The Road

Jarang ada sebuah novel yang indah dalam bertutur tetapi sekaligus juga mencekam dan membuat depresi. Saya menemukan kedua hal itu saat membaca The Road karangan pengarang Amerika, Cormac McCarthy.

Buku The Road ini sangat gelap. Saking gelapnya, tokoh ayah dan anak yang jadi dua karakter utama di situ tidak pernah disebut namanya. Mereka hanya saling memanggil dengan ‘Papa’ dan ‘boy’. Keduanya berbicara dengan kata-kata yang padat dan singkat. Situasi memang tidak mengizinkan mereka banyak berbicara.

Amerika memang baru saja dilanda ‘kiamat’. Kota-kota hancur, jutaan orang tewas dan zombie pemakan otak manusia berkeliaran mencari mangsa. Sang ayah dan anak berusaha menuju pantai untuk mencari pertolongan dan menghindari musim dingin yang mematikan. Sang ayah memiliki sepucuk pistol dengan peluru cuma 2 buah yang hanya akan digunakan bila mereka menghadapi bahaya yang mengancam nyawa.

Sepanjang perjalanan, yang dihadapi oleh ayah dan anak ini hanyalah dataran yang sepi tanpa penghuni, pohon-pohon yang meranggas, abu di mana-mana dan sungai yang mengering. Selain bahaya yang mengintai dalam bentuk para zombie, perjalanan ini juga diganggu dengan sakit parah sang ayah yang berkali-kali batuk darah. Cuaca dingin dan tiadanya perlindungan memperparah sakit sang ayah.

Meski gelap dan mencekam, ada sejumlah momen yang layak dirayakan dalam perjalanan ayah dan anak itu. Seperti ketika mereka menemukan tempat berlindung atau suplai makanan kaleng dalam jumlah banayk, atau saat mereka menemukan baju bersih dan air untuk mandi.

Belum lagi dengan dilema moral yang dihadapi ayah dan anak itu di jalan ketika mereka bertemu seorang pria tua yang kedinginan dan kelaparan. Sang ayah berpikir, tidak mungkin mengajak orang tua itu berjalan bersama karena hanya akan membuat perjalanan jadi lambat dan makin berbahaya. Tapi si anak jatuh kasihan kepada sosok itu karena dia juga tengah berusaha bertahan hidup di tengah alam yang ganas.

Cerita di buku ini memang mencekam dengan deskripsi gelap yang dibuat oleh McCarthy. Namun ketabahan sang ayah dan anak dalam menghadapi ini semua membuat pembaca kembali percaya kepada ikatan darah, kasih sayang, dan yang terpenting: kemanusiaan.

About these ads

4 Tanggapan to “The Road”

  1. cya Says:

    gelap-gelap lagi. novel yang lucu menyenangkan dong nanti aku pinjam

  2. maziyank Says:

    Rekomendasi novel yang bagus untuk dibaca nih

  3. kw Says:

    waw blm baca bukunya tp aku liat filmnya….. membosankan hahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: