Naik A380

A380

Ini adalah perjalanan ketiga gue ke Amerika. Dua yang pertama terjadi di tahun 2011; semuanya saat gue masih kerja di detikcom dan dua-duanya adalah untuk liputan teknologi walau saat itu status gue adalah reporter/penulis olahraga. Nah, yang ketiga ini gue pergi ke Amerika untuk kerjaan olahraga walaupun status gue secara resmi di Yahoo Indonesia adalah editor teknologi. Kebalik-balik ya jadinya?

Gue berangkat tanggal 10 Juni. Rutenya adalah dari Jakarta ke Singapura, lanjut ke Narita dan baru lanjut lagi ke Los Angeles. Berangkat dari kos jam 3.00 pagi karena penerbangan dari Soekarno Hatta jam 5.30 WIB. Naik Singapore Airlines (Maklum, dibayarin kumpeni. Standarnya harus SQ.) dan sampe di Singapura sekitar jam 08.00 waktu setempat.

Sampe di Singapura, kontak-kontakan sama Jeff, country editor Yahoo Singapore, calon house mate gue di LA, tapi nggak berhasil ketemu karena udah masuk kabin pesawat Airbus A380 SQ. Catatan: gue di kabin ekonomi, sementara Jeff di kabin bisnis karena dia menukar mileage di KrisFlyer-nya. *mengiri-menganan*

Sebagai seorang self proclaimed plane enthusiast, gue seneng banget dong naik A380, pesawat penumpang paling gede di muka bumi. Sebelumnya, gue cuma pernah naik mantan pesawat terbesar di dunia, Boeing 747-400. Gimana rasanya naik A380? Di kabin ekonomi sih nggak kerasa ya, sama aja kayak pesawat badan lebar lainnya. Tapi waktu take off sih kerasa banget pesawat ini berat, tapi empat mesinnya bisa menerbangkan pesawat ini.

Di pesawat A380 ini, tersedia wifi. Bayar tentu saja. Karena gue udah cari tahu dulu tentang wifi ini, gue merasa harus nyobain. Nggak apa-apa bayar $5 untuk data 5 MB atau $10 untuk data 12 MB. Akhirnya gue cobain lah dan ngirim Path, twit dan Whatsapp dari ketinggian 35 ribu kaki. Data segitu, tentu saja cepat banget habis cuma buat kirim beberapa gambar dan teks.

Wifi

Setelah terbang kira-kira 6 jam, nyampe juga di Narita dan akhirnya ketemu Jeff. Doi ini WN Singapura, tapi nyokapnya Indonesia dan doi masih cukup fasih ngomong bahasa Indonesia. Jadi obrolan kami (tentu saja kebanyakan soal sepak bola; sisanya soal mau ngapain aja setelah kerjaan selesai) pake dua bahasa, Inggris dan Indonesia/Melayu.

Bersama Jeff

Transit di Narita cuma sekitar 1 jam, kami kemudian terbang lagi menempuh etape terakhir tujuan Los Angeles. Kali ini, gue nggak lagi beli koneksi wifi. Dan setelah 9 jam lebih di udara, kami nyampe juga di Bandara Los Angeles sekitar jam 13.00 waktu setempat.

Gue sempat cemas sih bakal kena screening berlapis seperti yang pernah gue alami waktu pertama kali mendarat di bandara ini. (Dulu, 2011, dari 4 orang cowok pemegang paspor Indonesia di rombongan gue, 3 orang kena screening berlapis yang bisa makan waktu sampai 2 jam sendiri.) Tapi kekhawatiran gue nggak terbukti. Di imigrasi ditanya mau ngapain, gue jawab aja gue ada kerjaan sama Yahoo buat ngurusin Piala Dunia. Nggak sampai 5 menit, gue udah diperbolehkan melintas. Enggak tahu deh, apakah proses yang cepat ini karena gue sekarang kerja buat perusahaan Amerika atau karena faktor lain.

Dari bandara Los Angeles, gue dan Jeff naik taksi ke apartemen kami di Santa Monica. Nggak sampai 40 menit, kami sudah tiba di apartemen. Dari sinilah kemudian perjalanan gue yang sebenarnya dimulai!

2 thoughts on “Naik A380

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s