Jalan Tikus

Jalan2

Akhir pekan kemarin, gue membantu teman gue pindahan. Dia yang awalnya hidup berpindah-pindah dari satu kos ke kos lain, lalu tinggal di apartemen, sekarang punya rumah sendiri. Dari yang tinggal di Jakarta Selatan, sekarang dia tinggal di selatan Jakarta alias Kota Depok, Jawa Barat.

Depok adalah satu dari lima daerah penyangga atau suburban dari sebuah metropolitan raksasa bernama Jakarta. Empat penyangga lainnya adalah Bogor, Bekasi, Tangerang dan Tangerang Selatan. Kelima daerah ini punya peran penting bagi Jakarta karena tak cuma berperan sebagai lokasi tempat tinggal banyak orang yang bekerja di Jakarta, tapi juga punya fungsi lain seperti pemasok sumber daya alam, hasil pertanian hingga ke penyeimbang lingkungan.

Proses perjalanan pindah ke Depok itu gue lakukan dengan menumpang mobil pick up yang disewa untuk mengangkut barang-barang teman gue. Perjalanan yang gue lakuin bersama mobil pick up itu cukup berliku-liku. Melewati jalan-jalan sempit di Jagakarsa, lalu sampai ke Tanah Baru.

Sepengamatan gue, jalan-jalan di kawasan Jagakarsa dan Depok ini jauh dari ideal. Jalannya sempit, di beberapa tempat masih dilintasi pejalan kaki (yang terpaksa turun ke aspal karena nggak ada trotoar), kadang juga dilintasi gerobak bakso dan mie ayam, lalu ada motor dan mobil yang parkir di tepi jalan, pedagang-pedagang aneka barang, dan lain-lain.

IMG_2015-04-05 22:47:46

Jalan Tanah Baru misalnya. Jalan yang sepertinya cukup penting dan membentang cukup panjang dari utara ke selatan kondisinya cukup memprihatinkan. Sempit dan penuh dengan kendaraan dan manusia. 

Gue lalu teringat pengalaman gue kira-kira setahun lalu nyetir ke sebuah tempat di kawasan Pondok Ranji, Tangerang Selatan, untuk datang ke resepsi seorang teman. Kondisinya mirip. Alhasil, nyetir mobil matic ternyata nggak bisa menghentikan rasa capek yang gue alami begitu udah sampai Jakarta Selatan.

Antara Jagakarsa, Depok dan Tangerang Selatan memiliki masalah yang sama terkait ketersediaan jalan. Kalau lo melihat ke Google Maps, cobalah zoom ke daerah-daerah yang gue sebutin di atas dan lihat betapa tidak teraturnya bentuk-bentuk jalan di sana. Gue gagal menemukan jalan protokol (selain Jalan Margonda di Depok, tampaknya) yang bisa menjadi tulang punggung transportasi di daerah tersebut. 

Tidak cuma sempit dan ramai sehingga membuat perjalanan terasa lama dan melelahkan, tapi dari segi desain pun jalan-jalan di kawasan suburban ini (sesungguhnya, di Jakarta juga), tidak teratur. Padahal, desain jalan yang terbaik adalah jalan yang berbentuk grid (berbentuk anyaman jalan-jalan secara horisontal dan vertikal) karena mempermudah perpindahan antarsegmen.

Jalan1

Menurut pengamatan gue yang sotoy ini, terbelakangnya infrastruktur jalan di Jakarta dan kawasan penyangganya adalah akibat dari perkembangan kota yang tidak teratur dan terencana sehingga mendapatkan sebutan urban sprawl. Perkembangan daerah-daerah penyangga Jakarta lebih mirip pemanjangan akar pohon yang menjalar ke sana ke mari tanpa ada usaha mengaturnya.

Pemerintah daerah kawasan penyangga tersebut seperti kehabisan akal untuk mengatur perkembangan wilayahnya. Tidak ada masterplan terpadu tentang zoning, rencana pembangunan infrastruktur publik, ruang terbuka hijau, dan seterusnya. Tampaknya, mereka hanya bisa berpikir mengenai bagaimana mendapatkan pemasukan daerah (atau malah pemasukan pribadi) sebesar-besarnya tanpa memikirkan bagaimana mencukupi hak-hak dasar warganya.

