Menguji Ketangguhan Sinyal dalam #XLNetRally

Seperti tradisi dalam dua tahun belakangan, XL Axiata kembali menggelar acara #XLNetRally yang bertujuan untuk menguji ketangguhan sinyal mereka menghadapi lonjakan komunikasi voice, SMS dan data saat Idul Fitri nanti. Tahun ini, XLNetRally digelar hari Jumat dan Sabtu (6 dan 7/7/2012).

Saya termasuk yang diundang oleh XL untuk mengikuti XLNetRally itu dari Jakarta bersama dengan belasan blogger lain. Beberapa sudah saya kenal seperti Wiwik, Chichi dan Marcos. Yang lain-lain ada yang sudah pernah beberapa kali melintas namanya di timeline Twitter seperti om kumis IDBerry, tapi ada juga yang benar-benar belum kenal seperti om Edo Rusyanto, Benny Nugroho, Fajar Dinihari, Ronald ‘WowKonyol’ dll. Selain para blogger, XLNetRally juga mengajak rombongan wartawan dari berbagai media. Selain itu, ada juga blogger yang berangkat dari Bandung dan Surabaya.

Hari 1

Sebagai anak kereta sejati (iya, sejak 4-5 bulan belakangan saya rutin naik KRL buat pergi dan pulang kantor), saya mulai berangkat dari Stasiun Pasar Minggu, Jumat pagi banget. Saya naik KRL jurusan Jakartakota dan turun di Stasiun Gambir tepat jam 6.00 pagi. Di Gambir, saya ketemu dengan beberapa teman blogger, juga Adhams dari XL, serta kenalan sama mas Harry Deje, mas Dipa, mas Saranto dan mas Dolly dan mbak Turina (semuanya dari XL) serta dua ranger @XLCare idola kita semua, yaitu neng Alin dan neng Intan. Lalu ketemu juga dengan Ardhi, bosnya detikInet, yang sempat mengira saya pergi sebagai wartawan tapi ternyata enggak :))

Ini saya: Big Daddy is watching you! (Foto: Wiwikwae)

Sebelum berangkat, ada sedikit sambutan dari Presiden Direktur XL Axiata Hasnul Suhaimi. Hasnul menjelaskan bahwa kebutuhan data para pengguna seluler di Indonesia makin meningkat. “Saat ini, layanan 2G saja tidak cukup, sudah harus 3G,” ungkap dia. Karena itulah, XL berusaha terus memperbanyak BTS 3G dengan target membangun 1.000 BTS 3G tiap bulan guna melengkapi ‘arsenal’ BTS mereka yang sudah mencapai 33 ribu BTS. (Btw, pagi itu kelucuan pak Hasnul ngalah-ngalahin MC-nya, Tommy *pecut Tommy*)

Sekitar pukul 7.30 pagi, setelah diajak ngobrol sama pak Hasnul yang berpesan ala restoran Padang, “kalau Anda puas dengan layanan XL, ceritakan pada yang lain; kalau tidak puas, ceritakan pada kami,” kami berangkat menuju Semarang. Regu blogger ditempatkan di gerbong eksekutif KA Argo Muria yang sudah di-booking khusus, sementara rombongan wartawan ditempatkan di gerbong khusus wisata Toraja #envy. Di dua gerbong ini, XL menyediakan layanan wifi yang menggunakan layanan data XL juga. Karena itu, saya mencoba mengetes kekuatan sinyal wifi itu dengan laptop saya. Selama masih bergerak di Jakarta sih cukup oke. Saya bisa membuka MetroTwit, Gmail, sampai membaca 9Gag. Oya, saya bahkan membuat post di blog Posterous saya dengan menggunakan sinyal wifi tadi. Agak tersendat sih, tapi sukses terunggah tuh. Selanjutnya, kualitas sinyal XL bervariasi. Kalau di daerah yang cukup banyak rumah, kualitas sinyal cukup bagus buat sekadar ngetwit, tapi kalau di daerah tengah hutan yang cukup terpencil, biasanya kualitas sinyal memburuk sehingga gadget tidak bisa nyambung ke internet.

