Amtrak (1)

Lakeshore di Chicago
Lakeshore di Chicago
Lakeshore di Chicago

Bagian pertama dari dua tulisan.

Kereta Lakeshore Limited bergerak pelan keluar dari Union Station di tengah kota Chicago. Gerbong yang gue tempati nggak terlalu penuh. Kursi di samping gue nggak ada yang menempati, demikian juga sejumlah kursi di sekitar gue. Di depan gue dan di kursi samping kanannya, ada empat orang yang sepertinya sekeluarga; ada suami dan istri beserta dua orang anak mereka yang (syukurlah) tidak terlalu berisik.

Kondisi gerbong duduk (Amfleet coach) yang gue tempatin nggak terlalu istimewa. Dibanding gerbong kereta Taksaka atau Argo Lawu, misalnya, cuma sedikit lebih baik. Gerbongnya sedikit lebih lebar karena emang kereta di Amerika berjalan di atas rel yang lebih lebar ketimbang rel di Indonesia. Lebarnya gerbong membuat formasi kursi 2-2 ini terasa lapang dan gang di tengah gerbong juga cukup lebar. Kursinya cukup nyaman dan teduh dengan kelir biru.

Gerbong Amfleet car di Lakeshore Limited
Gerbong Amfleet car di Lakeshore Limited

Gue menarik tuas untuk merebahkan sandaran kursi dan menurunkan foot rest di bagian bawah kursi depan. Syukurlah akhirnya kereta ini berangkat, batin gue. Kereta seharusnya berangkat jam 21.30 waktu Chicago, tapi kenyataannya kereta baru beranjak sekitar pukul 22.00. Cuma telat 30 menit, sih. Tapi menurut gue keterlambatan ini agak aneh karena terjadi di infrastuktur transportasi negara semaju Amerika.

Kereta sepertinya memang jadi anak tiri di infrastruktur transportasi Amerika yang sangat berat ke mobil dan jalan raya plus angkutan pesawat. Di sana, angkutan kereta banyak diandalkan untuk angkutan barang dan angkutan manusia jadi prioritas kedua. Fakta bahwa mereka tidak punya sistem kereta cepat seperti halnya yang dimiliki Eropa (Prancis dan Jerman), Jepang atau bahkan Cina menunjukkan bahwa kereta memang bukan transportasi favorit.

Meski gue tahu bahwa kereta api di Amerika nggak canggih-canggih amat, gue merasa tetap perlu untuk mencoba naik Amtrak (satu-satunya penyedia layanan kereta api penumpang di Amerika) sejak gue pertama kali ke negeri Abang Sam itu tahun 2011 lalu. Sebagai self-proclaimed train buff, gue memilih untuk pergi dari Chicago ke Buffalo dan dari Buffalo ke New York City pakai kereta for the sake of experience. Harga tiketnya relatif murah ($72 untuk rute Chicago-Buffalo dan $70 untuk rute Buffalo-NYC, atau sekitar $110 untuk rute Chicago-NYC), tapi harus dikompensasi dengan waktu perjalanan yang cukup lama. Sebagai gambaran, jarak Chicago ke Buffalo adalah 850 km dan ditempuh dengan dalam waktu sekitar 10 jam. Sementara antara Buffalo-NYC, jaraknya sekitar 693 km dan ditempuh dalam waktu yang sama, 10 jam juga.

Brosur Lakeshore Limited.
Brosur Lakeshore Limited.

Meski tergolong ‘anak tiri’ di sistem transportasi Amerika, kereta (Amtrak) punya pelayanan yang oke. Selain proses pemesanan yang sangat mudah di web mereka, fasilitas di stasiun-stasiun pun cukup menyenangkan. Misalnya, ketika gue naik dari Chicago Union Station, gue bisa melakukan cek in bagasi. Ada satu koper besar (yang nyaris membuat gue over baggage di penerbangan dari Los Angeles ke Chicago) yang gue masukkan ke bagasi karena beratnya nyaris 30 kg. Selain boleh menaruh satu koper (atau tas) yang maksimal beratnya 50 pound (nyaris 30 kg) di bagasi, penumpang Amtrak juga boleh membawa dua tas yang tidak terlalu besar ke dalam kabin.

Di Union Station Chicago yang memang salah satu stasiun terbesar di Amerika, calon penumpang bisa membeli makanan di restoran-restoran yang ada di dalam stasiun atau membeli suvenir-suvenir seperti layaknya berada di bandara. Sehabis cek in bagasi, masih ada waktu 30 menit hingga jadwal kereta diberangkatkan. Gue yang sejak cabut dari rumah host gue belum makan, mengambil kesempatan untuk beli dua potong roti dan sebotol air minum buat di perjalanan.

