Tentang #SemingguSatu

Sejak pekan lalu, saya mengajak banyak blogger dan mantan blogger untuk kembali menulis. Biasanya, alasan tidak menulis adalah bingung tidak ada ide, atau terlalu banyak ide jadi malah nggak bisa dituliskan.

Awalnya, saya mengajak teman-teman dekat saya buat menuliskan buku-buku favorit mereka yang biasa dibaca di perjalanan. Yang ikut sih paling banyak enam orang, dua teman kantor, dua lagi teman di kantor lama dan masing-masing satu adalah teman blogger dan satu lagi teman yang kenal dari Twitter.

Kemudian, oleh mas Karmin (@fanabis), saya diajak buat mengembangkan flashmob blogging ini. Dia mengusulkan nama #SemingguSatu yang langsung saya setujui karena bagus, singkat dan saya nggak bisa nemu yang lebih baik. Hahahaha.

Jadi, buat menjawab apa itu #SemingguSatu, saya susun aja sebagai FAQ ya.

  • Apa itu #SemingguSatu?

#SemingguSatu adalah ajakan buat kembali nulis (di blog) dengan tema tertentu. Pekan pertama sudah tentang buku, pekan kedua tentang tempat-tempat favorit.

  • Siapa yang menentukan tema #SemingguSatu?

Tema akan disaring dari usulan teman-teman semua. Mungkin bisa voting, mungkin juga teman-teman sendiri yang bersepakat.

  • Kapan tema #SemingguSatu diumumkan?

Saya atau mas Karmin (atau yang lain juga bisa nantinya) akan mengumumkan setiap hari Selasa. Tulisan akan ditunggu sampai hari Selasa berikutnya saat tema selanjutnya diumumkan.

  • Saya harus lapor ke mana setelah posting #SemingguSatu?

Nggak harus lapor sih. Setidaknya, cukup promosikan posting barumu di Twitter dengan tagar #SemingguSatu. Kalau mau mention saya (@kelakuan) juga boleh. Nanti saya promosikan biar makin rame 🙂

  • Apakah #SemingguSatu didukung sebuah brand tertentu?

Tidak. Saya menjamin bahwa #SemingguSatu bukanlah kampanye brand apapun. Kampanye ini murni ajakan agar para blogger kembali menulis dan memeriahkan blogosfer agar ramai dan dinamis seperti era 2006-2009-an.

5 Tempat Paling Menyenangkan di Jakarta

(dan sekitarnya)

Saya udah 4,5 tahun tinggal di Jakarta, tapi tidak pernah merasakan kebetahan yang sama dengan masa saya tinggal di Yogyakarta. Maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, Jakarta buat saya adalah pond of opportunity, bukan sebuah sanctuary.

Tapi Jakarta tetap punya pesonanya sendiri. Ada banyak tempat, kegiatan dan orang-orang yang menarik buat dilihat dan dikenal.

Nah, dalam edisi kedua flashmob blogging yang oleh mas Fanabis diberi nama #SemingguSatu ini, saya akan membahas tentang 5 tempat yang paling menyenangkan yang pernah saya kunjungi di Jakarta (dan sekitarnya).

  • Toko Buku

Favorit saya adalah toko buku Kinokuniya di Plaza Senayan. Ini tempat buat buku impor yang paling lengkap. Yang paling menggoda adalah rak-rak buku fiksi berbahasa Inggris. Saya sih lumayan betah beberapa kali ngider-ngider doang, baca 1-2 halaman dan nggak beli :)) Tapi pernah juga sih saya terjebak masuk ke situ dan secara impulsif beli buku dengan harga yang cukup…menguras kantong.

Tempat favorit kedua adalah Gramedia Matraman. Konon katanya ini toko buku terbesar di Asia Tenggara. Koleksinya jelas, lengkap. Trus lokasinya juga cukup mudah dijangkau. Kalau sudah di dalam, lumayan nyaman buat numpang baca. Hehe.

Toko buku favorit ketiga adalah Times Universitas Indonesia. Bukan di Jakarta sih, tapi di Depok. Ini lebih ke faktor lokasi yang akan saya jelasin di bawah nanti.

  • Kampus UI

Apa yang bikin kampus Universitas Indonesia menyenangkan buat saya? Baobab! Iya. Di sana ada beberapa pohon baobab, pohon raksasa yang bisa berumur ratusan tahun yang aslinya dari Afrika. Pohon baobab ini fascinating karena merupakan kekhawatiran utama tokoh Pangeran Kecil yang tinggal di planet kecil bernama asteroid B-612.

Pohon-pohon baobab yang di UI dulunya berasal dari Subang. Yang di UI masih kurus-kurus sekarang, tapi beberapa tahun ke depan pasti bakal meraksasa.

Selain pohon baobabnya, saya baru tahu kalau perpustakaan UI super duper awesome! Arsitekturnya bagus banget, ruang-ruangnya nyaman, fasilitasnya lengkap, ada kedai kopi (yang sayangnya) internasional, dan toko buku Times.

Dulu akhirnya diberaniin main ke kampus UI karena ada local guide di situ :p Lumayan juga dapat pengalaman naik bus kuning yang lehendaris itu.

  •  Kebun Binatang Ragunan

Salah satu dari sedikit ruang terbuka hijau yang masih tersisa di Jakarta. Enak buat jalan-jalan siang-siang, ramai-ramai ataupun sendiri. Bisa membawa tikar dan bekal buat piknik. Oya, di dalam KB Ragunan ada pusat primata Schmutzer. Di sini, monyet-monyetnya banyak dan relatif sehat (soalnya dibiayai lembaga asing, kalau mengharap Pemerintah kasih dana layak buat perawatan hewan-hewan itu sih sama aja mimpi).

  • Plaza Senayan

Iya, saya memang nggak suka mall. Tapi buat pengecualian, saya suka Plaza Senayan. Ini bukan karena saya ngantor di samping PS sih. PS menurut saya adalah mall yang humble dari segi arsitektur. Tidak high rise, dan tidak mudah membuat para pengunjungnya tersesat seperti Grand Indonesia yang raksasa itu.

Meski bangunannya humble, tapi tidak dengan brand-brand yang dijajakan di sini. Terutama di lantai dasar.

Oya, di samping PS dan di depan kantor saya (Sentral Senayan II) ada air mancur yang terletak di tengah-tengah empat pohon beringin kecil. Kadang, kalau sore saya duduk-duduk di bawah pohon beringin sambil menyesap kopi atau merokok (atau melakukan keduanya bersamaan) sembari menonton air mancur yang diiringi musik,

  • Salihara

Yeah, inilah tempat buat mereka yang suka dengan seni, sastra dan diskusi intelektual yang berbobot *tsaah* Enggak, saya suka ke sini kalau ada pembacaan puisi atau ada konser musik jazz. Tapi kalau ada kuliah filsafat, diskusi buku atau pementasan teater sepertinya nggak terlalu tertarik. Saya senang kalau kerja dari tempat ini (ada wifinya), mungkin karena lokasinya yang dekat banget dengan kos :p

Kalau kamu, mana 5 tempat favorit di kotamu?

Menguji Ketangguhan Sinyal dalam #XLNetRally

Seperti tradisi dalam dua tahun belakangan, XL Axiata kembali menggelar acara #XLNetRally yang bertujuan untuk menguji ketangguhan sinyal mereka menghadapi lonjakan komunikasi voice, SMS dan data saat Idul Fitri nanti. Tahun ini, XLNetRally digelar hari Jumat dan Sabtu (6 dan 7/7/2012).

Saya termasuk yang diundang oleh XL untuk mengikuti XLNetRally itu dari Jakarta bersama dengan belasan blogger lain. Beberapa sudah saya kenal seperti Wiwik, Chichi dan Marcos. Yang lain-lain ada yang sudah pernah beberapa kali melintas namanya di timeline Twitter seperti om kumis IDBerry, tapi ada juga yang benar-benar belum kenal seperti om Edo Rusyanto, Benny Nugroho, Fajar Dinihari, Ronald ‘WowKonyol’ dll. Selain para blogger, XLNetRally juga mengajak rombongan wartawan dari berbagai media. Selain itu, ada juga blogger yang berangkat dari Bandung dan Surabaya.