Chichi, Wiwik, saya dan Marcos bersama Pak Hasnul Suhaimi (Foto: Chichi Utami)
Ini saya lagi mencoba internetan dengan laptop memakai sinyal wifi XL. Memakai kelambu biar nggak ketahuan lagi buka apa :p (Foto: Wiwikwae)


Di perjalanan, tim dari XL, mas Irwan dan mas Asep, menjelaskan mengenai bagaimana wujud kesiapan XL menghadapi lonjakan komunikasi sebelum dan sesudah Idul Fitri. Layar tv LCD di gerbong kereta menampilkan peta rute yang sedang ditempuh KA Argo Muria dan titik-titik berwarna hijau (yang berarti kualitas sinyal sangat bagus), kuning (kualitas sinyal sedang) dan merah (kualitas sinyal buruk atau blank). Di jalur utara. Mayoritas kualitas sinyal XL terpantau berwarna hijau. Meski begitu, ada juga beberapa titik merah, seperti di sekitar Alas Roban, Batang. Mas Irwan dari XL memaparkan kalau kontur alam di sekitar daerah itu memang menyulitkan buat menempatkan BTS. Bila kondisi memungkinkan, XL akan mengerahkan mobile BTS buat memperkuat sinyal.

Saya sempat menanyakan apakah XL juga melakukan persiapan serupa di jalur selatan, mengingat saya pulang mudiknya ke Purwokerto. Mas Asep mengonfirmasi hal itu, tapi dengan memberi catatan bahwa kualitas sinyal XL di Purwokerto masih kategori merah. Waaa…sedih tuips. Kampung halamanku ternyata terbelakang😦 (belakangan, ada keterangan tambahan kalau XL secara rutin menempatkan mobile BTS di Purwokerto guna mengatasi kelemahan itu). Semoga pada saat Lebaran sudah teratasi ya, mas dan mbak di XL. Kan nanti Lebaran saya mau kirim-kirim ucapan lewat Whatsapp dan Twitter, biar hemat :p

Kilometer demi kilometer dilalui KA Argo Muria ini. Cirebon, Tegal, lalu Pekalongan. Pemandangan indah alam pulau Jawa yang masih asli membentang di kiri dan kanan kereta. Waktu semakin siang, kami pun diberi kesempatan makan siang. Menunya mantap jaya: sop buntut. Mengisi perut yang kosong buat mengembalikan tenaga yang terkuras buat haha-hihi dan ikut kuis di atas gerbong, dengan ditemani pemandangan sawah, pepohonan, laut, kota, dan desa, sungguh menyenangkan hingga kantuk pun menjelang. Tapi kantuk yang menyerang tidak sempat terpuaskan oleh tidur karena sekitar pukul 13.30 kereta kami tiba di Semarang. Rasa-rasanya, saya sudah 12 tahun tidak pernah menginjakkan kaki di ibukota Jawa Tengah ini.

Di Stasiun Semarangtawang kami disambut oleh mbak-mbak manis yang menyuguhkan jamu beras kencur dan kunir asem yang sueger. Lalu, setelah rehat beberapa menit (sempat merokok di luar stasiun bareng om Edo), kami dibagi dalam 4 rombongan. Saya masuk dalam Bus 4 bersama beberapa blogger lain dan 2 ranger idola kita bersama #ihik. Kirain busnya bus biasa, tapi ternyata dugaan saya salah! Keempat bus yang membawa kami menuju Jogjakarta adalah bus eksklusif milik Omah Mlaku (Bus 1 dan 2) dan AM Trans (Bus 3 dan 4). Bus ini punya desain interior seperti rumah, lengkap dengan kamar tidur, dapur, kursi duduk, sofa panjang, kursi pijat Osim, kulkas dan tv LCD 32 inci.

Penampakan bus AMTrans yang kami naiki

Melihat ada tv, sound system dan dua mik, insting para banci karaoke pun muncul. Sayangnya, di koleksi milik bus cuma ada karaoke lagu-lagu jadul semacam lagunya Deddy Dores. Untunglah om Deddy (yang bukan Dores) ID Berry datang dengan pertolongan lewat BlackBerry Playbooknya. Setelah colok sana colok sini, akhirnya kami bisa berkaraoke lagu-lagu yang…tetep jadul, seperti lagu More Than Words-nya Extreme sampai I Want to Know What Love Is-nya Foreigner #karaokepenyingkapumur. Errrr. Tapi ada juga lagu-lagu baru ding seperti lagunya Katy Perry. Nyaris sepanjang tiga jam perjalanan darat itu kami nyanyi-nyanyi dan ketawa-ketawa terus sampai tidak terasa kami sudah menjejak bumi Sleman. Horeee! Bus kami diarahkan ke Restoran Mang Engking di jalan Godean. Dasar lapar, semua makanan mulai dari karedok, ikan goreng dan bakar, sampai udang goreng dan bakar yang lezat dibantai tanpa sisa. Di sini, beberapa dari kami mengagumi kemampuan Adhams buat melahap porsi besar makanan meskipun badannya nggak besar :))

Suasana interior bus AM Trans

 

