Lakers (2)

Catatan: Nyasar adalah fitur. Bagian kedua dari dua tulisan berisi bualan panjang ini.

Staples Center. Ya, saya sudah di sini, nonton Lakers vs Knicks. Meski saya duduk di tribun teratas, itu tidak mengurangi antusiasme saya menikmati tontonan kelas dunia langsung di tempatnya seperti ini.

Section 301-302, Aisle U1. Tempat saya menonton.

Stadion yang sangat megah ini, selain menjadi markas Lakers juga menjadi markas tim NBA lainnya, Los Angeles Clippers. Selain itu, tim hoki es Los Angeles Kings juga berkandang di sini. Jadi, kalau Kings main, lapangan basket akan dibongkar dan diganti dengan lapangan es. Keren!

Ciri khas venue olahraga modern ada di bangunan ini. Toko suvenir dan kedai-kedai makanan berjejer di dalam, dekat dengan pintu masuk ke tribun masing-masing. Jadi, mereka yang nonton di sini bisa beli burger, pizza atau soda, juga jersey Lakers, menjelang pertandingan atau saat jeda. Oya, suvenirnya mahal-mahal, njrit! Ya sudahlah, saya beli saja satu kaus Lakers buat anak. Hihihi.

Para penonton antre beli makanan saat half-time.

Kembali ke dalam tribun, suasana sangat meriah. Di sebelah kiri saya, ada dua orang laki-laki pendukung Knicks yang dengan bebas berteriak-teriak mendukung timnya walau ia dikepung fans Lakers. Meski kadang bertukar celaan, tidak ada masalah antara fans Knicks itu dengan fans Lakers. Mereka sadar kalau ini cuma olahraga dan dukungan kepada tim kesayangannya tidak harus diikuti tindakan kekerasan.

Tip-off pertandingan Lakers vs Knicks.

Beginilah view lapangan dari tempat saya duduk. Tanpa zoom kamera :p

Saya mencoba ngobrol dengan dua fans Knicks di kiri saya. Yang satu pria berkulit hitam asli NY dan satu pria berwajah Jepang yang ternyata berasal dari Hawaii. Selain itu, saya ngobrol dengan sepasang cowok-cewek orang LA asli di kanan saya. Mereka terkejut ketika tahu saya datang beribu-ribu kilometer dari Indonesia buat nonton NBA.

Tidak banyak yang bisa diceritakan dari pertandingan. Lakers terlalu kuat buat Knicks dan menang telak. Karena Lakers menang dan Knicks gagal mencetak lebih dari 100 angka, maka setiap penonton di stadion dapat voucher untuk menikmati dua buah taco gratis dari restoran Jack in the Box. Itulah mengapa di akhir-akhir pertandingan para penonton ramai-ramai berteriak, “We want tacos, we want tacos.” Hihihi, ternyata orang Amerika juga suka gratisan.

Suasana Staples Cnter ketika pertandingan resmi berakhir.

Ya sudah, begitulah cerita dari dalam Staples Center. Sekitar jam 21.15 waktu setempat, saya dan ribuan orang lainnya berduyun-duyun keluar stadion. Di pintu keluar semua orang mendapat dua voucher taco yang tadi dijanjikan. Bubarnya penonton berjalan tertib dan tidak menimbulkan kemacetan di luar. Mereka yang memakai mobil pribadi berjalan ke tempat mobilnya diparkir, yang lain memilih naik MRT dari Stasiun Pico atau naik taksi.

Keluar dari Staples Center dari Figueroa Street Entry. Di pintu keluar kami dapat 2 voucher taco dari sebuah restoran.

Tapi petualangan lain sudah menunggu saya sekeluar dari Staples Center. Sesuai rencana, saya berniat untuk naik bus nomor 62 yang lewat di jalan depan hotel. Untuk itu, saya harus menunggu di 5th Street yang kalau dihitung dari 11th Street tempat saya berada berarti saya harus berjalan sekitar enam blok.

