Setir Kiri

RoadTrip1

Tahun 2011, gue pernah menjalani road trip yang sangat menyenangkan ketika gue pergi dari Las Vegas ke Los Angeles naik mobil. Saat itu, gue beserta sejumlah rekan wartawan dari Indonesia bepergian memakai mobil sewaan yang disetiri sama Antonio, orang Meksiko yang mengantar-ngantar kami selama acara Consumer Electronic Show di Vegas.

Jalan tol I-15 yang kami lewati mengular panjang bak membelah hamparan padang pasir yang luas di negara bagian Nevada dan meliuk-liuk melewati punggung perbukitan ketika sudah memasuki negara bagian California. Menyaksikan daratan luas yang banyak tak berpenghuni, diselingi dengan pemandangan sejumlah pemukiman berukuran kecil hingga menengah sangat impresif bagi gue. Sejak itulah, gue memiliki satu item di di bucket list gue, yaitu melakukan road trip dengan nyetir sendiri di jalan tol Amerika.

Ketika gue disuruh pergi buat tugas awal Juni kemaren, keinginan untuk mewujudkan satu item di bucket list itu muncul lagi. Tapi ketika gue tahu bahwa apartemen gue cuma berjarak satu blok dari kantor, harapan itu agak diredam karena ngapain pakai mobil kalau bisa jalan kaki tiap hari? Lalu, persoalan SIM Indonesia yang nggak diakui di Amerika juga jadi pertimbangan sendiri yang tampaknya bakal bikin kegiatan nyetir di Amerika jadi sulit.

Untungnya nih, house mate gue, Jeff, adalah orang Singapura. Doi punya SIM yang diakui di Amerika jadi mungkin kalau mau sewa mobil di rental dia bakal dibolehin. Untungnya juga, Jeff adalah orang yang senang dengan kegiatan outdoor. Jadi, ketika kami baru beberapa hari tinggal di Santa Monica, kami udah merencanakan untuk sewa mobil buat jalan-jalan kalau ada hari libur.

Jeff aktif bertanya-tanya sama orang-orang di kantor soal rental mobil mana yang oke dari segi harga, apakah ada akun rental korporat yang bisa dipakai biar dapat diskon, kualitas kendaraan dan tentu saja kemudahan penyewaannya. Setelah menimbang-nimbang antara Hertz, Enterprise, Avis dan beberapa rental lain, pilihan jatuh ke Enterprise.

Sebenarnya, syarat inti nyewa mobil di Enterprise itu cuma kartu kredit dan SIM yang diakui di Amerika. SIM Indonesia nggak diakui di sana karena Indonesia bukan negara yang ikut dalam Konvensi Jenewa tentang Lalu Lintas Jalan Raya tahun 1949. (Note: gue nggak ngerti apakah rental-rental mobil di Amerika sampai ngecek apakah SIM dari sebuah negara diakui di sana atau enggak.) Proses registrasi bisa dilakukan secara online, tapi lo tentu saja harus datang ke garasinya Enterprise buat ngambil mobilnya (ya iyalah!). Enaknya Enterprise, lo bisa minta dijemput buat ngambil mobil. Gue terus terang emang cuma terima beres dari proses sewa mobil ini. Semua dihandel sama Jeff. Gue cuma kebagian tugas gantian nyetir kalau misalnya mau road trip ke luar kota. :p

IMG_0717

Lalu datanglah hari di mana libur itu tiba setelah kami digempur pertandingan Piala Dunia selama 16 hari beruntun tanpa jeda. Sore hari sebelum libur itu datang, Jeff udah menyewa Hyundai Elantra (dari depan mirip Grand Avega di Indonesia, tapi bentuknya sedan, jadi ada bagasinya.) dari Enterprise. Pulang dari kantor, kami pergi makan yang agak jauh dari apartemen pakai mobil sewaan itu. Jeff (yang sama dengan gue datang dari negara dengan mobil bersetir kanan dan berjalan di kiri) yang nyetir. Waktu sampai di sebuah perempatan dan mobil harus belok kiri, Jeff agak kebingungan. “Shit, this is confusing!” :)) Untunglah, gak ada masalah lebih serius dan kami bisa berbelok dengan lancar.