Satu-satunya pengecualian dari fenomena memprihatinkan daerah-daerah penyangga Jakarta hanyalah kawasan Bumi Serpong Damai. Bisa dibilang, BSD adalah kawasan yang mendekati ideal dengan zoning dan infrastruktur jalan yang jelas. Mungkin yang masih harus dibenahi adalah ketersediaan angkutan umum yang layak di dalam kawasan tersebut.

Jalan4

Apa yang secara kasat mata terlihat dari perbedaan di Tangerang Selatan yang BSD dengan Tangerang Selatan bukan BSD dan Depok? Ya! Yang satu dikembangkan oleh swasta, sementara yang satu lagi dibiarkan tumbuh liar oleh pemerintah daerahnya.

Lantas, apakah kesimpulannya adalah sebaiknya kita swastakan saja pembangunan kota-kota di Indonesia? Tunggu dulu. Pengembangan oleh swasta punya efek negatif berupa semakin mahalnya harga properti sehingga memperkecil kesempatan untuk warga dengan penghasilan terbatas untuk memiliki rumah tinggal. Gue tetap berpikir bahwa pemerintah daerah tetap harus membangun wilayahnya secara terencana sehingga tidak ada lagi pembangunan liar tak terarah seperti yang terjadi selama ini. Bisa?

 

Mengurus Pencairan Uang Jamsostek

IMG_2015-03-17 13:24:16

Kalian para pekerja tentu akrab dong sama Jamsostek (Jaminan sosial tenaga kerja)? Setiap bulan, ada sebagian dari gaji kita (((kita?))) yang dipotong sebagai iuran Jamsostek. Iuran itu menjadi semacam asuransi bagi para pekerja biar mereka punya tabungan ketika mereka udah nggak lagi bekerja, atau menghadapi risiko cacat tetap dan meninggal dunia.

Setelah gue nggak lagi jadi pekerja, gue agak malas-malasan buat mencairkan dana JHT (Jaminan Hari Tua) tersebut. Sempat ada kekhawatiran apakah gue bisa mencairkan karena selama ini ada cerita-cerita perihal sulitnya melakukan proses tersebut. Belum lagi membayangkan tentang birokrasi yang harus gue temui, udah makin malas kan. Tapi mengingat gue membutuhkan duit buat modal usaha, gue kumpulkan tekad, niat dan dokumen-dokumen yang dibutuhkan biar prosesnya nggak memakan waktu.

Kekhawatiran gue ternyata nggak terbukti ketika gue berhasil menyelesaikan proses dalam waktu sekitar 1-2 jam saja. Memang sih, itu terbagi dalam dua hari karena gue harus menyusulkan kartu kedua gue. Selain itu, sempat juga menemui hambatan ketika petugas meminta gue diminta menyertakan surat keterangan domisili karena KTP gue bukan KTP Jakarta. Tapi berkat kengeyelan gue dengan mempertanyakan dasar aturan harus memakai surat domisili itu (yang dijawab, “Nggak ada, ini adalah kebijakan kantor BPJS Ketenagakerjaan Cilandak!”), akhirnya proses klaim gue diteruskan tanpa adanya surat domisili itu.

Selain itu, fakta bahwa gue punya dua kartu keanggotaan Jamsostek (masing-masing satu waktu kerja buat Detikcom dan Yahoo Indonesia) dan dua-duanya belum ada lima tahun (kalau ditotal sih 7 tahun lebih ya) ternyata nggak membuat pencairan gagal. Mbak Ivania Nasution (duh gue hapal banget nama mbak-mbak manis ini) yang mengurusi klaim gue sangat helpful dan penjelasannya sangat mudah dimengerti.

Nah, simak di bawah ini kalau lo juga berniat mencairkan dana JHT lo. Pertama, ketahui dulu syarat agar dana JHT bisa dicairkan.

