MTV Ekslusif Artis

Suatu malam, saya menyaksikan acara di Global TV. Kebetulan, pada saat itu Global sedang menayangkan program dari MTV (Music Television). Saat itu, ditampilkan sebuah video klip dari band bernama NUMATA. Ini adalah sebuah band lokal.

Kemudian, yang menggelitik indra penglihatan saya adalah munculnya sebuah label pada saat penayangan video itu. Label yang nongol di sudut kanan bawah video tersebut bertuliskan “MTV Eksklusif Artis“.

Sejenak, saya tidak mempercayai mata saya. Benarkan tertulis Eksklusif Artis? dan bukannya “Exclusive Artist”, atau setidaknya “Eksklusif Artist” atawa barangkali “Exclusive Artis”?

Tidak. Mata saya masih waras. Jadi memang benar apa yang saya lihat. Tertera “MTV Eksklusif Artis”.

Olala! Saya benar-benar geli saat itu.

Seperti kita pelajari selama 12 tahun masa sekolah, Bahasa Indonesia menganut pola Diterangkan Menerangkan (DM). Contohnya: kursi biru. Artinya, kursi yang berwarna biru.

Sedangkan Bahasa Inggris menganut pola kebalikannya, yakni Menerangkan Diterangkan (MD). Contoh penggunaannya adalah: Black Dog. Artinya, dog yang warnanya black.

Kembali ke soal “Eksklusif Artis” itu tadi. Sudah sangat terang bahwa penggunaan frasa tersebut telah melanggar prinsip DM dalam Bahasa Indonesia.

“Eksklusif Artis”, dalam perkiraan saya, memiliki maksud “artis/penampil yang eksklusif”. Artinya, penampil tersebut hanya tampil di saluran MTV dan tidak di saluran televisi lain.

Jika itu yang dimaksud, maka apabila mereka ingin tertib berbahasa Indonesia, seharusnya mereka menggunakan frasa “Artis Eksklusif” alih-alih “Eksklusif Artis”.

Apabila mereka ingin menggunakan Bahasa Inggris, sudah seharusnya mereka memakai frasa “Exclusive Artist” yang menaati pola MD, yang berarti “artist yang exclusive“.

Pergaulan bebas antar bahasa memang sudah tidak terhindarkan lagi. Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia dengan riangnya bercengkerama dan berbaur dalam berbagai kesempatan. Tak peduli di ruang pribadi ataupun di ruang publik semacam tayangan itu tadi.

Namun, alangkah baiknya jika pergaulan itu juga memperhatikan rambu-rambu dan kaidah berbahasa yang ada. Jangan asal mencampur dengan maksud keminggris atau ingin terlihat keren.

Bukannya terlihat hebat dan gaya, yang ada, penggunaan “Eksklusif Artis” tadi hanya melahirkan kekonyolan dan menunjukkan kehampaan otak orang-orang yang menyusunnya. Seolah-olah yang membuat adalah tukang obat di Alun-alun Utara Yogyakarta. (Saya bahkan yakin penjual obat di sana lebih pintar, tertib dan santun dalam berbahasa dibanding persona-persona di MTV yang ingin terlihat menginternasional tersebut)

Teman saya Bungky bilang, bahasa menunjukkan kasta.