Mengurus Pencairan Uang Jamsostek

IMG_2015-03-17 13:24:16

Kalian para pekerja tentu akrab dong sama Jamsostek (Jaminan sosial tenaga kerja)? Setiap bulan, ada sebagian dari gaji kita (((kita?))) yang dipotong sebagai iuran Jamsostek. Iuran itu menjadi semacam asuransi bagi para pekerja biar mereka punya tabungan ketika mereka udah nggak lagi bekerja, atau menghadapi risiko cacat tetap dan meninggal dunia.

Setelah gue nggak lagi jadi pekerja, gue agak malas-malasan buat mencairkan dana JHT (Jaminan Hari Tua) tersebut. Sempat ada kekhawatiran apakah gue bisa mencairkan karena selama ini ada cerita-cerita perihal sulitnya melakukan proses tersebut. Belum lagi membayangkan tentang birokrasi yang harus gue temui, udah makin malas kan. Tapi mengingat gue membutuhkan duit buat modal usaha, gue kumpulkan tekad, niat dan dokumen-dokumen yang dibutuhkan biar prosesnya nggak memakan waktu.

Kekhawatiran gue ternyata nggak terbukti ketika gue berhasil menyelesaikan proses dalam waktu sekitar 1-2 jam saja. Memang sih, itu terbagi dalam dua hari karena gue harus menyusulkan kartu kedua gue. Selain itu, sempat juga menemui hambatan ketika petugas meminta gue diminta menyertakan surat keterangan domisili karena KTP gue bukan KTP Jakarta. Tapi berkat kengeyelan gue dengan mempertanyakan dasar aturan harus memakai surat domisili itu (yang dijawab, “Nggak ada, ini adalah kebijakan kantor BPJS Ketenagakerjaan Cilandak!”), akhirnya proses klaim gue diteruskan tanpa adanya surat domisili itu.

Selain itu, fakta bahwa gue punya dua kartu keanggotaan Jamsostek (masing-masing satu waktu kerja buat Detikcom dan Yahoo Indonesia) dan dua-duanya belum ada lima tahun (kalau ditotal sih 7 tahun lebih ya) ternyata nggak membuat pencairan gagal. Mbak Ivania Nasution (duh gue hapal banget nama mbak-mbak manis ini) yang mengurusi klaim gue sangat helpful dan penjelasannya sangat mudah dimengerti.

Nah, simak di bawah ini kalau lo juga berniat mencairkan dana JHT lo. Pertama, ketahui dulu syarat agar dana JHT bisa dicairkan.

1. Peserta Jamsostek selama minimal 5 tahun;

2. Tidak sedang bekerja, dengan masa tunggu satu bulan dari pekerjaan terakhir; atau

3. Sudah berusia 55 tahun; atau

4. Menderita cacat tetap; atau

5. Meninggal dunia.

Kedua, persiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan–semuanya asli dan fotokopinya. Ini berlaku buat yang memenuhi syarat kedua alias sedang tidak bekerja. Dokumen buat yang memenuhi syarat nomor 3-5 berbeda, silakan cek di kantor BPJS Ketenagakerjaan terdekat.

1. KTP;

2. Kartu kepesertaan Jamsostek;

3. Kartu keluarga;

4. Surat keterangan pemutusan hubungan kerja;

5. Surat keterangan kerja;

6. Buku tabungan;

7. Surat domisili bila KTP lo berbeda dengan daerah tempat kantor BPJS Ketenagakerjaan yang lo tuju. Yang ini bisa pakai jurus ngeyel sih. Tapi kalo lo bukan lawyer atau orang yang keras kepala dan galak kaya gue (halah!), mungkin ada baiknya lo bikin aja deh surat domisili.