1. Peserta Jamsostek selama minimal 5 tahun;

2. Tidak sedang bekerja, dengan masa tunggu satu bulan dari pekerjaan terakhir; atau

3. Sudah berusia 55 tahun; atau

4. Menderita cacat tetap; atau

5. Meninggal dunia.

Kedua, persiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan–semuanya asli dan fotokopinya. Ini berlaku buat yang memenuhi syarat kedua alias sedang tidak bekerja. Dokumen buat yang memenuhi syarat nomor 3-5 berbeda, silakan cek di kantor BPJS Ketenagakerjaan terdekat.

1. KTP;

2. Kartu kepesertaan Jamsostek;

3. Kartu keluarga;

4. Surat keterangan pemutusan hubungan kerja;

5. Surat keterangan kerja;

6. Buku tabungan;

7. Surat domisili bila KTP lo berbeda dengan daerah tempat kantor BPJS Ketenagakerjaan yang lo tuju. Yang ini bisa pakai jurus ngeyel sih. Tapi kalo lo bukan lawyer atau orang yang keras kepala dan galak kaya gue (halah!), mungkin ada baiknya lo bikin aja deh surat domisili.

IMG_2015-03-17 13:24:07

Ketiga, datanglah ke kantor BPJS Ketenagakerjaan (nama baru PT Jamsostek) terdekat. Lokasi terdekat dari tempat gue adalah di Cilandak. Yang harus dilakukan:

1. Isi formulir pencairan JHT;

2. Lengkapi dokumen yang disyaratkan;

3. Masukkan map berisi dokumen-dokumen itu di drop box;

Setelah sekitar 10-20 menit, lo akan dipanggil dan petugas akan memeriksa kelengkapan dokumen lo. Kalau dinyatakan telah lengkap, maka klaim lo akan diteruskan ke loket berikutnya. Tunggulah lagi sekitar 20-30 menit, petugas selanjutnya akan memproses, mengecek ulang kelengkapan dan validitas dokumen lo (di sini kadang lo harus menunjukkan dokumen aslinya). Kalau udah nggak ada kekurangan, petugas akan memberi tahu bahwa dana bakal dikirimkan ke rekening tabungan dalam waktu 7 (tujuh) hari kerja.

Gimana, sudah siap buat mencairkan duit hak lo tersebut?

Jalan Sepi

IMG_4203-1.JPG

Akhir pekan lalu, berlangsung kumpul-kumpul blogger di sebuah hotel di Jakarta. Kebanyakan yang datang di acara ini adalah mereka yang ngeblog di era keemasan ngeblog, yakni tahun 2005-2008. Istilah era keemasan ini sebenarnya sangat sumir karena menurut beberapa referensi lisan, sejatinya era ngeblog sudah dimulai sejak akhir 1990-an sampai awal 2000-an. Cuma, gue pribadi emang merasa bahwa blogosfer di era 2006-2008 itu sangat hidup dan dinamis dengan berbagai peristiwa, wacana, tren, kontroversi dan lainnya.

Dari acara kumpul-kumpul blogger itu, gue diingatkan tentang banyaknya isu dan narasi yang beredar di blogosfer circa 2004-2009, mulai dari kebebasan berekspresi (kasus penangkapan Herman Saksono), isu monetisasi dan scam internet (kasus Anne Ahira), plagiarisme (kasus Buanadara), “keributan” antara para blogger dengan pemikiran bebas vs blogger Salafi, dan lain-lain. Bak pasar malam, blogosfer saat itu sungguh riuh rendah, tapi masih terasa menyenangkan. Para bloggers sepertinya masih punya banyak waktu buat menulis, berkomentar, berbalas wacana, dan lain-lain.

Belakangan, pesona blog sebagai alat untuk berekspresi di dunia maya sedikit surut. Kehadiran media sosial yang tidak menuntut kemampuan menulis panjang membuat ngeblog jadi terpinggirkan. Lebih mudah untuk mengetikkan dua-tiga kalimat di Twitter yang tak lebih panjang dari 140 karakter ketimbang menuangkan pikiran dalam 6-10 paragraf di sebuah tulisan di blog.

Blogger-blogger yang aktif tinggal segelintir. Sebagian dari mereka masih menulis karena memang ingin menumpahkan pikirannya dalam bentuk tertulis, sebagian lagi menulis karena pesanan penaja atau untuk kontes, sebagian yang lain cuma muncul sesekali dan sebagian lagi lenyap sama sekali.

