Kenapa Harus Detoks Internet?

Image dari Wired.co.uk

Selama 2015, khususnya di paruh kedua tahun ini, gue merasa bahwa gue makin ketergantungan dengan internet. Tersedianya koneksi internet kabel di kamar, dengan biaya cukup murah tapi benwitnya mayan gede dan tanpa kuota, menambah keasyikan buat online. Sering banget, setelah nyampe pulang dari kantor, yang gue lakuin adalah online lagi; di Mac (ngurusin sisa kerjaan. ciyee!) ataupun lewat iPhone.

Ada beberapa efek negatif dari adanya internet yang nyaris tanpa batas itu. Gue jadi tidur lebih malam, seringnya mendekati tengah malam atau malah selewat tengah malam. Kualitas tidur gue jadi berkurang, selain karena durasinya yang memendek, juga karena gue emang kurang nyenyak aja. Selain itu, mata gue juga jadi cepat lelah, mungkin karena keseringan ngeliat layar terang dalam kamar gelap. Tangan gue juga mulai sering sakit. Mungkin tanda-tanda carpal tunnel syndrome? Entahlah. Yang jelas, itu adalah efek dari memegang handphone kelamaan sembari berbaring.

Gambar dari Techsling.com
Gambar dari Techsling.com

Gue menyadari betul bahwa ketergantungan internet ini sangat berbahaya bagi kesehatan fisik maupun mental. Akhirnya, gue memutuskan buat melakukan puasa internet selama liburan akhir tahun ini. Mobile data gue matikan, cuma sms dan telpon yang gue sisakan menyala. Out of office gue di email kantor juga menerangkan bahwa gue gak akan merespons sama sekali pesan masuk mulai tanggal 24-29 Desember.

Detoks internet ini gue mulai ketika gue naik kereta ke Purwokerto, hari Kamis (24/12) malam jam 19.00 WIB. Selanjutnya akan gue ceritakan pengalaman detoks ini lewat linimasa berikut.

Kamis, 24 Desember. Jam 21.00
SMS datang dari Dodi. Pesannya: Alyak, gue udah transfer domain blablabla.com ke Qwords. sebelum lo hiatus, plis klik link buat activate transfer itu.

Tentu saja gue akhirnya menyalakan bentar mobile data gue, trus buka email, dan ngelakuin hal yang diminta Dodi. Oke, gue anggap ini cheating pertama. Agak mati gaya sih di kereta bengong doang gak bisa ngapa-ngapain karena selama ini gue biasanya di jalan ya chatting, baca temlen, buka Instagram, dsb.

Jumat, 25 Desember, jam 00.15
Gue sampe rumah. Gue langsung colokin iPhone buat dicharge, jauh dari tempat tidur. Gue bisa tidur tenang. Jam 8 pagi bangun dan nggak langsung nyariin iPhone. Duduk-duduk di teras sambil minum teh karena biji kopi gue ternyata habis diminum sama bokap dan gue gak bawa biji kopi dari Jakarta.

Jam 09.00
Jemput anak gue yang 2 hari sebelumnya pulang sama ibunya. Gue nggak terlalu merindukan internet karena sibuk mainan sama anak gue.

Jam 11.00
Keinginan untuk membuka handphone meningkat. Tapi nggak bisa ngapa-ngapain. Keinginan buat ngaktifin internet meningkat. Kondisi ini diperparah dengan nggak adanya koran yang terbit di hari Natal. Tapi gue bisa tabah dan melewati tahap ini.

Jam 12.00
Seperti gue ceritakan di atas, gue nggak punya stok biji kopi. Jadi terpaksalah gue harus beli. Yang gue tahu, di Purwokerto nggak banyak tempat yang jual biji kopi arabica yang udah disangrai medium-light. Satu-satunya tempat yang gue tahu adalah Prakerta Manual Brew. Beberapa hari sebelumnya, temen gue Yudis mengunjungi tempat itu dan gue udah berusaha ngapalin lokasinya. Jadilah gue berangkat ke sana naik motor, dengan berbekal keyakinan bahwa gue pasti akan nemu tempatnya.

Jam 12.30
Ternyata nyari Prakerta Manual Brew susah! Gue terpaksa menyalakan mobile data buat menyalakan Foursquare. Gue sebut ini cheating kedua. Ternyata, meski di 4Sq ada, tempat ini gagal gue temukan! Masih harus nanya sama satpam di sekitar situ, baru deh nemu. Wajar sih gue susah menemukan karena tempat ini nggak memasang papan nama atau spanduk atau banner. (OOT: Kafe ini digawangi sama Hoek Sugirang. Teman-teman blogger era 2006-2008 pasti kenal dia siapa.)

Jam 13.00
Godaan online bisa diatasi dengan sibuk menggiling dan menyeduh kopi dengan peralatan V60 gue. Harus diakui, godaan di hari pertama puasa internet ini cukup besar. Untunglah gue bisa melawan dengan baca buku (baca ulang Le Petit Prince entah yang keberapa kali. Lalu mencoba baca A Farewell to Arms-nya Ernest Hemingway yang terjemahan bahasa Indonesianya nggak terlalu oke) atau nonton film dari laptop.