IMG_2015-03-17 13:24:07

Ketiga, datanglah ke kantor BPJS Ketenagakerjaan (nama baru PT Jamsostek) terdekat. Lokasi terdekat dari tempat gue adalah di Cilandak. Yang harus dilakukan:

1. Isi formulir pencairan JHT;

2. Lengkapi dokumen yang disyaratkan;

3. Masukkan map berisi dokumen-dokumen itu di drop box;

Setelah sekitar 10-20 menit, lo akan dipanggil dan petugas akan memeriksa kelengkapan dokumen lo. Kalau dinyatakan telah lengkap, maka klaim lo akan diteruskan ke loket berikutnya. Tunggulah lagi sekitar 20-30 menit, petugas selanjutnya akan memproses, mengecek ulang kelengkapan dan validitas dokumen lo (di sini kadang lo harus menunjukkan dokumen aslinya). Kalau udah nggak ada kekurangan, petugas akan memberi tahu bahwa dana bakal dikirimkan ke rekening tabungan dalam waktu 7 (tujuh) hari kerja.

Gimana, sudah siap buat mencairkan duit hak lo tersebut?

Iklan

Gue, Bangun Pagi dan Raisa

Lari1
Lari malam di Santa Monica pakai kaos bertuliskan Indonesia. *bangga*

Dulu, ketika ada kegiatan team building di kantor lama, ada sebuah permainan yang mengharuskan dua orang saling bicara mengenalkan diri. Tujuannya adalah agar kita mengenal orang di depan kita lebih dari sekadar rekan kerja, tapi juga sebagai manusia dengan berbagai karakternya. Di mana dia tinggal, apakah dia sudah menikah atau masih melajang, apakah dia memelihara anjing atau kucing, apakah dia lebih suka warna biru daripada merah, dan sebagainya.

Salah satu ciri dalam diri gue yang sering gue katakan ke teman-teman dalam permainan itu (teman-teman karena pasangan bermainnya berganti-ganti) adalah gue bukan morning person alias paling susah bangun pagi. Ada beberapa juga teman yang mengakui hal yang sama.

Gue dan bangun pagi memang nggak berjodoh. Bukannya nggak berusaha untuk berjodoh, tapi itu nggak pernah (sangat jarang) terjadi. Gue dan bangun pagi seperti gue dan Raisa: nggak akan bersatu. 

Di suatu masa saat gue lagi rajin-rajinnya lari, gue pernah lari tiga atau empat kali seminggu. Nyaris semuanya gue lakukan sore hari, setelah menyelesaikan pekerjaan di kantor. Nggak ada yang gue lakukan pagi hari. Alasannya, gue terlalu malas untuk bangun pagi. 

Sebenarnya, dulu pernah sih mencoba lari pagi di dekat kos. Tapi Jalan Jatipadang jam 5 pagi ternyata udah begitu ramai dengan orang dan kendaraan lalu lalang. Lari pagi di Jakarta nggak selamanya bisa di trotoar. Kalau trotoarnya rusak atau terhalang kios rokok, mau nggak mau gue harus turun ke jalan. Harus hati-hati banget kalau nggak mau kesamber angkot 17 yang sepagi itu udah giat mencari nafkah. Bertambahlah sudah alasan gue untuk nggak mau lari pagi.

Lari3
Abis lari 7 km di tepi Samudera Pasifik.

Alasan kenapa gue nggak bisa bangun pagi sebenarnya sederhana. Ini karena seringnya gue melek sampai larut malam; tak jarang melewati tengah malam. Padahal, gue udah nggak pernah nonton sepak bola dinihari sejak dua tahun terakhir ini. Tidur malam, otomatis badan malas buat disuruh bangun pagi-pagi. Ketimbang dingin-dingin sudah lari-larian, mending juga bergelung di balik selimut. Nggak sama Raisa, tentunya.

Sebenarnya ada juga pengecualiannya: kalau sedang di Purwokerto, saat ikut lomba dan kalau lagi di tempat jalan-jalan. Di Purwokerto, gue biasanya lebih cepat tidur karena nggak banyak hal lain yang bisa dilakukan. Meski ada tv kabel di rumah, gue udah lumayan sanggup hidup tanpa tv selama ini. Susahnya koneksi internet mungkin jadi penyebab gue mampu tidur lebih cepat di kampung. Alhasil, gue cukup sukses beberapa kali bangun jam 5 pagi dan bisa lari-larian di sekitar kompleks tanpa harus khawatir diseruduk angkot kurang ajar.

