Adinda


Adinda,

Aku menulis surat ini dari tepian Sydney Harbour yang riuh. Keriuhan yang sungguh berbanding terbalik dengan apa yang aku rasakan di benak dan hatiku saat ini.

Senja sudah luruh sejak sejam tadi. Angin yang sedari tadi meniupkan udara dingin dari Samudera Pasifik ke daratan menjadi semakin menggigit saja. Kemejaku tidak terlalu kuat mengusir hawa dingin ini sehingga aku harus menyalakan sebatang rokok kretek ini.

Malam ini purnama. Bulan yang tadi sore masih malu-malu memperlihatkan diri kini semakin berani menunjukkan cahayanya. Warnanya yang keperakan memantul di air laut. Warna yang sama juga menjadi seperti sebuah lampu sorot yang mengarah ke dinding Opera House yang berdiri anggun sekaligus angkuh di tengah air. Ujung-ujung runcing Opera House menjulang ke udara, seolah-olah ingin menusuk purnama di atasnya, tetapi apalah daya karena merobek langit pun ujung runcing itu tak sanggup.

Kapal-kapal berisi turis dengan lampu menyala masih saja ulang alik di air teluk. Mereka tampak seperti lentera minyak yang dihanyutkan di perairan yang warnanya menghitam karena malam yang mulai larut.

Di sebelah kiriku, Harbour Bridge masih membentang kokoh dengan baja-baja berwarna gelapnya. Sekelompok manusia berada di atas jembatan dan dari sini mereka terlihat seperti kumbang yang hilir mudik. Tahukah engkau kalau dulu puncak teratas busur di jembatan ini adalah tempat favorit untuk mereka yang berniat bunuh diri?

Adinda,

Entahlah, apa engkau masih ingat dengan momen pertemuan kita di sini dua tahun lalu. Ketika itu, engkau adalah mahasiswa tingkat akhir di University of New South Wales. Engkau yang calon arsitek, terduduk di sebuah bangku panjang, sendiri, membawa sebuah papan kecil, pensil dan kertas kosong. Engkau mengisap rokok Marlboro black menthol-mu perlahan, dengan mata menerawang ke laut lepas, di mana rumah-rumah berdiri tak beraturan di punggung bukit-bukit kecil itu.

Aku mengenali wajah Indonesiamu—tepatnya, wajah Jawamu. “Boleh pinjam korek?” tanyaku padamu ketika itu. Engkau tersenyum, menyalakan korekmu dan menyodorkannya ke hadapan wajahku. Aku mendekatkan rokok di mulutku dan kedua tanganku membentuk pagar untuk melindungi api dari angin Sydney Harbour yang kejam.

“Terima kasih,” kataku, masih memakai bahasa Indonesia karena walau tadi engkau tidak mengucapkan sepatah kata pun, aku yakin engkau mengerti kalimatku.

“Sama-sama,” jawabmu sembari melempar senyum. Aku lega. Lega karena tebakanku bahwa engkau orang Indonesia tidak meleset. Engkau memang orang Indonesia, bukan orang Malaysia atau Filipina yang memang punya paras wajah mirip.

“Arsya,” ucapku sembari menyorongkan tangan mengajakmu bersalaman. “Dinda,” balasmu sembari mengguncang tanganku dengan tanganmu.

Sebuah pertemuan yang biasa saja. Kita tidak banyak mengenalkan diri, hanya berbicara tentang keindahan senja hari di Sydney Harbour itu. Engkau bilang kalau kau sangat senang menyendiri di dekat Sydney Harbour karena sedang butuh inspirasi untuk menyelesaikan tugas akhirmu.

Ternyata pertemuan itu bukanlah pertemuan kita satu-satunya. Keesokan harinya, di kursi panjang dekat dermaga yang sama, aku lagi-lagi melihat sosokmu. Kembali aku menyapamu dan kembali kita bicara sekadarnya. Aku tidak berani mengajakmu bicara panjang-panjang karena aku takut mengganggu kesibukanmu membuat sketsa-sketsa.

Adinda,

Suatu hari, aku melihatmu tanpa papan kecil, pensil dan kertas putih seperti yang biasanya kau bawa. “Aku hanya ingin menikmati matahari terbenam. Kalau sedang sedih, aku suka sekali memandangi matahari terbenam,” jawabmu ketika aku tanya. Engkau menjawab dengan wajah tetap tertuju ke perairan, dan engkau baru menengok ke wajahku setelah kata terakhir keluar dari mulutmu.

“Pangeran Kecil, Antoine de Saint Exupery. Ketika sedang sangat sedih, Pangeran Kecil melihat matahari terbenam sebanyak empat puluh empat kali dalam sehari. Sayang sekali kita cuma bisa melihat satu matahari terbenam dalam sehari,” kataku sembari memantik api ke ujung batang rokok kretekku.