Dari sisi pembacanya pun demikian. Selain memang sudah sangat kurangnya tulisan di blogosfer (secara kuantitas, apalagi secara kualitas), pembaca pun susut karena para onliners gampang sekali merasa lelah untuk membaca tulisan di blog karena mereka sudah terlalu sering dicekoki tulisan-tulisan pendek di Twitter, Facebook atau Path. Sudah sangat jarang ada kegiatan blogwalking (kalau tidak mau bilang tidak ada), yang juga mulai langka adalah tradisi untuk sekadar meninggalkan komentar—apalagi berharap terjadinya debat atau diskusi di laman blog.

Gue pernah merasakan keresahan soal surutnya kuantitas dan kualitas tulisan di blog ini. Tahun lalu, gue mencoba menginisiasi gerakan “seminggu satu”, yang intinya adalah mengajak para blogger untuk setidaknya membuat satu tulisan per minggu, dengan tema tertentu karena banyak yang beralasan bahwa mereka berhenti menulis karena kehabisan ide. Gue sebenarnya tidak setuju bahwa ide itu bisa habis. Tapi gue pikir tak apalah kalau menulis blog dengan tema yang ditentukan, siapa tahu kelak gairah untuk menulis blog akan hidup lagi dan sudah tidak perlu ada penentuan tema untuk tetap aktif menulis.

Mudah ditebak, gerakan “seminggu satu” nggak bertahan lama. Kalau nggak salah cuma berjalan tiga pekan. Siapa yang salah dalam kegagalan gerakan ini? Selayaknya gue menunjuk diri gue sendiri sebagai biangnya. Gue merasa makin kehabisan energi untuk menulis, bahkan bila frekuensinya cuma satu tulisan dalam sepekan.

(Pembelaan gue: pekerjaan utama gue adalah menulis. Ketika gue udah tiap hari menulis buat media, gue merasa sangat suntuk kalau masih harus menulis (blog) di waktu luang. Meski gue agak jarang nulis di blog sendiri, setidaknya gue kadang masih ngeblog di kolom teknologi atau olahraga. eh ngeblog di Tumblr juga. :p)

Nah, di hari Blogger Nasional yang jatuh tanggal 27 Oktober ini, gue nggak menggantungkan harapan apapun deh. Gue udah nggak pernah lagi bermimpi blogosfer akan seseru dulu dengan segala wacana yang berlalu lalang. Pada akhirnya, meminjam ucapan Paman Tyo, ngeblog memang tidak untuk semua orang. Waktu akan menyeleksi mana orang yang menekuni jalan yang (mulai) sepi ini.

Selamat Hari Blogger!

5 Tempat Paling Menyenangkan di Jakarta

(dan sekitarnya)

Saya udah 4,5 tahun tinggal di Jakarta, tapi tidak pernah merasakan kebetahan yang sama dengan masa saya tinggal di Yogyakarta. Maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, Jakarta buat saya adalah pond of opportunity, bukan sebuah sanctuary.

Tapi Jakarta tetap punya pesonanya sendiri. Ada banyak tempat, kegiatan dan orang-orang yang menarik buat dilihat dan dikenal.

Nah, dalam edisi kedua flashmob blogging yang oleh mas Fanabis diberi nama #SemingguSatu ini, saya akan membahas tentang 5 tempat yang paling menyenangkan yang pernah saya kunjungi di Jakarta (dan sekitarnya).

  • Toko Buku

Favorit saya adalah toko buku Kinokuniya di Plaza Senayan. Ini tempat buat buku impor yang paling lengkap. Yang paling menggoda adalah rak-rak buku fiksi berbahasa Inggris. Saya sih lumayan betah beberapa kali ngider-ngider doang, baca 1-2 halaman dan nggak beli :)) Tapi pernah juga sih saya terjebak masuk ke situ dan secara impulsif beli buku dengan harga yang cukup…menguras kantong.

Tempat favorit kedua adalah Gramedia Matraman. Konon katanya ini toko buku terbesar di Asia Tenggara. Koleksinya jelas, lengkap. Trus lokasinya juga cukup mudah dijangkau. Kalau sudah di dalam, lumayan nyaman buat numpang baca. Hehe.