Saya bertanya arah ke 5th Street kepada seorang petugas polisi di dekat situ. Eh, nama polisi itu Nguyen lho. Tapi dari cara dia ngomong, kayaknya dia itu keturunan Vietnam yang udah lahir di Amrik. Di LA, cukup banyak orang Vietnam, hanya saja kalah banyak dari orang Thailand, orang Jepang, Korea dan China.

Pukul 21.30-an, saya menyusuri jalanan downtown LA. Makin jauh dari Staples Center dan Nokia Theater, suasana makin sepi. Maklum, ini hari Minggu dan downtown LA adalah kawasan bisnis, maka wajar kalau sepi. Dibanding Jakarta yang sampai jam 1 pagi aja masih rame, jelas LA ini kalah jauh.

Setelah berjalan cukup jauh, saya sampe juga di 5th Street, di dekat persimpangan dengan Flower Street. Dari informasi yang saya gugling sebelumnya, bus kota pada akhir pekan di atas pukul 21.00 akan lewat antara 20-60 menit sekali. Ya sudah, saya pun mencoba menunggu.

Ditakdirkan banyak jalan kaki. Jalan dari Staples sampe persimpangan 5th-Flower St. For nothing 😦

Dua puluh menit, bus no 62 yang saya tunggu tidak kunjung datang. Saya mulai gelisah, hari semakin malam dan mulai menginjak pukul 22.00. Kemudian, ada seorang ibu-ibu agak tua yang berjalan ke halte saya menunggu. Meski tadinya saya sudah yakin bus yang saya tunggu jurusannya benar, tetapi saya coba tanya saja ke dia apa benar bus no. 62 menuju Commerce.

“Oh kamu salah. Harusnya kamu naik bus no sekian (saya lupa dia ngomong bus nomor berapa) dari 6th atau 7th Street,” kata ibu itu. Saya jadi bingung dan mulai meragukan informasi yang saya dapat sendiri dari google. Akhirnya, saya menuruti ucapan ibu itu dan berjalan kembali ke arah sebaliknya.

Jalan 1-2 blok, saya melewati sejumlah homeless. Saya agak ngeri sebenernya, takutnya kalau dia tiba-tiba nodong atau malak. Meski LA aman, kita nggak mau jadi korban kan? Saya terus berjalan dan mulai menyadari kalau saya melewati jalan yang tidak saya lewati tadi. Saya nyasar! Dalam keadaan separuh panik, saya mulai tidak bisa melihat peta dengan benar. Langkah kaki saya kemudian malah mengantar saya ke sebuah jembatan di atas jalan tol!

Saya makin panik dong dan akhirnya memutuskan buat nyari taksi saja. Beruntung, nggak berapa lama ada taksi kosong lewat dan saya menyetopnya. Saya naik taksi dengan disapa, “Hola, amigos” dari sang sopir. Wah saya dikira orang Meksiko nih. Hihihi.

Saya tanya ke sopirnya, tahu hotel Doubletree di Commerce, nggak? Dia bilang nggak tahu. Mati lah. Saya beri alamatnya, Telegraph Street nomer sekian-sekian, dia masih nggak paham. Saya tanya lagi, tau Citadel nggak? Masih nggak paham juga. Setengah pasrah, saya lantas bilang, “Pokoknya jalan itu ada di tepi interstate I-15.”

Si sopir ini kayaknya mulai paham. Dia lalu membawa mobilnya lewat jalan tol. Sepanjang jalan, dia ngobrol pake bahasa yang saya duga bahasa India lewat handsfree ponselnya. Buat mencairkan ketegangan, saya tanya aja apakah dia dari India. Dia bilang benar dan dia balik tanya saya dari mana. “Indonesia,” jawab saya pendek.