Pengecualian kedua adalah bila ada lomba. Jelas, umumnya race berlangsung pagi hari kan. Dua kali gue ikutan Jakarta Marathon, dua kali ikutan Jakarta 10K dengan cukup sukses. Padahal, di keikutsertaan gue di Jakarta Marathon 2013 dan 2014, gue justru malamnya agak kurang tidur. 

Lari2
Suasana Jakarta Marathon 2014.

Yang terakhir, gue bisa lari pagi kalau lagi jalan-jalan yang jauh dari Jakarta atau Purwokerto. Seperti ketika gue lagi di Lampuuk, Aceh Besar, pagi-pagi setengah 5 gue udah bangun dan lari. Hari masih gelap banget dan kalau diingat-ingat, tempat itu adalah salah satu titik yang paling banyak korbannya saat terjadi tsunami tahun 2004. Tapi tekad gue buat pamer rute lari di ujung barat Indonesia mengalahkan itu semua. Demikian juga ketika dua hari kemudian gue juga berlari jam setengah 5 pagi di Pulau Weh. Atau ketika gue sedang berada di Chicago. Nggak terlalu pagi sih, sekitar jam 6.30, tapi Chicago jam segitu suhunya bisa 10 derajat Celcius. Namanya demi kan, gue jabanin tuh lari 8 km di sana.

Lari4
Sehabis lari di Pantai Lampuuk, Aceh Besar.

Pengecualian keknya waktu gue di NYC. Sebegitu inginnya gue lari di Central Park (cuma tiga blok dari rumah host AirBnB gue), ternyata gue gak sanggup bangun pagi. Bangun-bangun sudah jam 8 pagi. Meski belum panas dan masih bisa lari, gue saat itu memilih buat bikin Indomie, mandi dan jalan-jalan.

Jadi sekali lagi, kalau mau ngajak gue lari-larian, janganlah berharap gue bisa bangun selepas ayam berkokok. Susah. Lebih baik kalau gue diajak lari-lari sore di GBK dan setelah selesai lari bisa bisa langsung makan pecel pakai mendoan. *eh*

Otak Pintar di Balik Smartphone Canggih

Ponsel pintar makin nggak terpisahkan dari gaya hidup manusia di era modern. Mulai dari kita melek bangun tidur, sampai sebelum mata terpejam buat tidur, pasti ada peran ponsel pintar di sana; boleh jadi mulai dari memeriksa Whatsapp dan Telegram dari teman-teman atau gebetan, ngecek email kali-kali aja ada pengumuman dari bos kalau hari ini boleh bolos (ngarep!), memotret kejadian atau pemandangan di sekitar kita buat diunggah di Instagram, atau ngecek Twitter dan Facebook buat tahu topik yang lagi ramai diobrolin dan kabar teman-teman kita.

ADay

Soal foto-foto di ponsel, asal tahu saja, ada data yang nunjukkin kalau 58% pemakai ponsel pintar hanya memotret pakai ponsel mereka (artinya, nggak lagi butuh kamera saku atau DSLR). Hasilnya, di seluruh dunia, ada sekitar 1,4 miliar foto yang dijepret pakai ponsel per harinya. Ini membuat kamera digital makin nggak populer dan penjualannya semakin turun. (Lihat infografis di bawah)

Evolution

(Untuk slide lengkapnya bisa dilihat di sini.)

Makin banyak hal yang dilakukan, tentu saja kemampuan ponsel pintar harus makin oke dong. Apa sih definisi ponsel yang bagus itu? Mungkin kamu bakal jawab ponselnya cepat alias nggak lemot, layarnya tajam, audionya menggelegar, bisa buat 3G dan LTE, sekaligus nggak mudah panas dan baterainya irit (biar nggak ke mana-mana bawa powerbank, cuy!)