Toko buku favorit ketiga adalah Times Universitas Indonesia. Bukan di Jakarta sih, tapi di Depok. Ini lebih ke faktor lokasi yang akan saya jelasin di bawah nanti.

  • Kampus UI

Apa yang bikin kampus Universitas Indonesia menyenangkan buat saya? Baobab! Iya. Di sana ada beberapa pohon baobab, pohon raksasa yang bisa berumur ratusan tahun yang aslinya dari Afrika. Pohon baobab ini fascinating karena merupakan kekhawatiran utama tokoh Pangeran Kecil yang tinggal di planet kecil bernama asteroid B-612.

Pohon-pohon baobab yang di UI dulunya berasal dari Subang. Yang di UI masih kurus-kurus sekarang, tapi beberapa tahun ke depan pasti bakal meraksasa.

Selain pohon baobabnya, saya baru tahu kalau perpustakaan UI super duper awesome! Arsitekturnya bagus banget, ruang-ruangnya nyaman, fasilitasnya lengkap, ada kedai kopi (yang sayangnya) internasional, dan toko buku Times.

Dulu akhirnya diberaniin main ke kampus UI karena ada local guide di situ :p Lumayan juga dapat pengalaman naik bus kuning yang lehendaris itu.

  •  Kebun Binatang Ragunan

Salah satu dari sedikit ruang terbuka hijau yang masih tersisa di Jakarta. Enak buat jalan-jalan siang-siang, ramai-ramai ataupun sendiri. Bisa membawa tikar dan bekal buat piknik. Oya, di dalam KB Ragunan ada pusat primata Schmutzer. Di sini, monyet-monyetnya banyak dan relatif sehat (soalnya dibiayai lembaga asing, kalau mengharap Pemerintah kasih dana layak buat perawatan hewan-hewan itu sih sama aja mimpi).

  • Plaza Senayan

Iya, saya memang nggak suka mall. Tapi buat pengecualian, saya suka Plaza Senayan. Ini bukan karena saya ngantor di samping PS sih. PS menurut saya adalah mall yang humble dari segi arsitektur. Tidak high rise, dan tidak mudah membuat para pengunjungnya tersesat seperti Grand Indonesia yang raksasa itu.

Meski bangunannya humble, tapi tidak dengan brand-brand yang dijajakan di sini. Terutama di lantai dasar.

Oya, di samping PS dan di depan kantor saya (Sentral Senayan II) ada air mancur yang terletak di tengah-tengah empat pohon beringin kecil. Kadang, kalau sore saya duduk-duduk di bawah pohon beringin sambil menyesap kopi atau merokok (atau melakukan keduanya bersamaan) sembari menonton air mancur yang diiringi musik,

  • Salihara

Yeah, inilah tempat buat mereka yang suka dengan seni, sastra dan diskusi intelektual yang berbobot *tsaah* Enggak, saya suka ke sini kalau ada pembacaan puisi atau ada konser musik jazz. Tapi kalau ada kuliah filsafat, diskusi buku atau pementasan teater sepertinya nggak terlalu tertarik. Saya senang kalau kerja dari tempat ini (ada wifinya), mungkin karena lokasinya yang dekat banget dengan kos :p

Kalau kamu, mana 5 tempat favorit di kotamu?

Krupuk

krupuk

Alkisah adalah seorang perempuan bernama Genduk. Ia adalah seorang pembuat krupuk yang sudah tergolong cukup ahli.

Ceritanya, pada suatu waktu Genduk pindah pabrik krupuk. Pabrik krupuk tempat dia bekerja sekarang adalah sebuah pabrik krupuk baru yang dimiliki oleh seorang juragan besar yang tidak cuma punya pabrik krupuk, tetapi juga punya pabrik biting, pabrik minyak lentik, pabrik gelas, pabrik kacu dan pabrik-pabrik lainnya.

Pabrik krupuk tempat Genduk bekerja ini terlihat sangat menjanjikan. Pokoknya wah. Hampir setiap orang di desa Genduk membicarakan pabrik krupuk ini bahkan sebelum pabrik krupuk ini dibuka.