Keluar dari Mang Engking, kami dibawa menuju Raminten, tempat tongkrongan anak muda yang sepertinya sedang hits di Jogja, di kawasan Kotabaru. Tapi karena tempatnya penuh (dan sepertinya tidak banyak tempat parkir tersedia buat empat bus berukuran raksasa), kami akhirnya langsung dibawa ke hotel Grand Quality tempat kami menginap. Menyusuri jalanan Jogja dari atas bus seperti layaknya turis ternyata sanggup membuat saya merasakan kangen terhadap kota yang terakhir saya kunjungi akhir Februari lalu itu. Kelebat kenangan bersama orang-orang tertentu melintas di kepala sembari saya ngobrol dengan Chichi (aslinya #surhat, tuips). Sudah-sudah, nggak usah dibahas lagi soal kenangannya. Takut nanti postingannya berubah jadi curhat :))

Sampai di hotel, menaruh barang bawaan yang tidak seberapa, lalu mandi dan bersih-bersih badan, saya sih nggak langsung tidur (kecuali Wiwik yang langsung molor sehabis mandi. Faktor U, tuips #digetok). Ajakan buat Jumintenan bareng anak-anak CahAndong langsung disambar saya dan Chichi. Naik taksi, kami bergabung dengan Sandalian, Lina (dan Lumen yang tertidur pulas), Pangsit, Christin dan Choro di Kopiitem, Babarsari. Ngobrol sana-sini, saya dan Chichi berniat buat menyusul rombongan hore #XLNetRally yang dipimpin om Deddy yang katanya sedang ngopi joss di angkringan Tugu. Sampai sana, lho kok sepi? Selidik punya selidik, mereka ternyata pintong ke Malioboro, tepatnya di dekat Batik Terang Bulan. Kami menyusul ke sana naik becak (serius, saya selama 4,5 tahun di Jogja keknya nggak pernah naik becak di Malioboro). Di sebuah warung lesehan, selain om Deddy juga ada Cak Uding (dengan jenggotnya yang mooi. Hihi) dan Leoni yang menyusul sendiri dari Jakarta, lalu ketemu juga dengan tweeps Jogja seperti Jewe (yang baru pernah ketemu), Bernad, Arga, Utied dan Ilham. Nongkrong sampai sekitar jam 1.30, kami akhirnya pulang ke kamar dan tidur.

Hari 2

Sabtu pagi, saya bangun jam 7.00 walau malamnya baru tidur jam 2.00. Udah kebiasaan tuips, libur-libur pun bangun pagi. Sarapan di hotel, terus ketemu dengan blogger dari Surabaya, Benny Chandra, lalu juga ketemu dengan dua blogger Bandung yang udah sering mensyen-mensyenan, Catur dan teh Nita Sellya.

Sedari malam, saya merasakan kalau sinyal XL di Jogja nggak terlalu bagus. Browsing dan whatsapp sering gagal atau delay. Saya pun sempat mengadu ke Adhams agar ke depan ada perbaikan. Sembari menunggu rombongan siap untuk menuju Liquid Cafe tempat akan digelarnya Obsat, Adhams menjelaskan kepada saya tentang bagaimana sinyal seluler bekerja. Ada banyak istilah teknis yang kurang saya mengerti, tapi saya banyak belajar mengenai kenapa sinyal seluler bisa kuat dan lemah, apa saja yang jadi penghalang, dlsb #learnnewthingseveryday

Sebelum menuju ke Liquid di Jalan Magelang, saya, Chichi dan Wiwik sempat menengok seorang teman yang sedang hamil muda dan harus diopname di RS Happy Land (Cepat sembuh ya, Nungk!) sebelum menyusul ke Liquid dengan taksi. Sampai sana, ternyata rombongan yang dari hotel malah belum sampai :)) Maka, kami pun makan duluan. Menunya gudeg dan pecel, trus ada juga gerobak angkringan yang menyediakan teh jahe anget. Sayang acaranya siang sih, jadi teh jahenya kurang nendang. Coba kalau malam (Jogja lagi dingin banget di musim kemarau ini, katanya bisa sampe 20 derajat Celcius), pasti bakal habis lebih dari dua gelas tuh. Selain rombongan dari Jakarta, Bandung dan Surabaya, juga datang blogger dan tweeps dari Jogja, Solo dan sekitarnya seperti Hamid, Bagus, dkk.