Ketika mobil berjalan di jalan tol itulah saya lihat menara Citadel, sebuah kompleks perkantoran yang terletak di depan hotel. Saya bilang ke sopir buat menuju ke sana. Kemampuan saya buat menandai tempat-tempat yang pernah saya lewati jadi berguna! Saya perlahan mulai mengenali jalanan di sekitar tempat itu dan bilang ke sopir kalau dia sudah benar.

Saya kemudian ingat kalau saya belum makan malam. Perut terasa krucuk-krucuk juga. Akhirnya, saya minta berhenti di restoran Carls Jr yang jaraknya sekitar satu blok dari hotel. Pas mau turun, pintu belakang kanan tidak bisa dibuka. Saya kembali tegang, saya sudah berpikir yang tidak-tidak kalau saya bakal jadi korban kejahatan. Sopir turun dan mencoba membuka pintu dari luar. Tetap gagal. Saya tambah tegang. Untungnya, pintu belakang kiri bisa dibuka dan saya pun keluar. Saya bayar biaya taksi sekitar 30 dolar. Saya nggak kasih tips, selain karena menurut saya 30 dolar itu udah banyak, saya pikir itu juga sebagai ‘hukuman’ karena pintunya macet dan bikin saya tegang. :))

Saya mampir di Carls Jr dan membawa pulang makanan buat dimakan di hotel saja. Waktu sudah hampir jam 23.00 saat saya sampai di hotel. Berakhirlah sudah petualangan saya hari itu. Mulai dari lika-liku berburu tiket sampai nyasar di kota yang sangat asing, adalah sebuah pengalaman yang priceless buat saya.

Iklan

Lakers (1)

Catatan: Cari tiket itu butuh perjuangan, Jendral! Bualan panjang, jadi sebaiknya saya pecah biar nggak capek bacanya. Bagian pertama dari dua tulisan.

Stadion Staples Center di Los Angeles

Saya jatuh cinta kepada sepakbola di usia 11 tahun, ketika Piala Dunia 1994 digelar di Amerika Serikat. Tapi saya baru memulai suka basket 2-3 tahun kemudian. Itu lebih karena teman-teman di sekolah juga menyukai basket.

Di masa saya mulai memerhatikan basket, saat itu adalah penghujung karir pebasket terhebat dunia, Michael Jordan. Tapi para pemain hebat lain seperti Hakeem Olajuwon, Patrick Ewing, Shaquille O’Neal, Reggie Miller dan Chris Webber juga cukup akrab di telinga.

Meski sepakbola adalah olahraga kesukaan nomor satu, tetapi saya justru merasakan pengalaman menyaksikan tontonan kelas dunia justru di cabang basket. Saya belum pernah nonton langsung Liga Inggris, Liga Italia atau Liga Spanyol di tempat asalnya, tetapi setidaknya saya sudah pernah nonton langsung pertandingan NBA.

Sebenarnya, nonton NBA tidak ada dalam rencana saya saat melakukan liputan ke Las Vegas dan Los Angeles awal Januari kemarin. Niat untuk nonton basket baru muncul saat saya membaca koran Los Angeles Times dalam perjalanan dari Vegas ke LA. Pertandingan yang ingin saya tonton adalah antara LA Lakers melawan New York Knicks di Staples Center, Minggu 9 Januari 2011, jam 18.30 waktu setempat. Kepada sopir yang membawa kami, Antonio, saya tanya apakah hotel saya di Doubletree, Commerce, jauh dari Staples Center. Antonio bilang kalau jaraknya nggak jauh dan masih terjangkau pakai taksi.

Malam Minggu, setelah sempat jalan-jalan sebentar di luar di hotel, saya habiskan waktu dengan googling info soal sarana transportasi untuk mencapai Staples Center dan kembali lagi ke hotel. Patut dicatat, tidak ada stasiun MRT yang dekat dengan hotel, dan itu berarti saya harus menghapal rute bus. Mengingat BlackBerry saya mati selama di sana, saya save saja peta rute bus yang ruwet itu ke ponsel agar bisa dilihat offline.

