Jalan Sepi

IMG_4203-1.JPG

Akhir pekan lalu, berlangsung kumpul-kumpul blogger di sebuah hotel di Jakarta. Kebanyakan yang datang di acara ini adalah mereka yang ngeblog di era keemasan ngeblog, yakni tahun 2005-2008. Istilah era keemasan ini sebenarnya sangat sumir karena menurut beberapa referensi lisan, sejatinya era ngeblog sudah dimulai sejak akhir 1990-an sampai awal 2000-an. Cuma, gue pribadi emang merasa bahwa blogosfer di era 2006-2008 itu sangat hidup dan dinamis dengan berbagai peristiwa, wacana, tren, kontroversi dan lainnya.

Dari acara kumpul-kumpul blogger itu, gue diingatkan tentang banyaknya isu dan narasi yang beredar di blogosfer circa 2004-2009, mulai dari kebebasan berekspresi (kasus penangkapan Herman Saksono), isu monetisasi dan scam internet (kasus Anne Ahira), plagiarisme (kasus Buanadara), “keributan” antara para blogger dengan pemikiran bebas vs blogger Salafi, dan lain-lain. Bak pasar malam, blogosfer saat itu sungguh riuh rendah, tapi masih terasa menyenangkan. Para bloggers sepertinya masih punya banyak waktu buat menulis, berkomentar, berbalas wacana, dan lain-lain.

Belakangan, pesona blog sebagai alat untuk berekspresi di dunia maya sedikit surut. Kehadiran media sosial yang tidak menuntut kemampuan menulis panjang membuat ngeblog jadi terpinggirkan. Lebih mudah untuk mengetikkan dua-tiga kalimat di Twitter yang tak lebih panjang dari 140 karakter ketimbang menuangkan pikiran dalam 6-10 paragraf di sebuah tulisan di blog.

Blogger-blogger yang aktif tinggal segelintir. Sebagian dari mereka masih menulis karena memang ingin menumpahkan pikirannya dalam bentuk tertulis, sebagian lagi menulis karena pesanan penaja atau untuk kontes, sebagian yang lain cuma muncul sesekali dan sebagian lagi lenyap sama sekali.

Dari sisi pembacanya pun demikian. Selain memang sudah sangat kurangnya tulisan di blogosfer (secara kuantitas, apalagi secara kualitas), pembaca pun susut karena para onliners gampang sekali merasa lelah untuk membaca tulisan di blog karena mereka sudah terlalu sering dicekoki tulisan-tulisan pendek di Twitter, Facebook atau Path. Sudah sangat jarang ada kegiatan blogwalking (kalau tidak mau bilang tidak ada), yang juga mulai langka adalah tradisi untuk sekadar meninggalkan komentar—apalagi berharap terjadinya debat atau diskusi di laman blog.

Gue pernah merasakan keresahan soal surutnya kuantitas dan kualitas tulisan di blog ini. Tahun lalu, gue mencoba menginisiasi gerakan “seminggu satu”, yang intinya adalah mengajak para blogger untuk setidaknya membuat satu tulisan per minggu, dengan tema tertentu karena banyak yang beralasan bahwa mereka berhenti menulis karena kehabisan ide. Gue sebenarnya tidak setuju bahwa ide itu bisa habis. Tapi gue pikir tak apalah kalau menulis blog dengan tema yang ditentukan, siapa tahu kelak gairah untuk menulis blog akan hidup lagi dan sudah tidak perlu ada penentuan tema untuk tetap aktif menulis.

Mudah ditebak, gerakan “seminggu satu” nggak bertahan lama. Kalau nggak salah cuma berjalan tiga pekan. Siapa yang salah dalam kegagalan gerakan ini? Selayaknya gue menunjuk diri gue sendiri sebagai biangnya. Gue merasa makin kehabisan energi untuk menulis, bahkan bila frekuensinya cuma satu tulisan dalam sepekan.

(Pembelaan gue: pekerjaan utama gue adalah menulis. Ketika gue udah tiap hari menulis buat media, gue merasa sangat suntuk kalau masih harus menulis (blog) di waktu luang. Meski gue agak jarang nulis di blog sendiri, setidaknya gue kadang masih ngeblog di kolom teknologi atau olahraga. eh ngeblog di Tumblr juga. :p)

Nah, di hari Blogger Nasional yang jatuh tanggal 27 Oktober ini, gue nggak menggantungkan harapan apapun deh. Gue udah nggak pernah lagi bermimpi blogosfer akan seseru dulu dengan segala wacana yang berlalu lalang. Pada akhirnya, meminjam ucapan Paman Tyo, ngeblog memang tidak untuk semua orang. Waktu akan menyeleksi mana orang yang menekuni jalan yang (mulai) sepi ini.