“Sebenarnya bisa bila kita bisa berpindah dengan cepat. Misalnya, kita dapat menyaksikan matahari terbenam di Sydney, lalu dengan cepat kita terbang ke Perth untuk melihat matahari terbenam lagi, terus kita melesat cepat terbang ke Banda Aceh untuk melihat matahari masuk peraduan kembali, dan seterusnya, dan seterusnya,” katamu.

Aku tersenyum. Meski agak mustahil, aku mengagumi imajinasimu. “Pangeran Kecil sangat beruntung karena untuk melihat empat puluh empat matahari terbenam ia hanya harus menggeser kursinya,” tiba-tiba kau menukas untuk merampungkan kalimatmu tadi.

“Jadi, kau suka membaca Pangeran Kecil?” tanyaku. “My all time favorite,” jawabmu singkat. Aku mengangguk. Lalu kita berdua kembali tenggelam dalam diam seperti dua buah televisi hitam putih yang bisu.

Pembicaraan mengenai Pangeran Kecil itulah yang menjadi mula kedekatan kita. Setelah itu, kita kian sering berjumpa. Tidak lagi hanya di tepian Sydney Harbour, karena aku mulai berani mengajakmu untuk sekadar ngopi-ngopi di kafe kecil di The Rocks, atau minum-minum ringan di bar di kota.

Dari pertemuan-pertemuan itu, aku tahu kalau kesedihanmu tempo hari adalah puncak dari segala kesedihan yang pernah kau alami sepanjang hidupmu yang baru menyentuh angka 22 tahun. Engkau bilang kalau engkau patah hati karena kekasihmu di Indonesia ternyata memilih meninggalkanmu dan menikahi perempuan lain.

“Aku tak tahu apakah ini marah atau sedih; atau malah keduanya, Sya,” ucapmu dengan wajah tertunduk. Jemarimu memainkan sendok kecil di buih capuccino di dalam cangkirmu.

“Kadang aku pikir lebih baik aku mati saja. Tapi aku tahu itu salah di mata agama. Aku juga tidak mau mengecewakan orang tuaku yang menaruh harapan besar padaku; ayah dan ibu yang sangat bangga ketika aku mengabarkan bahwa aku memperoleh beasiswa untuk kuliah di sini.”

Momen itulah yang mengubah pandanganku terhadapmu. Engkau yang aku pikir gadis mandiri yang ceria dengan imajinasi yang luar biasa, ternyata juga seorang gadis yang rapuh. Engkau lalu mulai membenci laki-laki.

Kita bicara tentang banyak hal; malah mungkin terlalu banyak. Aku ingat betul, di sebuah bangku di tengah taman Macquarie Royal Garden, engkau ceritakan keresahanmu tentang Tuhan dan agama.

“Aku sekarang mudah tergetar kalau melihat orang berdoa di gereja, atau mendengar nyanyian mereka. Ini karena aku sedang merasa jauh dari Tuhan, atau karena God spot di otakku kian membesar?” tanyamu serius.

“Mungkin kamu mau jadi Kristen,” jawabku sedikit asal-asalan yang segera engkau sambut dengan pelototan mata yang malah membuatku tergelak.

“Ah kau sendiri pun bukan orang yang taat. Coba, kapan terakhir kau salat?” tanyamu.

“Jumat kemarin. Di KJRI,” kelitku.

“Iya, cuma seminggu sekali. Kau nanti lama-lama jadi agnostik juga,” sahutmu. Aku tak punya minat buat menghindar dan mendebat, karena itu aku hanya bisa membalas dengan senyum lebar.

Adinda,

Di waktu yang lain, engkau ceritakan tentang kerinduanmu pada ayahmu dan ketidaksanggupanmu untuk mengatakan bahwa engkau sayang padanya lewat telepon, karena tangismu akan lebih dahulu pecah sebelum engkau berhasil mengatakannya. Engkau merasa bersalah karena dulu ayahmu adalah orang yang paling menentang hubunganmu dengan pria yang kini telah meninggalkanmu itu.

“Rasanya ingin pulang, memeluk dia lagi. Menjadi gadis kecilnya lagi, menemaninya membeli pakaian dan aku akan menggandengnya di lengan, menuruti ke mana pun ia melangkah,” cetusmu menerawang.

“Telponlah dia. Sekarang. Jangan menunggu. Engkau tidak akan pernah tahu apakah waktu untuk itu masih ada,” saranku.

“Jangan menakut-nakuti aku!” serumu. “Aku tidak bisa menelponnya, apalagi mengatakan aku sayang padanya. Aku terlalu rapuh dan pasti aku menangis di telepon.”

“Apa salahnya menangis saat bicara dengan ayah?” tanyaku tak mengerti.

“Itu akan makin membuat mereka khawatir dan takut aku kenapa-kenapa. Lagipula, kalau sudah menangis aku selalu kehabisan kata-kata untuk diucapkan,” katamu. Aku mengangguk, mencoba memahami.