Ponsel pintar yang oke tentu butuh hardware oke yang bagus. Itu sudah logikanya. Dari banyak printilan yang ada di dalam ponselmu, salah satu yang terpenting itu prosesor. Ibaratnya badan kita, prosesor itu otak sekaligus jantung ponsel. Kalau prosesornya oke, ponselnya jadi oke. Sebaliknya, kalo prosesornya payah, maka ponselnya juga ikutan payah.

Di masa depan, prosesor tidak cuma berguna buat menenagai ponsel, tapi bisa sampai buat mobil. Teknologi canggih yang mungkin sekarang masih berada di fantasi pembuat film sci-fi, atau masih berada dalam gambar konsep di tangan ilmuwan, seperti navigasi 3D, pengenalan suara dan gerak tubuh, atau konsep hiburan kabin yang lebih canggih, bisa terwujud tak lama lagi.

Ngomong-ngomong soal prosesor, saat ini pasar ponsel pintar dunia didominasi oleh Qualcomm dengan produk andalannya, Snapdragon. Popularitas Snapdragon terjadi berkat kemampuannya sebagai prosesor yang bertenaga dan mampu menjalankan banyak pekerjaan sekaligus dengan cepat, sekaligus fitur hemat energi yang dimilikinya.

Salah satu prosesor Snapdragon yang punya kemampuan wuzz wuzz wuzz adalah Snapdragon 801. Prosesor ini dikenalin ke publik awal tahun lalu dan sudah jadi pendorong untuk ponsel-ponsel kelas atas. (Daftar lengkapnya bisa digugling yah). Jadi, dari segi kemampuan, Snapdragon 801 ini nggak perlu diragukan lagi.

Nah, akhir tahun lalu, ada satu lagi ponsel kelas atas yang memakai Snapdragon 801 sebagai inti dari mesinnya. Ponsel itu adalah Oppo N3, produksi pabrikan Oppo dari Cina. Dipasangnya Snapdragon 801 membuat N3 dijanjikan sebagai ponsel pintar yang koneksinya paling kencang, kinerjanya paling bagus, membuat kameranya tajam dan jelas, kemampuan multimedianya nggak malu-maluin dan yang nggak kalah penting: hemat energi.

Foto dari global.oppo.com
Foto dari global.oppo.com

Adanya prosesor Snapdragon 801 di dalam N3 bikin ponsel berlayar 5,5 inci itu sudah bisa memakai jaringan 4G atau LTE yang sudah digelar sama (setidaknya) tiga operator terbesar di Indonesia saat ini, yaitu Telkomsel, XL dan Indosat.

Tak cuma koneksinya yang dijanjikan bakal ngebut, Snapdragon 801 juga membuat kamera N3 bisa memampatkan lebih banyak megapixel, autofokusnya lebih cepat (cangcing, kalau kata orang Bandung, mah) dan bisa diandalkan buat memotret di tempat yang gelap alias minim cahaya.

Belum cukup di situ, Snapdragon 801 juga bikin N3 bisa merekam video 4K (lebih tajam dari High Definition/HD) dan bisa menghasilkan suara yang caem bak di bioskop waktu dipakai untuk nonton video atau dengerin musik.

Yang Beda dari Bus di Amerika dan Indonesia

Kartu transportasi di NYC, LA dan Chicago

Buat gue, naik transportasi umum di sebuah kota atau negara yang gue kunjungi adalah hal yang termasuk wajib. Dengan naik transportasi umum, gue bisa lihat banyak hal, mulai dari infrastruktur kotanya, sampai ke demografi sosial ekonomi dan tingkah laku masyarakatnya.

Di beberapa kota yang gue kunjungi di Amerika, transportasi umum memegang peranan penting dalam perpindahan orang dan barang. Meski Amerika negara yang kental banget dengan car culture-nya, tapi mereka nggak lantas melupakan pengembangan angkutan umumnya.