Selamat Hari Blogger!

Setir Kiri

RoadTrip1

Tahun 2011, gue pernah menjalani road trip yang sangat menyenangkan ketika gue pergi dari Las Vegas ke Los Angeles naik mobil. Saat itu, gue beserta sejumlah rekan wartawan dari Indonesia bepergian memakai mobil sewaan yang disetiri sama Antonio, orang Meksiko yang mengantar-ngantar kami selama acara Consumer Electronic Show di Vegas.

Jalan tol I-15 yang kami lewati mengular panjang bak membelah hamparan padang pasir yang luas di negara bagian Nevada dan meliuk-liuk melewati punggung perbukitan ketika sudah memasuki negara bagian California. Menyaksikan daratan luas yang banyak tak berpenghuni, diselingi dengan pemandangan sejumlah pemukiman berukuran kecil hingga menengah sangat impresif bagi gue. Sejak itulah, gue memiliki satu item di di bucket list gue, yaitu melakukan road trip dengan nyetir sendiri di jalan tol Amerika.

Ketika gue disuruh pergi buat tugas awal Juni kemaren, keinginan untuk mewujudkan satu item di bucket list itu muncul lagi. Tapi ketika gue tahu bahwa apartemen gue cuma berjarak satu blok dari kantor, harapan itu agak diredam karena ngapain pakai mobil kalau bisa jalan kaki tiap hari? Lalu, persoalan SIM Indonesia yang nggak diakui di Amerika juga jadi pertimbangan sendiri yang tampaknya bakal bikin kegiatan nyetir di Amerika jadi sulit.

Untungnya nih, house mate gue, Jeff, adalah orang Singapura. Doi punya SIM yang diakui di Amerika jadi mungkin kalau mau sewa mobil di rental dia bakal dibolehin. Untungnya juga, Jeff adalah orang yang senang dengan kegiatan outdoor. Jadi, ketika kami baru beberapa hari tinggal di Santa Monica, kami udah merencanakan untuk sewa mobil buat jalan-jalan kalau ada hari libur.

Jeff aktif bertanya-tanya sama orang-orang di kantor soal rental mobil mana yang oke dari segi harga, apakah ada akun rental korporat yang bisa dipakai biar dapat diskon, kualitas kendaraan dan tentu saja kemudahan penyewaannya. Setelah menimbang-nimbang antara Hertz, Enterprise, Avis dan beberapa rental lain, pilihan jatuh ke Enterprise.

Sebenarnya, syarat inti nyewa mobil di Enterprise itu cuma kartu kredit dan SIM yang diakui di Amerika. SIM Indonesia nggak diakui di sana karena Indonesia bukan negara yang ikut dalam Konvensi Jenewa tentang Lalu Lintas Jalan Raya tahun 1949. (Note: gue nggak ngerti apakah rental-rental mobil di Amerika sampai ngecek apakah SIM dari sebuah negara diakui di sana atau enggak.) Proses registrasi bisa dilakukan secara online, tapi lo tentu saja harus datang ke garasinya Enterprise buat ngambil mobilnya (ya iyalah!). Enaknya Enterprise, lo bisa minta dijemput buat ngambil mobil. Gue terus terang emang cuma terima beres dari proses sewa mobil ini. Semua dihandel sama Jeff. Gue cuma kebagian tugas gantian nyetir kalau misalnya mau road trip ke luar kota. :p

IMG_0717

Lalu datanglah hari di mana libur itu tiba setelah kami digempur pertandingan Piala Dunia selama 16 hari beruntun tanpa jeda. Sore hari sebelum libur itu datang, Jeff udah menyewa Hyundai Elantra (dari depan mirip Grand Avega di Indonesia, tapi bentuknya sedan, jadi ada bagasinya.) dari Enterprise. Pulang dari kantor, kami pergi makan yang agak jauh dari apartemen pakai mobil sewaan itu. Jeff (yang sama dengan gue datang dari negara dengan mobil bersetir kanan dan berjalan di kiri) yang nyetir. Waktu sampai di sebuah perempatan dan mobil harus belok kiri, Jeff agak kebingungan. “Shit, this is confusing!” :)) Untunglah, gak ada masalah lebih serius dan kami bisa berbelok dengan lancar.