IMG_0718

Balik dari makan malam itu, gue menawarkan diri buat nyetir. Deg-degan juga cuy pertama kalinya nyetir kiri. :)) Gue jalan pelan-pelan keluar dari gedung parkir (note: di Santa Monica, public parking di pinggir jalan biasanya bertarif $1 buat 10-20 menit, bergantung lokasi; sementara parkir di dalam gedung biasanya $10 buat 2 jam.). Tangan kanan mencoba meraih tuas buat menyalakan sein, ternyata malah wiper yang menyala. Duh! Ternyata, mobil-mobil Amerika memasang tuas buat sein di kiri.

Setelah beberapa saat, mulai terbiasa juga dengan setir kiri. Tapi gue masih membawa kebiasaan nyetir di Jakarta, yaitu melambat di perempatan karena takut ada yang nyelonong melanggar lampu merah dari samping. Padahal, 99,99% warga di sana mematuhi aturan lampu lalu lintas itu. Sisanya sih biasa aja, cuma masih tetap awkward berjalan di lajur kanan.

Besok paginya, gue dan Jeff pergi ke Big Bear Lake, sebuah kota resor ski yang bisa ditempuh selama dua jam dengan mobil pribadi. Berbekal GPS Garmin yang dibeli seminggu sebelumnya di Amazon, kami (Jeff yang nyetir dan gue yang foto-foto) dengan percaya diri menembus interstate highway buat menuju ke Big Bear yang sedang tidak bersalju karena sedang musim panas itu. Sehabis highway, kemudian kami menyusuri jalan-jalan yang berkelok-kelok di lereng pegunungan.

IMG_0737

Di tengah jalan, kami harus mengisi bensin. Kami menghitung, bensin di dalam mobil hanya akan cukup sampai ke Big Bear Lake, tapi nggak akan cukup kalau dibawa pulang ke Los Angeles. Berbekal bantuan Yelp, kami menemukan pom bensin 76. Pom bensin di Amrik harus self service. Tapi ada aturan tambahan buat kartu kredit yang bukan dikeluarkan di Amerika, maka pembeli harus masuk ke kios dan membayar jumlah bensin yang ingin dibeli. Setelah bilang di pompa nomor berapa, selang pompa sudah dialiri bensin yang siap diisikan secara mandiri ke dalam tangki. (Oh ya, harga bensin di Amerika itu nggak ada subsidinya. Harga untuk satu galon itu berkisar antara $3,95 sampai $4,10. Kalau dirupiahkan, sekitar Rp41.000-45.000 per galon. Satu galon itu sama dengan 3 liter, jadi per liternya kira-kira Rp14.000-15.000.)

IMG_0743

Selesai jalan-jalan dan sepedaan di Big Bear, kami pulang. Kali ini, giliran gue nyetir sampai Los Angeles. Lumayan menantang sih jalur turunnya. Harus hati-hati buat menaklukkan setiap tikungan di sana. Setelah melewati kelokan-kelokan di gunung, mobil kembali masuk highway. Di sini, mobil bisa dipacu sampai 60-80 mil per jam. Tapi hati-hati, ada batasan kecepatan yang kalau dilanggar bisa membuat lo ditilang sama highway patrol. Triknya sih, jangan melanggar batas kecepatan karena pihak berwenang memantau lewat radar; jangan suka berpindah-pindah jalur, ikuti petunjuk dari GPS tentang lane mana yang harus diambil (karena kalau salah lane dan kebablasan, lo harus muter jauh), dan yang tentu saja paling penting adalah fokus menghadapi jalan, jangan main hape atau foto-foto. Ambil foto cuma kalau lagi berhenti di lampu merah aja. :p

IMG_0793

Setelah road trip singkat ke Big Bear itu, sebenarnya kami berencana untuk road trip ke Big Sur yang memakan waktu 5-6 jam ke arah San Francisco. Tapi akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Las Vegas. Nah, cerita road trip ke Vegas (dan kemudian di hari lain ke San Diego) bakal gue ceritain di posting lain deh.

6 thoughts on “Setir Kiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s