Genduk tampaknya bangga betul bisa menjadi salah satu pembuat krupuk di pabrik baru itu. Genduk bangga karena pabriknya punya lebih banyak pembuat krupuk ahli dibanding pabrik-pabrik kerupuk lainnya di desa itu, bahkan juga dengan di desa sebelah.

Para pembuat krupuk di pabrik tempat Genduk bekerja juga gemar mengembangkan diri. Mereka, kata Genduk, hobi melahap bacaan-bacaan seputar pembuatan krupuk dari pabrik-pabrik krupuk di mancanegara.

Genduk bilang kalau membuat krupuk itu ndak perlu cepat-cepat, yang penting krupuknya tidak bercacat, tidak bantat pas digoreng; juga tidak mengandung zat yang bisa membahayakan yang makan.

Seakan belum puas membanggakan pabrik krupuknya, Genduk bilang kalau krupuk buatan pabriknya ditujukan untuk orang-orang berkelas. Pemakan krupuk bikinan pabriknya adalah orang-orang terpelajar yang tahu mana krupuk bagus dan mana yang tidak.

Sedangkan krupuk bikinan pabrik tetangga, masih kata Genduk, itu biasa dikonsumsi oleh mulut dan perut kelas bawah. Genduk bilang kalau pabriknya punya tujuan mulia yakni mendidik rakyat tentang krupuk bermutu dan krupuk rendahan.

Kebetulan, Genduk sepabrik dengan Parjo, juga seorang pembuat krupuk yang sudah cukup ahli. Dulunya, Parjo bekerja di pabrik krupuk sebelah. Tapi Parjo tidak keluar dari pabrik lamanya dengan baik. Parjo membuat kesal pembuat krupuk lain di pabrik lamanya karena lidah tajamnya.

Sama seperti Parjo, Genduk juga punya lidah selandep silet. Genduk bahkan tak segan-segan buat merusak hubungan baiknya dengan Pak Tua, pemilik pabrik krupuk yang pernah jadi tempat bekerja Parjo. Genduk rela merusak hubungan baik yang sudah pernah terjalin dengan Pak Tua jauh sebelum Genduk menjadi pembuat krupuk yang ahli.

Tapi itu semua terjadi dulu. Entah karena apa, Genduk memilih keluar dari pabrik krupuknya. .

Dari kabar angin yang sering dibicarakan sama pembuat-pembuat krupuk yang kerap nongkrong di warung kopi, konon pabrik krupuk itu terlalu sering membuat krupuk atas dasar pesanan. Kadang, pemesan-pemesan itu minta dibuatkan krupuk yang bentuknya segitiga, kadang kotak, kadang jajaran genjang, dan lain-lain.

Meski demikian, kabar angin yang berhembus tak tentu arah itu tetap ndak bisa mengungkap kenapa Genduk memilih keluar dari pabrik krupuk yang pernah begitu ia bangga-banggakan.

Masih kata para pembuat krupuk yang hobi rasan-rasan itu, Genduk lupa satu hal, di mana-mana pabrik krupuk itu ya sama. Mau sebangga apapun seorang pembuat krupuk sama pabriknya, dia itu ya tetap cuma pembuat krupuk, bukan juragan.

Catatan: cerita ini adalah rekaan belaka. kalau ada kejadian nyata yang serupa, ini benar-benar tidak disengaja 🙂

GM

Wajahnya tirus. Rambutnya, juga kumis dan cambangnya, terlihat memutih di beberapa bagian. Saya menebak umurnya sudah di atas 60 tetapi belum lagi tiga perempat abad. Di depannya, tergeletak sebuah BlackBerry dan MacBook berwarna hitam.

Ia berbicara dengan suara yang tidak keras, tetapi intonasinya teratur dan tertata. Beberapa kali ia mendengarkan dua orang di depannya bicara. Sesekali ia tampak antusias.

Dia Goenawan Mohamad. Ketika saya berkenalan, saya bilang bahwa dialah yang membuat saya akrab dengan dunia tulis menulis.