IMG_0718

Balik dari makan malam itu, gue menawarkan diri buat nyetir. Deg-degan juga cuy pertama kalinya nyetir kiri. :)) Gue jalan pelan-pelan keluar dari gedung parkir (note: di Santa Monica, public parking di pinggir jalan biasanya bertarif $1 buat 10-20 menit, bergantung lokasi; sementara parkir di dalam gedung biasanya $10 buat 2 jam.). Tangan kanan mencoba meraih tuas buat menyalakan sein, ternyata malah wiper yang menyala. Duh! Ternyata, mobil-mobil Amerika memasang tuas buat sein di kiri.

Setelah beberapa saat, mulai terbiasa juga dengan setir kiri. Tapi gue masih membawa kebiasaan nyetir di Jakarta, yaitu melambat di perempatan karena takut ada yang nyelonong melanggar lampu merah dari samping. Padahal, 99,99% warga di sana mematuhi aturan lampu lalu lintas itu. Sisanya sih biasa aja, cuma masih tetap awkward berjalan di lajur kanan.

Besok paginya, gue dan Jeff pergi ke Big Bear Lake, sebuah kota resor ski yang bisa ditempuh selama dua jam dengan mobil pribadi. Berbekal GPS Garmin yang dibeli seminggu sebelumnya di Amazon, kami (Jeff yang nyetir dan gue yang foto-foto) dengan percaya diri menembus interstate highway buat menuju ke Big Bear yang sedang tidak bersalju karena sedang musim panas itu. Sehabis highway, kemudian kami menyusuri jalan-jalan yang berkelok-kelok di lereng pegunungan.

IMG_0737

Di tengah jalan, kami harus mengisi bensin. Kami menghitung, bensin di dalam mobil hanya akan cukup sampai ke Big Bear Lake, tapi nggak akan cukup kalau dibawa pulang ke Los Angeles. Berbekal bantuan Yelp, kami menemukan pom bensin 76. Pom bensin di Amrik harus self service. Tapi ada aturan tambahan buat kartu kredit yang bukan dikeluarkan di Amerika, maka pembeli harus masuk ke kios dan membayar jumlah bensin yang ingin dibeli. Setelah bilang di pompa nomor berapa, selang pompa sudah dialiri bensin yang siap diisikan secara mandiri ke dalam tangki. (Oh ya, harga bensin di Amerika itu nggak ada subsidinya. Harga untuk satu galon itu berkisar antara $3,95 sampai $4,10. Kalau dirupiahkan, sekitar Rp41.000-45.000 per galon. Satu galon itu sama dengan 3 liter, jadi per liternya kira-kira Rp14.000-15.000.)

IMG_0743

Selesai jalan-jalan dan sepedaan di Big Bear, kami pulang. Kali ini, giliran gue nyetir sampai Los Angeles. Lumayan menantang sih jalur turunnya. Harus hati-hati buat menaklukkan setiap tikungan di sana. Setelah melewati kelokan-kelokan di gunung, mobil kembali masuk highway. Di sini, mobil bisa dipacu sampai 60-80 mil per jam. Tapi hati-hati, ada batasan kecepatan yang kalau dilanggar bisa membuat lo ditilang sama highway patrol. Triknya sih, jangan melanggar batas kecepatan karena pihak berwenang memantau lewat radar; jangan suka berpindah-pindah jalur, ikuti petunjuk dari GPS tentang lane mana yang harus diambil (karena kalau salah lane dan kebablasan, lo harus muter jauh), dan yang tentu saja paling penting adalah fokus menghadapi jalan, jangan main hape atau foto-foto. Ambil foto cuma kalau lagi berhenti di lampu merah aja. :p

IMG_0793

Setelah road trip singkat ke Big Bear itu, sebenarnya kami berencana untuk road trip ke Big Sur yang memakan waktu 5-6 jam ke arah San Francisco. Tapi akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Las Vegas. Nah, cerita road trip ke Vegas (dan kemudian di hari lain ke San Diego) bakal gue ceritain di posting lain deh.

Amtrak (1)

Lakeshore di Chicago
Lakeshore di Chicago

Bagian pertama dari dua tulisan.

