Ngapain Sih?

War room

Jadi, banyak yang bertanya sebenarnya gue ngapain sampai nyaris 40 hari di Amerika? Kok mau-maunya Yahoo ngirim gue ke sana? Buat apa?

Yah, intinya sih ke sana kerja. Setidaknya di 32 hari dari total 40 hari itu. Gue mengerjakan kanal Piala Dunia 2014. Kerjaannya sebenarnya sama saja dengan yang gue lakukan secara reguler di Jakarta. Tapi ada tujuannya mengapa gue disuruh mengerjakan itu semua di Santa Monica.

Brainstorming
Ada sekitar 30 orang penulis dan editor olahraga dari seluruh dunia yang hadir di Santa Monica. Kami ditempatkan di sebuah ruangan bernama ‘war room’. Tujuannya berkumpulnya para editor olahraga ini adalah agar mereka mudah untuk brainstorming, buat tukar menukar ide, saling melontarkan pertanyaan, dan sebagainya.

Apalagi, kami punya program wawancara Yahoo Global Football Ambassador, Jose Mourinho. Jadi, sebelum mewawancarai Mourinho lewat video call, biasanya kami diskusi dulu untuk membuat pertanyaan dan mengutak-atik angle-nya agar cocok dengan Mourinho. Nggak harus selalu pertanyaan yang “aman” alias yg nggak membuat Mou kesal dan menghentikan wawancara. Kadang, justru kami berusaha membuat pertanyaan yang agak kontroversial agar Mourinho bisa mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang tidak umum.

Saling mengenal
Selain soal brainstorming, mengumpulkan para editor olahraga dalam satu tempat berarti membuat mereka bisa mengenal satu sama lain dan mungkin di masa depan bisa membuat para editor berkolaborasi sesuai dengan kepentingan dan kemampuan negara masing-masing. Sebagai contoh, selesai Piala Dunia, editor Yahoo Sports Italia menghubungi saya untuk minta foto-foto pertandingan uji coba Juventus di Jakarta.

war room

Lalu, mengapa Santa Monica? Kenapa bukan di tempat penyelenggaraan Piala Dunia di Brasil? Ada sejumlah alasan.

1. Logistik
Kehadiran 30-40 orang editor internasional di Brasil tentu membutuhkan tempat, baik itu hotel atau apartemen. Padahal, sejak setahun lalu, harga sewa kamar hotel dan apartemen di Brasil sudah naik lebih dari 100%. Tentu saja, dari sisi finansial ini nggak ekonomis.

Masih soal kehadiran 30-40 orang itu, kantor Yahoo di Brasil yang terletak di Sao Paulo juga tampaknya akan kesulitan menampung tambahan banyak orang sekaligus.

2, Soal jarak
Sao Paulo dan Rio de Janeiro, dua kota terbesar di Brasil, punya ukuran raksasa. Dari satu tempat ke tempat lain jaraknya berjauhan. Dengan sistem transportasi umum yang tidak terlalu baik, agak susah bagi orang asing untuk berpindah-pindah tempat di kedua kota itu.

3. Koneksi internet
Kerjaan Piala Dunia bukan sekadar teks, tapi juga melibatkan transfer file-file foto dan video. Juga ada live blogging. Dibutuhkan koneksi internet yang mumpuni buat melakukan itu semua. Di Brasil, kabarnya koneksi internetnya tidak terlalu bagus. Mungkin lebih baik dari Indonesia, tapi jelas masih jauh dibanding Amerika atau Kanada.

4. Keamanan
Seperti kita tahu, menjelang dan selama Piala Dunia, Brasil banyak menghadapi unjuk rasa yang tidak jarang berujung kericuhan bahkan kerusuhan. Memastikan 30-40 orang asing agar tetap aman selalu membutuhkan usaha yang besar dan pasti prosesnya rumit. Mengambil risiko sepertinya bukan pilihan.

Melihat berbagai pertimbangan itu, maka akhirnya dipilihlah kantor Yahoo di Santa Monica (bukan kantor Yahoo yang lain seperti Sunnyvale, New York, atau Miami) sebagai lokasi war room. Alasannya adalah karena kantor dan kota Santa Monica bisa memenuhi syarat yang mungkin tidak bisa disediakan di Brasil. Lagipula, nyaris semua penulis Yahoo Sports Amerika juga aslinya memang berkantor di Santa Monica.

Selain itu, Santa Monica juga memiliki kelebihan dalam hal zona waktu. Di Santa Monica, pertandingan paling awal berlangsung jam 09.00 pagi dan yang paling akhir jam 15.00. Ini memudahkan editor karena pas dengan jam kerja. Pertandingan paling sore pun berakhir jam 17.00, masih masuk waktu kerja yang normal. Bila war room digelar di wilayah timur Amerika seperti di New York atau Miami, maka pertandingan paling akhir dimainkan jam 18.00 dan akan berakhir jam 20.00. Agak melelahkan buat editor.

