Yang Beda dari Bus di Amerika dan Indonesia

Kartu transportasi di NYC, LA dan Chicago

Buat gue, naik transportasi umum di sebuah kota atau negara yang gue kunjungi adalah hal yang termasuk wajib. Dengan naik transportasi umum, gue bisa lihat banyak hal, mulai dari infrastruktur kotanya, sampai ke demografi sosial ekonomi dan tingkah laku masyarakatnya.

Di beberapa kota yang gue kunjungi di Amerika, transportasi umum memegang peranan penting dalam perpindahan orang dan barang. Meski Amerika negara yang kental banget dengan car culture-nya, tapi mereka nggak lantas melupakan pengembangan angkutan umumnya.

Selain New York, kota Los Angeles dan Buffalo banyak mengandalkan bus. Sementara Chicago lebih berimbang di mana bus dan kereta Metro menanggung beban yang relatif sama berat.

Nah, setelah banyak naik bus umum di LA, Buffalo, Chicago dan sedikit di NYC, ada beberapa perbedaan bus di sana dengan di sini.

1. Cuma satu jenis
Di Indonesia, jenis busnya banyak banget. Sampai bingung buat ngapalin. Mulai dari Transjakarta, APTB, Patas AC, Kopaja AC, Kopaja, Metromini, Debora, Koantas Bima, bus besar nggak ber-AC, shuttle bus ke perumahan-perumahan besar di suburban Jakarta, sampai ke angkot.

Bus di LA/Santa Monica

Kalau di Amerika, bus mereka cuma satu jenis. Ya bus kota berukuran penuh (dengan kursi sekitar 40-50 untuk bis tunggal dan 80-90 untuk bus gandeng). PR naik bus di Amerika cuma mengingat-ingat nomor rutenya.

2. Nggak berhenti sembarangan
“Bang kiri, bang!” teriak lo ketika mau turun dari sebuah Metromini di Mampang Prapatan. Maka si abang sopir pun menepi ke kiri (seringnya nggak pake sein) dan pengendara lain dibuat sibuk mengerem biar nggak nabrak si Metromini. Kalau lo beruntung, lo berhenti di tempat yang lo inginkan, kalau enggak, lo diberhentikan 50 meter di depan. Teorinya sih ada halte bus, tapi praktiknya bus boleh berhenti di mana saja. Aturan yang tanpa aturan ini berlaku juga buat naik bus.

Hal yang kaya gitu nggak bisa dilakukan di Amerika. Bus tertib cuma berhenti di halte yang sudah disediakan. Haltenya nggak selalu ada atapnya, lebih sering cuma penanda aja. Tapi yang jelas bus cuma mau menaikkan dan menurunkan penumpang dari halte. Eh tapi di NYC, ada pengecualian di mana penumpang boleh minta turun di mana aja kalau naik bus di atas jam 10 malam.

Bus8
Jadwal di salah satu halte bus di Santa Monica

Yang harus diingat, kadang bus nggak berhenti di sebuah halte kalau di halte itu nggak ada orang yang menunggu bus. Kalau lo mau minta berhenti di halte depan, nggak harus teriak “kiri, mister!” ke sopir, tapi cukup tarik tali stop request yang menjulur di semua sudut bus. Bus yang lebih baru biasanya udah mengganti sistem tali ini dengan tombol. (Note: sangat disarankan ketika turun ucapin “thank you, sir!” ke sopirnya. They’ll appreciate it very much.)

4. Nggak pakai bayar ke kenek
Seorang pemuda memainkan kepingan-kepingan receh di tangannya sampai menimbulkan bunyi “cring cring”. Itu tandanya lo dimintai bayar ongkos. Kalau sopir nggak pake kenek, ya ketika mau turun lo bayar langsung ke sopir yang (di tengah usahanya berjibaku menghentikan bus dan menjaga kopling biar mesin nggak mati) akan memberi lo kembalian.

Bus2
Interior bus gandeng di LA

Apakah ada kenek di Amerika? Ya enggak, lah! Ada beberapa jenis pembayaran yang bisa dilakukan. Beda kota, beda sistem; tapi yang jelas selalu tersedia opsi bayar pakai uang receh atau bayar pakai kartu dan bayarnya selalu ketika kita mulai naik bus (dari pintu depan).

