungkus kopi buat teman saya, Ipung, yang memang nitip ‘kopi Amerika’ sebelum berangkat. Tapi tunggu, kopi yang saya beli ternyata kopi Italia, bukan kopi Amerika :)) Ahsudahlah.

Keluar dari toko itu, saya berkeliling. Ada banyak toko yang saya lewati, seperti toko daging segar, restoran yang menjual masakan Meksiko, kedai es krim, toko poultry (menjual daging unggas), toko permen, sampai toko yang menjual sayuran segar seperti tomat, bawang, dll.

Toko pastry yang menjual kue-kue hangat.
Toko daging ini menyediakan mulai dari daging ayam, sapi, sampai daging babi.

Di depan toko-toko itu, orang-orang duduk berkelompok menikmati hidangan dan suasana. Suasana makin hangat (literally) karena beberapa kaki di atas meja-meja itu ada pemanas yang berfungsi mengusir hawa dingin bulan Januari ini. Dan karena hari ini hari Minggu, banyak di antara pengunjung ini yang datang bersama keluarganya.

Pasar yang sangat bersih. Membuat pengunjung betah.
Makan bersama keluarga di hari Minggu di Farmers Market. Akrab dan hangat.

Itu kotak hitam di langit-langit adalah pemanas ruangan. Daripada pengunjung kedinginan?

Mulai capek berkeliling-keliling selama kurang lebih 20-an menit, saya menuju salah satu toko dan membeli beberapa kotak coklat. Bukan coklat dengan kemasan modern, tetapi coklat home made yang cukup dikemas dengan kotak plastik tipis yang transparan. Sembari melayani pembeli lain, ibu penjaga toko yang dari logatnya terlihat berlatar belakang Hispanik itu mengajak berbincang seorang bapak dan anak di samping saya.

Si ibu itu meledek si anak cowok yang mungkin usianya 7-8 tahun dengan bertanya apakah dia sudah punya pacar. Ibu itu lalu bilang kalau dia punya anak perempuan yang umurnya 6 tahun dan bertanya apakah si cowok kecil itu mau berkenalan dengan putrinya. Si anak cowok itu pun merasa malu dan banyak berlindung di balik badan ayahnya yang cuma cengar-cengir saja.

Sejam berada di Farmers Market membuat saya suka dengan konsep menjadikan pasar sebagai obyek wisata. Suatu hari nanti, saya ingin melihat orang asing menjadikan salah satu pasar di Jakarta, Yogyakarta, Malang, atau Makassar, sebagai salah satu tujuan wisata yang harus mereka kunjungi.

11 thoughts on “Pasar

  1. waktu aku di DC, ada farmers market yg cm ada setiap weekend. Tp nggak sempat mampir😥 Tp puas banget ke pasar tradisional Pike Place Market di Seattle, ada pedagang ikan yg jualan sambil nyanyi2😀

  2. di thailand dan malaysia sudah membuat tour “pasar becek”
    dan pasarnya yang dipilih betul2 mirip dengan pasar tradisional di sini.
    jadi rasanya gak usah bikin yang sophisticated, yang becek pun dicari oleh turis bule tuh😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s