Tidak banyak yang gue bisa lihat selama perjalanan kereta dari Chicago ke Buffalo karena perjalanan dilakukan malam hari. Di antara kegelapan malam, sesekali terselip pemandangan kota kecil dengan beberapa rumah dan jalan yang lampunya menyala. Selain itu, kadang kereta berjalan di sisi atau melewati jalan tol (Interstate) yang tidak cukup ramai dilintasi kendaraan.

Leg room di Lakeshore.
Leg room di Lakeshore.

Kereta berhenti di pemberhentian pertama setelah Chicago, South Bend. Artinya, gue udah meninggalkan negara bagian Illinois dan sekarang sudah memasuki negara bagian Indiana. Kereta berhenti kira-kira 7-9 menit dan kemudian berjalan lagi. Setelah South Bend, gue udah terlelap tidur.

Bangun-bangun, gue udah meninggalkan negara bagian Indiana dan kini berada di negara bagian Ohio, tepatnya di Cleveland. Cuaca masih terang-terang tanah. Gue menebak Stasiun Cleveland terletak agak di pinggiran kota, dengan peron yang tidak istimewa—tidak sebaik yang gue temukan di Chicago.

Kayaknya ini di sekitar Cleveland.
Kayaknya ini di sekitar Cleveland.

Setelah berhenti sebentar, kereta melanjutkan perjalanan lagi. Karena hari sudah cukup terang, gue mulai bisa melihat pemandangan di luar jendela. Jalur kereta ini kebanyakan berada di tengah hutan dan sesekali kereta berjalan bersisian dengan jalan raya. Kota-kota kecil dengan pekarangan yang luas, pohon-pohon hijau yang rimbun, jalanan yang berkelok-kelok dengan bukit-bukit yang berada di pinggirnya menjadi menu untuk para penumpang yang mungkin belum lama membuka matanya.

Di perjalanan naik Lakeshore Limited.
Di perjalanan naik Lakeshore Limited.

Kereta yang gue tumpangi kemudian meninggalkan negara bagian Ohio dan masuk ke negara bagian Pennsylvania. Lalu kami berhenti di kota Erie. Stasiun Erie juga berukuran kecil. Tidak banyak penumpang yang turun naik di sini dan kereta pun melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir gue, Buffalo.

Sekitar pukul 08.30 pagi, kereta akhirnya sampai di Buffalo, negara bagian New York. Stasiun Depew (yang sebenarnya terletak di luar kota Buffalo) berukuran kecil saja. Bangunannya mungkin cuma berukuran 20 m x 30 meter, membuatnya bahkan terlihat mini kalau dibandingkan dengan Stasiun Purwokerto, misalnya.


IMG_1892

Gue masuk bangunan stasiun dan menunggu bagasi gue diturunkan dari kereta. Tak lama kemudian gue sudah mendapatkan koper besar gue. Kemudian gue bertanya ke petugas di Stasiun Depew apakah ada fasilitas loker atau penitipan barang buat gue meninggalkan koper besar gue karena gue merasa terlalu repot harus nyeret-nyeret koper berat itu. Apalagi, gue besok akan naik kereta dari tempat itu lagi sehingga lebih baik kalau ada penitipan di Stasiun Depew. (Tip: Banyak stasiun Amtrak yang punya fasilitas penitipan barang semacam ini. Kalo lo memiliki pola trip yang mirip dengan gue, cara gue ini bisa dicoba.)

IMG_1899

Petugas di Stasiun Depew mengatakan bahwa ada fasilitas penitipan barang dengan tarif $4 untuk 24 jam. Gue langsung bayar tunai dan gue dapat tanda terima yang harus gue tunjukkan kalau mau mengambilnya lagi besok. Akhirnya gue melenggang ke Buffalo dengan membawa satu tas punggung dan satu tas olahraga yang berisi barang-barang terpenting saja kayak baju, sepatu dan peralatan mandi.

Beres dengan urusan bagasi, gue melangkah ke luar stasiun sembari mengecek Google Maps gue untuk mendapatkan rute bus yang harus gue tumpangin dari Depew menuju host gue di kota Buffalo. Cuma ada satu bus yang lewat Stasiun Depew dan buat mencapai tujuan gue, gue mesti pindah dua bus lagi. Nah, cerita soal bagaimana gue sampai ke kota Buffalo akan gue ceritakan di posting lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s