Hari 1

Sebagai anak kereta sejati (iya, sejak 4-5 bulan belakangan saya rutin naik KRL buat pergi dan pulang kantor), saya mulai berangkat dari Stasiun Pasar Minggu, Jumat pagi banget. Saya naik KRL jurusan Jakartakota dan turun di Stasiun Gambir tepat jam 6.00 pagi. Di Gambir, saya ketemu dengan beberapa teman blogger, juga Adhams dari XL, serta kenalan sama mas Harry Deje, mas Dipa, mas Saranto dan mas Dolly dan mbak Turina (semuanya dari XL) serta dua ranger @XLCare idola kita semua, yaitu neng Alin dan neng Intan. Lalu ketemu juga dengan Ardhi, bosnya detikInet, yang sempat mengira saya pergi sebagai wartawan tapi ternyata enggak :))

Ini saya: Big Daddy is watching you! (Foto: Wiwikwae)

Sebelum berangkat, ada sedikit sambutan dari Presiden Direktur XL Axiata Hasnul Suhaimi. Hasnul menjelaskan bahwa kebutuhan data para pengguna seluler di Indonesia makin meningkat. “Saat ini, layanan 2G saja tidak cukup, sudah harus 3G,” ungkap dia. Karena itulah, XL berusaha terus memperbanyak BTS 3G dengan target membangun 1.000 BTS 3G tiap bulan guna melengkapi ‘arsenal’ BTS mereka yang sudah mencapai 33 ribu BTS. (Btw, pagi itu kelucuan pak Hasnul ngalah-ngalahin MC-nya, Tommy *pecut Tommy*)

Sekitar pukul 7.30 pagi, setelah diajak ngobrol sama pak Hasnul yang berpesan ala restoran Padang, “kalau Anda puas dengan layanan XL, ceritakan pada yang lain; kalau tidak puas, ceritakan pada kami,” kami berangkat menuju Semarang. Regu blogger ditempatkan di gerbong eksekutif KA Argo Muria yang sudah di-booking khusus, sementara rombongan wartawan ditempatkan di gerbong khusus wisata Toraja #envy. Di dua gerbong ini, XL menyediakan layanan wifi yang menggunakan layanan data XL juga. Karena itu, saya mencoba mengetes kekuatan sinyal wifi itu dengan laptop saya. Selama masih bergerak di Jakarta sih cukup oke. Saya bisa membuka MetroTwit, Gmail, sampai membaca 9Gag. Oya, saya bahkan membuat post di blog Posterous saya dengan menggunakan sinyal wifi tadi. Agak tersendat sih, tapi sukses terunggah tuh. Selanjutnya, kualitas sinyal XL bervariasi. Kalau di daerah yang cukup banyak rumah, kualitas sinyal cukup bagus buat sekadar ngetwit, tapi kalau di daerah tengah hutan yang cukup terpencil, biasanya kualitas sinyal memburuk sehingga gadget tidak bisa nyambung ke internet.

Chichi, Wiwik, saya dan Marcos bersama Pak Hasnul Suhaimi (Foto: Chichi Utami)
Ini saya lagi mencoba internetan dengan laptop memakai sinyal wifi XL. Memakai kelambu biar nggak ketahuan lagi buka apa :p (Foto: Wiwikwae)


Di perjalanan, tim dari XL, mas Irwan dan mas Asep, menjelaskan mengenai bagaimana wujud kesiapan XL menghadapi lonjakan komunikasi sebelum dan sesudah Idul Fitri. Layar tv LCD di gerbong kereta menampilkan peta rute yang sedang ditempuh KA Argo Muria dan titik-titik berwarna hijau (yang berarti kualitas sinyal sangat bagus), kuning (kualitas sinyal sedang) dan merah (kualitas sinyal buruk atau blank). Di jalur utara. Mayoritas kualitas sinyal XL terpantau berwarna hijau. Meski begitu, ada juga beberapa titik merah, seperti di sekitar Alas Roban, Batang. Mas Irwan dari XL memaparkan kalau kontur alam di sekitar daerah itu memang menyulitkan buat menempatkan BTS. Bila kondisi memungkinkan, XL akan mengerahkan mobile BTS buat memperkuat sinyal.