Kiri ke kanan: Jeff Oon (Singapura), Jim Hu (Amerika), Karel Rodriguez (Spanyol), Cassiano Gobett (Brasil), Mohab Maghdy (Mesir)
Kiri ke kanan: Jeff Oon (Singapura), Jim Hu (Amerika), Karel Rodriguez (Spanyol), Cassiano Gobett (Brasil), Mohab Maghdy (Mesir)

Bagi gue dan Jeff yang berasal dari Asia Tenggara, bekerja di zona waktu 14 jam (15 jam bagi Jeff) di belakang akan menguntungkan karena berarti kami bekerja di saat waktu di Asia malam hari. Jadinya, punya dua shift kerja karena editor di Jakarta dan Singapura bisa bekerja di waktu kantor normal.

Iklan

Wenger

aryawenger

Dahinya berkerut; seperti biasa. Tetapi wajah itu tidak memperlihatkan keseriusan dalam tingkat yang sama dengan yang sering saya saksikan melalui tabung kaca televisi. Kalimatnya hangat dan ramah.

Dialah Arsene Wenger. Memakai kaos putih, celana pendek hitam dan sepatu kets, dia melayani wawancara dari tiga pewarta Indonesia, ditambah dua orang pendamping dari penaja.

Kami bertanya, ia menjawab. Ia tak terlalu terkejut ketika tahu bahwa klubnya, Arsenal, dan Liga Inggris adalah tontonan yang sangat populer di sini. Tapi tampaknya ia cukup kaget saat tahu negeri ini punya 220 juta penduduk.

Ia pun bicara soal sepakbola dunia, soal filosofinya dalam bersepakbola, perihal identitas kebangsaan. Ah sayang saya lupa menanyakan bahasa apa yang ia pakai di ruang ganti Emirates.

Pembicaraan di antara kami pun mengalir. Waktu 10 menit –dari seharusnya 15 menit, tapi dipotong gara-gara durasi acara molor– terasa begitu cepat dan setelah berfoto beberapa bingkai, kami pun harus pergi.

Arsenal bukanlah klub idola saya. Tetapi andai saya tidak menggemari Manchester United, mungkin saya akan jatuh cinta kepada ‘Gudang Peluru’ dari London utara itu karena saya mengagumi cara mereka bersepakbola.

Di bawah Wenger, Arsenal adalah tim yang punya filosofi ‘menyerang adalah pertahanan terbaik’. Wenger, pemilik gelar insinyur dan master ekonomi, juga gemar merekrut anak-anak muda dari berbagai penjuru dunia ke dalam timnya.

Memang, sudah empat tahun ini gaya itu tidak berhasil menghadirkan satu pun silverware ke markas Arsenal. Tetapi Wenger adalah seorang idealis. Keyakinannya pada filosofi yang ia imani tidak luntur hanya karena kering prestasi.

Wenger berada di kutub berbeda dengan seorang manajer yang barangkali tega ‘memarkir 11 bus’ di depan gawang timnya hanya agar timya tidak kalah.

Wenger dan Arsenalnya juga tidak sama dengan klub yang sanggup menggelontorkan puluhan juta poundsterling (barangkali dengan cara ngutang) untuk mendatangkan pemain-pemain berlabel super bintang.

Tapi di mata saya, Wenger juga punya sebuah idealisme yang tak bisa saya pahami. Dalam keyakinannya, Wenger menganggap bahwa identitas tidaklah given; ia tidak tergantung kepada lokasi di mana Anda dilahirkan. Bagi Wenger, identitas adalah sebuah proses.

Untuk Wenger, seorang Prancis tetap bisa punya identitas Inggris, seorang India bisa punya identitas Amerika, atau malah seorang Spanyol bisa punya identitas Indonesia.

Karenanya, Arsenal cuma punya segelintir pemain asli Inggris. Yang lainnya datang mulai dari sudut kumuh Pantai Gading, dataran Rusia yang bersalju, Spanyol yang bermandi matahari hingga ke Brasil yang gegap gempita.

Bagi saya, identitas tetap saja terkiat kepada akar di mana Anda tumbuh. Sebuah klub Inggris punya identitas dan tradisi yang tidak akan pernah secara utuh dipahami oleh orang Amerika Latih, misalnya.

Tapi saya bukanlah seorang manajer terkenal dengan tiga titel Premiership di curriculum vitae. Jadi kalau Wenger bisa mengucapkan argumentasinya di hadapan ribuan pewarta dari seluruh penjuru dunia, saya cukup menulisnya di sini saja.

Ya kan?