Tanpa pernah aku sadari, hatiku mengembara ke wilayah yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Pengembaraan yang ditenagai pertemuan-pertemuan dan janji-janji ngopi, minum dan nonton film yang kita lakukan. Tanpa perlu aku ucapkan, aku pikir kamu mengerti dengan apa yang aku rasakan di hati. Rasa yang tumbuh membesar seiring dengan gandengan tangan kita kala berjalan, rasa yang mengental di setiap usapanku di rambutmu yang panjang tergerai, rasa yang mengkristal dengan pukulan-pukulan kecilmu ke bahuku ketika aku merayumu. Hingga kemudian, suatu malam ketika kita kemalaman dan engkau terpaksa tidur di apartemenku yang hanya punya satu kamar. Malam itu, kita membuat keajaiban dan aku pikir kita tak terpisahkan lagi.

Adinda,

Ternyata, aku keliru. Kita tidaklah tak terpisahkan. Engkau kemudian bagai menghilang ditelan bumi. Kau tidak pernah lagi datang ke Sydney Harbour, tidak menjawab telponku atau menelponku balik, dan engkau juga tidak pernah membalas SMS dariku.

Aku mencoba berpikir positif bahwa engkau sedang berkonsentrasi menyelesaikan tugas akhirmu, sebagai pelunasan kewajibanmu kepada orang tuamu dan pemberi beasiswamu. Aku mencoba paham, walaupun hatiku sangat tersiksa tidak bisa bertemu dan sekadar menghabiskan senja denganmu lagi.

Hingga kemudian, bulan lalu aku menerima undangan perkawinanmu yang kau kirim dari Yogyakarta. Aku tersentak kaget. Terloncat seperti burung camar di Darling Harbour menghindari terpaan ombak yang datang tiba-tiba dibawa angin kencang bulan Desember.

Engkau sisipkan selembar surat di amplop undangan itu. Kau tulis di situ,

“Arsya, maafkan aku bila harus memakai cara ini untuk kembali ke episode kehidupanmu. Sungguh, aku sebenarnya tidak ingin seperti ini. Sebenarnya aku ingin berpamitan kepadamu ketika studiku selesai dan aku kembali ke Indonesia. Tetapi aku merasa hal itu adalah kesia-siaan belaka.

Aku tahu perasaanmu kepadaku. Sebaliknya, aku pun sudah cukup jelas menunjukkan perasaanku kepadamu walau aku tidak pernah mengucapkannya. Tapi engkau tahu kan, pertemuan kita di bangku panjang itu adalah sebuah kesalahan. Seharusnya kita tidak perlu berjumpa sehingga tidak pernah ada apapun di antara kita.

Andai kita tidak bertemu, engkau tidak harus menceraikan istrimu. Andai kita tidak bertemu, engkau pasti sudah menyelesaikan tesismu dan engkau tidak perlu kehilangan beasiswa seperti yang engkau alami saat ini. Sungguh, Arsya, pertemuan kita adalah sebuah kesalahan.

Maafkan aku, Arsya. Aku sungguh sayang padamu, tapi pada akhirnya aku memilih pria ini sebagai calon suamiku. Aku tidak bisa menunggumu, Arsya. Aku lelah dengan semua petualanganku sendiri, aku lelah dibuai janji-janji, aku lelah menjalani segala yang tak pasti.

Aku mengerti bila engkau tidak mau datang ke perkawinanku. Aku sendiri pun tidak terlalu berharap kau ada di sana karena itu hanya akan menggoreskan luka baru di atas luka lama yang belum sembuh benar. Aku juga tidak terlalu berharap engkau akan memanjatkan doa agar perkawinanku langgeng dan bahagia. Bukan hanya karena engkau sendiri sudah bilang kalau engkau tidak percaya lagi pada agama, tetapi juga karena perkawinanku ini pasti memukulmu (aku membayangkan pukulan yang sama akan aku alami bila engkau menikahi perempuan lain kelak).

Terima kasih atas pengertianmu, Sya. Salam dari Yogya,”


Adinda,

Aku menulis surat ini dari tepian Sydney Harbour yang riuh rendah oleh suara orang-orang yang menyemut di restoran (di mana kita pernah jadi bagian dari mereka di suatu masa) di belakangku. Aku nyalakan sebatang rokok kretek lagi, berharap hasil pembakaran tembakau dan cengkeh di dalamnya bisa mengusir dingin dan sepi yang bersemayam di hatiku.

Lewat surat ini aku ingin mengucapkan selamat atas pilihanmu. Aku tidak akan mengirim ucapan semoga perkawinanmu abadi, atau berdoa semoga engkau bahagia menjalaninya, karena ucapan seperti itu hanya akan dikeluarkan oleh orang yang munafik. Maafkan aku untuk keterusteranganku itu.

Satu hal yang engkau harus tahu, Adinda. Perasaanku kepadamu tidak akan berubah, seperti kokohnya Harbour Bridge yang dengan sabar dan setia mengantarkan orang, mobil dan kereta api menyeberang. Dari tepian Sydney Harbour yang riuh, aku setia menunggumu. Entah sampai kapan.

16 thoughts on “Adinda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s