Tak lupa, saya bertanya ke tour guide saya tentang agenda hari Minggu pagi. Ternyata, pagi itu kami akan dibawa ke Hollywood, Farmers Market, Pantai Santa Monica dan terakhir ke Staples Center dan Nokia Theatre. Dua bangunan terakhir ini terletak di satu tempat. Bagus, saya pikir. Nanti saya bisa ditinggal di Staples dan akan pulang sendiri ke hotel pakai angkutan umum.

Tour guide saya rupanya nyebelin. Dia seperti meragukan kalau saya bisa dapat tiket buat nonton. Saya bilang kalaupun tiket habis, saya bisa cari calo. Eh dia ngomong lagi kalau di Amerika nggak ada calo. “Kamu pikir ini di Indonesia?” ucap dia. Saya diam saja tapi memupuk asa buat dapat tiket. Saya belajar dari pengalaman mas Iman Brotoseno yang bisa dapat tiket nonton Arsenal di hari pertandingan.

Hari Minggu, setelah puas jalan-jalan ke Hollywood, melewati Beverly Hills dan Rodeo Drive yang tenar itu, lalu makan siang di Pantai Santa Monica yang biasa buat syuting serial Baywatch, sekitar jam 3 sore kami akhirnya sampai juga di downtown LA, mengunjungi Staples Center dan Nokia Theater yang terletak di antara 11th Street dan Figueroa Street.

Tampak depan Staples Center. Bentuk hurup L-nya memang bentuk cekrekan.

Begitu tiba di sana, saya langsung menuju ticket box. Saya tanya, berapa tiket termurah buat pertandingan ini. Saya dibuat gigit jari ketika petugas di ticket box bilang kalau tiket buat seluruh kelas sudah habis. Saya pun mulai mengedarkan pandangan dan berjalan-jalan di sekitar stadion basket yang bisa diisi 30 ribu orang itu. Saya mencari calo >:)

Ticket box, biasanya cuma buat penukaran tiket aja.

Mencari calo di Staples Center ternyata tidak mudah, tidak seperti di Stadion GBK di mana para calo dengan agresif menawarkan tiket kepada semua orang yang lewat. Belakangan, baru saya tahu kalau calo tiket pertandingan Lakers tidak mencari ‘mangsa’ di sekitar Staples, tetapi beraksi di sekitar Nokia Theater di seberang jalan atau di jalan-jalan yang berjarak 2-3 blok di luar stadion.

Sembari memotret sana sini, saya sempat berbincang dengan seorang fans Lakers berkulit hitam. Ketika saya bilang saya cari tiket, dia bilang cari saja di ‘scooper’ alias tukang catut, tampangnya biasanya laki-laki kulit hitam yang mencurigakan. Dalam hati saya membatin, “Ndasmu, kalau semua laki-laki kulit hitam yang tampangnya mencurigakan saya tanyai apakah dia calo atau bukan, bisa-bisa bukan tiket yang saya dapat tapi malah dapat bogem mentah.”

Yang baju kuning yang kasih saran saya buat nyari pria dengan tampang mencurigakan.

Saya belum menyerah. Saya kemudian mendekati tempat bertuliskan ‘press entry’, saya bilang kalau saya jauh-jauh dari Indonesia, bisa nggak saya masuk dengan status reporter. “Maaf, Anda harusnya mengirim email buat request liputan jauh-jauh hari. Setidaknya sepekan,” jawab seorang petugas pria dengan ramah.

“Kalau Anda mau, saya berikan alamat email buat korespondensi bila Anda mau meliput pertandingan berikutnya,” tawarnya simpatik. “Tidak, terima kasih. Ini hari terakhir saya di LA dan besok saya harus terbang kembali ke Indonesia,” jawab saya sembari berlalu.