Jam 19.00
Puasa internet genap 24 jam. Gue sudah 2 kali cheating tapi merasa bahwa gue masih di jalan yang benar buat meneruskan ini.

Sabtu, 26 Desember. Jam 07.00
Gue semalam ngundang tukang pijat dan gue bisa tidur jam 9 malam. Paginya, bangun dengan segar dan langsung menyeduh kopi lagi.

 

V60 Gear//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Seharian Sabtu itu gue isi dengan makan, main sama anak, ngemil, baca buku, nonton film, makan lagi, nyiramin tanaman, nyabutin rumput-rumput liar di halaman, dan sebagainya. Godaan buat online menyurut dan gue merasa otak gue lebih segar.

jam 21.30
Gue jam segini udah ngantuk. Siaran bola nggak ada di tv lokal dan gue cuma ngeliat sekilas di running text Metro TV kalo di halftime, MU lagi kalah 0-2 dari Stoke City. Meh! Gue yakin pasti grup yang berisi suporter MU lagi penuh dengan makian dan berjuta nama penghuni kebun binatang.

Minggu, 27 Desember. Jam 07.00
Godaan buat online udah nyaris nggak ada. Seperti biasa, gue mulai dengan menyeduh kopi. Hari ini gue mulai baca novel Kubah karya Ahmad Tohari. Gaya ceritanya Ahmad Tohari asyik sih. Cuma cerita novel ini (tentang seorang mantap tapol PKI) menurut gue sangat hitam putih. Kayaknya semua simpatisan PKI itu jahat. Sementara semua kelompok agama dan tentara itu baik.

Buku ini gue rampungkan dalam waktu sehari! Lumayan buat gue yang sepanjang 2015 keknya nggak berhasil menamatkan satu pun buku dari awal sampai akhir.

IMG_2015-12-29 19:18:28

Senin, 28 Desember. Jam 07.00
Lagi-lagi gue memulai hari dengan ngopi. Trus gue menyibukkan diri dengan ngurusin KTP elektronik yang udah tertunda 3 tahun. :))))) Sisanya, gue pakai buat membaca-baca buku Djakarta 1945 karangan Julius Pour yang bercerita tentang perjuangan revolusi Indonesia sebelum, selama dan sesudah proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. Buku yang bagus banget. Dalam waktu sehari, gue bisa melahap hampir 150 halaman alias sekitar separo tebal buku ini.

Selasa, 29 Desember. Jam 07.00
Hari terakhir liburan di kampung. Gue dan Ei bersiap-siap pergi ke Jakarta lagi. Pesan taksi lewat telepon susah banget. Yang satu nggak ada yang jawab (call center taksi macam apa yang ditelpon orang nggak ada yang jawab?) dan yang satu suara operatornya pelan dan nggak meyakinkan. Anak gue bertanya, “Di sini nggak ada Grab Taxi, ay?” Gue ketawa dan membayangkan tentang betapa enaknya pesan taksi lewat aplikasi.

Jam 11.30
Kereta gue bersiap berangkat dari Stasiun Purwokerto. Gue menyalakan lagi mobile data di iPhone. Jebret, jebret, jebret. Pesan-pesan berebut masuk. Total ada 3500-an pesan di Telegram, nyaris 500 pesan di Whatsapp serta puluhan pesan di Line. Luar biasa. Dengan demikian, berakhir sudah puasa internet gue yang berlangsung kurang lebih 4 hari 16,5 jam ini.

IMG_2015-12-29 19:56:17

Kesimpulan
Menahan godaan buat online paling berat terjadi di 24 jam pertama. Tubuhmu bakal merasa ‘sakaw’ internet. Tapi jangan menyerah. Semua itu godaan yang fana. Kamu nggak harus selalu jadi yang pertama tahu tentang berita tertentu, kamu nggak harus tahu teman-teman di grup Telegram lagi ngomongin apa dan kamu bisa memilih untuk menikmati hari-harimu yang indah terbebas dari jeratan internet.

Dengan detoks internet, gue merasa lebih sehat. Tidur gue lebih nyenyak, tangan dan mata gue nggak sakit, dan gue lebih menghargai hal-hal baik yang ada di sekitar gue. Yang jelas, suatu saat, gue harus mengulangi lagi detoks internet ini dan gue berharap kalian yang sedang online membaca blog ini akan mengikuti jejak gue dan merasakan manfaatnya.

14 thoughts on “Kenapa Harus Detoks Internet?

    1. termasuk cheating dong Tin. segala sesuatu yg melibatkan pengiriman/penerimaan paket data lewat internet berarti pakai internet. #dibahas nek LDR nganggo telpon tok ra cukup ya? kudu ndelok rupane ya? hahaha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s