Lakers (2)

Catatan: Nyasar adalah fitur. Bagian kedua dari dua tulisan berisi bualan panjang ini.

Staples Center. Ya, saya sudah di sini, nonton Lakers vs Knicks. Meski saya duduk di tribun teratas, itu tidak mengurangi antusiasme saya menikmati tontonan kelas dunia langsung di tempatnya seperti ini.

Section 301-302, Aisle U1. Tempat saya menonton.

Stadion yang sangat megah ini, selain menjadi markas Lakers juga menjadi markas tim NBA lainnya, Los Angeles Clippers. Selain itu, tim hoki es Los Angeles Kings juga berkandang di sini. Jadi, kalau Kings main, lapangan basket akan dibongkar dan diganti dengan lapangan es. Keren!

Ciri khas venue olahraga modern ada di bangunan ini. Toko suvenir dan kedai-kedai makanan berjejer di dalam, dekat dengan pintu masuk ke tribun masing-masing. Jadi, mereka yang nonton di sini bisa beli burger, pizza atau soda, juga jersey Lakers, menjelang pertandingan atau saat jeda. Oya, suvenirnya mahal-mahal, njrit! Ya sudahlah, saya beli saja satu kaus Lakers buat anak. Hihihi.

Para penonton antre beli makanan saat half-time.

Kembali ke dalam tribun, suasana sangat meriah. Di sebelah kiri saya, ada dua orang laki-laki pendukung Knicks yang dengan bebas berteriak-teriak mendukung timnya walau ia dikepung fans Lakers. Meski kadang bertukar celaan, tidak ada masalah antara fans Knicks itu dengan fans Lakers. Mereka sadar kalau ini cuma olahraga dan dukungan kepada tim kesayangannya tidak harus diikuti tindakan kekerasan.

Tip-off pertandingan Lakers vs Knicks.

Beginilah view lapangan dari tempat saya duduk. Tanpa zoom kamera :p

Saya mencoba ngobrol dengan dua fans Knicks di kiri saya. Yang satu pria berkulit hitam asli NY dan satu pria berwajah Jepang yang ternyata berasal dari Hawaii. Selain itu, saya ngobrol dengan sepasang cowok-cewek orang LA asli di kanan saya. Mereka terkejut ketika tahu saya datang beribu-ribu kilometer dari Indonesia buat nonton NBA.

Tidak banyak yang bisa diceritakan dari pertandingan. Lakers terlalu kuat buat Knicks dan menang telak. Karena Lakers menang dan Knicks gagal mencetak lebih dari 100 angka, maka setiap penonton di stadion dapat voucher untuk menikmati dua buah taco gratis dari restoran Jack in the Box. Itulah mengapa di akhir-akhir pertandingan para penonton ramai-ramai berteriak, “We want tacos, we want tacos.” Hihihi, ternyata orang Amerika juga suka gratisan.

Suasana Staples Cnter ketika pertandingan resmi berakhir.

Ya sudah, begitulah cerita dari dalam Staples Center. Sekitar jam 21.15 waktu setempat, saya dan ribuan orang lainnya berduyun-duyun keluar stadion. Di pintu keluar semua orang mendapat dua voucher taco yang tadi dijanjikan. Bubarnya penonton berjalan tertib dan tidak menimbulkan kemacetan di luar. Mereka yang memakai mobil pribadi berjalan ke tempat mobilnya diparkir, yang lain memilih naik MRT dari Stasiun Pico atau naik taksi.

Keluar dari Staples Center dari Figueroa Street Entry. Di pintu keluar kami dapat 2 voucher taco dari sebuah restoran.

Tapi petualangan lain sudah menunggu saya sekeluar dari Staples Center. Sesuai rencana, saya berniat untuk naik bus nomor 62 yang lewat di jalan depan hotel. Untuk itu, saya harus menunggu di 5th Street yang kalau dihitung dari 11th Street tempat saya berada berarti saya harus berjalan sekitar enam blok.

Saya bertanya arah ke 5th Street kepada seorang petugas polisi di dekat situ. Eh, nama polisi itu Nguyen lho. Tapi dari cara dia ngomong, kayaknya dia itu keturunan Vietnam yang udah lahir di Amrik. Di LA, cukup banyak orang Vietnam, hanya saja kalah banyak dari orang Thailand, orang Jepang, Korea dan China.

Pukul 21.30-an, saya menyusuri jalanan downtown LA. Makin jauh dari Staples Center dan Nokia Theater, suasana makin sepi. Maklum, ini hari Minggu dan downtown LA adalah kawasan bisnis, maka wajar kalau sepi. Dibanding Jakarta yang sampai jam 1 pagi aja masih rame, jelas LA ini kalah jauh.

