New York, New York

NYC2
Senja di Sungai Hudson

Prolog: Ketika beberapa hari lalu gue melihat Timehop, gue cukup kaget ketika mengetahui kalau perjalanan gue ke Amrik berlangsung setahun lalu. Baru sedikit tulisan tentangnya, jadi gue memaksa diri buat menulis lagi.

Pemandangan di tepi Sungai Hudson petang itu sangat indah. Mentari musim panas masih bertengger di atas cakrawala di arah barat; memantulkan cahaya yang cukup terang di permukaan sungai yang mengalir tenang. Di sebelah barat sungai, gue melihat bangunan West Point, sekolah militer Amerika yang tersohor itu. Gue melaju dengan kecepatan sekitar 80 km per jam di atas kereta Amtrak Lake Shore Limited dari Buffalo ke New York City.

Jantung gue berdegup agak lebih kencang dari biasanya ketika Google Maps gue menunjukkan gue sedikit lagi masuk ke Manhattan. Nggak cukup kencang buat dibilang dagdigdug sih, tapi tetap gue tahu detak jantung ini sedikit lebih cepat dari biasanya. Perasaan excited itu tak lain dan tak bukan adalah karena gue sebentar lagi akan menjejakkan kaki di New York City.

Kereta mulai masuk ke (Pulau) Manhattan.
Kereta mulai masuk ke (Pulau) Manhattan.

New York City (NYC) adalah kota paling urban di dunia. Dia adalah kuali peleburan. Dia adalah si Apel Besar. Dia adalah kota yang tak pernah tidur. Dia adalah, dia adalah, dia adalah. Sederet julukan superlatif lain berseliweran di kepala gue saat itu.

Siapa sih yang nggak bermimpi untuk pergi ke NYC? Meski gue pernah dibilangin kalau kota terindah di Amerika itu bukanlah NYC, tapi Chicago, tapi tetap saja gue merasa bahwa gue harus mengunjungi kota ini. Menjejakkan kaki gue di trotoar lebar yang diinjak oleh jutaan orang lainnya, baik yang cuma turis atau yang mengharapkan untuk mengais nafkah di sana. Menaiki subway-nya yang melegenda, atau memandang takjub gemerlap lampu di Times Square.

Sekitar jam 8 malam, kereta Amtrak gue akhirnya masuk ke Penn Station, stasiun terakhir di rute ini. Gue berdiri dan meraih dua tas yang gue bawa masuk ke kabin. Nggak lama kemudian, kereta benar-benar berhenti. Gue perlahan berjalan ke pintu keluar dan turun dari gerbong. New York, bung!

“Are you still coming?” Sebuah pesan masuk ke layar iPhone gue. Itu adalah pesan dari host AirBnB yang akan gue tumpangi. Dia tanya begitu karena gue bilang ke dia seharusnya gue sampe ke NYC sekitar jam 6 sore. “Sure. Sorry my train was delayed. I will be right there soon,” begitu jawab gue.

Gue harus menunggu bagasi gue keluar dulu karena gue menaruh koper besar gue di sana. Gue pasang earphone dan lewat Youtube gue memutar lagu Empire State of Mind yang menjadi semacam lagu wajib buat orang yang datang ke NYC. Nggak terlalu lama menunggu, akhirnya koper gue nongol juga. Segera saja gue seret barang-barang bawaan gue ke stasiun subway yang berada cukup jauh dari stasiun Amtrak di Penn Station.

Buat naik semua bus dan subway di NYC, gue harus beli tiket mingguan yang harganya $30. Setelah beli kartu Metro dari mesin, gue agak kerepotan dengan barang bawaan gue karena buat mencapai peron gue harus naik tangga yang meski nggak terlalu tinggi tapi cukup bikin pegel juga. Sesampainya di atas, gue ternyata salah peron. Dang! Menurut orang yang gue tanyai, peron itu buat arah Downtown, sementara alamat yang gue tuju ada di Uptown. (Sederhananya: Downtown itu untuk yang nomor jalannya kecil-kecil, 1-42 biasanya. Uptown untuk yang nomor jalannya besar-besar, mulai dari 70 sampai 180-an.)