Kereta Lakeshore Limited bergerak pelan keluar dari Union Station di tengah kota Chicago. Gerbong yang gue tempati nggak terlalu penuh. Kursi di samping gue nggak ada yang menempati, demikian juga sejumlah kursi di sekitar gue. Di depan gue dan di kursi samping kanannya, ada empat orang yang sepertinya sekeluarga; ada suami dan istri beserta dua orang anak mereka yang (syukurlah) tidak terlalu berisik.

Kondisi gerbong duduk (Amfleet coach) yang gue tempatin nggak terlalu istimewa. Dibanding gerbong kereta Taksaka atau Argo Lawu, misalnya, cuma sedikit lebih baik. Gerbongnya sedikit lebih lebar karena emang kereta di Amerika berjalan di atas rel yang lebih lebar ketimbang rel di Indonesia. Lebarnya gerbong membuat formasi kursi 2-2 ini terasa lapang dan gang di tengah gerbong juga cukup lebar. Kursinya cukup nyaman dan teduh dengan kelir biru.

Gerbong Amfleet car di Lakeshore Limited
Gerbong Amfleet car di Lakeshore Limited

Gue menarik tuas untuk merebahkan sandaran kursi dan menurunkan foot rest di bagian bawah kursi depan. Syukurlah akhirnya kereta ini berangkat, batin gue. Kereta seharusnya berangkat jam 21.30 waktu Chicago, tapi kenyataannya kereta baru beranjak sekitar pukul 22.00. Cuma telat 30 menit, sih. Tapi menurut gue keterlambatan ini agak aneh karena terjadi di infrastuktur transportasi negara semaju Amerika.

Kereta sepertinya memang jadi anak tiri di infrastruktur transportasi Amerika yang sangat berat ke mobil dan jalan raya plus angkutan pesawat. Di sana, angkutan kereta banyak diandalkan untuk angkutan barang dan angkutan manusia jadi prioritas kedua. Fakta bahwa mereka tidak punya sistem kereta cepat seperti halnya yang dimiliki Eropa (Prancis dan Jerman), Jepang atau bahkan Cina menunjukkan bahwa kereta memang bukan transportasi favorit.

Meski gue tahu bahwa kereta api di Amerika nggak canggih-canggih amat, gue merasa tetap perlu untuk mencoba naik Amtrak (satu-satunya penyedia layanan kereta api penumpang di Amerika) sejak gue pertama kali ke negeri Abang Sam itu tahun 2011 lalu. Sebagai self-proclaimed train buff, gue memilih untuk pergi dari Chicago ke Buffalo dan dari Buffalo ke New York City pakai kereta for the sake of experience. Harga tiketnya relatif murah ($72 untuk rute Chicago-Buffalo dan $70 untuk rute Buffalo-NYC, atau sekitar $110 untuk rute Chicago-NYC), tapi harus dikompensasi dengan waktu perjalanan yang cukup lama. Sebagai gambaran, jarak Chicago ke Buffalo adalah 850 km dan ditempuh dengan dalam waktu sekitar 10 jam. Sementara antara Buffalo-NYC, jaraknya sekitar 693 km dan ditempuh dalam waktu yang sama, 10 jam juga.

Brosur Lakeshore Limited.
Brosur Lakeshore Limited.

Meski tergolong ‘anak tiri’ di sistem transportasi Amerika, kereta (Amtrak) punya pelayanan yang oke. Selain proses pemesanan yang sangat mudah di web mereka, fasilitas di stasiun-stasiun pun cukup menyenangkan. Misalnya, ketika gue naik dari Chicago Union Station, gue bisa melakukan cek in bagasi. Ada satu koper besar (yang nyaris membuat gue over baggage di penerbangan dari Los Angeles ke Chicago) yang gue masukkan ke bagasi karena beratnya nyaris 30 kg. Selain boleh menaruh satu koper (atau tas) yang maksimal beratnya 50 pound (nyaris 30 kg) di bagasi, penumpang Amtrak juga boleh membawa dua tas yang tidak terlalu besar ke dalam kabin.

Di Union Station Chicago yang memang salah satu stasiun terbesar di Amerika, calon penumpang bisa membeli makanan di restoran-restoran yang ada di dalam stasiun atau membeli suvenir-suvenir seperti layaknya berada di bandara. Sehabis cek in bagasi, masih ada waktu 30 menit hingga jadwal kereta diberangkatkan. Gue yang sejak cabut dari rumah host gue belum makan, mengambil kesempatan untuk beli dua potong roti dan sebotol air minum buat di perjalanan.