Setelah berjalan cukup jauh, saya sampe juga di 5th Street, di dekat persimpangan dengan Flower Street. Dari informasi yang saya gugling sebelumnya, bus kota pada akhir pekan di atas pukul 21.00 akan lewat antara 20-60 menit sekali. Ya sudah, saya pun mencoba menunggu.

Ditakdirkan banyak jalan kaki. Jalan dari Staples sampe persimpangan 5th-Flower St. For nothing😦

Dua puluh menit, bus no 62 yang saya tunggu tidak kunjung datang. Saya mulai gelisah, hari semakin malam dan mulai menginjak pukul 22.00. Kemudian, ada seorang ibu-ibu agak tua yang berjalan ke halte saya menunggu. Meski tadinya saya sudah yakin bus yang saya tunggu jurusannya benar, tetapi saya coba tanya saja ke dia apa benar bus no. 62 menuju Commerce.

“Oh kamu salah. Harusnya kamu naik bus no sekian (saya lupa dia ngomong bus nomor berapa) dari 6th atau 7th Street,” kata ibu itu. Saya jadi bingung dan mulai meragukan informasi yang saya dapat sendiri dari google. Akhirnya, saya menuruti ucapan ibu itu dan berjalan kembali ke arah sebaliknya.

Jalan 1-2 blok, saya melewati sejumlah homeless. Saya agak ngeri sebenernya, takutnya kalau dia tiba-tiba nodong atau malak. Meski LA aman, kita nggak mau jadi korban kan? Saya terus berjalan dan mulai menyadari kalau saya melewati jalan yang tidak saya lewati tadi. Saya nyasar! Dalam keadaan separuh panik, saya mulai tidak bisa melihat peta dengan benar. Langkah kaki saya kemudian malah mengantar saya ke sebuah jembatan di atas jalan tol!

Saya makin panik dong dan akhirnya memutuskan buat nyari taksi saja. Beruntung, nggak berapa lama ada taksi kosong lewat dan saya menyetopnya. Saya naik taksi dengan disapa, “Hola, amigos” dari sang sopir. Wah saya dikira orang Meksiko nih. Hihihi.

Saya tanya ke sopirnya, tahu hotel Doubletree di Commerce, nggak? Dia bilang nggak tahu. Mati lah. Saya beri alamatnya, Telegraph Street nomer sekian-sekian, dia masih nggak paham. Saya tanya lagi, tau Citadel nggak? Masih nggak paham juga. Setengah pasrah, saya lantas bilang, “Pokoknya jalan itu ada di tepi interstate I-15.”

Si sopir ini kayaknya mulai paham. Dia lalu membawa mobilnya lewat jalan tol. Sepanjang jalan, dia ngobrol pake bahasa yang saya duga bahasa India lewat handsfree ponselnya. Buat mencairkan ketegangan, saya tanya aja apakah dia dari India. Dia bilang benar dan dia balik tanya saya dari mana. “Indonesia,” jawab saya pendek.

Ketika mobil berjalan di jalan tol itulah saya lihat menara Citadel, sebuah kompleks perkantoran yang terletak di depan hotel. Saya bilang ke sopir buat menuju ke sana. Kemampuan saya buat menandai tempat-tempat yang pernah saya lewati jadi berguna! Saya perlahan mulai mengenali jalanan di sekitar tempat itu dan bilang ke sopir kalau dia sudah benar.

Saya kemudian ingat kalau saya belum makan malam. Perut terasa krucuk-krucuk juga. Akhirnya, saya minta berhenti di restoran Carls Jr yang jaraknya sekitar satu blok dari hotel. Pas mau turun, pintu belakang kanan tidak bisa dibuka. Saya kembali tegang, saya sudah berpikir yang tidak-tidak kalau saya bakal jadi korban kejahatan. Sopir turun dan mencoba membuka pintu dari luar. Tetap gagal. Saya tambah tegang. Untungnya, pintu belakang kiri bisa dibuka dan saya pun keluar. Saya bayar biaya taksi sekitar 30 dolar. Saya nggak kasih tips, selain karena menurut saya 30 dolar itu udah banyak, saya pikir itu juga sebagai ‘hukuman’ karena pintunya macet dan bikin saya tegang. :))

Saya mampir di Carls Jr dan membawa pulang makanan buat dimakan di hotel saja. Waktu sudah hampir jam 23.00 saat saya sampai di hotel. Berakhirlah sudah petualangan saya hari itu. Mulai dari lika-liku berburu tiket sampai nyasar di kota yang sangat asing, adalah sebuah pengalaman yang priceless buat saya.

6 thoughts on “Lakers (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s