Acara Obsat pun dimulai. Pertamanya, mas Asep kembali memaparkan kesiapan jaringan XL menghadapi derasnya penggunaan jaringan seluler selama Lebaran. Sehari-harinya saja, XL harus mengantarkan trafic suara sebanyak 600 juta menit, 660 juta SMS dan 52 Terabyte (TB) data. Apalagi saat Lebaran, traffic itu naik hingga 30%. Masih dari XL, mas Deje dan ranger Alin dan ranger Intan kemudian menjelaskan mengenai apa itu @XLCare, yaitu customer service yang berbasis media sosial Twitter dan Facebook. Sehari-hari, ada 8 petugas yang disebut ranger akan menjawab keluhan dan pertanyaan pengguna XL serta berbagi informasi seputar gadget dan telekomunikasi yang disebut #XLShare. Menurut saya, menggunakan media sosial buat menampung keluhan dan pertanyaan pelanggan cukup strategis. Sekarang, dibanding menelpon call center dan harus memencet-mencet beberapa angka sebelum bisa bicara dengan CS (ya kalau CSnya nggak sibuk? Kalau CSnya sibuk, harus nunggu. Kan bayar tuh). Apalagi, XLCare berjanji bahwa setiap pertanyaan atau keluhan akan direspons paling lambat dalam tujuh menit!

Ranger Intan, Alin dan Hary Deje sedang presentasi (Foto: Marcos)

Selesai giliran dari XL, kemudian tampillah Edo Rusyanto. Meski rambutnya sudah memutih, blogger otomotif yang satu ini masih sangat semangat bicara tentang road safety, apalagi menjelang musim mudik Lebaran. Data yang didapat Edo dari Polri, dari H-7 hingga H-1 Idul Fitri tahun 2011, terjadi 297 kecelakaan dengan korban meninggal dunia 49 orang, 83 orang luka berat dan 315 luka ringan. Edo menambahkan kalau mayoritas dari korban kecelakaan itu adalah pemotor. Pemotor memang rawan kecelakaan, selain karena kendaraannya kecil, ia juga mudah diserang kelelahan yang membuat konsentrasi turun dan menimbulkan kecelakaan. Edo menyarankan agar pemotor beristirahat tiap 2 jam, namun tetap tidak menyarankan naik motor buat mudik mengingat risikonya.

Sesi terakhir dari Obsat kali ini adalah pemaparan Trinity tentang gadget dan travelling. Trinity yang rutin menulis blog di Yahoo!, selain di blognya sendiri, mengaku kalau orang lain itu menganggap bepergian sebagai liburan, maka ia menyebut bahwa liburan adalah pekerjaan rutinnya. Sementara liburan buat dia adalah ketika berdiam diri di rumah. Trinity menjelaskan bahwa gadget punya peran penting dalam travelling. Selain sebagai dokumentasi, juga demi eksistensi diri di media sosial. Karenanya, penting juga buat memilih operator yang memiliki jangkauan sinyal luas dan bisa roaming data di luar negeri.

Selesai Obsat di Liquid, saya, Wiwik dan Chichi melipir ke Kedai Kopi Gejayan buat kopdar (lagi!) dengan teman-teman CA. Di sana hadir Lina dan Lumen (kali ini bangun, yay!), Enade PhD, Ijal, Momon, Nico dan Celo. Ngobrol sana-sini, dari yang nggak penting sampai yang nggak penting sekali banget, akhirnya sekitar jam 16.45 saya harus pamit buat ke bandara karena ditunggu pesawat ke Jakarta jam 17.40. Setelah dibekali oleh-oleh sekardus besar (yang isinya antara lain gudeg kendil Yu Djum yang lehendaris itu), menunggu sebentar di ruang tunggu, akhirnya saya boarding ke pesawat Lion Air yang hebatnya hari itu on time sodara-sodara! Saya beruntung karena saya duduk sederet sama ranger ^AL #ihik. Yang tadinya berniat buat baca buku (atau tidur) di pesawat, saya malah akhirnya ngobrol sama Alin hingga nggak kerasa pesawat sudah mendarat di Bandara Soekarno Hatta Tangerang. Aaaaakkk. Cuma 50 menit tuips! I wanted more! #eh

Senja di langit Jogja menjelang kepulangan🙂

Sungguh, perjalanan #XLNetRally kali ini sangat enjoyable. Jalan-jalan ke Semarang dan Jogja, trus ketemu teman-teman baru yang asyik banget. Semoga tahun depan saya diundang lagi ya #ngarep

Disclaimer: XL menanggung semua biaya perjalanan dan akomodasi selama saya berangkat dari Stasiun Gambir sampai pulang ke Jakarta lagi. Tulisan ini sangat diupayakan untuk tetap obyektif, tetapi penilaian akhir saya serahkan kepada pembaca sekalian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s