Saya sempat menanyakan apakah XL juga melakukan persiapan serupa di jalur selatan, mengingat saya pulang mudiknya ke Purwokerto. Mas Asep mengonfirmasi hal itu, tapi dengan memberi catatan bahwa kualitas sinyal XL di Purwokerto masih kategori merah. Waaa…sedih tuips. Kampung halamanku ternyata terbelakang 😦 (belakangan, ada keterangan tambahan kalau XL secara rutin menempatkan mobile BTS di Purwokerto guna mengatasi kelemahan itu). Semoga pada saat Lebaran sudah teratasi ya, mas dan mbak di XL. Kan nanti Lebaran saya mau kirim-kirim ucapan lewat Whatsapp dan Twitter, biar hemat :p

Kilometer demi kilometer dilalui KA Argo Muria ini. Cirebon, Tegal, lalu Pekalongan. Pemandangan indah alam pulau Jawa yang masih asli membentang di kiri dan kanan kereta. Waktu semakin siang, kami pun diberi kesempatan makan siang. Menunya mantap jaya: sop buntut. Mengisi perut yang kosong buat mengembalikan tenaga yang terkuras buat haha-hihi dan ikut kuis di atas gerbong, dengan ditemani pemandangan sawah, pepohonan, laut, kota, dan desa, sungguh menyenangkan hingga kantuk pun menjelang. Tapi kantuk yang menyerang tidak sempat terpuaskan oleh tidur karena sekitar pukul 13.30 kereta kami tiba di Semarang. Rasa-rasanya, saya sudah 12 tahun tidak pernah menginjakkan kaki di ibukota Jawa Tengah ini.

Di Stasiun Semarangtawang kami disambut oleh mbak-mbak manis yang menyuguhkan jamu beras kencur dan kunir asem yang sueger. Lalu, setelah rehat beberapa menit (sempat merokok di luar stasiun bareng om Edo), kami dibagi dalam 4 rombongan. Saya masuk dalam Bus 4 bersama beberapa blogger lain dan 2 ranger idola kita bersama #ihik. Kirain busnya bus biasa, tapi ternyata dugaan saya salah! Keempat bus yang membawa kami menuju Jogjakarta adalah bus eksklusif milik Omah Mlaku (Bus 1 dan 2) dan AM Trans (Bus 3 dan 4). Bus ini punya desain interior seperti rumah, lengkap dengan kamar tidur, dapur, kursi duduk, sofa panjang, kursi pijat Osim, kulkas dan tv LCD 32 inci.

Penampakan bus AMTrans yang kami naiki

Melihat ada tv, sound system dan dua mik, insting para banci karaoke pun muncul. Sayangnya, di koleksi milik bus cuma ada karaoke lagu-lagu jadul semacam lagunya Deddy Dores. Untunglah om Deddy (yang bukan Dores) ID Berry datang dengan pertolongan lewat BlackBerry Playbooknya. Setelah colok sana colok sini, akhirnya kami bisa berkaraoke lagu-lagu yang…tetep jadul, seperti lagu More Than Words-nya Extreme sampai I Want to Know What Love Is-nya Foreigner #karaokepenyingkapumur. Errrr. Tapi ada juga lagu-lagu baru ding seperti lagunya Katy Perry. Nyaris sepanjang tiga jam perjalanan darat itu kami nyanyi-nyanyi dan ketawa-ketawa terus sampai tidak terasa kami sudah menjejak bumi Sleman. Horeee! Bus kami diarahkan ke Restoran Mang Engking di jalan Godean. Dasar lapar, semua makanan mulai dari karedok, ikan goreng dan bakar, sampai udang goreng dan bakar yang lezat dibantai tanpa sisa. Di sini, beberapa dari kami mengagumi kemampuan Adhams buat melahap porsi besar makanan meskipun badannya nggak besar :))

Suasana interior bus AM Trans

 

Keluar dari Mang Engking, kami dibawa menuju Raminten, tempat tongkrongan anak muda yang sepertinya sedang hits di Jogja, di kawasan Kotabaru. Tapi karena tempatnya penuh (dan sepertinya tidak banyak tempat parkir tersedia buat empat bus berukuran raksasa), kami akhirnya langsung dibawa ke hotel Grand Quality tempat kami menginap. Menyusuri jalanan Jogja dari atas bus seperti layaknya turis ternyata sanggup membuat saya merasakan kangen terhadap kota yang terakhir saya kunjungi akhir Februari lalu itu. Kelebat kenangan bersama orang-orang tertentu melintas di kepala sembari saya ngobrol dengan Chichi (aslinya #surhat, tuips). Sudah-sudah, nggak usah dibahas lagi soal kenangannya. Takut nanti postingannya berubah jadi curhat :))