Selain New York, kota Los Angeles dan Buffalo banyak mengandalkan bus. Sementara Chicago lebih berimbang di mana bus dan kereta Metro menanggung beban yang relatif sama berat.

Nah, setelah banyak naik bus umum di LA, Buffalo, Chicago dan sedikit di NYC, ada beberapa perbedaan bus di sana dengan di sini.

1. Cuma satu jenis
Di Indonesia, jenis busnya banyak banget. Sampai bingung buat ngapalin. Mulai dari Transjakarta, APTB, Patas AC, Kopaja AC, Kopaja, Metromini, Debora, Koantas Bima, bus besar nggak ber-AC, shuttle bus ke perumahan-perumahan besar di suburban Jakarta, sampai ke angkot.

Bus di LA/Santa Monica

Kalau di Amerika, bus mereka cuma satu jenis. Ya bus kota berukuran penuh (dengan kursi sekitar 40-50 untuk bis tunggal dan 80-90 untuk bus gandeng). PR naik bus di Amerika cuma mengingat-ingat nomor rutenya.

2. Nggak berhenti sembarangan
“Bang kiri, bang!” teriak lo ketika mau turun dari sebuah Metromini di Mampang Prapatan. Maka si abang sopir pun menepi ke kiri (seringnya nggak pake sein) dan pengendara lain dibuat sibuk mengerem biar nggak nabrak si Metromini. Kalau lo beruntung, lo berhenti di tempat yang lo inginkan, kalau enggak, lo diberhentikan 50 meter di depan. Teorinya sih ada halte bus, tapi praktiknya bus boleh berhenti di mana saja. Aturan yang tanpa aturan ini berlaku juga buat naik bus.

Hal yang kaya gitu nggak bisa dilakukan di Amerika. Bus tertib cuma berhenti di halte yang sudah disediakan. Haltenya nggak selalu ada atapnya, lebih sering cuma penanda aja. Tapi yang jelas bus cuma mau menaikkan dan menurunkan penumpang dari halte. Eh tapi di NYC, ada pengecualian di mana penumpang boleh minta turun di mana aja kalau naik bus di atas jam 10 malam.

Bus8
Jadwal di salah satu halte bus di Santa Monica

Yang harus diingat, kadang bus nggak berhenti di sebuah halte kalau di halte itu nggak ada orang yang menunggu bus. Kalau lo mau minta berhenti di halte depan, nggak harus teriak “kiri, mister!” ke sopir, tapi cukup tarik tali stop request yang menjulur di semua sudut bus. Bus yang lebih baru biasanya udah mengganti sistem tali ini dengan tombol. (Note: sangat disarankan ketika turun ucapin “thank you, sir!” ke sopirnya. They’ll appreciate it very much.)

4. Nggak pakai bayar ke kenek
Seorang pemuda memainkan kepingan-kepingan receh di tangannya sampai menimbulkan bunyi “cring cring”. Itu tandanya lo dimintai bayar ongkos. Kalau sopir nggak pake kenek, ya ketika mau turun lo bayar langsung ke sopir yang (di tengah usahanya berjibaku menghentikan bus dan menjaga kopling biar mesin nggak mati) akan memberi lo kembalian.

Bus2
Interior bus gandeng di LA

Apakah ada kenek di Amerika? Ya enggak, lah! Ada beberapa jenis pembayaran yang bisa dilakukan. Beda kota, beda sistem; tapi yang jelas selalu tersedia opsi bayar pakai uang receh atau bayar pakai kartu dan bayarnya selalu ketika kita mulai naik bus (dari pintu depan).

