Gue, Bangun Pagi dan Raisa

Lari1
Lari malam di Santa Monica pakai kaos bertuliskan Indonesia. *bangga*

Dulu, ketika ada kegiatan team building di kantor lama, ada sebuah permainan yang mengharuskan dua orang saling bicara mengenalkan diri. Tujuannya adalah agar kita mengenal orang di depan kita lebih dari sekadar rekan kerja, tapi juga sebagai manusia dengan berbagai karakternya. Di mana dia tinggal, apakah dia sudah menikah atau masih melajang, apakah dia memelihara anjing atau kucing, apakah dia lebih suka warna biru daripada merah, dan sebagainya.

Salah satu ciri dalam diri gue yang sering gue katakan ke teman-teman dalam permainan itu (teman-teman karena pasangan bermainnya berganti-ganti) adalah gue bukan morning person alias paling susah bangun pagi. Ada beberapa juga teman yang mengakui hal yang sama.

Gue dan bangun pagi memang nggak berjodoh. Bukannya nggak berusaha untuk berjodoh, tapi itu nggak pernah (sangat jarang) terjadi. Gue dan bangun pagi seperti gue dan Raisa: nggak akan bersatu. 

Di suatu masa saat gue lagi rajin-rajinnya lari, gue pernah lari tiga atau empat kali seminggu. Nyaris semuanya gue lakukan sore hari, setelah menyelesaikan pekerjaan di kantor. Nggak ada yang gue lakukan pagi hari. Alasannya, gue terlalu malas untuk bangun pagi. 

Sebenarnya, dulu pernah sih mencoba lari pagi di dekat kos. Tapi Jalan Jatipadang jam 5 pagi ternyata udah begitu ramai dengan orang dan kendaraan lalu lalang. Lari pagi di Jakarta nggak selamanya bisa di trotoar. Kalau trotoarnya rusak atau terhalang kios rokok, mau nggak mau gue harus turun ke jalan. Harus hati-hati banget kalau nggak mau kesamber angkot 17 yang sepagi itu udah giat mencari nafkah. Bertambahlah sudah alasan gue untuk nggak mau lari pagi.

Lari3
Abis lari 7 km di tepi Samudera Pasifik.

Alasan kenapa gue nggak bisa bangun pagi sebenarnya sederhana. Ini karena seringnya gue melek sampai larut malam; tak jarang melewati tengah malam. Padahal, gue udah nggak pernah nonton sepak bola dinihari sejak dua tahun terakhir ini. Tidur malam, otomatis badan malas buat disuruh bangun pagi-pagi. Ketimbang dingin-dingin sudah lari-larian, mending juga bergelung di balik selimut. Nggak sama Raisa, tentunya.

Sebenarnya ada juga pengecualiannya: kalau sedang di Purwokerto, saat ikut lomba dan kalau lagi di tempat jalan-jalan. Di Purwokerto, gue biasanya lebih cepat tidur karena nggak banyak hal lain yang bisa dilakukan. Meski ada tv kabel di rumah, gue udah lumayan sanggup hidup tanpa tv selama ini. Susahnya koneksi internet mungkin jadi penyebab gue mampu tidur lebih cepat di kampung. Alhasil, gue cukup sukses beberapa kali bangun jam 5 pagi dan bisa lari-larian di sekitar kompleks tanpa harus khawatir diseruduk angkot kurang ajar.

Pengecualian kedua adalah bila ada lomba. Jelas, umumnya race berlangsung pagi hari kan. Dua kali gue ikutan Jakarta Marathon, dua kali ikutan Jakarta 10K dengan cukup sukses. Padahal, di keikutsertaan gue di Jakarta Marathon 2013 dan 2014, gue justru malamnya agak kurang tidur. 

Lari2
Suasana Jakarta Marathon 2014.

Yang terakhir, gue bisa lari pagi kalau lagi jalan-jalan yang jauh dari Jakarta atau Purwokerto. Seperti ketika gue lagi di Lampuuk, Aceh Besar, pagi-pagi setengah 5 gue udah bangun dan lari. Hari masih gelap banget dan kalau diingat-ingat, tempat itu adalah salah satu titik yang paling banyak korbannya saat terjadi tsunami tahun 2004. Tapi tekad gue buat pamer rute lari di ujung barat Indonesia mengalahkan itu semua. Demikian juga ketika dua hari kemudian gue juga berlari jam setengah 5 pagi di Pulau Weh. Atau ketika gue sedang berada di Chicago. Nggak terlalu pagi sih, sekitar jam 6.30, tapi Chicago jam segitu suhunya bisa 10 derajat Celcius. Namanya demi kan, gue jabanin tuh lari 8 km di sana.

Lari4
Sehabis lari di Pantai Lampuuk, Aceh Besar.

Pengecualian keknya waktu gue di NYC. Sebegitu inginnya gue lari di Central Park (cuma tiga blok dari rumah host AirBnB gue), ternyata gue gak sanggup bangun pagi. Bangun-bangun sudah jam 8 pagi. Meski belum panas dan masih bisa lari, gue saat itu memilih buat bikin Indomie, mandi dan jalan-jalan.

Jadi sekali lagi, kalau mau ngajak gue lari-larian, janganlah berharap gue bisa bangun selepas ayam berkokok. Susah. Lebih baik kalau gue diajak lari-lari sore di GBK dan setelah selesai lari bisa bisa langsung makan pecel pakai mendoan. *eh*

11 thoughts on “Gue, Bangun Pagi dan Raisa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s