Sampai di hotel, menaruh barang bawaan yang tidak seberapa, lalu mandi dan bersih-bersih badan, saya sih nggak langsung tidur (kecuali Wiwik yang langsung molor sehabis mandi. Faktor U, tuips #digetok). Ajakan buat Jumintenan bareng anak-anak CahAndong langsung disambar saya dan Chichi. Naik taksi, kami bergabung dengan Sandalian, Lina (dan Lumen yang tertidur pulas), Pangsit, Christin dan Choro di Kopiitem, Babarsari. Ngobrol sana-sini, saya dan Chichi berniat buat menyusul rombongan hore #XLNetRally yang dipimpin om Deddy yang katanya sedang ngopi joss di angkringan Tugu. Sampai sana, lho kok sepi? Selidik punya selidik, mereka ternyata pintong ke Malioboro, tepatnya di dekat Batik Terang Bulan. Kami menyusul ke sana naik becak (serius, saya selama 4,5 tahun di Jogja keknya nggak pernah naik becak di Malioboro). Di sebuah warung lesehan, selain om Deddy juga ada Cak Uding (dengan jenggotnya yang mooi. Hihi) dan Leoni yang menyusul sendiri dari Jakarta, lalu ketemu juga dengan tweeps Jogja seperti Jewe (yang baru pernah ketemu), Bernad, Arga, Utied dan Ilham. Nongkrong sampai sekitar jam 1.30, kami akhirnya pulang ke kamar dan tidur.

Hari 2

Sabtu pagi, saya bangun jam 7.00 walau malamnya baru tidur jam 2.00. Udah kebiasaan tuips, libur-libur pun bangun pagi. Sarapan di hotel, terus ketemu dengan blogger dari Surabaya, Benny Chandra, lalu juga ketemu dengan dua blogger Bandung yang udah sering mensyen-mensyenan, Catur dan teh Nita Sellya.

Sedari malam, saya merasakan kalau sinyal XL di Jogja nggak terlalu bagus. Browsing dan whatsapp sering gagal atau delay. Saya pun sempat mengadu ke Adhams agar ke depan ada perbaikan. Sembari menunggu rombongan siap untuk menuju Liquid Cafe tempat akan digelarnya Obsat, Adhams menjelaskan kepada saya tentang bagaimana sinyal seluler bekerja. Ada banyak istilah teknis yang kurang saya mengerti, tapi saya banyak belajar mengenai kenapa sinyal seluler bisa kuat dan lemah, apa saja yang jadi penghalang, dlsb #learnnewthingseveryday

Sebelum menuju ke Liquid di Jalan Magelang, saya, Chichi dan Wiwik sempat menengok seorang teman yang sedang hamil muda dan harus diopname di RS Happy Land (Cepat sembuh ya, Nungk!) sebelum menyusul ke Liquid dengan taksi. Sampai sana, ternyata rombongan yang dari hotel malah belum sampai :)) Maka, kami pun makan duluan. Menunya gudeg dan pecel, trus ada juga gerobak angkringan yang menyediakan teh jahe anget. Sayang acaranya siang sih, jadi teh jahenya kurang nendang. Coba kalau malam (Jogja lagi dingin banget di musim kemarau ini, katanya bisa sampe 20 derajat Celcius), pasti bakal habis lebih dari dua gelas tuh. Selain rombongan dari Jakarta, Bandung dan Surabaya, juga datang blogger dan tweeps dari Jogja, Solo dan sekitarnya seperti Hamid, Bagus, dkk.

Acara Obsat pun dimulai. Pertamanya, mas Asep kembali memaparkan kesiapan jaringan XL menghadapi derasnya penggunaan jaringan seluler selama Lebaran. Sehari-harinya saja, XL harus mengantarkan trafic suara sebanyak 600 juta menit, 660 juta SMS dan 52 Terabyte (TB) data. Apalagi saat Lebaran, traffic itu naik hingga 30%. Masih dari XL, mas Deje dan ranger Alin dan ranger Intan kemudian menjelaskan mengenai apa itu @XLCare, yaitu customer service yang berbasis media sosial Twitter dan Facebook. Sehari-hari, ada 8 petugas yang disebut ranger akan menjawab keluhan dan pertanyaan pengguna XL serta berbagi informasi seputar gadget dan telekomunikasi yang disebut #XLShare. Menurut saya, menggunakan media sosial buat menampung keluhan dan pertanyaan pelanggan cukup strategis. Sekarang, dibanding menelpon call center dan harus memencet-mencet beberapa angka sebelum bisa bicara dengan CS (ya kalau CSnya nggak sibuk? Kalau CSnya sibuk, harus nunggu. Kan bayar tuh). Apalagi, XLCare berjanji bahwa setiap pertanyaan atau keluhan akan direspons paling lambat dalam tujuh menit!