· Di LA, buat bus Metro, bayarnya pakai kartu TAP. Bus yang sama juga menerima pembayaran duit receh. Kalau bayar pakai uang kertas, pastikan pas karena nggak disediain kembalian. Ada satu jenis bus lagi di LA, yaitu Big Blue Bus. Ada kartu buat bayarnya, tapi selama gue di sana gue memilih bayar pake receh karena cukup jarang naik bus ini. Di LA, model tarifnya adalah flat ($1 per ride) tapi pay as you go alias memotong deposit.
· Di Chicago, semua bus dioperasikan oleh CTA (Chicago Transport Authority). Bayarnya bisa pakai receh, tapi disarankan bayar pake kartu Ventra yang dimasukkin ke mesin reader (dan nanti akan keluar lagi). Kartu Ventra juga bisa dipakai buat naik kereta Metro. Tarifnya adalah $10 untuk 24 jam atau $20 buat 72 jam. Lo bebas naik berapa kalipun dan ke jurusan sejauh apapun.
· Di Buffalo, sistem bayarnya agak terbelakang. Karcisnya seharga $5 untuk sehari kalender dan dibeli di sopir busnya. Tiap naik bus, lo tunjukkin secarik kertas tiket yang sudah diberi tanggal ke sopirnya.
· Di New York, busnya agak jarang dan nggak tepat waktu kaya di LA dan Chicago. Bayarnya pakai kartu Metro seharga $30 yang berlaku buat 7 hari. Kartu ini bisa juga dipakai buat subway.

5. Berpendingin udara
Di Jakarta, bus ber-AC paling cuma Tranjakarta, APTB, Kopaja AC dan patas AC. Sisanya, penumpang harus berpanas-panasan di bus yang mesinnya di bawah kursi sopir, dengan pintu bus yang kebuka dan bikin semua asap dan debu terhirup oleh penumpang.

Ada Elvis di bus menuju Hollywood.
Ada Elvis di bus menuju Hollywood.

Bus di Amerika semuanya berpendingin udara. Udah jelas lah ya?

6. Ramah lingkungan
Pernah nggak melihat Metromini atau Kopaja mengeluarkan asap hitam pekat dari knalpotnya? Sering lah ya? Ini karena bus di Jakarta (Indonesia?) kebanyakan masih memakai solar. Usia tua kendaraan dan kurangnya perawatan memperparah polusi udara ini.

Bus6
Bus hibrida di Chicago

Bus-bus di Amerika sudah nggak ada lagi yang pakai mesin diesel kuno. Di LA, semua busnya sudah pakai bahan bakar gas. Sementara di Chicago, Buffalo dan NYC, busnya memakai mesin hibrida yang bahan bakarnya bisa memakai BBM atau gas.

7. Busnya ramah penderita cacat dan pengguna sepeda
Ada dua fitur bus di Amerika yang sangat gue kagumin. Yang pertama adalah bus bisa menurunkan badannya (pakai suspensi hidrolik) dan mengembangkan papan ke tepi jalan buat naik mereka yang berkursi roda. Di dalam kabin, pemakai kursi roda disediakan ruang di depan. Ruangan ini didapat dari kursi yang dilipat. Kalau ada penumpang berkursi roda yang naik, siapapun yang duduk di kursi lipat itu harus berpindah. Kemudian, kursi rodanya akan dikaitkan ke tali agar nggak ngglundung waktu bus bergerak. Biasanya, penumpang berkursi roda itu sendiri bisa mengaitkan pengaman, tapi ada juga yang butuh bantuan sopir. Di Buffalo/Niagara, gue pernah lihat sopir bus yang beranjak dari kursinya dan membantu memasang pengaman ke kursi roda penumpang.

Bus3
Kursi dilipat untuk penyandang cacat

Yang kedua adalah tersedianya dua rak sepeda di bagian muka bus. Jadi, kalo lo bawa sepeda dan mau naik bus, sepeda lo gak perlu masuk kabin, tapi bisa ditaruh di depan kaca sopir. Caranya, setelah bus yang lo setop berhenti, lo buka sendiri rak sepedanya, lalu lo kunci roda sepeda lo biar gak jatuh, dan lo naik ke kabin. Bayarnya sama aja. Waktu turun, jangan lupa menurunkan sepeda lo juga dari rak.

Bus4
Jangan lupa ambil sepedamu

 

7 thoughts on “Yang Beda dari Bus di Amerika dan Indonesia

  1. Gan. Nanya nih. Kalo di indo kan bus banyak merk nya ada volvo, hino, scania, misubishi. Nah kalo disana pabrikan apa yang menguasai pasar. Merk bus apa uh sering dipake kota kota itu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s