Norwegian Wood

Naoko pertama kali menjumpai orang bunuh diri di usia 11 tahun ketika ia melihat kakak perempuannya tergantung tak bernyawa di kamar rumahnya. Menjelang dewasa, peristiwa bunuh diri kembali menghantamnya. Kejadian kedua ini sangat memukul Naoko karena terjadi pada Kizuki, kekasihnya.

Dua peristiwa pedih itu sangat memukul batin Naoko. Jiwa gadis muda itu terguncang. Ia seperti hilang ditelan kesedihan mendalam. Ia tidak pernah jadi ‘normal’ lagi. Meski ia punya Toru, sahabatnya (dan juga sahabat Kizuki) yang sangat mencintainya, Naoko merasa hampa di dalam dirinya.

Toru mencintai Naoko dengan segala kekurangannya, walau ia menyadari bahwa ia tidak akan pernah mampu menggantikan posisi Kizuki di dalam hati Naoko. Toru dan Naoko kemudian berpisah dan Toru yang meneruskan kuliah di Tokyo bertemu dengan Midori. Berbeda dengan Naoko yang tertutup dan menarik diri, Midori adalah seorang gadis yang ceria, terbuka dan penuh energi.

Haruki Murakami menceritakan sebuah kisah tentang perubahan Toru dari seorang remaja menjadi dewasa; bergelut dengan perubahan dan modernisasi yang tengah menggeliat di Jepang akhir tahun 1960-an, serta dipenuhi dilema antara terus bersama Naoko yang sangat ia cintai tetapi kejiwaannya terganggu atau memilih Midori.

Saya suka dengan gaya deskripsi Murakami di Norwegian Wood. Di tangannya, suasana asrama kampus tempat Toru tinggal, keramaian kota Tokyo yang riuh rendah, atau ketenangan yang menghanyutkan di hutan tempat Naoko dirawat menjadi sangat hidup. Pendewasaan tidak datang dalam semalam dan tidak menempuh jalan beraspal yang lurus.

Meski indah, novel ini sangat terasa muramnya karena banyak bertutur soal kehilangan, kesedihan dan kematian. Lagu-lagu The Beatles yang menemani kisah ini mengalir membuat melankoli jadi terasa kian kental. Bagi saya, Norwegian Wood adalah salah satu kisah paling indah sekaligus yang menyesakkan yang pernah saya baca.

Iklan