· Di LA, buat bus Metro, bayarnya pakai kartu TAP. Bus yang sama juga menerima pembayaran duit receh. Kalau bayar pakai uang kertas, pastikan pas karena nggak disediain kembalian. Ada satu jenis bus lagi di LA, yaitu Big Blue Bus. Ada kartu buat bayarnya, tapi selama gue di sana gue memilih bayar pake receh karena cukup jarang naik bus ini. Di LA, model tarifnya adalah flat ($1 per ride) tapi pay as you go alias memotong deposit.
· Di Chicago, semua bus dioperasikan oleh CTA (Chicago Transport Authority). Bayarnya bisa pakai receh, tapi disarankan bayar pake kartu Ventra yang dimasukkin ke mesin reader (dan nanti akan keluar lagi). Kartu Ventra juga bisa dipakai buat naik kereta Metro. Tarifnya adalah $10 untuk 24 jam atau $20 buat 72 jam. Lo bebas naik berapa kalipun dan ke jurusan sejauh apapun.
· Di Buffalo, sistem bayarnya agak terbelakang. Karcisnya seharga $5 untuk sehari kalender dan dibeli di sopir busnya. Tiap naik bus, lo tunjukkin secarik kertas tiket yang sudah diberi tanggal ke sopirnya.
· Di New York, busnya agak jarang dan nggak tepat waktu kaya di LA dan Chicago. Bayarnya pakai kartu Metro seharga $30 yang berlaku buat 7 hari. Kartu ini bisa juga dipakai buat subway.

5. Berpendingin udara
Di Jakarta, bus ber-AC paling cuma Tranjakarta, APTB, Kopaja AC dan patas AC. Sisanya, penumpang harus berpanas-panasan di bus yang mesinnya di bawah kursi sopir, dengan pintu bus yang kebuka dan bikin semua asap dan debu terhirup oleh penumpang.

Ada Elvis di bus menuju Hollywood.
Ada Elvis di bus menuju Hollywood.

Bus di Amerika semuanya berpendingin udara. Udah jelas lah ya?

6. Ramah lingkungan
Pernah nggak melihat Metromini atau Kopaja mengeluarkan asap hitam pekat dari knalpotnya? Sering lah ya? Ini karena bus di Jakarta (Indonesia?) kebanyakan masih memakai solar. Usia tua kendaraan dan kurangnya perawatan memperparah polusi udara ini.

Bus6
Bus hibrida di Chicago

Bus-bus di Amerika sudah nggak ada lagi yang pakai mesin diesel kuno. Di LA, semua busnya sudah pakai bahan bakar gas. Sementara di Chicago, Buffalo dan NYC, busnya memakai mesin hibrida yang bahan bakarnya bisa memakai BBM atau gas.

7. Busnya ramah penderita cacat dan pengguna sepeda
Ada dua fitur bus di Amerika yang sangat gue kagumin. Yang pertama adalah bus bisa menurunkan badannya (pakai suspensi hidrolik) dan mengembangkan papan ke tepi jalan buat naik mereka yang berkursi roda. Di dalam kabin, pemakai kursi roda disediakan ruang di depan. Ruangan ini didapat dari kursi yang dilipat. Kalau ada penumpang berkursi roda yang naik, siapapun yang duduk di kursi lipat itu harus berpindah. Kemudian, kursi rodanya akan dikaitkan ke tali agar nggak ngglundung waktu bus bergerak. Biasanya, penumpang berkursi roda itu sendiri bisa mengaitkan pengaman, tapi ada juga yang butuh bantuan sopir. Di Buffalo/Niagara, gue pernah lihat sopir bus yang beranjak dari kursinya dan membantu memasang pengaman ke kursi roda penumpang.

Bus3
Kursi dilipat untuk penyandang cacat

Yang kedua adalah tersedianya dua rak sepeda di bagian muka bus. Jadi, kalo lo bawa sepeda dan mau naik bus, sepeda lo gak perlu masuk kabin, tapi bisa ditaruh di depan kaca sopir. Caranya, setelah bus yang lo setop berhenti, lo buka sendiri rak sepedanya, lalu lo kunci roda sepeda lo biar gak jatuh, dan lo naik ke kabin. Bayarnya sama aja. Waktu turun, jangan lupa menurunkan sepeda lo juga dari rak.

Bus4
Jangan lupa ambil sepedamu