Tidak banyak yang gue bisa lihat selama perjalanan kereta dari Chicago ke Buffalo karena perjalanan dilakukan malam hari. Di antara kegelapan malam, sesekali terselip pemandangan kota kecil dengan beberapa rumah dan jalan yang lampunya menyala. Selain itu, kadang kereta berjalan di sisi atau melewati jalan tol (Interstate) yang tidak cukup ramai dilintasi kendaraan.

Leg room di Lakeshore.
Leg room di Lakeshore.

Kereta berhenti di pemberhentian pertama setelah Chicago, South Bend. Artinya, gue udah meninggalkan negara bagian Illinois dan sekarang sudah memasuki negara bagian Indiana. Kereta berhenti kira-kira 7-9 menit dan kemudian berjalan lagi. Setelah South Bend, gue udah terlelap tidur.

Bangun-bangun, gue udah meninggalkan negara bagian Indiana dan kini berada di negara bagian Ohio, tepatnya di Cleveland. Cuaca masih terang-terang tanah. Gue menebak Stasiun Cleveland terletak agak di pinggiran kota, dengan peron yang tidak istimewa—tidak sebaik yang gue temukan di Chicago.

Kayaknya ini di sekitar Cleveland.
Kayaknya ini di sekitar Cleveland.

Setelah berhenti sebentar, kereta melanjutkan perjalanan lagi. Karena hari sudah cukup terang, gue mulai bisa melihat pemandangan di luar jendela. Jalur kereta ini kebanyakan berada di tengah hutan dan sesekali kereta berjalan bersisian dengan jalan raya. Kota-kota kecil dengan pekarangan yang luas, pohon-pohon hijau yang rimbun, jalanan yang berkelok-kelok dengan bukit-bukit yang berada di pinggirnya menjadi menu untuk para penumpang yang mungkin belum lama membuka matanya.

Di perjalanan naik Lakeshore Limited.
Di perjalanan naik Lakeshore Limited.

Kereta yang gue tumpangi kemudian meninggalkan negara bagian Ohio dan masuk ke negara bagian Pennsylvania. Lalu kami berhenti di kota Erie. Stasiun Erie juga berukuran kecil. Tidak banyak penumpang yang turun naik di sini dan kereta pun melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir gue, Buffalo.

Sekitar pukul 08.30 pagi, kereta akhirnya sampai di Buffalo, negara bagian New York. Stasiun Depew (yang sebenarnya terletak di luar kota Buffalo) berukuran kecil saja. Bangunannya mungkin cuma berukuran 20 m x 30 meter, membuatnya bahkan terlihat mini kalau dibandingkan dengan Stasiun Purwokerto, misalnya.


IMG_1892

Gue masuk bangunan stasiun dan menunggu bagasi gue diturunkan dari kereta. Tak lama kemudian gue sudah mendapatkan koper besar gue. Kemudian gue bertanya ke petugas di Stasiun Depew apakah ada fasilitas loker atau penitipan barang buat gue meninggalkan koper besar gue karena gue merasa terlalu repot harus nyeret-nyeret koper berat itu. Apalagi, gue besok akan naik kereta dari tempat itu lagi sehingga lebih baik kalau ada penitipan di Stasiun Depew. (Tip: Banyak stasiun Amtrak yang punya fasilitas penitipan barang semacam ini. Kalo lo memiliki pola trip yang mirip dengan gue, cara gue ini bisa dicoba.)

IMG_1899

Petugas di Stasiun Depew mengatakan bahwa ada fasilitas penitipan barang dengan tarif $4 untuk 24 jam. Gue langsung bayar tunai dan gue dapat tanda terima yang harus gue tunjukkan kalau mau mengambilnya lagi besok. Akhirnya gue melenggang ke Buffalo dengan membawa satu tas punggung dan satu tas olahraga yang berisi barang-barang terpenting saja kayak baju, sepatu dan peralatan mandi.

Beres dengan urusan bagasi, gue melangkah ke luar stasiun sembari mengecek Google Maps gue untuk mendapatkan rute bus yang harus gue tumpangin dari Depew menuju host gue di kota Buffalo. Cuma ada satu bus yang lewat Stasiun Depew dan buat mencapai tujuan gue, gue mesti pindah dua bus lagi. Nah, cerita soal bagaimana gue sampai ke kota Buffalo akan gue ceritakan di posting lain.