Ya, seperti yang sudah saya bilang, nonton basket memang tidak ada dalam rencana saat berangkat dari Jakarta. April tahun lalu, saat saya seharusnya berangkat liputan ke Orlando, malah saya sempat mengirim email ke Orlando Magic apakah saya bisa meliput pertandingan mereka. Email itu tidak terjawab dan saya juga batal ke Orlando, tapi namanya juga usaha. Ya kan? :p

Saya mengitari Staples Center sampai dua kali, berusaha mencari orang yang mungkin mau menjual tiketnya. “Gimana, dapat tiket?” tanya teman serombongan saya saat berpapasan. “Belum. Negatif,” kata saya mulai putus asa.

Kans saya buat memperoleh selembar tiket menipis. Saya kemudian berjalan menjauh dari stadion buat mencari telepon umum. Saya mau mengontak teman saya ini karena kami janjian untuk ketemu di sekitar Staples usai pertandingan. Saya berniat untuk memajukan waktu ketemu bila saya gagal nonton Lakers.

Saya baru nemu telepon umum di stasiun MRT Pico, cuma satu blok dari Staples Center. Telepon nggak nyambung. Pertama saya pikir kalau teman saya ini susah dihubungin karena lagi di Big Bear, sebuah kawasan pegunungan yang jaraknya sekitar 2 jam naik mobil dari LA. Ternyata, saya salah pencet nomor. Harusnya, saya nggak pakai kode area lagi kalau nelpon nomer lokal. Hihihi. Ndeso ya tuips.

Matahari musim dingin tenggelam lebih cepat dan sekitar pukul 17.30 suasana sudah gelap. Gagal menelpon, saya kembali ke Staples. Eh setibanya di sana, saya melihat ada antrean terbentuk di dekat ticket box. Saya tanya ke salah seorang cewek yang sedang ngantre itu antrean apa. Ternyata itu adalah antrean resale tiket pertandingan. Wah, kabar baik! Saya pun masuk antrean yang belum terlalu panjang itu.

Di situ, saya ngobrol-ngobrol sama cewek yang ternyata datang sama cowoknya. Saya tanya apakah tiket sold out begini karena lawannya Knicks (musuh bebuyutan Lakers selain Boston Celtics), dia bilang, setiap pertandingan Lakers memang sold out. Sebagai informasi, kalaupun main tandang, kehadiran Lakers akan membuat stadion itu juga sold out. Magnet Lakers memang luar biasa.

Saya juga ngobrol-ngobrol dengan dua orang mahasiswa asal Shanghai, China, yang kuliah di Columbus, Ohio, dan sedang jalan-jalan ke LA. Kami ngobrol banyak, mulai dari cerita saya waktu di Beijing sampai obrolan soal Yao Ming, center Houston Rockets yang sedang cedera panjang.

Antrean bergerak dan tiket dijual lagi. Saya dengar harga tiket mencapai 100 dolar AS. “Mahal anjrit!’ pikir saya. Bahaya nih kalau nanti kantor nggak mau reimburse. Hahaha. Tak sampai 15 menit, petugas yang mengawasi antrean resale itu berteriak, “Siapa perlu satu tiket?” Saya mengangkat tangan dan maju. Ternyata harga tiketnya cuma 50 dolar tuips! Alhamdulillah, termasuk cukup murah. Setelah membayar dan tiket berpindah tangan, saya kembali ke dua mahasiswa China yang ada di belakang saya tadi. Saya salami mereka dan berucap, “Good luck!” “Have a nice game,” balas mereka. Kami berpisah di situ.

Bukti sahih tiket Lakers vs Knicks :))

Dapat tiket, persoalan belum selesai. Cuaca dingin membuat batere kamera saya lebih cepat habis. Nggak lucu dong kalau bisa masuk Staples Center tapi nggak ada foto? No pic=hoax! Saya lalu bertanya ke seorang steward perempuan apakah di dalam menjual batere. Dia bilang nggak ada, saya kemudian disarankan jalan sekitar dua blok ke arah timur (saya yakin ke arah timur) buat nyari batere di toko liquor.