MTA Metro Card paling atas. Di bawahnya ada TAP dari LA dan Ventra dari Chicago.
MTA Metro Card paling atas. Di bawahnya ada TAP dari LA dan Ventra dari Chicago.

Setelah berpindah ke peron yang benar, akhirnya gue naik juga tuh subway NYC yang tersohor. Sebelumnya gue udah screenshot tuh Google Maps yang memerintahkan gue harus turun di mana. Bikin screenshot cukup penting karena bisa jadi di dalam terowongan kereta nggak ada sinyal seluler.

Suasana di subway NYC yang agak padat.
Suasana di subway NYC yang agak padat.

Kereta agak padat meski jam udah menunjukkan lewat jam 9 malam. Perjalanan gue dari Penn Station ke Stasiun Cathedral Parkway di Uptown ternyata makan waktu cukup lama, nyaris 30 menit. Pelajaran pertama sebagai turis di NYC adalah: subway memang membuat lo bebas macet. Tapi kalau tempat menginap lo jauh dari Downtown, tetap aja butuh waktu lama buat perjalanannya.

(Bersambung)

Selfie-lah Sebelum Selfie Itu Dilarang

Dikit-dikit selfie, dikit-dikit selfie. Selfie alias swafoto memang jadi aktivitas yang dilakukan oleh nyaris semua orang. Coba saja cek hape lo, pasti ada foto selfie-nya. Kalo nggak ada, berarti lo termasuk antimainstream. Salut deh!

Popularitas selfie emang ke mana-mana, sampai-sampai kata ini masuk sebagai lema resmi Kamus Oxford. Mungkin karena pada dasarnya manusia itu suka menyanjung diri sendiri. Dengan selfie, kamu bisa memilih angle yang memperlihatkan kegantengan atau kecantikanmu. Ya nggak?

Resep selfie sebenarnya sederhana: kamera depan (di ponsel) yang bagus ditambah sudut pengambilan gambar yang bagus. Kenapa kamera depan? Karena selfie biasanya diambil dengan kamera itu, dengan pengambil gambar (sekaligus obyek foto) menghadap layar ponsel biar tahu fotonya udah bagus apa belum.

Dengan tren begitu, produsen ponsel sekarang memang cukup serius memikirkan kamera depan produknya. Nah, kemarin ini, Kamis (11/6), salah satu produsen ponsel dari Cina, Vivo, meluncurkan X5 Pro. Fitur andalannya: kamera depan dengan resolusi 8 MP. Itu masih ditambah dengan burst mode hingga 5 foto. Selfie terus deh itu sampe bedak dan lipstik luntur. :)) (Ya nggak papa sih, kan selfie bukan kejahatan. Selfie-lah sebelum selfie itu dilarang.)

Vivo3

Nggak cuma kamera depannya yang mantap, kamera belakangnya juga cakep dengan resolusi  13 MP. Kamera belakang juga dilengkapi fitur PDAF biar hasil foto lo nggak blur.

Dari segi jeroan, X5 Pro cukup menjanjikan sih. Layarnya berukuran 5,2 inci dengan teknologi Super AMOLED biar lo bisa melihat gambar yang tajam dengan warna-warni yang kaya. Prosesonya pakai Qualcomm Snapdragon Octacore dan memorinya 2 GB yang bikin lo leluasa buka banyak aplikasi dalam waktu bersamaan. Buat OS-nya, Vivo mengembangkan OS bernama FunTouch 2.1 yang merupakan modifikasi dari Android Lollipop.

Vivo4

Semua itu dibungkus dalam sebuah ponsel berdesain cantik (meski bagian bawahnya agak mirip sebuah ponsel brand Amerika) dan akan dilepas ke pasaran dengan harga Rp4.999.000.

Vivo2