Ranger Intan, Alin dan Hary Deje sedang presentasi (Foto: Marcos)

Selesai giliran dari XL, kemudian tampillah Edo Rusyanto. Meski rambutnya sudah memutih, blogger otomotif yang satu ini masih sangat semangat bicara tentang road safety, apalagi menjelang musim mudik Lebaran. Data yang didapat Edo dari Polri, dari H-7 hingga H-1 Idul Fitri tahun 2011, terjadi 297 kecelakaan dengan korban meninggal dunia 49 orang, 83 orang luka berat dan 315 luka ringan. Edo menambahkan kalau mayoritas dari korban kecelakaan itu adalah pemotor. Pemotor memang rawan kecelakaan, selain karena kendaraannya kecil, ia juga mudah diserang kelelahan yang membuat konsentrasi turun dan menimbulkan kecelakaan. Edo menyarankan agar pemotor beristirahat tiap 2 jam, namun tetap tidak menyarankan naik motor buat mudik mengingat risikonya.

Sesi terakhir dari Obsat kali ini adalah pemaparan Trinity tentang gadget dan travelling. Trinity yang rutin menulis blog di Yahoo!, selain di blognya sendiri, mengaku kalau orang lain itu menganggap bepergian sebagai liburan, maka ia menyebut bahwa liburan adalah pekerjaan rutinnya. Sementara liburan buat dia adalah ketika berdiam diri di rumah. Trinity menjelaskan bahwa gadget punya peran penting dalam travelling. Selain sebagai dokumentasi, juga demi eksistensi diri di media sosial. Karenanya, penting juga buat memilih operator yang memiliki jangkauan sinyal luas dan bisa roaming data di luar negeri.

Selesai Obsat di Liquid, saya, Wiwik dan Chichi melipir ke Kedai Kopi Gejayan buat kopdar (lagi!) dengan teman-teman CA. Di sana hadir Lina dan Lumen (kali ini bangun, yay!), Enade PhD, Ijal, Momon, Nico dan Celo. Ngobrol sana-sini, dari yang nggak penting sampai yang nggak penting sekali banget, akhirnya sekitar jam 16.45 saya harus pamit buat ke bandara karena ditunggu pesawat ke Jakarta jam 17.40. Setelah dibekali oleh-oleh sekardus besar (yang isinya antara lain gudeg kendil Yu Djum yang lehendaris itu), menunggu sebentar di ruang tunggu, akhirnya saya boarding ke pesawat Lion Air yang hebatnya hari itu on time sodara-sodara! Saya beruntung karena saya duduk sederet sama ranger ^AL #ihik. Yang tadinya berniat buat baca buku (atau tidur) di pesawat, saya malah akhirnya ngobrol sama Alin hingga nggak kerasa pesawat sudah mendarat di Bandara Soekarno Hatta Tangerang. Aaaaakkk. Cuma 50 menit tuips! I wanted more! #eh

Senja di langit Jogja menjelang kepulangan 🙂

Sungguh, perjalanan #XLNetRally kali ini sangat enjoyable. Jalan-jalan ke Semarang dan Jogja, trus ketemu teman-teman baru yang asyik banget. Semoga tahun depan saya diundang lagi ya #ngarep

Disclaimer: XL menanggung semua biaya perjalanan dan akomodasi selama saya berangkat dari Stasiun Gambir sampai pulang ke Jakarta lagi. Tulisan ini sangat diupayakan untuk tetap obyektif, tetapi penilaian akhir saya serahkan kepada pembaca sekalian.

5 Buku Terbaik buat di Perjalanan

The Catcher in the Rye karya J.D Salinger

Salah satu teman yang paling menyenangkan ketika menempuh perjalanan yang jauh adalah buku. Beda dengan manusia, buku tidak bisa bete, buku tidak pernah tidur dan buku tidak perlu dikasih makan dan minum.

Memang, kalau bepergian bersama teman kita bisa ngobrol, bisa saling membawakan barang, atau saling mengingatkan atau jadi tempat bertanya. Tetapi buku, seperti yang saya tulis di atas, juga punya beberapa keunggulan sebagai teman jalan.