Saya ngecek jam, sudah sekitar jam 18.00, cuma 30 menit sebelum pertandingan dimulai. Saya berlari ke arah yang dimaksud. Kira-kira dua blok, saya belok kanan satu blok. Di sana, ada toko liquor, tapi tokonya tutup. Mungkin ini karena hari Minggu. Saya masih terus berlari, mencari toko yang jual batere. Sekitar satu blok lagi, saya temukan ada toko liquor buka. Tapi, dia tidak jual batere :(( Saya akhirnya beli air minum di situ karena capek sehabis lari-lari.

Keluar dari toko liquor itu, saya terusin lagi jalan separuh berlari. Saya harus menemukan batere sehat buat kamera saya! Begitu tekad saya. Saya lari sampai melewati stasiun Pico yang tadi saya datangi. Di persimpangan jalan dekat Pico itulah saya lihat ada minimarket buka. Saya masuk dengan terburu-buru dan tanya apakah dia jual batere. Alhamdulillah, Puji Tuhan, dia jual! Saya buru-buru bayar. “Thanks buddy, in a rush to watch Lakers game.” kata saya sembari tersenyum.

Tuhan! Ternyata toko itu cuma berjarak satu blok dari Staples Center, tapi di sebelah baratnya! Saya menyesal banget kenapa harus lari-lari ke arah timur kalau akhirnya nemu di sebelah barat :)) Ya sudahlah, saya tengok jam di ponsel masih jam 18.15an. Saya jalan agak santai kembali ke stadion. Di tengah jalan saya sempat lihat ada calo menawarkan tiket ke calon penonton yang memarkir mobilnya jauh dari stadion.

Rute lari saya buat dapetin batere kamera 😐 titik hitam itu letak tokonya

Saya masuk ke Staples Center lewat pintu di Figueroa Street. Tiket tidak disobek, cuma dipindai saja. Tas saya diperiksa, lalu saya naik eskalator buat mencari tribun saya. Ternyata, tribun saya berada di bagian teratas Staples Center tuips! Masih bisa ngelihat pemain di lapangan sih. Untungnya juga ada layar tv raksasa di atas lapangan yang membantu kita melihat aksi di lapangan dengan jelas. Dua menit menjelang tip-off, saya akhirnya duduk manis di tribun. Lakers vs Knicks, here we go!

Tribun tertinggi, seharga 50 dolar! YEAH!

Bersambung ke cerita berikutnya

Hollywood

Peringatan: postingan yang harusnya sudah terbit sejak lama, tapi tertunda karena malas. Banyak foto-foto narsis, tidak disarankan untuk dibaca orang yang sedang mabuk atau hamil :p

Pagi itu, sebuah awal hari di awal Januari, matahari bersinar cerah di atas Los Angeles. Walau masih di suasana musim dingin, suhu pagi itu cukup ramah buat saya yang seumur hidup tinggal di negeri tropis, mungkin antara 10-12 derajat celcius.

Bus yang membawa saya dan rombongan menepi di Hollywood Boulevard, jalan yang punya reputasi jauh melampaui panjangnya yang cuma kurang lebih 1 kilometer itu. Iya, inilah jalan yang menjadi pusat dan inti, sekaligus rumah dari mesin raksasa bernama industri film Hollywood.

Jalan yang reputasinya melebihi panjangnya sendiri.

Perkembangan Hollywood sebagai pusat perfilman Amerika dimulai dari tahun 1920-an ketika studi-studio film memindahkan kandang mereka dari New York di Pantai Timur ke Los Angeles di Pantai Barat. Hollywood yang tadinya cuma sebuah kawasan ndeso pun perlahan menjadi area yang glamor.

Setelah sembilan dekade, wajah Hollywood sebenarnya telah berubah banyak. Kini, studio yang masih bermarkas di sana tinggal Paramount, sedangkan studio-studio lain seperti Universal, Columbia, Metro Goldwyn-Mayer atau Warner Brothers sudah menyingkir dari sana.

