Jangan Mimpi Bikin F1 di Sini

Kemarin-kemarin, waktu seorang teman meng-RT berita soal Thailand yang akan menggelar Grand Prix F1 mulai tahun 2014, reaksi yang muncul adalah menanyakan kapan Indonesia bisa menggelar balap jet darat juga.

Bila beneran sukses mendatangkan sirkus F1, Thailand akan jadi negara ketiga di Asia Tenggara yang melakukannya. Malaysia udah gelar F1 sejak tahun 1999 di Sirkuit Sepang, baru Singapura mengekor tahun 2008. Balapan yang dilangsungkan di atas sirkuit jalan raya di sekitar kawasan Marina Bay ini punya keistimewaan karena merupakan satu-satunya balapan malam di dunia. Thailand berusaha meniru Singapura dengan menawarkan balap di jalan raya di waktu malam. Ini adalah taktik untuk menyenangkan para penonton F1 yang kebanyakan masih terkonsentrasi di Eropa.

Menggelar F1 bukanlah pekerjaan sederhana. Pulling a Formula 1 race is absolutely a mammoth job! Dari pengamatan langsung gue sebagai penonton di Singapura minggu lalu, gue liat begitu banyak hal yang harus disiapkan. Soal jutaan ton logistik lomba, soal akomodasi untuk para peserta dan penonton, hingga ke hal-hal nonteknis balapan seperti parkir, hiburan dan makanan.

Dibanding menggelar balapan di sirkuit di waktu siang, balapan F1 malam di sirkuit jalan raya berarti butuh kerja keras dua kali lipat. Panitia GP Singapura harus menutup banyak jalan sejak seminggu sebelum balapan dimulai, mengangkut perlengkapan penerangan berjuta-juta watt dengan crane-crane yang berukuran raksasa, pembatas (barrier) jalan dari beton yang beratnya naujubilah, pagar tinggi buat memisahkan trek dari penonton, bikin tribun nonpermanen, sampai menyiapkan hal-hal yang sebenarnya kecil tapi nggak bisa disebut remeh kayak toilet, tempat sampah, dll.

Untuk bisa menggelar F1, panitia GP Singapura keluar duit Rp 1,1 triliun. Dari angka itu, sekitar 65 persen ditanggung Pemerintah dan sisanya ditutup oleh sponsor dan pendapatan dari tiket. Nggak murah kan? Sebagai pembanding, anggaran olahraga di APBN 2012 saja ‘hanya’ Rp 200 miliar.

Buat ukuran Singapura yang makmur saja,  itu bukan angka yang kecil. Gedenya angka inilah yang bikin negosiasi perpanjangan kontrak antara Singapura sama Bernie Ecclestone jadi alot (makanya waktu diumumkan kalau Singapura memperpanjang kontrak F1 sampai 2017, para penonton di sirkuit pun bersorak). Untungkah Singapura? Bisa jadi. Soalnya, jutaan wisatawan mengalir ke sana selama akhir pekan. Mereka membelanjakan uang sampai 150 juta dolar Singapura alias Rp 1,1 triliun. Impas saja. Tapi keuntungan lain yang didapat Singapura adalah citra dan brand sebagai negara tujuan wisata utama dunia.

Nah, balik ke pertanyaan apakah Indonesia bisa menggelar F1? Jawabnya: ada banyak PR yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Yang pertama adalah sirkuit. Kita Cuma punya Sentul yang nggak memenuhi standar ‘Grade 1’, syarat yang ditetapkan F1.

Mau menggelar di jalan raya? Di mana? Dulu tahun 2009 kita mau bikin GP A1 di sirkuit jalanan di Karawaci saja gagal, apalagi menggelar F1 yang jelas syaratnya lebih ketat?

Kalaupun kemudian ada sebagian jalan di Jakarta yang bisa dijadikan sirkuit jalan raya, pasti bakal ada penutupan jalan. Mengganggu banget, karena macet bakal meluber di sekitaran sirkuit. Tanpa ada penutupan jalan saja, Jakarta setiap hari sudah dikepung macet, apalagi bila ada penutupan.

Di Singapura, kemacetan nggak terlalu terasa karena mereka punya sistem transportasi umum yang sangat baik (tapi teteup ya, ada koran lokal Singapura yang memuat protes warga yang harus memutar). Jakarta jelas bukan contoh yang membanggakan kalau bicara soal transportasi umum. Jakarta cuma punya KRL yang jangkauannya terbatas, dengan jumlah perjalanan yang sedikit banget, jadi kapasitas angkutnya terbatas.

Mau pakai bus? Aduh, lupakan deh. Transjakarta masih kurang busnya, jarak antarbus makin nggak menentu, kondisi bus yang tambah jelek, belum lagi jalurnya diserobot pengendara kendaraan pribadi. Bus umum selain Transjakarta? Ini lagi. Busnya buluk, knalpotnya berasap tebal, sopirnya ugal-ugalan dan masih banyak copetnya.

Singapura punya MRT, kita masih baru mulai membangun dan baru beroperasi tahun 2016. Menurut gue, itu pun nggak akan banyak membantu karena baru tersedia satu jalur. Sedangkan MRT Singapura punya empat line dengan panjang rel 157,9 km dan punya 102 stasiun, Itu pun ya, Singapura masih harus ‘memaksa’ MRT bekerja lembur sampai jam 01.00 pagi selama tiga hari.

Gimana dengan persoalan keamanan? Singapura itu negara polisi (dalam arti positif maupun negatif) yang angka kriminalitasnya kecil banget. Tapi masih saja, selama balapan mereka menerjunkan ribuan petugas polisi dan pengamanan partikelir karena lonjakan jumlah turis itu jadi lahan subur untuk berkembangnya kejahatan. Di Jakarta, angka kriminalitas masih cukup tinggi, apalagi bila ditambah keberadaan jutaan turis? Jangan sampai malah kita dipermalukan di dunia internasional dengan cerita-cerita para korban kejahatan yang sangat mudah beredar secara internasional.

Dari uraian data di atas, jelas kan kalau Indonesia belum siap untuk menggelar balapan F1 dalam waktu dekat; seberapa pun penginnya gue ngeliat Sebastian Vettel ngebut sampai kecepatan350 km per jam di negeri sendiri. Terima sajalah, level kita memang belum sampai ke sana.

(Ini adalah versi tulisan yang lebih nyantai dari tulisan asli yang dimuat di blog Arena Yahoo! Indonesia di sini)

4 thoughts on “Jangan Mimpi Bikin F1 di Sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s