Nah, saya punya beberapa persyaratan buat menjadikan buku sebagai teman jalan yang asyik.

  • Fiksi

Tentu saja, buku fiksi jelas buku paling menyenangkan. Masa’ kita mau pergi ke Yogyakarta buat jalan-jalan malah di atas mobil malah membaca A Brief History of Time karya Stephen Hawking? Itu jelas bukan buku yang buruk, tapi simpanlah ambisi membaca buku itu kalau kamu sedang berada di perpustakaan atau di kamar kosmu sehabis kamu putus cinta sama cewekmu.

  • Ukuran

Lebih enak mana, membawa buku 1Q84 karya Haruki Murakami yang tebalnya 900 halaman, atau membawa buku Catcher in the Rye karangan J.D Salinger yang tebalnya cuma 214 halaman? Buku yang menurut saya ideal buat dibawa-bawa adalah yang panjangnya tidak lebih dari 25 cm dan lebarnya tidak lebih dari 20 cm serta tebalnya 200-350 halaman. Ukuran yang tepat akan mempermudah kamu bergerak dan membolak-balik buku di kabin mobil, bus, kereta api atau pesawat yang mungkin tak terlalu luas.

  • Tema

Sebaiknya, pilihlah tema yang sesuai dengan kota yang kamu tuju, atau dengan tujuanmu pergi ke sana. Kalau kamu mau pergi ke India, membaca The Gods of Small Things-nya Arundhati Roy tentu cocok. Kalau kamu mau ke Irlandia, jelas Dubliners, novel antologi cerpen karangan James Joyce, jadi rekomendasi. Atau bila kamu mau ke Vietnam, bacalah buku Paradise of the Blind karangan Dong Thu Huong.

Nah, dari hal-hal di atas, saya punya 5 buku rekomendasi saya buat dibaca pergi:

The Catcher in the Rye, karya JD Salinger

Buku ini ukurannya pas dan tebalnya hanya 214 halaman. Cocok buat dibaca dalam perjalanan selama 3-12 jam. Ceritanya tentang pemberontakan seorang remaja bernama Holden Caulfield terhadap tatanan sosial di sekitarnya.

The Road, karya Cormac McCarthy

Temanya memang agak kelam, tentang Amerika yang baru dilanda kiamat. Tapi tak apa, ceritanya akan membuatmu kembali percaya kepada kemanusiaan. Cocok buat dibaca kalau kamu mau menuju Los Angeles atau New York. Nah, terbang ke sana membutuhkan waktu 20-24 jam, cukup lah buat menyelesaikan isi buku pemenang Pulitzer 2007 ini.

Norwegian Wood, karya Haruki Murakami

Bercerita tentang seorang anak muda yang tengah bimbang mencari cinta. Ditulis dengan bahasa yang indah oleh Murakami, cocok buat kamu yang akan pergi ke Jepang (tentu saja) atau kalau mau bepergian ke tempat-tempat yang indah. Siapa tahu, nanti setelah membaca buku ini kamu bisa membuat novel setelah melihat gunung dan danau.

The Alchemist, karya Paulo Coelho

Kisah Santiago yang mengembara mencari harta karun dan melihat alam semesta mendukungnya untuk meraih mimpi itu sungguh inspiratif. Cocoklah buat kamu yang mungkin sedang menuju Eropa untuk melihat karya-karya arsitektur yang sudah berusia beratus-ratus tahun.

James and the Giant Peach, karya Roald Dahl

Ini buku yang sebenarnya ditujukan buat anak-anak. Tapi tak usah khawatir, cocok juga dibaca orang dewasa kok. Ceritanya soal James, anak yatim piatu yang disiksa bibi-bibinya, yang menanam persik ajaib dan kemudian terbang ke seberang lautan bersama hewan-hewan aneh. Cocok buat perjalanan jarak dekat dan kalau kamu ingin tertawa-tawa tanpa henti di atas kabin pesawatmu.

Nah, kamu juga punya buku favorit buat dibaca di perjalanan? Mau 5 boleh, mau 10 buku bisa, mau 15 buku juga tidak dilarang. Kamu bisa ping back URL posting blog ini atau taruh di kolom komentar biar nanti saya bisa baca.

UPDATE

Ada beberapa teman yang sudah ikutan posting blog tentang buku atau bacaan favorit mereka buat di perjalanan.