Tetapi pesona Hollywood memang luar biasa. Kemampuannya untuk menarik kunjungan wisatawan dari seluruh dunia sangat mengagumkan. Lantas, sebenarnya apa jualan mereka sampai sebegitu hebatnya menjadi magnet buat turis?

Yang paling terlihat di Hollywood Boulevard tentu saja adalah Walk of Fame, kumpulan tanda bintang berwarna merah muda yang bertuliskan nama-nama pesohor Hollywood. Walk of Fame ini terdapat di trotoar di kedua sisi jalan.

Hollywood Walk of Fame, dengan bintang berwarna merah muda yang terkenal itu.

Walk of Fame ini terbagi menjadi lima jenis, yaitu lambang piringan hitam untuk para pelaku industri rekaman musik (recording artist) seperti Michael Jackson atau George Benson, lambang kamera film klasik untuk mewakili pelaku industri film seperti sutradara Martin Scorsese atau aktor Leonardo Di Caprio, ikon mikrofon untuk mereka yang berkiprah di radio, ikon televisi buat para pelaku industri televisi dan lambang topeng komedi dan tragedi untuk mewakili mereka yang merupakan pelaku hiburan di panggung.

The Legend, The One and Only Michael Jackson.

Selain Walk of Fame, ada sejumlah obyek menarik lain di jalan ini. Di antaranya adalah bangunan Kodak Theater yang merupakan tempat perhelatan penghargaan Piala Oscar setiap tahun. Tanpa ada pergelaran Oscar, bangunan ini sepertinya biasa saja. Tapi dari salah satu tempat di Kodak Theater ini, kita bisa melihat Hollywood Sign yang terletak di atas bukit.

Tanpa pergelaran Oscar, Kodak Theater ini sepi.

Ada juga Grauman Chinese Theater, sebuah gedung bioskop yang berarsitektur China. Di depan Chinese Theater, terdapat monumen berupa cap tangan dan kaki dari tokoh-tokoh film Hollywood. Yang unik, tidak cuma tokoh nyata seperti Johnny Depp atau Michael Douglas yang boleh membubuhkan jejak di sini, tetapi juga tokoh-tokoh fiksi seperti Donal Bebek atau robot R2D2 dari film Star Wars.

Grauman's Chinese Theater, cita rasa Asia di Hollywood.
Pas banget sama tangannya Depp. Serius.
Telapak kaki Donal Bebek ini dibuat tahun 1984.

Kemudian ada Hotel Roosevelt, hotel berarsitektur klasik Spanyol yang merupakan hotel berbintang lima pertama di Los Angeles. Di hotel ini, ada urban legend perihal sebuah kamar yang dihantui oleh arwah Marilyn Monroe yang memang pernah menginap di situ.

Hotel Roosevelt yang katanya dihantui arwah Marilyn Monroe.

Cuma itu? Tentu saja tidak. Masih ada obyek-obyek menarik lainnya yang juga layak dikunjungi, seperti Museum Lilin Madame Tussauds, Ripley’s Believe It or Not Odditorium, Hollywood Museum, Guinness World Record Museum, dan obyek-obyek lainnya yang mungkin tidak akan selesai dieksplorasi dalam satu siang saja.

Poster film Little Fockers di muka Museum Madame Tussauds.
Hollywood Museum ini gak tepat terletak di Hollywood Blvd, tapi agak masuk dikit.
Tempat buat liat yang aneh-aneh gitu deh.

Bila ingin mengeksplorasi Hollywood lebih lanjut, tersedia sangat banyak tur yang menjajakan jasa di tepi Hollywood Boulevard. Dengan mengikuti tur itu, pengunjung akan diajak berkeliling ke rumah-rumah bintang Hollywood yang terletak di kawasan sekitar itu.

Dari Hollywood Boulevard ini, kita diajak untuk melihat kilasan sejarah tentang apa dan bagaimana industri perfilman terbesar dunia itu berjalan dan mengguritakan pengaruhnya ke seantero penjuru dunia.