Selama lebih dari 1,5 jam, GM, demikian ia dikenal publik, berbicara dengan dua orang di samping saya di beranda Komunitas Salihara, Pasar Minggu. Yang pertama adalah Zen Si Pejalan Jauh dan yang kedua adalah Paman Tyo yang duitnya konon meteran itu. Saya? Lebih banyak diam dan menyimak.

GM dan dua orang itu memperbicangkan banyak hal. Tetapi yang utama adalah ngobrol soal sejarah dan pelakunya, sastra dan buku serta beberapa hal lain, termasuk perihal pertunjukan.

Ia bertutur tentang Manikebu, tentang Sjahrir, tentang ayahnya yang mati ditembak Belanda, juga beberapa kali menyinggung tulisan-tulisan karyanya.

Orang ini, bagi saya adalah inspirasi. Dari dialah, secara tidak langsung, saya belajar menulis. Tulisan-tulisannya yang secara terjadwal dimuat di majalah Tempo adalah santapan saya. (Meskipun kini sudah jarang lagi. Alasan kesibukan. ahahahah)

Dari GM pula, saya tahu bahwa menulis tidaklah sekadar menyampaikan ide atau pemikiran. Ternyata, ide dan pemikiran itu juga bisa dilontarkan dengan estetika yang mengagumkan dan membuat pembaca mengendapkannya di benak.

GM mempengaruhi saya sebesar Pramoedya. Ketika masih iseng-iseng di Pers Mahasiswa dulu, bahkan saya dan kawan-kawan meniru habis konsep caping di satu halaman buletin yang kami asuh.

Demi bisa membaca tulisan GM, saya memfotokopi buku ‘Kata, Waktu’, buku setebal 1.500-an halaman terbitan Pusdat Tempo yang memuat kumpulan esai GM dari tahun 1960-an sampai 2001.

Niatnya, malam itu saya ingin minta tandatangan GM di buku itu. Tapi gara-gara buku itu bajakan, maka saya batalkan saja niat itu. Hahahaha.

Independensi

Kawan, masih ingat nggak saat kita berdebat dulu? Ya, ya, berdebat. Kita memang berdebat saat itu bukan? Mengadu argumen di tengah udara pagi yang dingin di sebuah rumah di Bandung.

Ingat kan saat itu kita begitu berapi-api berbicara mengemukakan argumen kita; tak kalah berapi-api juga menguji pendapat lawan bicara di seberang meja, berharap menemukan celah untuk mematahkan pendapat lawan.

Kala itu kita bicara soal ide-ide besar. Aku masih ingat betul, kita berbusa-busa soal independensi. Aku menggugat independensimu, tetapi kamu bersikeras bahwa kamu tetap bebas, tak peduli siapapun majikanmu. Waktu itu, tahu tidak, aku mencatat ucapanmu bagai mencatat janji seorang politisi.

Kemarin, diam-diam aku menagih janji. Ah, aku kecewa, kawan. Ternyata janji (utang?) yang kamu ikrakan ketika itu tidak kau tepati. Aku berupaya berprasangka baik bahwa ini adalah kali pertama janjimu terlanggar, meski aku juga tidak yakin.

Lagi-lagi, aku mencoba berpikir baik karena aku tahu kamu orang yang baik. Mungkin kamu memang tak cukup berdaya untuk mengubah kondisi yang kamu hadapi. Aku lekas-lekas menghapus pikiran bahwa kamu memang sengaja tidak menepati janjimu.

Barangkali, keadaan di mana kamu bisa –meminjam Goenawan Mohammad– menggeladi pemikiran yang terbuka, yang tidak didikte dan diawasi orang adalah sebuah kemewahan. Aku tahu itu, kawan; dan aku bersimpati kepadamu.

Aku sadar bahwa situasi tidak lagi berada di pihakmu. Aku tahu kalau kamu bukan lagi seorang ronin, seorang samurai yang tak bertuan. Ah sudahlah, kawan, aku tak mau lagi mengulang-ulang cerita basi soal ronin yang memang hidup jauh dari masa dan tempat kita.

Sedari dulu, aku selalu benci bila aku terbukti ‘benar’ pada akhirnya. Aku bukan sedang ingin menyakitimu kawan, saat aku dengan penuh kepahitan di lidah cuma bisa berucap, independensi itu tai kucing.